Kamis, 23 Juli 2026

Dewa Arak 90 Iblis Berkabung

Dewa Arak 90 Iblis Berkabung

Cersil Dewa Arak 90 Iblis Berkabung

Baca Online Dewa Arak 90 Iblis Berkabung


Cover Digital Cersil Klasik Serial Dewa Arak: Iblis Berkabung.

Informasi Penerbitan & Metadata Buku

Judul Episode: IBLIS BERKABUNG
Karya: Aji Saka
Cetakan: Pertama
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Penyunting: Tuti S.
Spesifikasi: 128 hal ; 12 x 18 cm. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Ulasan & Cuplikan Cerita: Episode Iblis Berkabung

Seekor kuda coklat berpacu cepat melintasi jalan berumput di kaki gunung. Penunggangnya seorang gadis cantik berpakaian hijau yang bertingkah seperti orang kesetanan. Kendati binatang tunggangannya telah berlari demikian cepat, tetap saja cambuk yang tergenggam di tangan berkali-kali dilecutkan pada bagian belakang kuda coklat!

Saat itu matahari bersinar dengan terik. Ketidakadaan awan-awan di langit membuat suasana siang itu panas bukan main. Angin yang bertiup pun tak membuat kulit dan tubuh terasa nyaman. Namun keadaan itu tampaknya tak dipedulikan oleh si gadis. Sekarang dia tengah melalui jalan selebar dua tombak yang di kanan kirinya terhampar rumput setinggi satu tombak.

Sing, sing, singng...!

Tiba-tiba bunyi berdesing nyaring yang mengiringi meluncurnya benda-benda berkilat mengejutkan si gadis. Apalagi ketika diketahuinya benda-benda berkilat yang bukan lain pisau-pisau tajam itu meluncur ke arah kuda tunggangannya. Gadis berpakaian hijau semakin mempergencar lecutannya untuk mendahului agar serangan pisau-pisau tak mengenai sasaran.

Tapi ketika disadari tindakannya tak akan membawa hasil, karena pisau-pisau yang meluncur terlalu banyak dan sebagian meluncur ke arah yang akan dilalui kuda coklat, si gadis segera melakukan tindakan lain. Gadis berusia sekitar dua puluh tahun dan berwajah cantik itu mengepitkan kedua kakinya ke perut binatang tunggangannya. Lalu, mulutnya yang memiliki sepasang bibir merah basah mengeluarkan lengkingan tinggi.

Maka... kuda coklat terbawa naik ke atas dan meluncur ke depan bak terbang. Kuda coklat itu baru mendarat kembali di tanah setelah melayang-layang di udara sejauh lima tombak. Belasan batang pisau meluncur di bawah kaki binatang itu. Seakan-akan binatang tunggangan si gadis melompati pisau-pisau.

Dari balik kerimbunan semak keluarlah puluhan sosok yang didahului dengan bunyi riuh-rendah rerumputan disibakkan. Si gadis tampak tetap tenang duduk di atas kuda coklatnya. Dengan sepasang matanya yang bening diperhatikannya sosok-sosok yang membentuk lingkaran untuk mengurungnya. Sosok-sosok yang jumlahnya tak kurang dari dua puluh lima orang itu rata-rata bersikap liar dan berwajah kasar.

"Sungguh tak kusangka gerombolan tikus-tikus buduk kembali muncul di tempat ini!" dengus gadis berpakaian hijau.

Seorang lelaki tinggi besar berkulit hitam legam bernama Bangkalan melangkah maju. "Rupanya kau cukup tahu daerah ini, Anak Manis? Sayangnya kau ketinggalan berita. Tempat ini telah menjadi wilayah kekuasaan kami sejak beberapa bulan lalu!"

Pertarungan sengit tak dapat dihindarkan. Gadis hijau yang ternyata bernama Inani—putri dari Ketua Perkumpulan Tapak Darah sekaligus murid dari tokoh sakti Singa Berbulu Emas—dengan mudah merobohkan anak buah Bangkalan menggunakan kebolehan tata gerak dan tenaga dalamnya yang tangguh.

Sesampainya di markas Perkumpulan Tapak Darah, Inani mendapati kenyataan pahit. Ayahnya, Sokapanca, telah hilang diculik setelah bertarung melawan pimpinan kelompok sesat wilayah utara, Raja Serigala Hitam. Dua saudara seperguruan utamanya telah tewas, menyisakan Sandaka dan Kalaban yang bertugas menjaga sisa-sisa kekuatan perkumpulan.

Di tengah krisis tersebut, markas Perkumpulan Tapak Darah diserbu secara mendadak oleh Raja Serigala Hitam beserta gerombolannya. Inani yang bertarung habis-habisan akhirnya terdesak oleh keunggulan tenaga dalam dan pengalaman bertempur lawan yang jauh lebih matang. Beruntung, muncul seorang pemuda jenaka berpakaian abu-abu bernama Banterang, yang ternyata merupakan murid dari datuk persilatan legendaris Dewa Gila Tanpa Bayangan. Berkat bantuan Banterang, serangan kelompok sesat tersebut berhasil dipukul mundur.

Sementara itu di wilayah selatan, tokoh kejam bernama Raja Laut Bermuka Setan terlibat perselisihan sengit dengan Raja Serigala Hitam yang mencoba menggalang kekuatan persatuan aliran hitam. Di sisi lain, muncul pertarungan antara Raja Laut Bermuka Setan melawan seorang gadis berpakaian merah yang belakangan diketahui bernama Sumbi, murid dari Pendekar Seribu Tangan.

"Baru sebentar merebahkan tubuh
Baru sekejap memicingkan mata
Keributan dan keonaran telah tercipta
Tak dapatkah aku beristirahat sebentar saja?"

Sebuah gerutuan berirama bergema membendung getaran senjata dayung emas milik Raja Laut. Pemuda berambut putih keperakan dengan guci arak perak di punggungnya turun tangan. Dialah Arya Buana alias Dewa Arak! Dengan keunggulan tenaga dalamnya, Arya berhasil melukai dalam pimpinan bajak laut tersebut hingga melarikan diri.

Namun cobaan belum berakhir. Baik Arya maupun Sumbi mendadak terkena racun langka berudara tipis dari Ikan Pari Merah. Arya membopong Sumbi menuju tempat kediaman datuk pengobatan terkemuka, Malaikat Obat Sakti. Setelah menjalani terapi dan meminum ramuan penawar khusus, kondisi keduanya berhasil diselamatkan dari ancaman maut.

Di pondok Malaikat Obat Sakti inilah terungkap tabir sejarah kelam dunia persilatan. Sang kakek menceritakan bahaya laten dari sosok misterius berjuluk Iblis Berkabung—tokoh legendaris berilmu iblis yang konon selalu muncul secara turun-temurun setiap beberapa puluh tahun untuk membantai para pendekar aliran putih.

Belum selesai pembicaraan mereka, guncangan dahsyat melanda tempat tersebut. Atap dan dinding pondok beterbangan terangkat oleh kekuatan tenaga dalam yang sukar diukur akal sehat. Dari balik kepulan debu, muncullah sesosok pria tinggi kurus berpakaian serba putih dengan wajah pucat bagai kapur dan mata bersinar kehijauan.

Ancaman terbesar abad ini telah tiba: Iblis Berkabung hadir secara nyata di hadapan Dewa Arak dan Malaikat Obat Sakti!


Disqus Comments