Persekutuan Pedang Sakti — Qin Hong
Baca Online Cersil Persekutuan Pedang Sakti — Karya Qin Hong (Saduran Tjan ID)
Cuplikan Cerita: Misteri Racun Dan Intrik Ban-Kiam Hwee
Dalam kisah lanjutan cerita Pedang Karat Pena Beraksara, diceritakan Ban-kiam Hweecu berhasil membekuk Sah Thian Yu. Namun dalam pembicaraan selanjutnya dikatakan kalau Ban-kiam Hweecu telah menerima sepucuk surat yang ditandatangani oleh seseorang yang mengaku bernama Sah Thian Yu. Kejadian ini tentu saja menimbulkan kecurigaan bagi pihak Ban-kiam Hweecu, lalu disambut rasa keheranan oleh Sah Thian Yu sehingga tanpa terasa ia bergumam seorang diri.
“Aneh, siapakah orang ini? Yaa... siapa orang ini?”
Sebelum ia berhasil menemukan jawabannya, sambil tersenyum Ban-kiam Hweecu telah berkata lagi; “Kau tak usah memusingkan siapakah orang itu, siaute hanya berharap kau mengerti kalau kami sama sekali tidak acuh terhadap ancaman kalian, sebab racun yang mengeram dalam tubuh orang-orang kami telah berhasil dipunahkan semua, bahkan siaute pun berhasil membereskan si pengkhianat tersebut.”
Berbicara sampai di situ, sorot matanya lantas dialihkan ke wajah Sah Thian Yu. Sebagai manusia licik, tentu saja Sah Thian Yu dapat menduga jalan pemikiran orang. Dalam hati kecilnya dia lantas berpikir: “Sudah jelas kau berusaha untuk menanti berita dari mulutku, heee... heee... memangnya kau anggap aku orang she Sah mudah tertipu?”
Belum lagi lawannya berbicara, Ban-kiam Hweecu telah berkata lebih jauh. “Perkumpulan kami betul-betul tertimpa musibah besar. Chin Tay Seng congkoan pasukan pedang berpita hitam rupanya berniat mengkhianati perkumpulan dengan mencampurkan racun ke dalam air minum kami. Masih untung Thian melindungi kami, kini bangsat itu berhasil siaute bekuk.”
Dari sakunya dia mengeluarkan Lou-bun-si, pelan-pelan diletakkan ke atas meja. Berubah hebat paras muka Sah Thian Yu setelah menyaksikan benda tersebut. Dia tertawa paksa, kemudian ujarnya, Ternyata Lou-bun-si sudah terjatuh ke tangan Hweecu, tak heran kalau...
Ban-kiam Hweecu tertawa nyaring. “Pihak Tok Seh-sia merencanakan suatu gempuran secara besar-besaran pada malam ini, mereka tak usah pulang dalam keadaan utuh! Mengapa siaute mesti bekerja sama dengan mereka? Siaute hanya ingin mengajak saudara Sah pribadi mau bekerja sama dengan kami.”
Sah Thian Yu mengalihkan sorot matanya memandang sekejap ke arah Lou-bun-si itu, kemudian setelah menghela napas sedih, dia membungkam dalam seribu bahasa. Semenjak tiga puluh tahun berselang, nama besar Sah Thian Yu sudah termasyhur di seantero dunia persilatan.
* Bagian Penting: Pertarungan Rahasia di Puncak Bukit Pit Bu San *
Di tempat lain, suasana di sekeliling tempat itu diliputi kegelapan yang mencekam. Rembulan baru muncul di udara yang bersih dan memancarkan cahayanya yang redup untuk menembusi kegelapan. Angin musim gugur terasa agak dingin ketika berembus lewat serta menggoyangkan daun serta ranting. Dalam suasana begini, tampak ada dua orang sedang duduk di atas tebing karang sebelah barat bukit Pit Bu San.
Dari kedua orang tersebut, yang satu berwajah semu emas dengan mengenakan pakaian ringkas berwarna biru dan menyoreng sebilah pedang berpita kuning. Kalau dilihat dandanannya yang gagah, sudah jelas bukan manusia sembarangan, dia tak lain adalah Ban-kiam Hweecu. Di depan Ban-kiam Hweecu berdiri seorang pemuda berpakaian ringkas berwarna hijau. Dia berwajah tampan, bibir merah dan gigi putih, tampang yang sangat menarik hati. Orang ini tak lain adalah Wi Tiong Hong, jago muda yang belum lama terjun ke dunia persilatan.
Wi Tiong Hong menarik kembali sorot matanya sambil mendongakkan kepala, lalu menyahut, “Berkat pertolongan dari Kiamcu kali ini...” Belum selesai perkataan itu diutarakan, Ban-kiam Hweecu telah menggoyangkan tangannya berulang kali sambil menukas, “Saudara Wi, mengapa kau harus berkata demikian? Seandainya Ban-kiam Hweecu tanpa Lou-bun-si milikmu, entah bagaimana akibatnya?”
Penjelasan Pengusiran dan Misteri Asal Usul:
“Terus terang kukatakan Kiamcu, dendam sakit hati ayahku belum sempat dibalas. Asal-usulku belum jelas, bahkan betulkah aku berasal dari marga Wi atau tidak pun sama sekali tak diketahui. Sejak kecil aku dipelihara oleh seorang paman yang tak kuketahui namanya, dialah yang memberi nama Wi Tiong Hong padaku.” — Wi Tiong Hong
Air muka Wi Tiong Hong berubah menjadi sedih sekali. Sejak enam belas tahun berselang, ayahnya telah tewas di tangan musuh besarnya. Dia bukan she Wi dan asal-usulnya baru akan diketahui jika ia telah berkumpul dan berjumpa lagi dengan ibunya di kemudian hari. Pada saat itulah ia akan membalas dendam atas semua sakit hatinya.
Ban-kiam Hweecu berkata kembali, “Persoalan pertama yang siaute maksudkan adalah mengenai kelihayan dari ilmu silat musuh besar saudara Wi itu. Bila kau ingin membalas dendam dengan kekuatan sendiri, paling tidak kau harus bermodalkan kepandaian silat yang sangat hebat pula. Di bukit Kiam Bun San, tersimpan berbagai macam kitab pusaka ilmu pedang yang ada di dunia ini!”
Tiba-tiba dari luar hutan bambu kedengaran ada orang membentak keras, Siapa di situ?
Rupanya di sekeliling hutan bambu tersebut telah disebar penjagaan yang sangat ketat. Menyusul kemudian kedengaran seseorang berseru memuji keagungan sang Buddha: “Omitohud, pinceng Khong-beng.”
Maka berangkatlah rombongan tersebut menuju ke atas puncak bukit langsung dipimpin oleh Ban-kiam Hweecu sendiri. Biarpun Pit Bu San tidak termasuk bukit yang amat tinggi, namun batu karang yang licin berserakan di mana-mana, jurang yang dalam terbentang di sana-sini. Untung saja ilmu meringankan tubuh yang dimiliki beberapa orang itu cukup sempurna.
Di bawah pohon siong besar di puncak tebing itu, tampak ada seseorang sedang berdiri dengan sikap yang tenang. Orang itu mengenakan jjubag hitam yang besar dan lebar, jenggot putihnya sepanjang dada dan membawa sebuah tongkat bambu. Waktu itu, dia berdiri santai di tempat sambil mengelus jenggotnya yang panjang. Diam-diam Wi Tiong Hong merasa terkejut, sebab ditinjau dari dandanan orang ini, sudah jelas mirip sekali dengan pemilik selat Tok Seh Sia!
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ban-kiam Hweecu setelah menyaksikan kejadian ini, pergelangan tangannya diputar dan “Criiing!” Serentetan bunyi nyaring bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu sebilah pedang yang bercahaya tajam telah memancar ke empat penjuru!
“Malam ini, kalau bukan kau yang tewas di ujung pedangku, akulah yang tewas oleh racunmu!” bentaknya keras-keras.
Namun pada saat itulah, sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dengan gerakan yang sangat cepat, sambil menampilkan diri orang itu berseru, “Tunggu dulu Kiamcu, lebih baik aku saja yang menghadapi dirinya!” Orang itu adalah Wi Tiong Hong. Untuk bisa mendahului Ban-kiam Hweecu, tangan kanannya masih menggenggam Lou-bun-si dan tak sempat lagi meloloskan pedangnya!
Daftar Episode Lengkap (Baca Via Facebook Group / Fanpage)
Gabung Komunitas Fans Cersil: Grup Facebook Cersil Persekutuan Pedang Sakti