Senin, 20 Juli 2026

Dewa Arak 84 Nyawa Kedua Dari Langit

Dewa Arak 84 Nyawa Kedua Dari Langit

Cersil Dewa Arak 84 Nyawa Kedua Dari Langit

Baca Online Dewa Arak 84 Nyawa Kedua Dari Langit

Serial Dewa Arak: Episode 84 – Nyawa Kedua Dari Langit

NYAWA KEDUA DARI LANGIT

Oleh: Aji Saka | Cetakan Pertama | Penerbit: Cintamedia, Jakarta | Penyunting: Puji S.

"Hak cipta pada Penerbit. Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit."

Serial Dewa Arak Dalam episode Nyawa Kedua dari Langit. 128 hal ; 12 x 18 cm.


Seorang lelaki gagah berkumis tipis dan beralis tebal tengah duduk sambil memeluk lutut di pinggir Sungai Serayu yang cukup lebar ini. Tubuhnya yang kekar, terbungkus pakaian putih. Usianya sekitar lima puluh lima tahun. Sejak matahari muncul dia bersikap seperti itu. Sepasang matanya tertuju ke permukaan air. Tapi, bola matanya tidak bergerak-gerak sama sekali.

Lelaki ini tetap tidak bergeming dari tempatnya, kendati pendengarannya menangkap adanya suara langkah kaki mendekati. Bahkan, ketika langkah di belakangnya telah berhenti, tubuhnya masih belum bergeming.

"Kak Gandrung...."

Terdengar suara panggilan dari belakang laki-laki itu. Asalnya dari mulut seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Wajahnya cantik manis dengan tubuh sintal. Penampilannya begitu menarik!

"Hmmm...!" Lelaki berkumis tipis hanya menggumam pelan, tanpa menoleh sama sekali. Apalagi sampai menggemingkan tubuhnya. Dia tak ubahnya patung batu!

"Kucari kemana-mana, kiranya ada di sini. Mari, Kak. Kita pulang. Makan siang telah kusiapkan. Kalau keburu dingin, tidak enak menikmatinya," ajak wanita berpakaian serba hijau itu. Sedikit pun tidak merasa tersinggung atau kecil hati melihat tanggapan laki-laki berkumis tipis yang dipanggil Gandrung, atau bernama lengkap Kebo Gandrung.

"Aku belum lapar, Cempaka. Kalau kau sudah lapar, makan duluan saja," tukas Kebo Gandrung, tetap tidak menoleh. Nada suaranya masih tetap seperti semula. Datar, dan tidak bersemangat. Wajah wanita berpakaian serba hijau yang dipanggil Cempaka sejak datang memang tidak kelihatan berseri-seri. Dan kini dia semakin gelap. Meski demikian, kecantikannya sama sekali tidak berkurang. Apalagi ketika mengukir senyum di bibirnya, walau terasa dipaksakan.

"Mungkin kau tidak tahu, Kak Gandrung. Aku telah membuat masakan kegemaranmu. Ikan mujair panggang. Aku yakin kau pasti akan ketagihan karena bumbunya pun istimewa. Mari, Kak. Bukankah kau sudah lama tidak menikmati masakan kegemaranmu?!" Cempaka masih berusaha membujuk.

"Pulanglah, Cempaka. Makan saja duluan. Saat ini aku tengah tidak ingin makan. Aku ingin sendirian...," desah Kebo Gandrung.

"Kalau begitu, aku juga tidak ingin makan!" sentak Cempaka, agak keras.

"Aku pun ingin di sini! Barangkali enak memandang permukaan Sungai Serayu sambil melarikan diri dari kenyataan!" Tanpa menunggu tanggapan Kebo Gandrung, wanita cantik ini duduk memeluk lutut di sebelah Kebo Gandrung, terpaut jarak sekitar dua tombak. Kebo Gandrung hanya menghela napas berat. Namun, tetap tidak berkutik dari tempatnya.

Sementara Cempaka, hanya sebentar dapat bertahan duduk memeluk lutut. Dia segera bangkit dan pindah, lalu duduk di sebuah batu sebesar kambing yang ada di situ. Tanpa menoleh pada Kebo Gandrung, dipungutnya batu sebesar kepalan bayi yang berserakan di tepian Sungai Serayu ini. Lalu, dilempar-lemparkannya ke dalam sungai. Plung!

Mula-mula Kebo Gandrung tidak peduli. Tapi, ketika batu-batu itu terus saja menghunjam ke permukaan sungai, hatinya mulai merasa tidak nyaman. Padahal saat ini hatinya ingin suasana tenang dan hening. Tak heran kalau bunyi-bunyi itu benar-benar mengganggunya.

"Bisakah kau biarkan pikiranku tenang sebentar, Cempaka?!" tegur Kebo Gandrung. Kali ini kepalanya menoleh, menatap Cempaka yang berada di sebelahnya.

"Kau tidak adil, Kak Gandrung!" sambut Cempaka, agak keras. "Kau pikir hanya kau saja yang membutuhkan ketenangan?! Aku pun demikian!"

"Tapi, tidak harus dengan menggangguku, Cempaka," bantah Kebo Gandrung.

"Aku tidak bermaksud mengganggumu. Tapi, memang beginilah caraku mencari ketenangan."

Kebo Gandrung tidak menanggapi lagi. Dia malah berdiri, kemudian melangkah meninggalkan tempat ini. Cempaka ikut bangkit, tapi tidak bergerak mengejar.

"Kau mengecewakanku, Kak Gandrung! Kau bukan seperti Kebo Gandrung yang dulu! Kau lemah! Cengeng! Pengecut!" sembur Cempaka berapi-api.

Langkah Kebo Gandrung kontan terhenti. Tubuh kekarnya berbalik. Sepasang matanya yang tajam, menatap Cempaka. "Bukankah sudah kukatakan sejak dulu, sebelum kita memutuskan untuk menjadi suami istri, Cempaka?! Sudah kukatakan, akhirnya kau akan kecewa. Tapi kau keras kepala! Sekarang, kekhawatiran-ku terbukti, bukan?"

"Masalah ini tidak ada hubungannya dengan hal-hal di waktu dulu, Kak Gandrung! Aku yakin, pandanganmu tidak picik untuk mengetahuinya. Dan...."

"Aku memang picik pandangan, Cempaka!" potong Kebo Gandrung. "Aku tua bangka tak tahu diri! Pengecut! Lemah! Cengeng! Orang sepertiku, mana pantas menjadi suami dari wanita muda dan cantik sepertimu...!"

"Kak...! Kak Gandrung...!" Cempaka memanggil-manggil, ketika melihat Kebo Gandrung berlari cepat meninggalkan tempat itu. Dia cepat mengejar, tapi tak sampai lima puluh tombak segera dihentikan. Lari Kebo Gandrung terlalu cepat untuk dapat disusulnya.

Wanita itu hanya bisa berdiri memandangi, hingga tubuh Kebo Gandrung lenyap di kejauhan. Beberapa saat dia bersikap seperti itu, lalu dengan langkah gontai kakinya melangkah meninggalkan tempat ini. Dia segera kembali ke pondoknya, yang selama ini menjadi tempat tinggal bersama Kebo Gandrung, suaminya.

***

Bunyi berderit terdengar, ketika Cempaka mendorong daun pintu pondoknya yang tertutup tapi tidak terkunci. Wajahnya menunduk menekuri tanah. Namun mendadak saja, wanita ini baru terjingkat ke belakang, begitu mengangkat wajah seiring ayunan kakinya saat memasuki ambang pintu. Sepasang matanya terbelalak lebar, seperti melihat hantu siang bolong.

"Kau...?!" seru Cempaka dengan suara tercekat. Tenggorokannya mendadak kering, melihat sosok di hadapannya.

Di ruangan tengah duduk seorang pemuda berpakaian serba hitam di sebuah kursi. Kaki kanannya ditumpangkan pada paha kirinya. Pemuda ini menyunggingkan senyum lebar sambil mengunyah. Semula, Cempaka tidak begitu mengetahui apa yang dikunyah pemuda ini. Tapi ketika pandangannya beralih pada seekor dari dua ekor ikan panggang di atas meja yang sisinya telah koyak-koyak, Cempaka langsung tahu. Jelas, yang dikunyah pemuda ini adalah ikan panggang mujair yang semula disediakan untuk suaminya!

"Untuk apa kau kemari, Jahanam...?! Dan, mengapa berani lancang mengambil masakan itu?! Masakan itu kusediakan untuk suamiku, tahu?!"

"Untuk si tua bangka yang tidak punya malu itu...?!" ejek pemuda berpakaian hitam sambil mengunyah potongan ikan yang baru saja diambilnya lagi.

"Keluar kau, Jahanam...! Tinggalkan tempat ini...! Cepat...! Jangan tunggu kesabaranku habis. Atau, nyawamu kulenyapkan...!" ancam Cempaka, keras. Wanita ini begitu marah mendengar hinaan yang ditujukan pada suaminya.

Pemuda berpakaian hitam ini hanya tertawa sinis. Dia tidak merasa gentar sedikit pun, meski mendapat ancaman yang jelas bukan ancaman kosong belaka. "Sama sekali tidak kusangka kalau kau akan betah hidup dengan tua bangka bau tanah, Cempaka. Apa yang kau harapkan dari tubuh renta itu?! Kau tidak usah berpura-pura, Cempaka. Kau rindu belaian bukan? Katakan saja. Aku tidak akan sungkan-sungkan memberikannya padamu. Dan..."

"Tutup mulutmu yang kotor itu, Jagalpati...!" potong Cempaka marah bukan main.

Cempaka cepat mengambil jarum-jarum yang tersimpan di buntalan kain kecilnya. Wrettt! Set! Set! Sekali Cempaka mengibaskan lengannya, maka meluncurlah jarum-jarum itu ke arah pemuda berpakaian hitam yang ternyata bernama Jagalpati. Sementara Jagalpati hanya tersenyum mengejek. Ditunggunya hingga jarum-jarum itu menyambar dekat. Kemudian.... "Phuhhh!"

Sekali Jagalpati meniup, deru angin keras langsung menyambar. Maka jarum-jarum itu berguguran ke tanah, seperti membentur dinding tidak nampak. Melihat hal ini Cempaka menggertakkan gigi. Hatinya geram melihat serangannya berhasil dikandaskan. Seketika dicabutnya guci arak bundar yang terselip di pinggang untuk melakukan perlawanan jarak dekat.

Pertarungan berlanjut sengit. Jagalpati dengan ilmu kebalnya membiarkan senjata Cempaka mengenai tubuhnya tanpa terluka sedikit pun. Dengan watak mesumnya, Jagalpati mempermainkan Cempaka hingga koyak-koyak pakaiannya. Cempaka meratap teringat masa lima tahun lalu ketika Kebo Gandrung menyelamatkannya dari cengkeraman Jagalpati saat markas Gerombolan Setan Merah hancur.

Kini, di atas meja tempat hidangan ikan panggang yang telah disingkirkan, Jagalpati melampiaskan nafsu bejatnya secara paksa. Cempaka hanya bisa menangis dan merintih dalam hati menerima kenyataan pahit bahwa kegadisannya yang dijaga selama ini akhirnya direnggut paksa oleh sang jahanam. Jagalpati tertawa bergelak menyadari kesucian Cempaka yang baru saja ia noda, mengejek Kebo Gandrung sebagai lelaki mandul.

***

Sementara itu, jauh di belahan sungai lain, Kebo Gandrung bertemu dengan Aki Tunggul yang berhasil meramu obat khusus untuk keharmonisan rumah tangganya. Dengan hati gembira, Kebo Gandrung berlari pulang membawa kendi ramuan tersebut, berniat membuktikan kepada Cempaka bahwa dirinya adalah lelaki sejati.

Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu pondok. Pemandangan mengerikan terpampang di depan mata: tubuh Cempaka yang tanpa busana terbujur kaku tak bernyawa di atas meja. Rasa penyesalan mendalam dan dendam membara menyatu di dalam dada Kebo Gandrung begitu melihat pisau merah berukir tengkorak khas milik pimpinan Gerombolan Setan Merah tertancap di sana. Dengan linangan air mata, ia bersumpah akan memburu Jagalpati sampai ke lubang jarum sekalipun sebelum menguburkan jasad istrinya di perbukitan sunyi.

Di tempat lain, seorang gadis berbaju kuning yang tengah merawat tanaman cabai mistis berwarna hitam dan putih di lereng gunung disatroni oleh Jagalpati. Berkat kecerdikan sapu tangan halilintarnya, gadis itu berhasil meloloskan diri dari terkaman sang iblis, membuat Jagalpati murka dan menghancurkan seluruh ladang cabai tersebut menggunakan tenaga dalamnya demi memusnahkan satu-satunya penangkal ilmu kebal yang ia miliki.

***

Alur takdir kemudian mempertemukan Arya Buana alias Dewa Arak dengan Kakek Dipangga, mantan guru Jagalpati yang sekarat terapung di sungai setelah dikhianati muridnya sendiri. Setelah disembuhkan oleh Dewa Arak, Kakek Dipangga menitipkan amanat besar untuk menumpas Jagalpati dan membocorkan rahasia kelemahan ilmu kebal sang murid yang berada di Lembah Api Abadi dekat reruntuhan Istana Iblis kuno.

Dalam perjalanannya mencari petunjuk, Dewa Arak menyelamatkan seorang pemuda bernama Taruna, putra dari tokoh tua si Rantai Penggulung Jagad, yang tengah diburu oleh Jagalpati. Pertarungan hebat antara Dewa Arak dan Jagalpati tak terhindarkan di tengah guyuran hujan lebat. Meskipun hantaman guci arak Dewa Arak sanggup menghancurkan dada Jagalpati, sang penjahat tetap bangkit tanpa luka karena ilmunya yang mengerikan seperti menembus asap belaka.

Beruntung, kemunculan kilat halilintar yang menggelegar misterius membuat Jagalpati mendadak ketakutan dan memilih melarikan diri dari medan laga. Dewa Arak yang mengalami cedera pergelangan tangan kemudian berdiskusi dengan si Rantai Penggulung Jagad mengenai legenda Istana Iblis dan nenek misterius penanam cabai sakti. Pertemuan itu diakhiri dengan rencana pernikahan Taruna dengan Putri Ular Angkasa, sementara Dewa Arak melanjutkan langkahnya menuju puing-puing Istana Iblis yang dikelilingi rawa beracun dan maut demi menuntaskan misi sucinya.


Rekomendasi Cerita Silat Terkait:

Bagi Anda pengagum petualangan pendekar golongan putih, jangan lewatkan kisah pertempuran dunia persilatan sebelumnya melalui tautan Dewa Arak 74 Panggilan Ke Alam Roh yang menyajikan ketegangan tingkat tinggi melawan sekte hitam.

Bergabunglah dengan komunitas pembaca dan dapatkan update rilis e-book cerita silat klasik terlengkap secara gratis melalui jaringan sosial Grup Facebook Cersil Indonesia.

Daftar Tautan Baca Cepat Episode Terkait:

Disqus Comments