Dewa Arak 81 Mustika Ular Emas
Cersil Dewa Arak 81 Mustika Ular Emas
Baca Online Dewa Arak 81 Mustika Ular Emas
MUSTIKA ULAR EMAS
Oleh: Aji Saka | Cetakan Pertama | Penerbit Cintamedia, Jakarta | Penyunting: Tuti S.
"Mari kita bermain-main dulu, Kak," ajak Suri sambil bangkit dan menarik-narik tangan Lanang. Sepasang matanya yang liar terlihat berbinar-binar ceria.
Lanang menatap wajah Suri sesaat. Pemuda pesolek itu sebenarnya merasa jijik dan muak. Tapi, keinginan yang besar untuk mendapatkan kesaktian membuatnya menyembunyikan perasaan itu. Dia bahkan menyunggingkan seulas senyum. "Aku mau saja bermain-main, Suri. Tapi, aku malas untuk berdiri."
"Kau tidak perlu bangkit, Kak. Aku yang akan membawamu ke tempat kita bermain," sambut Suri sambil mengikik. Gadis kurang waras ini gembira melihat tanggapan Lanang. Senyum yang tersungging di mulut Lanang semakin melebar. Pemuda ini memang hendak menguji tenaga dalam Suri. Kendati sebelumnya telah disaksikan sendiri kehebatan gadis berpakaian kembang-kembang itu.
Lanang segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk memberatkan tubuh. Pemuda ini merasa yakin bobot tubuhnya sekarang tidak kalah beratnya dengan seekor gajah! Suri tertawa mengikik. Otaknya yang tidak beres membuatnya menganggap Lanang sedang mengajaknya bermain-main. Maka, sambil tersenyum-senyum dicekalnya pangkal lengan kanan Lanang, lalu ditariknya ke atas.
Senyumnya semakin lebar ketika mengetahui tubuh pemuda itu tidak bergeming dari tempatnya. Lanang seperti menempel dengan bumi! "Rupanya kau pintar mencari permainan yang menarik, Kak," ujar Suri gembira. Semula gadis berpakaian kembang-kembang ini tidak mengerahkan tenaga dalam. Tapi, setelah tahu Lanang mengajaknya bermain dia pun mengeluarkan tenaga dalam.
Lanang merasakan kekuatan dahsyat memaksa tubuhnya naik ke atas. Pemuda ini bersikeras bertahan. Wajahnya sampai merah padam. Tapi, perlawanan Lanang hanya berlangsung sebentar. Betapapun ia berusaha bertahan tubuhnya tetap terangkat naik. Masih dalam posisi duduk bersila tubuh Lanang terbawa ke atas. Lanang sadar dia telah dikalahkan. Dia pun menurunkan kedua kakinya dan berdiri di tanah.
Lanang memperhatikan wajah Suri. Terkejut dia ketika mengetahui keadaan gadis itu biasa-biasa saja. Tidak terlihat tanda-tanda Suri telah bertarung tenaga dalam dengannya! Padahal, Lanang sampai berkeringat. Wajahnya pun masih merah. "Bagaimana, Kak? Perlukah kau kubawa sampai ke tempat kita bermain?" tanya Suri. Kelihatan betul gadis ini amat menyukai Lanang. Ia ingin selalu menyenangkan hati pemuda pesolek itu.
"Tidak usah, Suri." Lanang menggelengkan kepala. "Kalau begitu, mari kita keluar." Suri cepat menyambar pergelangan tangan Lanang dan dibawanya berlari. Tentu saja Lanang tidak ingin terseret-seret. Ilmu lari cepatnya segera dikerahkan. Namun, lagi-lagi pemuda pesolek ini menerima kenyataan pahit. Ilmu lari cepatnya tidak berarti sama sekali. Lanang tercecer di belakang. Kenyataan ini membuat Lanang mengambil keputusan lain. Dia tidak berlari lagi. Pemuda itu membiarkan Suri membawanya berlari. Suri baru menghentikan larinya ketika tiba di tepi sebuah hutan kecil.
"Di sinilah tempat kita bermain, Kak," ujar gadis berpakaian kembang-kembang itu. Pegangan tangannya dilepaskan. "Bermain apa, Suri?" tanya Lanang setelah mengedarkan pandangan memperhatikan suasana disekitarnya. "Terserah Kakak. Bermain apa pun aku mau," jawab Suri sambil menunduk malu-malu. Kalau menuruti perasaan, tentu Lanang sudah meludahi gadis itu. Meski sebenarnya jika tengah malu-malu seperti itu Suri tidak terlihat seperti gadis yang kurang waras.
Aku tidak begitu mengetahui jenis-jenis permainan, Suri. Kaulah yang tentukan jenis permainannya. Bagaimana? Kau setuju? Sambil menggigit jari telunjuknya, Suri mengangguk-anggukkan kepala. Tapi, jumlah anggukannya terlalu banyak. "Bagaimana kalau kita bermain petak umpet?" usul Suri. Sepasang alisnya mengernyit tampak lucu. "Boleh," sahut Lanang dengan hati dongkol. Dia sudah dewasa. Bermain petak umpet adalah permainan anak-anak kecil.
"Siapa yang jaga lebih dulu?" "Harus sut supaya adil," beritahu Suri dengan sepasang mata berbinar. Kalau aku menang, kau yang harus jaga. Tapi bila kau yang menang, aku yang akan sembunyi. Adil bukan? Lanang hampir saja mengangguk. Tapi, anggukannya tertahan ketika kalimat Suri dicernanya. Perjanjian curang. Suri terus beruntung. Lanang hampir saja membantah. Tapi ketika teringat dengan siapa dia berhadapan, kata-katanya ditelan kembali. "Aku setuju," ucap Lanang pelan.
Lanang membalikkan tubuh sambil membuka matanya. Seruan-seruan yang dikeluarkan sejak dia menghadap pada sebatang pohon besar sambil memejamkan mata tidak mendapat sambutan lagi. Suri telah bersembunyi. Lanang mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Dengan menajamkan pendengarannya pemuda pesolek ini mencoba mencari tempat persembunyian Suri. Biasanya Lanang memang mampu mengetahui sumber suatu suara hanya dengan mendengarnya. Tapi, hal itu ternyata tidak berlaku untuk Suri. Gadis itu sulit untuk diketahui jejaknya. Dengan ilmunya yang tinggi Suri dapat membuat suaranya seperti muncul dari segenap penjuru.
Lanang mengayunkan kaki meninggalkan pohon tempat penjagaannya, segera mengedarkan pandangan. Dia tidak ingin kecolongan. Bila Suri sampai lolos dari pengamatannya dan tiba di pohon yang dijaga, itu berarti Lanang harus berjaga lagi. Baru beberapa langkah meninggalkan tempat penjagaannya, Lanang mengernyitkan alis. Dia merasakan getaran keras pada tanah yang dipijaknya. Getaran yang hebat ini layaknya terjadi bila seekor gajah lewat. Perhatian Lanang jadi terpecah. Pemuda pesolek ini mempunyai kecerdikan yang luar biasa. Ia bisa memperkirakan kalau yang menimbulkan getaran hebat itu bukan gajah. Hutan kecil seperti ini mana mungkin ditinggali gajah? Lanang yakin bunyi seperti itu disebabkan oleh tenaga dalam yang amat kuat!
Jantung Lanang berdetak kencang. Orang yang mampu menimbulkan bunyi demikian pasti memiliki tenaga dalam tinggi. Dia sendiri tidak mampu melakukannya. Padahal, bunyi getaran yang berirama menunjukkan orang itu tengah berjalan. Senantiasa mengerahkan tenaga untuk menggetarkan tanah dalam setiap langkah merupakan sesuatu yang amat sulit! Lanang tidak mampu melakukan hal itu. Rasa penasaran mendorong Lanang mendekati tempat yang menjadi sumber bunyi. Baru beberapa langkah, pemuda pesolek ini berseru kaget. Lanang terlonjak ke belakang bagai orang menginjak ular berbisa!
Sepasang mata pemuda itu tertuju lurus ke depan. Hamparan rumput setinggi setengah tombak yang berada kira-kira sepuluh tombak di depannya menguak ke kanan dan ke kiri, membentuk jalan kecil. Pemandangan ini sangat mengejutkan Lanang. Sebelum perasaan kaget yang melanda hatinya lenyap, muncul sesosok tubuh pendek gemuk. Sosok itu berada hampir dua puluh tombak dari Lanang. Sekarang Lanang mengerti mengapa hamparan rumput seperti menyibak memberi jalan. Sosok pendek gemuk itulah penyebabnya. Sosok itu tidak terlihat melakukan tindakan apa pun. Ia hanya berjalan lurus. Tapi, mengapa rumput-rumput itu menyibak memberi jalan?
"Horeee...!" Seruan gembira yang melengking nyaring membuat Lanang teringat dengan permainannya. Lanang hafal betul pemilik suara itu. Pemuda pesolek ini menoleh ke belakang. Di pohon yang harus dijaganya berdiri dengan gembira Suri. Gadis berpakaian kembang-kembang itu berhasil memenangkan permainan. Lanang harus berjaga lagi. Tapi Lanang hanya sebentar menoleh. Cepat pandangannya dialihkan lagi ke depan. Dilihatnya sosok pendek gemuk semakin mendekat. Sekarang Lanang baru melihat jelas penyebab pemandangan aneh itu.
Semakin dekat sosok pendek gemuk itu dengan rumput, keadaan rumput semakin kacau. Jelas, penyebab semua itu adalah sosok pendek gemuk. Lanang yang cerdik segera tahu di sekitar tubuh sosok pendek gemuk berhembus angin keras yang menerpa rumput-rumput. Pameran tenaga dalam tingkat tinggi yang sangat mengagumkan! Lanang merasa amat tertarik. Ia memperhatikan sosok pendek gemuk hingga melintasi hamparan rumput. Kembali Lanang melihat pemandangan yang menakjubkan. Begitu sosok pendek gemuk keluar dari hamparan rumput, tanaman-tanaman itu kembali berdiri tegak seperti semula! Lanang terbengong-bengong saking takjubnya. Pemuda pesolek ini merasa yakin sedang bertemu dengan seorang tokoh sakti. Bahkan, dia yakin sosok pendek gemuk yang ternyata seorang kakek berkepala botak memiliki kepandaian di atas bekas ayahnya, Naga Sakti Berwajah Hitam.
Kakek berkepala botak yang menjadi pusat perhatian Lanang tampak bersikap tidak peduli. Wajahnya tetap berseri-seri dan penuh senyum. Kaki-kaki bulat dan pendek itu terus terayun mantap. Lanang tercekat merasakan tanah yang dipijaknya semakin bergetar hebat. Bunyi berdebam keras seperti langkah seekor gajah, terdengar. Lanang semakin merasa pasti kakek itu memang orang sakti. Dilihatnya jelas kakek pendek gemuk melangkah biasa, tidak dijejakkan. Namun akibatnya demikian menakjubkan! "He he he...!" Kakek pendek gemuk terkekeh ketika jaraknya tinggal dua tombak dari Lanang. Langkah kakinya dihentikan. Masih dengan senyum diperhatikannya sekujur tubuh bekas putra Naga Sakti Berwajah Hitam. Luar biasa anehnya dunia ini. Belum lama aku bertemu seorang pemuda gagah dan kuat laksana batu karang dan seorang kakek gila berpakaian terbalik, sekarang aku bertemu dengan seorang banci. He he he...!
Wajah Lanang merah padam. Sudah dua kali dia dimaki sebagai banci. Pertama oleh Jumini. Kali ini oleh kakek pendek gemuk. Padahal kendati pesolek, Lanang paling benci bila dianggap perempuan. Apalagi banci. Sayang sekali aku tengah mempunyai urusan penting. Kalau tidak, aku akan senang sekali bermain-main denganmu, ujar kakek pendek gemuk sambil melangkah maju. Kali ini tidak ada getaran pada tanah. Tapi Lanang merasakan dorongan angin keras keluar dari tubuh kakek itu. Lanang terkejut bukan main. Dia segera bertindak cepat. Seluruh tenaganya dikerahkan untuk membuat kakinya menjejak bumi. Lanang berhasil mencegah dorongan angin keras tidak membuat tubuhnya terhuyung. Namun itu terjadi ketika kakek pendek gemuk melangkah dua tindak. Pada langkah ketiga dorongan itu demikian kuat Lanang bersikeras untuk bertahan. Wajahnya sampai merah padam. Di langkah keempat, pemuda pesolek ini tidak mampu bertahan lagi. Lanang terdorong ke belakang sejauh tiga tombak!
Tanah tergurat cukup dalam ketika tubuh pemuda pesolek itu terseret. Kakek pendek gemuk terus saja melangkah. Lanang yang merasa penasaran mengirimkan serangan. Pemuda pesolek itu menghentakkan kedua tangan terbuka ke depan. Sebuah serangan jarak jauh dilancarkan. Serangkum angin keras meluruk ke arah kakek berkepala botak. Hembusan angin yang mampu menghancurkan sebongkah batu sebesar gajah. Kakek pendek gemuk tahu akibat serangan itu. Tapi, dia bersikap tidak peduli. Baru ketika serangan menyambar dekat, dia melakukan gerak meniup! Lanang terperanjat. Pukulan jarak jauhnya lenyap begitu saja bagai tertelan sesuatu. Keterkejutannya membesar ketika melihat kakek itu kembali meniup. Lanang mencoba mengelak. Tapi, kakek pendek gemuk cepat bertindak. Dia bersiul pelan dengan mempergunakan ibu jari dan jari tengah. Akibatnya sungguh mengagumkan. Lanang merasakan sekujur tubuhnya mendadak lemas. Tenaganya lenyap entah ke mana. Otot-otot tubuhnya seakan lumpuh! Lanang tercekat ketakutan. Maut berada di hadapannya. Tiupan kakek pendek gemuk tidak kalah dengan hantaman tongkat pusaka! Cukup untuk mengirim nyawanya melayang ke alam baka. Di saat genting bagi keselamatan nyawa bekas putra Naga Sakti Berwajah Hitam itu, suatu kekuatan dahsyat menarik tubuhnya ke belakang!
Bagi Anda pembaca setia cerita silat klasik, Anda juga bisa mengikuti kisah kelanjutan petualangan yang tidak kalah seru melalui tautan Dewa Arak 71 Petualang-Petualang dari Dunia Lain untuk membaca koleksi online terlengkap.
Lanang yang tengah tidak berdaya tidak mampu mencegahnya. Tubuhnya tertarik dengan deras. Tapi, justru inilah yang menyelamatkan nyawa pemuda itu. Serangan kakek pendek gemuk tidak mengenai sasaran. Lewat beberapa jengkal di depan tubuhnya. Kekuatan dahsyat itu membuat Lanang terjengkang! "He he he...!" Kakek pendek gemuk terkekeh gembira. Wajahnya makin berseri-seri. Sepasang matanya pun berbinar-binar. Padahal, sekejap tadi memancarkan sinar maut ketika serangannya kandas akibat campur tangan orang. "Rupanya aku tengah laris. Ada lagi yang ingin mengajakku bermain-main ini!"
"Tutup mulutmu, Manusia Aneh! Siapa yang sudi bermain dengan orang sepertimu? Jijik aku! Kau ini orang atau bola? Sudah jelek masih berani mengajak calon suamiku bermain-main. Benar-benar tidak tahu diri! Cepat pergi sebelum aku memecahkan kepalamu yang mirip batu itu!" Di depan kakek botak, membelakangi Lanang yang sekarang telah berdiri tegak, berdiri gadis berpakaian kembang-kembang. Suri. Gadis ini marah bukan main. Kedua tangannya ditaruh di pinggang. "He he he...!" Kakek pendek gemuk malah tertawa. Lanang memperhatikan kedua orang yang berdiri berhadapan dan siap bertarung itu dengan hati berdebar tegang. Tingkah laku kakek botak mengingatkannya pada seorang tokoh tua yang telah lama meninggalkan dunia persilatan. Naga Sakti Berwajah Hitam telah banyak menceritakan tentang tokoh-tokoh besar. Salah seorang di antaranya mempunyai sifat seperti kakek pendek gemuk ini. Lanang yakin kakek itu tokoh yang dimaksud bekas ayahnya. Dialah Setan Gila!