Senin, 20 Juli 2026

Dewa Arak 82 Lorong Batas Dunia

Dewa Arak 82 Lorong Batas Dunia

Cersil Dewa Arak 82 Lorong Batas Dunia

Baca Online Dewa Arak 82 Lorong Batas Dunia


Sinopsis & Baca Online Cerita Silat Dewa Arak Episode 82


Daftar Episode & Link Komunitas Pembaca


Cuplikan Kisah: Misteri Mustika Ular Emas

"Benarkah apa yang kulihat ini?!"

Pertanyaan itu dilontarkan Begawan Narasoma dengan suara bergetar. Pandang matanya tidak beralih dari langit yang berwarna kuning emas.

"Apakah aku tengah bermimpi?!"

Lagi-lagi pertanyaan yang mengandung ketidakpercayaan keluar dari mulut Begawan Narasoma. Dirgantara dan Tulini masih terkesima menatap pemandangan menakjubkan itu.

"Tidak, Kak Nara," Tulini memberikan tanggapan. Kepalanya menggeleng tanpa melepaskan perhatian dari langit. "Benar, Ayah." Dirgantara menimpali. "Ayah tidak bermimpi. Apa yang kita lihat itu benar-benar terjadi."

Ular Emas telah keluar ke dunia ramai, Kak Nara. Ular yang akan membuat Telur Elang Perak kehilangan kemampuannya, sambung Tulini.

"Kalian benar." Begawan Narasoma mengangguk-angguk. "Alangkah adilnya Yang Maha Kuasa. Begitu Telur Elang Perak terjatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, Ular Emas dikeluarkan dari alamnya."

"Dapatkah Ayah mencari di mana Ular Emas itu keluar?" tanya Dirgantara penuh minat.

"Entahlah, Dirga." Begawan Narasoma menghela napas berat. "Aku tidak yakin. Apalagi keadaanku sekarang tidak mengizinkan."

"Tapi, tidak ada salahnya kau mencoba, Kak Nara?" desak Tulini. "Barangkali sudah menjadi garis Dirgantara anugerah ini."

Akan kucoba, Tulini. Tapi, ingat! Aku tidak berani memastikan usahaku akan berhasil. Kalian jangan terlalu berharap. Tulini tersenyum gembira. Demikian pula Dirgantara. Tulini yakin suaminya akan berhasil. Dia tahu betul kesaktian kakek berpakaian putih ini. Terutama dalam hal ilmu gaib. Maka, perkataan Begawan Narasoma yang terakhir tidak diperhatikannya.

BACA JUGA: Sebelum melanjutkan, simak kisah terdahulu yang tak kalah menegangkan di Dewa Arak 72: Batu Kematian untuk memahami silsilah pusaka tanah Jawa.

"Ayah, apakah cerita tentang Ular Emas dan mustikanya ini banyak diketahui orang?" Tulini menatap Begawan Narasoma dengan hati kaget. Pertanyaan Dirgantara menimbulkan kekhawatiran dalam hatinya. Kalau banyak orang yang tahu, mereka pasti akan melakukan pencarian. Ini berarti banyak saingan. Kemungkinan Dirgantara mendapatkan Mustika Ular Emas menjadi kecil.

Begawan Narasoma tidak segera menjawab. Dia tercenung beberapa saat. Dirgantara dan Tulini hampir kehilangan kesabaran.

"Kalau menurut pendapatku, jarang bahkan hampir tidak ada orang yang mengetahui cerita mengenai Ular Emas. Tapi, perlu kalian sadari, peristiwa langit berwarna kuning emas ini terlalu menyolok. Aku yakin ini akan berakibat panjang. Tokoh-tokoh persilatan pasti akan mencari tahu mengapa alam menjadi seperti ini. Bila itu terjadi, apalagi sampai tokoh-tokoh ahli kebatinan turun tangan, aku yakin masalah Ular Emas ini terungkap."

"Kita harus bertindak cepat, Kak Nara. Mumpung tokoh-tokoh lainnya belum tahu. Kau yang menjadi andalan kami, Kak Nara. Hanya kau yang bisa melacak di mana munculnya binatang ajaib itu."

Begawan Narasoma tersenyum getir. Ucapan Tulini tidak salah. Tapi, dia sudah tidak berhasrat lagi ikut campur dalam urusan seperti ini. Kalau saja tidak ada Dirgantara amat menginginkan pusaka itu, mungkin dia akan lepas tangan.

Mari kita cari tempat untuk menyembuhkan lukaku dan mencari tahu di mana adanya ular itu. Aku punya firasat tempat ini sudah tidak aman lagi.

"Pindah ke mana, Kak Nara?"

Aku pun belum tahu, Tulini. Yang jelas pindah dari sini. Aku merasa tidak enak. Aku yakin ada bahaya besar tengah mengancam. Sayang, aku tidak tahu!

Dirgantara bingung. Tapi, tidak demikian dengan Tulini. Wanita ini tahu betul siapa Begawan Narasoma. Kakek itu mempunyai indera keenam yang sangat tajam. Tanpa membuang-buang waktu lagi dibopongnya tubuh Begawan Narasoma. "Mari, Dirga. Cepat..!" Tulini melesat cepat meninggalkan tempat itu. Dirgantara tidak mempunyai kesempatan untuk menanggapi ucapan ibunya. Dia pun melesat mengikuti wanita itu.


"Arya...! Lihat...!"

Arya yang tengah berlari di sebelah Linggar mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk gadis berpakaian hitam itu. Sepasang mata Arya membelalak seperti halnya Linggar. Pemuda berambut putih keperakan ini memperlambat larinya. Linggar mengikuti.

"Apa yang terjadi, Arya? Mengapa langit berwarna keemasan?"

Aku tidak mengerti, Linggar. Tapi, aku merasa tidak enak. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang menyeramkan, jawab Arya sungguh-sungguh.

Pemuda berambut putih keperakan ini memang mempunyai naluri tajam. Dia bisa tahu bila bahaya mengancam dirinya. Keistimewaan itu didapatnya setelah belalang raksasa dari alam gaib beberapa kali masuk ke dalam dirinya. (Untuk jelasnya mengenai belalang raksasa, silakan baca episode: Dalam Cengkeraman Biang Iblis).

"Bahaya menyeramkan? Bahaya apa itu, Arya?" tanya Linggar, penuh rasa ingin tahu.

"Aku tidak tahu, Linggar. Tapi, aku yakin betul hal itu. Perasaan ini tidak pernah menipuku." Arya mengedarkan pandangan ke sana kemari. Urat-urat sarafnya menegang. Siap menghadapi segala kemungkinan.

"Bagaimana dengan maksud kita untuk menemui Begawan Narasoma alias Iblis Buta?" Linggar mengingatkan Arya akan tujuan mereka.

Kurasa hal itu bisa diurus belakangan, Linggar. Aku yakin dia sudah tidak berada di tempatnya. Apakah ini ada hubungannya dengan warna langit itu?

"Aku tidak tahu. Menurut pendapatku, mungkin ada hubungannya. Tak mungkin alam menunjukkan tanda-tanda aneh kalau tidak akan terjadi sesuatu yang luar biasa," jelas Arya.

Linggar diam. Gadis ini merasakan adanya kebenaran dalam ucapan pemuda berambut putih keperakan itu. "Terserah kau saja, Arya. Aku hanya mengikuti." Gadis berpakaian hitam ini tersenyum manis.

Jawaban Linggar langsung mendapat tanggapan Arya. Larinya dipercepat, Linggar melakukan hal yang sama. Muda-mudi ini bagaikan dua sosok bayangan berkejaran menuju kaki gunung.

Kekhawatiran Arya ternyata beralasan. Begitu mereka hampir tiba di kaki gunung, bumi yang dipijak bergetar. Semakin lama semakin keras.

"Apa yang terjadi, Arya?!" Linggar terkejut. Wajah gadis itu tampak sedikit pias.

Entahlah, Linggar. Mungkin gunung ini hendak meletus! Tidakkah kau lihat keriuhan di sana. Binatang berbondong-bondong menuju kaki gunung. Wajah Arya juga memperlihatkan ketegangan. Linggar tidak memberikan sambutan. Membayangkan gunung meletus membuat nyali gadis ini ciut. Rasa takut dan cemas mendera hatinya. Perasaan itu mendorongnya ingin berlari secepat mungkin agar bisa berada sejauh-jauhnya dari tempat ini.

Tiba-tiba, terdengar bunyi menggelegar. Arya maupun Linggar merasakan tanah yang mereka pijak bergetar cepat. Tubuh keduanya terlempar jauh ke atas. Beruntung mereka memiliki ketenangan yang cukup. Itu pulalah yang menyelamatkan nyawa orang-orang muda ini. Keduanya bersalto beberapa kali untuk mematahkan kekuatan yang membuat tubuh mereka terlontar. Sesaat kemudian, keduanya menjejak tanah dengan mantap.

Keberhasilan tindakan mereka tidak membuat bahaya yang mengancam lenyap. Bunyi menggelegar yang ternyata berasal dari gunung meletus membuat keadaan di sekitar tempat itu bagai kiamat! Batu-batu besar dan kecil saling berlomba menggelinding ke kaki gunung. Di belakangnya mengalir lava panas bagai tangan-tangan maut, menghanguskan apa saja yang dilandanya.

Arya dan Linggar berusaha sekuat tenaga menyelamatkan selembar nyawa. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil menjauhi tempat itu. Keduanya terus berlari kencang. Baru ketika berada di tempat yang dirasa aman mereka menghentikan langkah dan berbalik memperhatikan gunung yang tadi mereka pijak. Wajah mereka tampak diliputi kengerian.


Penunggang kuda berpakaian coklat itu memacu binatang tunggangannya bagai dikejar setan. Jalan berbatu yang menanjak tidak membuatnya memperlambat kecepatan kuda. Terpaan angin kencang mengibarkan rambut dan pakaiannya. Panas menyengat dari sang surya berada tepat di atas kepala.

"Uh...!" Penunggang kuda yang ternyata seorang pemuda itu mengeluarkan keluhan kaget. Pendengarannya yang tajam menangkap bunyi berdesing nyaring. Dia melihat beberapa batang anak panah meluncur ke arahnya dengan kecepatan tinggi.

Si pemuda melompat dari punggung kuda seraya menggebah binatang tunggangannya. Bersamaan dengan tubuhnya yang melayang ke atas, kuda hitam itu melesat ke depan. Tindakan pemuda itu membuat anak-anak panah meluncur lewat di bawah kakinya. Pemuda berpakaian coklat bersalto ke depan beberapa kali dan mendarat di punggung kuda hitamnya yang masih terus berlari.

Bagai tidak terjadi peristiwa apa pun, digepraknya tali kekang hingga kuda hitam itu berlari semakin cepat. Baru beberapa tombak terdengar bunyi bergemuruh dari tempat yang tengah dituju si pemuda. Wajah pemuda berpakaian coklat berubah hebat. Dia bisa memperkirakan apa yang tengah terjadi. Kuda hitam itu pun demikian. Nalurinya memperingatkan adanya bahaya mengancam. Binatang ini menghentikan lari dan meringkik keras-keras. Kedua kaki depannya diangkat tinggi ke udara.

Pemuda berpakaian coklat mengerti maksud binatang tunggangannya. Kuda itu gelisah dan ingin melemparkan tuannya dari punggung, lalu dia berlari meninggalkan tempat itu untuk mencari selamat. Si pemuda tidak menginginkan hal itu terjadi. Ditepuk-tepuknya leher dan punggung binatang itu untuk menenangkannya. Tapi, kuda hitam ternyata telah benar-benar ketakutan. Usaha yang dilakukan pemuda berpakaian coklat sia-sia. Kuda hitam terus meringkik, kalap. Bahkan sekarang melonjak-lonjak tak karuan.

Tapi, usaha kuda hitam tidak membuahkan hasil. Pemuda berpakaian coklat bagai lintah, melekat erat di punggungnya. Betapapun punggungnya telah dilekukkan sedemikian rupa tetap saja tubuh si pemuda tidak terlontar.

Saat itulah batu-batu sebesar kerbau muncul. Tidak hanya satu, tapi beberapa buah. Yang paling kecil mempunyai ukuran sebesar kambing. Kuda hitam semakin kalap. Binatang itu menggulingkan tubuhnya. Pemuda berpakaian coklat terperanjat. Tubuhnya akan tertindih dan terus terguling. Si pemuda tentu saja tidak menginginkan itu terjadi. Di saat kuda hitam baru memiringkan tubuh pemuda berpakaian coklat mengerahkan tenaga untuk menahan. Sementara batu sebesar kerbau yang lebih dulu meluncur akan menabrak kuda hitam berikut penunggangnya.

Pemuda berpakaian coklat mengeluarkan pekikan nyaring. Wajahnya menegang. Sesaat kemudian, tubuh kuda hitam terangkat ke udara. Si pemuda menjepit perut kuda dengan kedua kakinya. Kuda hitam terangkat dari tanah tak kurang dari satu tombak. Batu sebesar kerbau meluncur lewat di bawahnya. Demikian pula dengan batu-batu lainnya. Kuda hitam itu baru menjejak tanah dengan keempat kakinya ketika luncuran batu-batu telah usai.

"Wahai orang yang berada di atas! Tahan serangan...! Aku datang tidak dengan maksud jahat..."

Pemuda berpakaian coklat berteriak keras. Kemudian hening sejenak setelah si pemuda mengeluarkan seruan. Pemuda itu tidak memacu kudanya lagi. Dalam keadaan masih duduk di atas punggung kuda, dia mengedarkan pandangan ke depan.

"Kalau kau memang tidak berniat jahat, kami sarankan untuk meninggalkan tempat ini!" sambut sebuah suara dari bagian atas bukit tempat pemuda berpakaian coklat berada. Bagian itu terlindung gundukan batu yang agak besar.

"Aku tidak bisa memenuhi permintaan itu!" lantang jawaban pemuda berpakaian coklat. "Aku mempunyai urusan penting. Karena itu, aku berada di tempat ini!"

"Kami ulangi peringatan kami...! Kalau kau memang mempunyai kepentingan, harap tunda dulu sehingga beberapa hari. Kalau tidak, kau terpaksa akan berhadapan dengan kami!" timpal suara dari balik gundukan batu.

"Urusanku ini tidak bisa ditunda! Aku tidak ingin perjalananku sia-sia!" Pemuda berpakaian coklat memperkeras suaranya. "Apakah kalian prajurit-prajurit kerajaan...?"

Tidak ada tanggapan.

Ketahuilah, kedatanganku kemari menyangkut keselamatan Panglima Anggar Bayu! Ada seorang sakti yang dendam terhadapnya. Ia akan melakukan pembalasan. Kuharap kalian bersedia memberitahukan dan memintanya untuk meninggalkan tempat ini sesegera mungkin!

Si pemuda menyambung ucapannya. Dia yakin ucapannya didengarkan kendati tidak diterimanya sambutan dari atas. Kembali suasana menjadi hening ketika pemuda berpakaian coklat menyelesaikan perkataannya.

Disqus Comments