Dewa Arak 80 Misteri Gadis Gila
Cersil Dewa Arak 80 Misteri Gadis Gila
Baca Online Dewa Arak 80 Misteri Gadis Gila
Selamat datang di ruang baca digital kisah pencak silat legendaris. Bagi Anda pecinta serial petualangan Arya Buana, selain menikmati bab ini, Anda juga dapat membaca episode sebelumnya melalui tautan Koleksi Lengkap Dewa Arak 70 Pulau Setan yang tidak kalah menegangkan.
Bergabunglah bersama ribuan pesilat lainnya dan dapatkan pembaruan langsung dari komunitas resmi kami di Grup Facebook Komunitas Cersil Indonesia.
Arsip Karya Klasik | Karya: Aji Saka — Penerbit Cintamedia, Jakarta
"Guru...!" Terdengar seruan bernada takut-takut yang berasal dari mulut mungil seorang gadis berkulit tubuh putih mulus terbungkus pakaian hitam. Sehingga, terlihat menyolok sekali dengan warna pakaiannya. Dia berdiri di belakang sosok berpakaian merah yang tengah duduk di pinggir sungai dengan pandangan tertuju ke depan. Entah, apa yang tengah ditatapnya.
"Hm...!" Sosok berpakaian merah itu sukar digambarkan ciri-cirinya, karena pakaiannya longgar membuat bentuk tubuhnya tak terlihat jelas. Apalagi wajahnya ditutupi topeng tengkorak sungguhan, sehingga sukar dikenali. Dia hanya menggumam pelan, tanpa sedikit pun bergeming atau bahkan menoleh. Sejak keluar beberapa minggu yang lalu dan kembali dalam keadaan terluka, Guru jadi sering berlaku seperti ini.
"Aku jadi ikut sedih dan terharu. Aku tidak ingin Guru bersedih. Aku ingin berbuat sesuatu untuk membantu Guru. Katakan, Guru. Apa yang telah terjadi?! Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu," — Ujar gadis berpakaian hitam, mulai berani.
Padahal menilik dari jari-jemarinya yang saling genggam dan dipermainkan, bisa terlihat kegelisahan hatinya. "Hhh...!" Sosok bertopeng tengkorak menghembuskan napas berat, seakan hendak menyingkirkan beban yang mengganjal dalam dada. "Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih atau bingung, Linggar. Kuharap lebih baik kau tidak usah memikirkan persoalan ini. Terlalu rumit! Kau akan bingung dan pusing nantinya!" Sahut sosok berpakaian merah, yang dipanggil guru.
"Tidak, Guru. Aku tidak akan pusing! Dan lagi, apa artinya pusing sedikit dibanding pengorbananmu. Guru telah memeliharaku sejak kecil, hingga sebesar ini dengan penuh kasih sayang. Guru telah menganggapku seperti anak sendiri. Bahkan aku menganggapmu sebagai orangtuaku sendiri. Tentu saja, itu kalau Guru tidak keberatan. Jadi, tidak ada salahnya kalau Guru menceritakan masalah yang menghimpit batinmu," ujar gadis berpakaian hitam yang dipanggil Linggar, panjang lebar sambil duduk di sebelah sosok bertopeng tengkorak yang tetap tak menoleh.
Sosok bertopeng tengkorak tidak memberi jawaban apa-apa. DIAM. Sementara Linggar menunggu dengan sabar, kendati tidak bisa menduga apa yang tengah berkecamuk dalam batin sosok gurunya ini. Amat sulit untuk membaca perasaan lewat wajah itu. Karena yang terlihat hanya topeng belaka, yang sejak dulu sorotnya selalu dingin!
"Ayolah, Guru. Tidak baik menyimpan masalah sendirian. Lagi pula, bila mengeluarkan masalah yang mengganjal hati, akan membuat dada dan pikiran menjadi lega," bujuk Linggar setengah bernada menggurui. "Kau benar," akhirnya keluar juga ucapan lewat mulut yang tidak pernah terlihat. "Tidak ada salahnya kau kuberitahukan. Barangkali saja kau bisa memecahkan masalah yang ku alami. Toh, kau telah cukup dewasa, dan memiliki kepandaian cukup untuk terjun dalam dunia persilatan."
"Terima kasih atas kepercayaanmu, Guru," ucap Linggar dengan wajah berseri-seri. Linggar sama sekali tidak tahu kalau di balik topengnya, sosok berpakaian merah itu tersenyum mendengar ucapannya. "Kau pernah kuceritakan mengenai anakku, bukan?!" tanya sosok berpakaian merah longgar itu sambil menoleh dan menatap sepasang mata Linggar lekat-lekat. Linggar sampai bergidik di dalam hati ketika melihat sepasang mata yang tajam mencorong dan bersinar kehijauan yang memancar dari balik topeng itu. Sorot mata yang seakan-akan dapat mengetahui apa yang tengah tersembunyi di dalam hati.
"Benar, Guru," jawab Linggar agak serak karena suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. Perasaan ngeri yang muncul tiba-tiba menyebabkan suara Linggar demikian. Dan dia mempunyai alasan yang kuat. Apalagi setelah menyadari kalau gurunya bukan dari golongan baik-baik. Malah sebaliknya! Meski terhadap dirinya amat baik, tapi Linggar tidak berani bertindak sembarangan. Dia tahu gurunya memiliki watak amat aneh. Bisa saja tanpa alasan sosok berpakaian merah itu akan menghukumnya. Bahkan membunuhnya kalau kebetulan tengah tidak senang hati!
"Nah! Itulah sebabnya, Linggar. Beberapa hari yang lalu, ketika tengah terjun ke dunia persilatan lagi, aku bertemu seorang pemuda yang wajahnya amat mirip dengan orangtuanya. Sehingga aku yakin, jangan-jangan anak itu adalah anakku yang terpaksa berpisah karena keadaan." Linggar tak begitu kaget mendengarnya. Apalagi gurunya telah terlalu sering bercerita tentang anaknya. "Apakah putramu itu mengenalmu, Guru?!"
"Tentu saja tidak! Topeng yang ku kenakan ini membuat wajahku tidak dikenalnya. Celakanya lagi, sebelum aku sempat menemukan akal agar dapat memperkenalkan diriku padanya, muncul seorang pendekar muda berjuluk Dewa Arak yang langsung mencampuri urusan ini. Kami terlibat pertarungan. Dan ternyata, dia lihai bukan main. Aku dapat dikalahkannya. Beruntung aku bisa melarikan diri. Kalau tidak..., entah apa yang terjadi dengan diriku..."
Barulah Linggar saat ini benar-benar kaget. Jadi..., luka yang Guru derita karena bentrok dengan Dewa Arak?! Hhh...! Biar aku yang akan membalaskan dendammu itu, Guru. Akan kucari Dewa Arak. Akan kubalaskan sakit hatimu, Guru. Dan apabila, dia terlalu lihai, akan kucari cara lain untuk mengalahkannya! Aku berjanji, Guru! Tandas Linggar seraya bangkit dengan kedua tangan terkepal. Sikapnya terlihat gagah bukan main. "Kalau begitu, wakililah aku untuk menemukan putraku itu. Juga balaskan dendamku pada Dewa Arak!" Titah sosok berpakaian merah longgar.
"Akan kulaksanakan perintahmu, Guru! Kapan aku harus berangkat?!" "Sekarang juga!" "Baik, Guru!" Jawab Linggar mantap. "Sekarang juga akan kupersiapkan semua yang kuperlukan untuk bekalku." Sosok berpakaian merah tidak memberi jawaban. Tapi, Linggar tidak menjadi kecil hati. Dia telah kenal betul watak gurunya yang aneh. Maka dengan semangat menggebu tubuhnya berbalik untuk kembali ke pondoknya untuk segera berangkat mencari Dewa Arak. "Aku pergi dulu, Guru!"
***
Linggar melakukan perjalanan tanpa tergesa-gesa. Sambil melangkah, kepalanya ditolehkan ke kanan dan ke kiri, menikmati pemandangan indah yang terhampar di sekitarnya. Tempat tinggal Linggar bersama gurunya memang di atas puncak Gunung Merbabu. Sewaktu meninggalkan gurunya, dia langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang membuat sosoknya tidak terlihat saking cepatnya bergerak. Bahkan kedua kakinya bagai tak menyentuh tanah!
Tapi begitu telah berada di lereng, perjalanan dilakukan secara biasa. Ketika mengalihkan perhatian ke depan, Linggar terperanjat. Di kejauhan dari kaki gunung, tampak berkelebat tiga sosok hitam di kejauhan. Gerakannya cepat bukan main. Dan mata Linggar yang tajam, segera saja mengetahui kalau itu adalah tiga sosok tubuh yang memiliki ilmu meringankan tubuh luar biasa! Jelas, mereka adalah orang-orang persilatan! Jantung Linggar berdetak jauh lebih cepat. Arah yang dituju tiga sosok itu adalah puncak Gunung Merbabu tempat gurunya tinggal!
Perasaan tidak enak, mulai merayapi hatinya. Karena Linggar tahu, tempat gurunya tinggal sangat terpencil, tidak pernah didatangi orang! Maka tak heran kalau Linggar mulai mengkhawatirkan keadaan gurunya. Bukan tidak mungkin kalau tiga sosok itu memang ingin menemui gurunya tanpa maksud baik. Meskipun demikian, Linggar berusaha tenang dengan sikap tak peduli. Kakinya terus terayun. Tapi baru beberapa belas tindak, terpaksa langkahnya dihentikan. Karena, tiga sosok itu telah berdiri berjajar menghalangi jalannya.
"Siapa kalian?! Mengapa menghalangi perjalananku?!" Tanya Linggar dengan sikap tenang sambil merayapi tiga sosok yang berdiri di hadapannya. "Ha ha ha...!" Salah seorang dari tiga sosok yang berdiri dalam jarak tiga tombak di depan Linggar tertawa terbahak-bahak. Seakan-akan pertanyaan yang diajukan gadis itu sangat lucu. Sosok itu memiliki tubuh tinggi besar dan bercambang bauk lebat. "Kau seorang gadis luar biasa, Anak Manis! Sungguh berani kau bersikap seperti itu pada kami! Kau tahu, siapa kami?!"
"Kami berjuluk Tiga Setan Langit Bumi!" Sambung lelaki yang bertubuh kecil kurus. Kemudian, jari tangannya yang kecil-kecil menuding kawannya yang lebih dulu berbicara. "Dia berjuluk Setan Tenaga Raksasa. Sedangkan aku berjuluk Setan Tanpa Bayangan." "Dan aku Setan Pisau!" Sambut lelaki terakhir yang warna kulit wajahnya kekuningan. Linggar terkejut. Tapi dengan pandainya, perasaan itu disembunyikan hingga tidak terlihat pada wajahnya yang cantik. Gurunya, pernah menceritakan tentang tokoh-tokoh dunia persilatan, baik dari golongan putih maupun hitam. Dan, Tiga Setan Langit Bumi ini termasuk dalam golongan hitam yang memiliki kepandaian tinggi.
Namun, Linggar tidak merasa gentar. "Dan maksud kalian menghadang perjalananku?!" Linggar mengulang pertanyaannya yang belum terjawab dengan sikap masih tenang. "Hanya untuk menanyakan keperluanmu berada di tempat ini," sahut Setan Pisau dengan sikap tenang. Di samping memiliki sikap tenang, Linggar juga memiliki watak cerdik. Maka mendapat pertanyaan ringan itu, tidak langsung dijawabnya. Dari pertanyaan seperti itu bisa jadi dirinya terperangkap bila memberi jawaban sejujurnya. Tentu saja keselamatan gurunya sangat dikhawatirkan. Dia tahu, gurunya banyak mempunyai musuh! Dan bukan tidak mungkin Tiga Setan Langit Bumi merupakan musuhnya.
"Kalau aku tidak mau menjawab?!" pancing Linggar. "Ha ha ha...!" Setan Bertenaga Raksasa tertawa bergelak. Tokoh ini memang gemar tertawa. "Ingin kami tahu, sampai berapa lama kau bisa bertahan untuk tidak memberi jawaban!" "Biar aku yang memaksanya!" Setelah berkata demikian, Setan Pisau menubruk Linggar. Tangan kanannya dengan jari-jari memegang kaku ditusukkan ke arah dada gadis berpakaian hitam ini. Bunyi mencicit tajam terdengar, ketika jari-jari tangan itu merobek udara.