Senin, 20 Juli 2026

Dewa Arak 79 Iblis Buta

Dewa Arak 79 Iblis Buta

Cersil Dewa Arak 79 Iblis Buta
Baca Online Dewa Arak 79 Iblis Buta

Selamat datang di jagat cerita silat legendaris. Bagi Anda yang ingin mengikuti kisah petualangan pendekar pemelisik keadilan secara lengkap dari awal, Anda dapat langsung mengunjungi dan Baca Online Dewa Arak 69 Peti Bertuah sebagai pelengkap petualangan sebelum masuk ke dalam konflik berdarah di episode Iblis Buta ini.

Sinopsis & Bab Pembuka: Angin Maut di Pondok Bambu

IBLIS BUTA

Karya: Aji Saka

Cetakan Pertama | Penerbit Cintamedia, Jakarta

Penyunting: Tuti S. | Hak cipta pada Penerbit. Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis.

Seorang pemuda tampan bermuka persegi melangkah setengah berlari. Ia menghampiri pondok sederhana yang berada belasan tombak di depannya. Pemuda itu terlihat gagah. Tubuhnya tinggi besar dan otot-ototnya bersembulan keluar. Pemuda berwajah persegi itu hanya mengenakan rompi dari kulit harimau.

Pondok yang dituju pemuda berompi kulit harimau tidak dapat dikatakan bagus. Sekelilingnya dipagari potongan-potongan bambu setinggi pinggang. Rumah itu sendiri terletak di tengah-tengah, kelihatan kecil dan ringkih karena berada di hamparan tanah luas yang ditumbuhi rumput-rumput liar.

Pemuda berwajah persegi menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu pagar bambu. Daun pintunya sendiri sudah tidak menempel lagi, tapi tergolek di bagian dalam. Pemuda berompi kulit harimau itu memperhatikan sekeliling dengan wajah berduka. Sudut demi sudut tempat itu dirayapi dengan sepasang matanya yang mencorong tajam. Sorot sepasang mata yang terlindung alis tebal berbentuk golok itu menyiratkan ketidakpercayaan.

"Ibu...!" desis pemuda berompi kulit harimau. Suaranya agak tersendat. "Apa yang telah terjadi padamu?"

Pandangan pemuda itu berhenti pada tanaman bunga yang berada di sisi kanan dan kiri rumah. Bunga-bunga itu layu, bahkan beberapa di antaranya mati. Padahal, ibunya amat sayang pada tanaman-tanaman itu. Ibunyalah yang menanam dan merawatnya. Mengapa sekarang bunga-bunga itu sampai tidak terurus?

Perasaan khawatir terbit di hati pemuda berwajah persegi. Setelah berhasil mengatasi sergapan rasa harunya, pemuda itu bergegas melangkah memasuki halaman. Blosss!

"Hey!" Pemuda berwajah persegi menjerit kaget. Tanah berumput yang diinjaknya amblas ke bawah membawa tubuhnya. Tanah yang dipijaknya ternyata tidak padat, hanya berupa lapisan saja. Di bawahnya tampak tombak-tombak berujung runcing siap menyate tubuh pemuda itu!

Meski kaget, pemuda berwajah persegi tidak kehilangan kepandaian. Sebelum menimpa ujung-ujung tombak yang runcing, ilmu meringankan tubuhnya segera dikerahkan untuk membuat kecepatan luncuran tubuhnya melambat. Kedua tangannya digerak-gerakkan seperti seekor burung yang mengepakkan sayap.

Ringan dan perlahan kedua kaki pemuda berwajah persegi menjejak ujung-ujung tombak. Bahkan, alas kakinya tidak tergores sedikit pun. Pemuda berompi kulit harimau ini menghela napas lega seraya menghapus keringat yang membasahi dahinya. Perasaan kaget dan tegangnya sedikit berkurang. Kemudian ia mendongakkan kepala untuk melihat permukaan lubang. Dalam lubang ini tak kurang dari empat tombak. Jarak yang cukup tinggi, bahkan terlalu jauh untuk dapat dilompatinya.

Pemuda ini tidak terlalu lama berdiri di atas ujung-ujung tombak. Seperti orang yang berjalan di tempat datar, ia mengayunkan kaki mendekati sisi lubang. Sejenak pemuda itu terdiam sebelum menempelkan kedua telapak tangannya yang terbuka ke dinding lubang. Lalu, bagai seekor cecak pemuda berwajah persegi merayap naik ke atas!

Dalam waktu singkat saja pemuda berwajah persegi telah mencapai mulut lubang dan keluar dari dalamnya. Tampaknya sedikit peluh membasahi wajahnya.

"Ha ha ha...!" Gemuruh suara tawa membuat pemuda berwajah persegi menolehkan kepala ke belakang. Tawa mengejek itu pastilah ditujukan padanya. Di luar pagar bambu berdiri sesosok tubuh yang membuat mata pemuda berompi kulit harimau itu terbelalak lebar.

Sosok itu kelihatan aneh. Bertubuh amat pendek seperti anak berusia sepuluh tahun. Pendek dan gemuk! Kepalanya tidak ditumbuhi rambut sehelai pun. Wajahnya yang kelimis tampak seperti orang yang selalu bergembira. Semua anggota tubuh sosok ini serba bulat! Perutnya yang gendut terlihat jelas karena tidak tertutup rompi merah yang dikenakannya.

"Aku tidak pernah mimpi melihat seekor monyet cilik yang dungu terjeblos ke dalam sebuah lubang! Lucu sekali! Ha ha ha...!"

Wajah pemuda berompi kulit harimau merah padam. Ia merasa malu dan tersinggung. Pemuda itu menduga sosok pendek gemuk yang meski bentuk tubuhnya kecil, tapi usianya tak kurang dari lima puluh tahun. Pemuda berwajah persegi ini tidak tahu kalau sosok pendek gemuk itu telah berusia delapan puluh tahun lebih!

Pemuda berwajah persegi tidak berani lancang menurutkan perasaan hatinya untuk balas memaki. Kakek pendek gemuk itu bukan orang sembarangan. Tawa yang dikeluarkan kakek itu membuat dadanya bergetar hebat. Setelah menatap kakek pendek gemuk sekilas, pemuda berwajah persegi membalikkan tubuh dan mengayunkan kaki menuju pondok sederhana.

Kakek pendek gemuk tidak menghalangi maksud pemuda berompi kulit harimau. Bahkan, dia mengiringi ayunan kaki pemuda berwajah persegi dengan tawa mengejek.

"Ibu...!" Pemuda berompi kulit harimau berteriak memanggil ketika telah berada di depan pintu pondok. "Ibu...! Ini aku anakmu pulang...!" Tidak terdengar sahutan meski pemuda itu menunggu beberapa saat lamanya. Kesabaran pemuda itu habis. Dengan kedua tangan didorongnya daun pintu. Ternyata tidak terkunci.

Namun ketika daun pintu terkuak sedikit, terdengar bunyi nyaring disusul dengan desingan tajam. "Ah...!" Pemuda berwajah persegi berseru kaget melihat beberapa anak panah meluncur deras ke arahnya. Dengan sigap tubuhnya dilempar ke belakang sehingga anak panah meluncur lewat tanpa mendapat hasil.

"Ha ha ha...!" Kakek pendek gemuk yang masih berada di luar pagar kembali tertawa bergelak, menertawakan pemuda berompi kulit harimau yang dua kali hampir mati. "Lucu sekali...! Hampir saja monyet dungu ini menjadi sate monyet. Ha ha ha...! Lucu...! Lucu sekali...!"

Kali ini pemuda berompi kulit harimau tidak bisa menahan sabar lagi. "Siapa kau, Kakek? Mengapa memperhatikan gerak-gerikku? Tinggalkan tempat ini sebelum kesabaranku habis! Aku tidak ingin menghajarmu. Tapi, bila kau terus seperti ini jangan salahkan kalau aku yang muda bertindak kasar terhadapmu!" tegur pemuda berwajah persegi.

"Ha ha ha...!" Sambutan kakek pendek gemuk malah tawa bergelak. Sepasang matanya sejenak berkilat mengerikan memancarkan hawa maut. "Seekor monyet muda yang telah dua kali hampir mati berani mengancamku? Ha ha ha...! Dunia benar-benar sudah gila. Rupanya kau memiliki nyali macan, Monyet Dungu! Aku jadi ingin melihat kesabaranmu habis. Tapi, sebelum itu aku ingin mempertunjukkan sebuah permainan yang menarik untukmu!"

Kakek pendek gemuk meletakkan ujung jari telunjuknya di bawah pagar bambu yang malang. Pagar itu memang terbuat dari belahan-belahan bambu yang disusun malang melintang. Ada dua deretan bambu yang malang. Kakek pendek gemuk meletakkan telunjuknya pada bagian bambu yang di atas. Kakek itu menggetarkan tangannya sejenak. Tiba-tiba sebagian pagar bambu tercabut dari dalam tanah. Panjang pagar bambu yang terpisah dari deretan pagar kira-kira dua tombak.

Kakek pendek gemuk lalu menggerakkan jari telunjuknya ke atas. Pagar bambu itu pun melayang ke atas bagai dilontarkan tenaga raksasa. Di saat pagar bambu kehabisan daya luncuran, kakek pendek gemuk menjulurkan tangannya ke arah pagar bambu itu. Terdengar bunyi berderak ketika kawat yang mengikat batang-batang bambu tercerai-berai dan melayang turun.

Kali ini kakek pendek gemuk menjulurkan tangan kiri seraya memekik pelan. Bagai digerakkan orang, bambu-bambu itu meluncur ke depan dan menancap rapi di pinggir lubang tempat pemuda berwajah persegi terperangkap!

Wajah pemuda berompi kulit harimau berubah hebat. Pertunjukkan kakek pendek gemuk jelas merupakan hal yang luar biasa. Kakek itu mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi sehingga mampu mempermainkan batang-batang bambu itu sekehendak hatinya. Tenaga dalam itu jadi bagai tangan tak nampak!

"Kau memang hebat, Kek." Pemuda berwajah persegi menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. "Tapi, bukan berarti kau bisa seenaknya saja menghina diriku. Aku bukan orang yang takut menghadapi kematian!"

"Bagus. Bagus. Kau menyenangkan hatiku, Anak Muda. Kau tidak pantas lagi kupanggil monyet dungu. Aku suka dengan orang-orang yang berjiwa pemberani! Tidak mau merengek-rengek. Aku jadi lebih ingin mengenalmu lebih jauh. Apa hubunganmu dengan pemilik rumah itu?"

"Aku anaknya!" tandas pemuda berwajah persegi.

"Ah...! Begitukah?" Pemuda berwajah persegi diam-diam memperhatikan suatu keanehan pada diri kakek pendek gemuk. Dalam keadaan apa pun wajah kakek itu tetap cerah dan penuh senyum, seperti orang yang memiliki hati welas asih. Mungkin dalam keadaan marah sekalipun wajah kakek itu tetap penuh dengan senyum.

"Menurut berita yang kudengar rumah itu milik istri Iblis Buta. Apakah kau anak dari tokoh yang terkenal itu?" tanya kakek pendek gemuk dengan senyum menghias bibir.

"Tak salah!" Pemuda berwajah persegi mengangguk. "Aku adalah anak Iblis Buta. Namaku Dirgantara!"

"Kalau begitu, sungguh merupakan hal yang menguntungkan. Tidak mendapatkan ayahnya, anaknya pun jadi. Setidak-tidaknya, andaikata Iblis Buta demikian pengecut dan tetap tidak berani memunculkan diri, kau akan menjadi gantinya!"

"Apa maksudmu, Kek?" tanya Dirgantara dengan perasaan tidak enak. Dia melihat adanya permusuhan antara kakek pendek gemuk dengan ayahnya, Iblis Buta.

"Masih kurang jelaskah bagimu, Monyet Dungu? Ayahmu telah melakukan sebuah kesalahan terhadapku. Dia telah lancang tangan membunuh muridku. Jadi, tidak ada pilihan lain bagiku kecuali turun gunung dan membalaskan sakit hati ini. Karena kau orang yang mempunyai hubungan darah dengan Iblis Buta, kau harus menanggung akibat perbuatan ayahmu. Ha ha ha...!"

Dirgantara mengepalkan kedua tinjunya yang kekar. "Tidak semudah itu kau melakukannya, Kek!"

"Ha Ha ha...! Kau terlalu besar kepala, Monyet Dungu! Jangankan kau, gurumu sendiri tidak akan mampu melawanku. Pernahkah gurumu bercerita tentang datuk sesat dunia persilatan yang sekitar tiga puluh tahun lalu mengasingkan diri?"

Wajah Dirgantara berubah. Gurunya memang pernah bercerita tentang hal itu. "Jadi..., kau.... Setan Gila?!"

"Ha ha ha...! Benar sekali...!" Kakek pendek gemuk tertawa bergelak. "Mungkin sekarang kegilaanku telah jauh berkurang. Sudah hampir empat puluh tahun aku mengasingkan diri, hingga banyak hal yang kulupakan. Bahkan, kebiasaan-kebiasaanku!"

Dirgantara memang telah mendengar mengenai kakek pendek gemuk ini dari gurunya. Setan Gila yang terkenal karena ketinggian ilmu dan kekejamannya. Tanpa membuang-buang waktu, segera Dirgantara mencabut tongkat bambu yang sejak tadi tersampir di punggung sebagaimana pedang.

"Ha ha ha...!" Setan Gila tertawa melihat Dirgantara mencabut senjatanya. "Jadi gurumu si Petani Berambut Putih? Ha ha ha...! Bukankah dugaanku benar, Monyet Dungu? Sejak kulihat bambu kuning itu di punggungmu aku sudah bisa menduga siapa gurumu. Asal kau tahu saja, Monyet Dungu, gurumu apabila bertemu denganku akan berlutut dan meminta ampunan. Dan...."

"Tutup mulutmu dan lihat senjata...!" Dirgantara yang tidak senang mendengar gurunya dihina segera memutar bambu kuning sepanjang pedang di tangannya. Bambu kuning itu lenyap menjadi segulungan sinar kekuningan yang mengeluarkan bunyi mengaung keras seperti sekelompok lebah murka.

Kakek pendek gemuk hanya tersenyum lebar. Dia tidak melakukan tindakan apa pun. Baru ketika Dirgantara telah berada dekat dengannya dan serangan bambu pemuda itu hampir mengenai tubuhnya, kakek pendek gemuk bertepuk tangan sekali. Glarrr!

Dirgantara yang tengah melayang di udara dan siap menusukkan bambu kuningnya merasakan ada halilintar menyambar dekat telinga. Keras bukan main sehingga tidak hanya telinganya saja yang mendadak tuli, tapi juga dadanya bergetar hebat. Tenaga yang terkumpul buyar seketika karena tubuhnya mendadak lemas. Bahkan, tubuh pemuda ini sampai terhuyung-huyung dan hampir jatuh ketika berhasil menjejak tanah.

Kakek pendek gemuk membuka mulutnya dan meniup. Angin luar biasa keras berhembus sehingga Dirgantara yang masih dalam pengaruh tepukan itu tidak kuat bertahan. Tubuh pemuda itu terjengkang ke belakang dan jatuh bergulingan di tanah.

Sambil tertawa bergelak, kakek Setan Gila menudingkan jari telunjuknya. Dirgantara menyeringai ketika merasakan sekujur tubuhnya lemas ketika bahu kanannya terkena totokan. Setan Gila telah menotoknya dari jauh. Bagi orang yang memiliki tingkat tenaga dalam seperti Setan Gila merupakan sesuatu yang mudah untuk melakukan hal itu.

Setan Gila terkekeh girang. Kakinya yang pendek dan bulat seperti kaki gajah dihentakkan ke tanah sekali. Tubuh Dirgantara pun melayang ke arah kakek pendek gemuk itu. Setan Gila yang sudah mengembangkan kedua tangan untuk menangkap tubuh Dirgantara terpaksa menarik kembali ketika terdengar bunyi berdesing nyaring.

Kakek itu melihat benda-benda halus berwarna putih meluncur ke arahnya. Semula meluncur ke arah dada, tapi di tengah jalan berpencar. Masing-masing benda halus yang diketahui Setan Gila sebagai rambut manusia itu meluncur ke berbagai jalan darah mematikan di tubuhnya.

Setan Gila mundur selangkah seraya memperdengarkan tawa keras hingga perutnya berguncang. Rambut-rambut yang semula menegang kaku bagai jarum-jarum panjang itu melemas. Dan, ketika kakek pendek gemuk meniupnya rambut-rambut itu runtuh ke tanah. Pada saat yang bersamaan tubuh Dirgantara pun jatuh ke tanah dengan keras karena tidak ada yang menyambutinya.

"Ha ha ha...! Kiranya kau penyabotnya. Pantas...! Apa gerangan yang membuatmu turun dari pertapaan, Jerangkong Penjagal Nyawa?!" seru Setan Gila dengan senyum lebar, kendati hatinya terkejut bukan main. Kaget dan dongkol karena tahu akan menghadapi saingan berat.

Jerangkong Penjagal Nyawa adalah salah satu dari dua datuk tua yang telah puluhan tahun mengundurkan diri. Jerangkong Penjagal Nyawa seorang kakek yang berusia tak kurang dari seratus tahun. Ia mendengus mendengar ucapan Setan Gila. Wajahnya yang berbentuk tirus dan selalu tampak muram bertambah keruh. Wajah Jerangkong Penjagal Nyawa dan bentuk tubuhnya memang merupakan kebalikan dari Setan Gila.

Jerangkong Penjagal Nyawa bertubuh tinggi kurus. Tingginya hampir satu setengah kali tinggi manusia normal. Ia kurus bukan main seperti tulang dibungkus kulit. Pakaian yang dikenakannya putih bersih namun kebesaran hingga senantiasa berkibaran ketika tertiup angin.

"Kau sendiri mengapa keluar dari tempat pengasinganmu, Gendut?" Sambil berkata demikian, Jerangkong Penjagal Nyawa melirik tubuh Dirgantara yang tergolek di tanah. Tubuh pemuda berompi kulit harimau itu tergolek tepat di antara kedua kakek ini.

Dirgantara yang mendengarkan adu mulut itu hanya bisa mengeluh dalam hati. Dia tahu keadaannya amat berbahaya. Jerangkong Penjagal Nyawa adalah saingan berat Setan Gila. Setan Gila saja sudah tidak bisa ditanggulangi. Maka, kedatangan Jerangkong Penjagal Nyawa semakin memperburuk keadaan. Tubuhnya yang lemas karena tertotok membuatnya hanya bisa berdiam diri dan pasrah pada keadaan. Yang dapat dilakukan Dirgantara hanya mendengarkan pertengkaran Jerangkong Penjagal Nyawa dan Setan Gila serta berharap agar di antara mereka timbul pertarungan yang akan membuatnya mendapat kesempatan untuk melarikan diri.

Sementara, Setan Gila yang mendapat pertanyaan dari Jerangkong Penjagal Nyawa malah tertawa bergelak. "Keluarnya aku dari pertapaan mempunyai tujuan yang jelas, Kurus!" Setan Gila tak mau kalah gertak. "Muridku tewas di tangan Iblis Buta. Mau tidak mau terpaksa aku harus turun tangan untuk membalaskan kematiannya. Betapapun juga dengan tewasnya muridku, Iblis Buta telah berani menantangku!"

"Alasan yang dibuat-buat!" tandas Jerangkong Penjagal Nyawa, tajam. "Lalu, apa hubungannya dengan pemuda ini? Aku tahu murid Petani Berambut Putih ini anak Iblis Buta. Tapi, mengapa kau mempermainkannya dan berusaha menjadikannya sandera agar Iblis Buta tidak melakukan perlawanan?"

"Kau keliru, Kurus! Sama sekali tidak kusangka kepalamu yang kecil itu sejak dulu tetap mempunyai otak yang kecil pula. Setelah membunuh muridku, Iblis Buta menyembunyikan diri karena takut pembalasanku. Untuk memancing kedatangannya, aku terpaksa menyandera anaknya!"

Cuhhh! Dengan kasar Jerangkong Penjagal Nyawa meludah ke tanah begitu Setan Gila menyelesaikan ucapannya.

"Orang lain bisa kau bohongi, Gendut! Tapi, aku tidak akan bisa kau tipu! Aku tahu betul maksudmu menyandera anjing kecil ini untuk memaksa Iblis Buta memberitahukan di mana benda yang kau idam-idamkan."

"Apa maksudmu, Kurus?" tanya Setan Gila dengan tersenyum.

"Masih juga tidak mengaku. Aku tahu alasanmu mencari Iblis Buta untuk mendapatkan Telur Elang Perak. Kau ingin kembali muda seperti dulu. Itulah sebabnya kau mencari Iblis Buta. Telur Elang Perak memang mampu membuat orang kembali muda!"

"Jadi kau pun menghendaki benda itu, Kurus? Kalau begitu, kau yang lebih dulu akan kusingkirkan!"

"Kaulah yang akan mampus di tanganku, Gendut! Kali ini kau tidak akan seberuntung dulu!"


Demikian cuplikan pertarungan legendaris antara dua datuk persilatan tingkat tinggi demi memperebutkan rahasia besar dunia persilatan.

Disqus Comments