Pedang Berkarat Pena Beraksara -- Tjan I D
Baca Online Pedang Berkarat Pena Beraksara -- Tjan I D
Cersil Pedang Berkarat Pena Beraksara -- Tjan I D
Restorasi Cover & Resensi Novel Silat Klasik
Pedang Berkarat PENA BERAKSARA
Karya: Tjan ID | Sumber Asli: indozone.net
Bab-01: Jago Pedang Baju Putih
Bukit Sian Hoa-san dalam bilangan propinsi Phu-kang, disebut pula bukit Siau Koh-san. Di atas puncak bukit terdapat sebidang tanah datar yang amat luas. Memandang jauh ke depan, hanya bukit yang saling bersambung-sambungan dengan hutan yang lebat; sungai Phu-yang-kang bagaikan sebuah rantai putih memanjang di sepanjang kaki bukit.
Malam ini adalah malam Tiong-ciu, udaranya bersih, rembulan bersinar purnama dengan sangat terangnya. Seorang manusia berbaju putih berdiri di tanah lapang pada puncak bukit Sian-hoa-san dengan sikap yang gagah. Orang itu berperawakan jangkung dengan alis mata yang tajam, ia berusia tiga puluh tahunan. Sebatang pedang berpita putih terserempang di pinggangnya hingga menambah kegagahan orang itu.
"Mendaki bukit di malam Tiong-ciu, tampaknya orang itu sengaja datang untuk menikmati keindahan malam bulan purnama. Namun sepasang matanya justru memandang ke tempat jauh, seakan-akan bukan datang untuk menikmati keindahan malam, melainkan sedang menunggu kedatangan seseorang."
"Sreet!"
Bunyi lirih seperti daun kering yang rontok terhembus angin bergema di belakang tubuhnya. Seperti merasakan sesuatu, secepat kilat orang berbaju putih itu membalikkan badannya, kemudian sambil menatap tajam asal suara itu, dia membentak berat-berat:
"Siapa di situ?!"
Gelak tertawa nyaring berkumandang dari balik hutan di hadapannya, kemudian sesosok tubuh manusia pelan-pelan menampakkan diri. Orang ini pun berbaju putih dengan perawakan jangkung, alis matanya lentik dan dengan sepasang mata tajam, usianya antara tiga puluh tahunan, sebilah pedang berpita putih terserempang pula di pinggangnya.
Berbincang soal wajah, potongan badan, dandanan, sikap, serta pakaian yang dipakai, orang ini mempunyai segala-galanya yang persis seperti orang berbaju putih pertama tadi. Andaikata kau membawa sebuah cermin besar dan menjajarkan kedua orang itu jadi satu, maka akan terasa bahwa kedua orang itu ibarat pinang dibelah dua.
Orang berbaju putih yang datang lebih duluan itu nampak agak tertegun, lalu dengan wajah serius ditegurnya: "Sobat, siapakah kau?"
Orang berbaju putih yang datang belakangan berkerut kening, lalu tertawa nyaring. "Haaahh... haaahhh... haaahhh... Sobat, kau toh dapat berdandan seperti aku, masa kau bertanya lagi siapakah aku? Kebetulan pada malam ini aku punya janji dengan seorang teman untuk bertemu di sini, maka turutilah nasihatku, cepat-cepatlah kau tinggalkan tempat ini."
Mencorong sinar tajam dari balik mata orang berbaju putih yang pertama, kemudian ia tertawa seram. "Sobat, tahukah siapa yang telah berjanji dengan siaute untuk berjumpa di sini malam ini?"
"Haaahhh... siaute bisa datang kemari untuk memenuhi janji, tentu saja mengetahui pula siapa orang itu. Maka siaute anjurkan kepadamu, cepatlah kau tinggalkan tempat ini!"
Kedua orang ini bukan cuma wajah, pakaian, sikap maupun gerak-geriknya yang sama, malahan nada serta logat berbicaranya pun tak berbeda satu sama lainnya. Orang berbaju putih yang datang duluan segera berkerut kening. Mendadak ia maju selangkah lalu ditatapnya orang berbaju putih yang lain lekat-lekat, kemudian menegurnya kembali: "Sobat, siapakah kau?"
"Haaahhh... haaahhh... suatu pertanyaan yang sangat bagus. Pertanyaan ini kebetulan ingin siaute ajukan pula kepada dirimu!"
Mendengar perkataan itu, orang pertama mendongakkan kepalanya dan tertawa nyaring, suaranya keras memekikkan telinga. "Sobat, mengapa kau tertawa?" tegur orang kedua agak tertegun. Orang pertama segera menghentikan gelak tertawanya, lalu sambil menjura katanya dengan serius:
"Sobat dapat menyaru persis seperti siaute, itu berarti kau adalah orang yang cukup kukenal. Hanya saja pertemuan malam ini, siaute punya janji dengan seorang gembong iblis yang sudah lama termasyhur karena kekayaannya. Dia datang dengan maksud tak baik, bahkan siaute sendiri pun tidak yakin memenangkan dirinya. Aku tak ingin menyusahkan sobat, buat apa saudara mesti menyaru sebagai siaute untuk datang kemari..."
Belum habis orang pertama berbicara, orang berbaju putih kedua sudah menukas sambil menjura pula. "Betul, usaha saudara untuk menolong orang yang sedang kesulitan sungguh membuat siaute amat terharu. Kebaikan ini pasti akan kuingat selalu di dalam hati. Seperti apa yang saudara katakan dalam peristiwa malam ini, siaute dipaksa oleh keadaan dan mau tak mau mesti datang untuk memenuhinya. Sebab itu kuharap saudara mau menuruti anjuranku dan cepatlah tinggalkan tempat ini."
Berbicara sampai di situ, dia lantas menjura berulang kali menyatakan rasa terima kasih. Dengan tenang orang berbaju putih pertama mendengarkan pembicaraan lawannya, sementara sepasang matanya yang tajam mengamati orang berbaju putih kedua lekat-lekat, berusaha menemukan titik kelemahan pada tubuh orang ini.
Mendadak ia melesat maju ke depan, dalam sekejap mata tubuhnya sudah berada di hadapan orang berbaju putih yang datang belakangan. Setelah saling berhadapan, baru nampak kini perbedaannya: ternyata orang berbaju putih yang datang belakangan itu lebih pendek setengah bahu daripada orang pertama!
Seperti menyadari akan sesuatu, tiba-tiba orang berbaju putih yang datang duluan menjadi sangat emosional, serunya dengan suara agak tergagap: "Rupa... rupanya kau... kau adalah..."
Belum habis ucapan itu diutarakan, dari bawah bukit sana telah berkumandang suara tertawa nyaring yang amat memekikkan telinga. Suaranya sangat keras sehingga menggetarkan seluruh tanah perbukitan itu!
Sikap orang berbaju putih yang datang duluan makin emosi, tidak sempat melanjutkan kata-kata sebelumnya, ia segera membentak dengan suara dalam: "Kenapa kau tidak segera pergi dari sini?!"
Orang baju putih yang datang belakangan pun tampak dipengaruhi emosi, sahutnya dengan gelisah: "Seharusnya kaulah yang harus pergi..."
Belum habis ucapan tersebut diutarakan, terdengar seseorang telah menukas sambil tertawa seram: "Kalian berdua tak usah pergi lagi dari sini!"
Suaranya tajam dan melengking, amat tak sedap didengar. Walaupun kedua orang berbaju putih itu merasakan hatinya bergetar keras dan diam-diam kaget akan kecepatan gerak lawan, namun mereka masih tetap berdiri tegak di tempat semula. Angin malam yang berhembus lewat mengibarkan ujung baju berwarna putih kedua orang itu; mereka tampak amat tenang, seolah-olah tiada sesuatu ancaman pun di hadapan mereka.
Sesosok bayangan hitam dengan kecepatan tinggi meluncur tiba. Ternyata dia adalah seorang kakek berusia lima puluh tahun yang mengenakan jubah warna hijau. Di atas wajahnya yang kurus dan berwarna hitam pekat tersungging sekulum tertawanya yang menyeringai seram. Ditatapnya kedua orang itu sekejap, lalu berkata:
"Tak kusangka Pek-ih Kiam-kek (jago pedang berbaju putih) yang begitu termasyhur namanya dalam dunia persilatan, telah mencarikan seorang pengganti untuk menghadapi kematian! Haaahhh... haaahh... untung saja lohu tak datang terlambat, kalau tidak niscaya salah seorang di antara kalian sudah ada yang kabur dari sini..."
Berkilat sepasang mata orang berbaju putih yang datang lebih duluan itu, katanya gagah: "Hmmm... Kau telah menganggap diriku ini sebagai manusia macam apa?!"
Orang berbaju putih yang datang belakangan ikut tertawa tergelak pula: "Kau telah berani datang kemari untuk memenuhi janji, sebelum menghasilkan sesuatu, kau pun tak usah pergi dari sini!"
Dengan sorot mata yang tajam, kakek berbaju hijau mencoba meneliti kedua orang itu dengan saksama. Namun dia pun tidak berhasil membedakan mana yang asli dan mana yang gadungan. Maka sambil manggut-manggut dia berkata:
"Ehmm... betul-betul hebat. Tampaknya penyaruan kamu berdua memang hidup dan sempurna. Namun bagi lohu mah tak acuh terhadap keaslian kalian. Setelah berani datang kemari untuk memenuhi janji, maka lohu hanya ingin mengajukan satu pertanyaan saja: sudahkah barang itu dibawa serta?"
"Barang milik perguruan kami tak akan dibiarkan terjatuh ke tangan kaum laknat! Menangkan dulu pedang di tanganku ini sebelum bertanya yang macam-macam!" kata orang berbaju putih yang datang duluan dengan ketus.
Orang berbaju putih yang datang belakangan ikut berseru pula: "Barang itu berada di sakuku! Menangkan dulu pedangku ini, bila aku kalah niscaya benda tersebut akan kuserahkan kepadamu."
"Bagus sekali!" Kakek berbaju hijau itu menyeringai seram. "Kalian terdiri dari yang asli dan yang gadungan, berarti barangnya ada yang asli ada pula yang palsu. Haaahhh... biar palsu maupun asli akan lohu ambil semua! Nah, bila ingin turun tangan, lebih baik kalian maju bersama saja!"
Dalam pembicaraan, pergelangan tangannya segera digetarkan keras. Sebatang ruyung lemas berkepala ular yang memancarkan sinar kehitam-hitaman telah meluncur keluar dari balik bajunya. Kemudian tangan kirinya digetarkan pelan, ruyung itu segera berputar sambil memancarkan cahaya kehijau-hijauan. Bentaknya dengan suara dalam: "Majulah, lohu tak sabar untuk menunggu lebih lama lagi!"
"Criiing... criiing..."
Hampir pada saat yang bersamaan, kedua orang manusia berbaju putih telah meloloskan pedangnya. Tapi orang berbaju putih yang datang belakangan maju ke depan lebih dulu. Tiba di hadapan musuh dia membentak keras: "Aku akan lebih dulu mencoba di mana kehebatanmu!"
"Sreet...!" Serentetan cahaya perak yang menyilaukan mata secepat kilat meluncur ke depan dan melepaskan sebuah tusukan dahsyat. Di mana pedangnya menyambar lewat, hawa dingin yang menyayat tubuh memancar ke empat penjuru.
Tetapi orang yang berbaju putih yang datang duluan telah mendahuluinya. Sambil menghalangi jalan pergi orang berbaju putih yang datang belakangan, dia membentak dengan mata berkilat tajam: "Kau mundur dulu!"
Bentakan itu tidak begitu nyaring, akan tetapi membawa suatu kewibawaan yang tak terbantahkan. Orang berbaju putih yang datang belakangan agak tertegun, tanpa sadar ia mundur selangkah. Orang berbaju putih yang datang duluan tidak menggubrisnya lagi, ia menatap wajah si kakek berjubah hijau seraya membentak: "Sekarang, kau boleh lancarkan seranganmu!"
"Baik!" Kakek berjubah hijau itu segera menggetarkan lengannya. Ruyung itu berputar di angkasa dengan membawa suara nyaring, kemudian diiringi kilatan cahaya tajam, kepala ular di ujung ruyung menyambar ke dada orang berbaju putih dan mengancam ketiga buah jalan darah penting yang berada di sana.
Dalam keadaan gusar, serangan yang dilaksanakan oleh gembong iblis tua ini selain cepat bagaikan kilat, juga ganas dan mematikan. Terkesiap juga orang berbaju putih yang datang duluan setelah menyaksikan kelihaiyan serangan lawannya.
"Tak heran kalau gembong iblis ini amat tersohor namanya di dalam dunia persilatan, ternyata kepandaian silat yang dimilikinya memang benar-benar luar biasa!" demikian ia berpikir.
Tangan kiri mengayun miring ke samping dengan suatu taktik pancingan, sementara pedang di tangan kanannya menyongsong dengan jurus Sam Seng Tang Hu (Tiga Bintang di Muka Jendela).
Tatkala orang berbaju putih yang datang belakangan menyaksikan kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit, diam-diam ia menghela napas panjang dan mundur beberapa langkah dari situ. Dalam waktu singkat pertarungan telah berlangsung tujuh delapan gebrakan lebih.
Sementara itu kakek berjubah hijau itu pun sudah merasakan kemampuan dan ketangguhan lawannya memainkan ilmu pedang. Bahkan dia tahu bahwa kepandaian lawan telah mencapai puncak kesempurnaan. Kendatipun di hari-hari biasa dia angkuh dan tak pernah pandang sebelah mata terhadap lawannya, kali ini ia tak berani memandang remeh musuhnya.
Sebaliknya orang berbaju putih yang datang duluan pun memahami sekali akan asal-usul kakek berbaju hijau itu. Kendatipun dia mempertaruhkan nyawa belum tentu merupakan tandingannya, maka begitu turun tangan, ia lantas mengambil taktik bertahan menyelamatkan diri lebih dahulu. Di hati mereka berpikir serangan tak pernah mengendor, bahkan lamat-lamat semakin menanjak hebat.
Lima puluh gebrakan kemudian, daerah seluas dua kaki sudah berada dalam lingkaran bayangan ruyung yang berlapis-lapis serta desingan angin pedang yang tajam. Lama-kelamaan kakek berjubah hijau menjadi naik pitam setelah semua usahanya tidak mendatangkan hasil. Mencorong sinar hijau yang menggidikkan hati dari balik matanya, dia segera mundur dua langkah, lalu sambil tertawa seram katanya:
"Pek-ih Kiam-kek, namamu memang benar-benar bukan nama kosong belaka! Coba kau sambut lagi beberapa buah serangan ruyung dari lohu!"
Jubah hijaunya dikembangkan menjadi sangat besar, lalu tubuhnya bergerak bagaikan hembusan angin, permainan ruyungnya kontan berubah sama sekali. Sekejap mata kemudian deruan angin yang berbau amis memancar dari empat penjuru, bayangan ruyung menjadi makin gencar, bagaikan gulungan ombak dahsyat selapis demi selapis menggulung datang tiada hentinya...
Koleksi Seri Silat Terkait & Diskusi
Bagi para pecinta cersil klasik yang ingin menikmati bab kelanjutan dari kisah dunia persilatan lainnya, baca juga kisah populer berikut:
👉 Dewa Arak Episode 79: Iblis Buta
Ikuti juga grup diskusi dan pembaruan episode serial Pedang Berkarat Pena Beraksara langsung melalui tautan komunitas berikut:
Klik untuk Membuka Daftar Episode Facebook (Eps 1 - 26)
- Grup Facebook Komunitas Cersil
- Episode 01 | Episode 02 | Episode 03
- Episode 04 | Episode 05 | Episode 06
- Episode 07 | Episode 08 | Episode 09
- Episode 10 | Episode 11 | Episode 12
- Episode 13 | Episode 14 | Episode 15
- Episode 16 | Episode 17 | Episode 18
- Episode 19 | Episode 20 | Episode 21
- Episode 22 | Episode 23 | Episode 24
- Episode 25 | Episode 26