Senin, 20 Juli 2026

Dewa Arak 83 Irama Maut

Dewa Arak 83 Irama Maut

Cersil Dewa Arak 83 Irama Maut

Baca Online Dewa Arak 83 Irama Maut

Visualisasi Pendekar Dewa Arak Arya Buana dalam Episode Irama Maut.

Akses Komunitas & Jadwal Rilis Komplit

Untuk berdiskusi langsung dengan sesama pencinta cerita silat klasik, Anda dapat bergabung melalui Grup Facebook Komunitas Cerita Silat Klasik. Simak juga kisah petualangan epik sebelumnya dalam tautan Dewa Arak Episode 73: Pembantai dari Mongol.

Klik untuk Melihat Daftar Episode Facebook Mentahan

Serial Dewa Arak 83: Irama Maut

Karya: Aji Saka | Cetakan pertama, Penerbit Cintamedia, Jakarta | Penyunting: Tuti S. | Hak cipta pada Penerbit. Dilarang mengcopy atau memperbanyak, sebagian atau seluruh isi buku ini, tanpa izin tertulis dari penerbit.


Seorang pemuda berpakaian ungu dengan tenang menggeragoti potongan daging panggang di tangannya. Kelihatannya nikmat sekali. Beberapa batang ranting bekas tusukan daging panggang berserakan di sekitar tempatnya duduk.

"Sedap sekali baunya...!"

Ucapan nyaring yang diiringi dengusan bunyi hidung membuat pemuda berpakaian ungu menghentikan makannya. Dengan tangan masih menggenggam ranting tempat daging panggang, kepalanya ditolehkan ke arah asal suara. Sayang, pemilik suara itu tidak terlihat. Kerimbunan semak-semak yang lebat menghalangi pandangan pemuda berpakaian ungu.

"Kau lapar, Sahabat?!" Suara yang sama dengan sebelumnya kembali terdengar. Kali ini nadanya seperti tengah bertanya pada seseorang. "Ternyata kita sama. Aku pun lapar. Sayang aku tidak punya sesuatu yang bisa dimakan. Tahan sebentar laparmu. Atau, kau ingin daging panggang yang berbau enak itu? Oh, tidak. Jadi apa yang kau mau? Buah-buahan? Baik. Akan kucarikan untukmu."

Suara itu tidak terdengar lagi. Yang ada hanya bunyi senandung tanpa kata. Pemuda berpakaian ungu mengernyitkan dahi. Meski belum bisa melihat, dia bisa memperkirakan pemilik suara itu orang yang telah berusia lanjut. Tepatnya lagi salah satu di antaranya tengah bercakap-cakap. Berarti dia tidak sendirian.

Pemuda berpakaian ungu yang memiliki wajah tampan tapi berambut putih keperakan itu bangkit dari duduknya. Dia adalah Arya Buana atau yang berjuluk Dewa Arak.

"Aha...! Lihat, Sahabat. Rupanya peruntungan kita baik sekali hari ini. Jambu-jambu air telah matang. Mari, Sahabat. Kita sikat sampai tuntas!" Pemuda berambut putih keperakan tersenyum, geli mendengar perkataan itu. Didengarnya jelas langkah-langkah kaki yang menghantam bumi. Agaknya pemilik suara tengah berlari. Kendati perasaan geli melanda hati, dia tidak mampu mengusir perasaan herannya. Langkah-langkah yang terdengar hanya sepasang! Lalu, orang yang diajak bicara itu?

Rasa heran menumbuhkan rasa ingin tahu. Arya mengayunkan kaki menuju tempat pemilik suara. Mungkinkah orang yang diajak bicara memiliki ilmu meringankan tubuh yang demikian tinggi sehingga bunyi langkahnya tidak terdengar? Begitu menerobos kerimbunan semak, pemuda itu telah bisa melihat apa yang terjadi.

Pertemuan Aneh dengan Si Muka Hijau

Sepasang alisnya berkerut menyaksikan pemandangan yang terpampang di depan matanya. Di hadapan pemuda berpakaian ungu, sampai jarak belasan tombak, tidak terhalang apa pun. Tanah di situ hanya ditumbuhi rerumputan pendek dan kering. Sepasang mata Arya yang mencorong tajam hanya melihat sesosok tubuh. Bukan dua seperti yang diduganya semula.

Seorang kakek bertubuh bungkuk berjalan dibantu tongkat butut. Pakaiannya penuh tambalan. Ia kelihatan ringkih dan miskin! Pemuda berambut putih keperakan menggelengkan kepala seraya mengembangkan senyum di bibir ketika melihat tingkah kakek bungkuk.

"Sabar, Sahabat. Biar kuambilkan buah-buah itu untukmu," ucap kakek itu sambil menoleh ke sebelah kiri. Kakek bungkuk lalu mendongak. Buah yang dimaksudnya memang banyak bergantungan di dahan. Daun pohon yang lebat tidak terlihat karena banyaknya buah jambu berwarna merah segar.

Senyuman geli Arya buyar ketika kakek bungkuk tidak segera mengambil buah-buah segar itu. Ia hanya mendongak ke atas, memperhatikan buah-buah yang letaknya tak kurang tiga tombak dari tanah. Apakah kakek bungkuk itu kebingungan untuk mengambilnya?

Kakek bungkuk lalu mengalihkan pandangannya ke bawah. Tingkahnya menunjukkan ada sesuatu yang tengah dicarinya. Pemuda berambut putih keperakan mengurut dada melihat kakek itu memungut sebongkah batu sebesar kepalan bayi. Rasa iba menyergap harinya, dia bisa mengira tindakan yang akan dilakukan kakek bungkuk. Kakek itu agaknya tidak memiliki ilmu silat.

Kakek bungkuk melemparkan batu ke arah buah-buah jambu bergantungan. Bunyi berkerosakan terdengar ketika batu menerobos dedaunan dan jatuh kembali ke tanah. Beberapa helai daun berhamburan. Namun, tak satu pun buah jambu yang jatuh. Kakek bungkuk mengulangi tindakannya sampai beberapa kali. Hasilnya tetap nihil. Kendati demikian dia tidak putus asa. Batu itu tetap dipungutnya kembali.

"Sabar, Sahabat. Percayalah. Tak lama lagi buah-buah itu akan jatuh. Kita akan menikmatinya sampai puas...!" terdengar agak memburu napas kakek bungkuk. Rupanya perbuatan yang dilakukannya cukup melelahkan.

Pemuda berambut putih keperakan tak kuat lagi menahan rasa kasihan. Dia segera melesat menghampiri kakek bungkuk. "Istirahatlah, Sobat. Biar kucoba mengambilkannya untukmu," ujar Arya seraya menyentuh bahu kakek bungkuk.

Kakek bungkuk itu tersenyum melihat keberadaan pemuda berpakaian ungu di belakangnya. "Terima kasih. Terima kasih atas bantuan yang kau berikan padaku dan sahabatku," Kakek bungkuk menoleh ke sebelahnya seakan-akan di situ ada seseorang yang disebutnya sebagai sahabat.

Arya tidak merasa heran lagi melihat kelakuan kakek bungkuk. Kakek itu berwajah kehijauan. Sepasang matanya selalu berputar liar seperti mata orang tak waras. Arya menolehkan kepala ke tempat kakek berwajah kehijauan itu menoleh. "Boleh kutahu siapa kau dan..., sahabatmu ini, Kek?" Pemuda berpakaian ungu mengulurkan tangan. "Namaku Arya. Arya Buana. Seorang pengelana."

Kakek bungkuk terkekeh memperlihatkan gigi-giginya yang kuning dan sebagian menghitam. "Namaku? Aku sudah tidak ingat lagi, Anak Muda. Atau, jangan-jangan orang tuaku tak memberikan nama padaku. Tapi, panggil saja aku Muka Hijau. Ya, si Muka Hijau! Adapun sahabatku ini.., panggil saja si Tak Punya Bentuk." Kakek bermuka hijau tercenung bingung. "Sepertinya terlalu panjang nama-nama yang kuberikan. Kalau begitu panggil saja aku, Hijau. Dan kawanku ini, Sahabat. Lebih pendek dan enak diucapkan."

Arya mengangguk. Lalu katanya, "Sekarang bagaimana, Hijau. Dan juga kau, Sahabat? Bolehkah aku membantu kalian. Kebetulan aku pun hendak menikmati jambu-jambu yang kelihatannya enak itu."

"Tentu saja!" Hijau mengangguk. "Bukankah demikian, Sahabat? Tidak usah ragu-ragu, Anak Muda. Ambilkan jambu-jambu itu untuk kami. Gunakan bajumu untuk menadahi jatuhnya jambu-jambu, Hijau."

Manifestasi Tenaga Dalam Tingkat Tinggi

Tanpa banyak cakap, si kakek segera melakukan perintah Arya. Pemuda berambut putih keperakan itu menjulurkan tangannya ke arah batang pohon jambu. Si kakek terjingkat ke belakang sambil menjulurkan tangan ke sebelahnya, seperti layaknya tengah membawa seseorang untuk melompat ke belakang. Kelihatan jelas Hijau terkejut. Sepasang mata Hijau membelalak lebar memperhatikan pohon jambu yang bergetar keras bagai diguncang-guncangkan tenaga raksasa.

Guncangan itu demikian keras sehingga jambu-jambu berjatuhan dari tangkainya. Buah-buhan berguguran ke bawah. Tidak hanya pada bagian di mana Hijau dan Arya berada, tapi juga di bagian lain. Kendati demikian, semua jambu yang jatuh meluncur ke tempat Hijau berdiri dengan baju dikembangkan. Pemandangan yang menakjubkan. Buah-buahan merah menggiurkan itu meluncur menyerong, seakan baju Hijau mempunyai daya tarik yang amat kuat.

"Luar biasa...! Tidak salahkah yang kita lihat ini, Sahabat? Jambu-jambu itu semuanya menuju kita. Luar biasa...! Kita akan kenyang, Sahabat. Kita akan kenyang...!" seru Hijau sambil tertawa kegirangan. Arya tersenyum melihat tingkah Hijau. Kakek itu tertawa-tawa gembira sebagaimana seorang anak kecil yang menemukan mainan. Dia berkali-kali menoleh ke sebelahnya.

"Cukupkah itu, untuk kau, Sahabat, dan aku?" tanya Arya. "Cukup. Cukup, Anak Muda. Bukankah demikian, Sahabat?" Lagi-lagi kakek bungkuk itu menoleh ke sebelahnya. "Anak muda, Sahabat mengatakan sudah cukup. O ya, bisa kau beritahu bagaimana cara melakukan keajaiban seperti itu?"

Arya tercenung sesaat. "Sulit untuk mengatakannya, Hijau," katanya kemudian. "Katakan saja, Anak Muda. Aku ingin memiliki kemampuan seperti itu. Ah, betapa senangnya. Aku tidak perlu takut kelaparan lagi. Katakan saja, Arya," desak Hijau.

Arya membisu. Bagaimana mungkin kakek itu bisa mempelajarinya. Yang dilakukannya tadi membutuhkan tenaga dalam amat kuat. Tidak sembarang tokoh persilatan mampu melakukan hal itu. Tenaga dalam sekuat dirinya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipelajari. Apalagi orang selemah Hijau yang tidak memiliki tenaga dalam sama sekali.

"Ayolah, Arya. Jangan pelit padaku. Kalau kau tidak mau mengajarinya, pandanglah Sahabat, pandanglah muka kawanku ini. Kuharap kau bersedia mengajariku, Arya. Aku ingin memiliki kemampuan seperti yang kau lakukan agar Sahabat tidak kelaparan."

Arya tidak punya pilihan lagi untuk mengelak. "Baiklah, Hijau. Aku akan memberitahu caranya. Tapi, bagaimana kalau kau tidak bisa melakukannya? Kau membutuhkan tenaga dalam untuk melakukan hal seperti yang kulakukan."

"Tenaga dalam?!" Hijau menyelak. "Apa itu, Arya?"

"Sesuatu yang tersimpan di pusar. Seperti angin, berputaran di sana," jelas Arya. "Tenaga dalam ini dengan kekuatan pikiran kita arahkan ke mana yang kita mau. Tangan, kaki, atau apa saja yang diingini. Karena memiliki tenaga dalam kupusatkan perhatian pada tangan kananku yang kujulurkan ke pohon. Dan, itulah hasilnya, Hijau."

Hijau membisu. Sepasang matanya berputaran liar. Dahinya yang berkernyit dalam menjadi pertanda kakek ini tengah berpikir. "Jadi, semuanya berpokok pada sesuatu yang berputaran di pusar?" Hijau meminta penjelasan. Arya mengangkat bahu. "Di pusarku tidak ada sesuatu yang kau maksudkan itu, Arya. Tidak ada yang berputaran. Bagaimana aku bisa mengarahkannya ke tangan atau kaki?" tanya Hijau lagi sambil menatap Arya penuh rasa ingin tahu.

Arya tidak merasa heran mendengar pertanyaan itu. Ia telah menduga sebelumnya. Orang seaneh Hijau sulit untuk diberi pengertian. "Pusatkan pikiranmu pada pusar. Bayangkan seakan-akan di dalamnya ada tali. Lalu tali di pusar itu berputar. Kalau tidak timbul putaran sesuatu, berarti kau tidak bisa melakukan seperti yang aku lakukan tadi," jelas Arya.

Hijau tertegun. Ia mengangguk-anggukkan kepala seperti mengerti apa yang disampaikan Arya. Sepasang matanya lalu dipejamkan. Wajahnya ditundukkan. Agaknya dia tengah memusatkan pikiran untuk melaksanakan anjuran Arya. Arya menggeleng-gelengkan kepala. Timbul rasa kasihan dalam hatinya. Bagaimana mungkin akan ada putaran di pusarnya kalau tenaga dalam saja tidak dimiliki?

"Ah...!" Jeritan kaget Hijau mengejutkan Arya. Pandangannya segera dialihkan pada Hijau yang tampak bingung bercampur gembira. Matanya yang berputaran liar terlihat berbinar-binar.

"Apa yang terjadi, Hijau?!" tanya Arya, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Hijau tidak mempedulikan pertanyaan Arya. Dia malah menoleh ke sebelahnya, tempat Sahabat berada. Sepasang mata kakek bungkuk ini berbinar-binar. Suaranya sarat dengan kegembiraan. "Sahabat, kau tahu apa yang kualami? Di dalam pusarku tengah berputaran. Ah, tidak tepat. Maksudku bergejolak sesuatu yang amat dahsyat. Aku dan kau tidak akan kelaparan lagi. Menyenangkan bukan? Kau setuju? Bagus!"

"Benarkah yang kau katakan itu, Hijau?" tanya Arya, buru-buru. "Tentu saja, Arya! Untuk apa aku berbohong?!" tandas Hijau. "Bagaimana caraku untuk membuktikannya?" Arya berpikir sejenak. "Pusatkan pikiranmu untuk mengarahkan tenaga dalam pada tangan kanan. Aku akan melemparkan batu kepadamu. Kau harus menerimanya. Setelah itu, pusatkan pikiranmu ke jari-jari untuk meremas. Jelas?!" Hijau mengiyakan.

Arya mengibaskan tangan kanannya. Batu sebesar kepalan yang ada di tanah meluncur ke arah Hijau. Arya tentu saja tidak bertindak gegabah. Tenaga yang dikerahkan hanya untuk membuat batu mempunyai bobot seekor kambing. Pemuda ini baru merasa yakin dengan ucapan Hijau ketika melihat dia dengan enak saja menerima batu. Seakan batu itu tak ubahnya daun kering, ketika jari-jari Hijau digerakkan untuk meremas, batu pun hancur berantakan!

Wajah Arya berubah hebat. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bukankah tadi telah dilihatnya sendiri Hijau tidak memiliki tenaga dalam. Hijau seperti tidak mengetahui keterkejutan Arya. Dia terlalu gembira dengan hasil yang dicapainya. Kakek ini terkekeh-kekeh sambil sesekali berbicara pada Sahabat. Arya menatap wajah Hijau lekat-lekat. Untuk kedua kalinya dia terperanjat. Sepasang mata Hijau tajam mencorong dan bersinar kehijauan. Demikian tajamnya sehingga Arya kaget sekali. Sorot seperti itu hanya keluar dari orang yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi.

Disqus Comments