Jumat, 24 Juli 2026

Kesatria Baju Putih Chin Yung

Kesatria Baju Putih -- Chin Yung

Baca Online Kesatria Baju Putih -- Chin Yung

Cersil Kesatria Baju Putih -- Chin Yung

Bergabunglah di Group Facebook kami: Group Cersil Kesatria Baju Putih

Resensi dan Sinopsis Kesatria Baju Putih Karya Chin Yung

Dunia persilatan (Wulin) kembali guncang. Legenda lama tentang Pak Kek Siang Ong (Dewa Kutub Utara) dan kotak pusaka berisi kitab ilmu silat tertinggi menyeret tujuh partai besar dalam pusaran darah. Siauw Lim, Bu Tong, Hwa San, Kun Lun, Go Bie, Khong Tong, dan Swat San saling sikut demi menjadi yang tak tertandingi.

Plot Cerita Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap)

Kisah tragis bermula ketika pasangan pendekar Hui Kiam Bu Tek (Pedang Terbang Tanpa Tanding) Tio It Seng dan istrinya, Lie Hui Hong, berhasil mendapatkan kotak tersebut. Malang tak dapat ditolak, mereka tewas secara mengenaskan di tangan Bu Lim Sam Mo (Tiga Iblis Rimba Persilatan). Putri mereka jatuh ke jurang, sementara putra kecil mereka diselamatkan oleh pelayan setia bernama Tio Sam.

Waktu berlalu, anak yang selamat itu tumbuh menjadi pemuda bernama Tio Cie Hiong. Uniknya, meski tumbuh di lingkungan keras, Cie Hiong justru enggan belajar ilmu silat karena muak dengan pertumpahan darah. Ia lebih memilih mendalami sastra dan pengobatan.

Kisah asmara dan petualangan Cie Hiong dalam mengungkap misteri kematian orang tuanya sangat mendebarkan, tak kalah seru dengan kisah dalam cersil Dewa Arak 90: Iblis Berkabung yang juga penuh intrik.

Takdir menyeret Cie Hiong ke dalam pusaran Wulin. Pertemuannya dengan tokoh-tokoh sakti seperti Paman Tan dari Puri Angin Halilintar dan kakek pengemis sakti Sam Gan Sin Kay, perlahan membuka jati dirinya. Apalagi setelah ia secara tidak sengaja mempelajari kitab legendaris Pan Yok Hian Thian Sin Kang.

Kejutan di Tepian Sungai: Cuplikan Episode Menarik

*** SEBUAH PERTEMUAN KEMBALI YANG TAK TERDUGA ***

Setahun lebih telah berlalu sejak Tio Cie Hiong meninggalkan Hong Lui Po. Langkah kakinya membawanya berkelana tanpa tujuan pasti, hingga tibalah ia di sebuah wilayah yang asri, penuh pohon rindang dengan udara yang menyejukkan. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar deru air sungai yang jernih. Merasa gerah dan lelah, Cie Hiong mempercepat langkahnya menuju sumber air tersebut.

Setibanya di tepi sungai, ia memandang sekeliling. Sunyi. Hanya suara kicau burung dan gesekan daun yang terdengar. Yakin tidak ada orang, Cie Hiong segera menanggalkan pakaiannya yang sudah kotor terkena debu perjalanan. Ia bermaksud mandi sekaligus mencuci pakaiannya.

"Ah, segarnya air gunung ini..." gumamnya pelan saat tubuhnya berendam di air yang dingin. Sambil menunggu pakaiannya kering dijemur di atas rumput, Cie Hiong terus berendam, membiarkan aliran air membasuh kepenatannya.

Tanpa disadarinya, hawa dingin air sungai itu secara perlahan memicu hawa murni Pan Yok Hian Thian Sin Kang di dalam tubuhnya untuk bekerja, membuat tubuhnya terasa hangat dan nyaman di tengah dinginnya air.

Tiba-tiba, telinga Cie Hiong yang tajam menangkap suara langkah kaki. Refleknya bangkit, namun ia tersadar bahwa ia sedang telanjang bulat! Ia pun kembali merendamkan tubuhnya hingga sebatas leher, berpura-pura tenang.

Tak jauh dari tempatnya berendam, tampak seorang pengemis kecil yang pakaiannya rombeng dan wajahnya dekil berjalan mendekat. Pengemis itu tiba-tiba berhenti, matanya terbelalak melihat ada orang yang sedang berendam di sungai.

"Hei..." seru pengemis kecil itu. "Siapa engkau, kenapa berendam di dalam sungai siang-siang begini?"

Perlahan-lahan Cie Hiong menolehkan kepalanya. Betapa terkejutnya dia! Meski wajahnya dekil penuh debu, Tio Cie Hiong mengenali sosok itu. Setahun yang lalu, mereka pernah bertemu dalam situasi yang hampir mirip.

"Ceng Im...!" seru Cie Hiong kegirangan.

"Haaah? Engkau?" Pengemis kecil itu tertegun, lalu tawa gembira meledak dari mulutnya. Ia berlari mendekat ke tepi sungai. "Cie Hiong! Cie Hiong... Benarkah ini engkau?"

"Ceng Im! Ini aku!" Saking girangnya, Cie Hiong lupa daratan! Ia melompat bangun dari air, bermaksud memeluk teman lamanya itu.

"Auuuh!"

Jerit Lim Ceng Im tertahan. Wajahnya yang dekil seketika berubah menjadi merah padam. Ia langsung membalikkan badannya membelakangi Cie Hiong, sambil menutup kedua matanya rapat-rapat dengan kedua tangannya.

Cie Hiong tertegun di tepi sungai. Angin dingin menerpa tubuhnya yang polos. "Eeeh? Oh! Maaf!" Cie Hiong tersenyum kecut, baru menyadari kekonyolannya. Ia segera melompat kembali ke dalam air.

"Cie Hiong, cepatlah engkau berpakaian! Dasar tak tahu malu!" seru Lim Ceng Im dari balik punggungnya, suaranya terdengar gemetar, entah karena marah atau malu.

"Ya, ya! Sebentar!" sahut Cie Hiong panik. Ia segera naik ke darat, menyambar pakaiannya yang untungnya sudah hampir kering, dan mengenakannya dengan tergesa-gesa.

Sambil merapikan pakaiannya, Cie Hiong memandang punggung Ceng Im. "Aku sudah berpakaian. Engkau boleh balik badan sekarang," ujarnya dengan nada bersalah.

Perlahan-lahan Lim Ceng Im membalikkan badannya. Ia menarik napas lega. Matanya menatap Cie Hiong dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Cie Hiong, setahun lebih kita tidak bertemu... engkau tampak semakin tampan saja..." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Kisah lengkap perjumpaan kembali Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im, serta bagaimana Cie Hiong akhirnya harus berhadapan dengan takdirnya sebagai putra Hui Kiam Bu Tek, dapat Anda baca selengkapnya dalam tautan e-book dan episode di bawah ini.

Link Baca Online Kesatria Baju Putih (Semua Episode)

Silakan klik tautan di bawah ini untuk membaca setiap episode cersil Kesatria Baju Putih secara gratis di Facebook:

Catatan: Pastikan Anda login ke Facebook untuk mengakses link episode di atas. Selamat membaca!

Disqus Comments