Senin, 20 Juli 2026

Dewa Arak 78 Pembalasan Dari Liang Lahat

Dewa Arak 78 Pembalasan Dari Liang Lahat

Cersil Dewa Arak 78 Pembalasan Dari Liang Lahat

Baca Online Dewa Arak 78 Pembalasan Dari Liang Lahat

Sinopsis & Sensasi Membaca Kisah Klasik Dewa Arak

Selamat datang di platform baca online cerita silat (cersil) legendaris. Bagi Anda para penggemar setia kisah dunia persilatan tanah air, episode Dewa Arak 78: Pembalasan Dari Liang Lahat karya Aji Saka ini menyajikan ketegangan yang luar biasa, perpaduan sempurna antara aroma mistis, dendam membara, dan olah kanuragan tingkat tinggi yang tidak akan Anda temukan di web lain.

Cuplikan Eksklusif Kisah Pembalasan Dari Liang Lahat

Malam yang kelam, hujan deras, dan bangkitnya kutukan kuno... Berikut adalah cuplikan mendalam bab awal yang penuh dengan atmosfer mencekam, disajikan secara otentik bagi para pembaca setia.

Hujan turun begitu deras, bagai ditumpahkan dari langit. Angin berhembus kencang menyapu apa saja yang dilalui. Sesekali kilat menjilat angkasa, membuat yang semula gelap gulita menjadi terang-benderang meski hanya sekilas. Alam seperti tengah murka. Malam yang gelap pekat menjadikan suasana semakin menyeramkan!

Keadaan demikian seperti tidak dipedulikan oleh sebuah kereta sederhana yang ditarik kuda hitam tinggi besar. Pengendaranya adalah seorang lelaki kekar bertelanjang dada. Tanpa henti-henti cambuknya dilecutkan, membuat kuda penarik kereta terus berlari semakin cepat. Bunyi lecutan cambuk senantiasa terdengar, tapi nyaris tertindih oleh suasana alam yang tengah mengamuk.

Kelihatannya sang kusir ingin segera melakukan perjalanan secepat mungkin. Kendati demikian, keadaan alam yang tidak bersahabat dan tanah lunak karena hujan, membuat perjalanannya terhambat.

"Masih jauhkah perjalanan kita, Gempita?!" Terdengar suara serak dan parau dari dalam kereta, berusaha menyeruak riuh-rendahnya bunyi air hujan dan desir angin yang keras.

"Tidak! Sebentar lagi pun kita akan sampai...!" Teriak sang kusir tidak kalah keras. Kusir yang dipanggil Gempita memiliki cambang bauk lebat itu terlihat ketika alam terang benderang sejenak oleh kilatan di langit. Berat dan mantap suara Gempita. Tidak terlihat gemetar atau tersendat-sendat, seperti layaknya orang kedinginan! Padahal, saat ini udara dingin menusuk hingga ke tulang sumsum! Bahkan lelaki bercambang bauk lebat itu malah bertelanjang dada!

Tidak terdengar sahutan sama sekali dari dalam kereta. Rupanya, jawaban Gempita tadi cukup memuaskan hati orang di dalam kereta. Sementara kereta terus melaju terseok-seok melalui jalan tanah becek.

"Kita telah sampai...!" Seru Gempita, seraya menarik tali kekang kudanya. Tanpa mempedulikan kudanya yang terus meringkik, lelaki bertelanjang dada dan bercambang bauk lebat itu melompat. Pada saat yang hampir bersamaan, dari belakang kereta melompat sesosok tubuh lain sambil membopong sebuah peti mati!

"Kita harus bertindak cepat..! Kalau terlambat, akan celaka...!" Ujar Gempita sambil berlari cepat menuju hamparan tanah luas yang berjarak beberapa tombak di depan. Di belakangnya, mengikuti sosok yang tadi di dalam kereta sambil membopong peti mati. Sinar bulan sepotong cukup menerangi sekitarnya. Sebuah tempat yang pemandangannya cukup mendirikan bulu roma. Hamparan tanah itu ternyata tidak kosong sama sekali. Pada beberapa bagian, tampak gundukan-gundukan tanah. Ya... tempat ini memang kuburan liar!

Pada bagian lapangan yang tidak terdapat gundukan, Gempita menghentikan langkahnya. Cangkul yang tadi diambil dari kereta, langsung dihunjamkan ke bumi. "Uhhh...!" Lelaki bercambang bauk itu berseru tertahan ketika ayunan cangkulnya yang sekuat tenaga bagai tertahan secara mendadak. Ketika menghunjam tanah, hanya sebagian mata cangkulnya yang amblas, Gempita penasaran bukan main. Sambil menggertakkan gigi seluruh kekuatannya dikerahkan, hendak mencangkul kembali. Tapi, hasilnya sama saja. Rasa penasaran dan heran mulai berganti rasa takut. Dan dia tetap saja meneruskan pekerjaannya.

"Cepat sedikit, Gempita! Jangan main-main! Waktu kita sedikit. Lihat! Bulan sudah menampakkan diri, dan hujan mulai mereda. Kalau sampai hujan berhenti dan peti ini belum ditanam, malapetaka besar akan terjadi!" Kata lelaki yang membopong peti, berseru tak sabar. Nada suara lelaki bertubuh kecil kurus ini menyiratkan kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan. Dan memang bukan tanpa alasan dia memberi teguran. Apalagi, dia tahu, siapa Gempita. Bukan saja memiliki tenaga dalam luar biasa, tapi kepandaiannya juga boleh dibanggakan. Jangankan menggali tanah yang telah menjadi lunak karena tersiram hujan dengan cangkul! Menggali tanah keras dengan sebatang kayu pun dapat cepat dilakukannya. Tapi sekarang mengapa dengan cangkul justru pekerjaannya demikian lambat?!

"Aku tidak bermain-main, Marong! Seluruh kemampuanku telah kukerahkan! Tapi, memang ada sesuatu yang aneh di sini! Sesuatu yang membuat tenagaku seperti lenyap!" Jelas Gempita, tanpa menghentikan pekerjaannya. Jawaban itu membuat laki-laki kecil kurus yang dipanggil Marong merasa jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia tahu, Gempita tidak main-main dan berkata benar. Begitu tiba di tempat ini pun, Marong telah merasa sesuatu yang aneh. Rasa takut tanpa sebab mendadak muncul di hatinya. Bulu-bulu di tubuhnya, terutama sekali di tengkuk kontan berdiri!

Marong seketika merasakan tenggorokan-nya kering. Malah dengan susah payah ludahnya baru dapat ditelan. Keringat sebesar-besar biji jagung mulai mengalir di wajahnya. Padahal, kendati hujan semakin mereda, udara masih amat dingin! Baik Marong maupun Gempita mulai bisa menarik napas lega ketika akhirnya lubang yang hendak digunakan untuk mengubur peti mati selesai digali. Tapi bertepatan dengan itu, hujan yang sejak tadi telah terus mereda, berhenti sama sekali.

"Celaka, Gempita! Hujan telah berhenti...! Usaha yang kita lakukan sia-sia belaka...!" Keluh Marong, tanpa mampu menyembunyikan rasa gelisahnya.

"Nasi telah menjadi bubur, Marong," Jawab Gempita, bernada keluhan. "Kita tidak mempunyai pilihan lain lagi, kecuali menguburkan peti ini. Tidak mungkin kita bertindak setengah jalan. Mudah-mudahan saja, perkiraan guru meleset!" Marong tidak berkata apa-apa lagi. Dengan perasaan dicekam rasa takut, kedua lelaki ini menaruh peti mati ke dalam lubang dan menguburkannya. "Mudah-mudahan saja perkiraan guru meleset. Bukankah itu hanya perkiraan saja!" Hibur Marong, seperti untuk diri sendiri.

Marong mulai menjatuhkan gundukan demi gundukan tanah ke dalam lubang. Sebenarnya, mereka tidak perlu menggunakan kaki, mendorong gundukan tanah yang tadi berada di sisi lubang yang baru dibuat. Tapi, mereka tidak mempunyai pilihan lagi. Tadi, dorongan angin pukulan mereka untuk pertama kalinya tidak membuahkan hasil, karena tanah-tanah itu seperti tak ingin bergeming. "Jangan bicara hal-hal yang menyeramkan, Marong," Tegur Gempita dengan tengkuk terasa dingin. Sementara bulu-bulu kuduknya terus berdiri semakin banyak. Percakapan yang dibuka Marong semakin membuat memperseram keadaan.

"Aku pun sebenarnya tidak ingin membicarakan hal ini, Gempita. Tapi, berdiam diri saja membuatku tidak enak. Aku bisa mati ketakutan!" Sahut Marong. "Bisa saja kau buat percakapan lainnya. Jangan percakapan tentang hal-hal yang membuat keadaan semakin seram," Tangkis Gempita. Marong diam. Bisa dirasakan kebenaran ucapan kawannya. Hal ini membuat suasana menjadi hening.

"Heaaa...!" Tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda. Sehingga membuat dua lelaki ini terperanjat kaget dengan jantung seperti berhenti berdetak. Kalau saja suasana tidak remang-remang, akan terlihat wajah masing-masing yang pucat bagai tak dialiri darah. Rasa takut dan seram, membuat bunyi yang dalam keadaan biasa seperti berubah lain dan aneh. Malah sepertinya mampu membuat nyawa terbang sesaat. Sementara itu ringkikan yang ternyata dari mulut kuda yang telah membawa mereka ke tempat itu seperti bernada ketakutan. Bahkan setelah mengeluarkan ringkikan, kuda itu berlari cepat bagai tengah dikejar sesuatu yang menakutkan, berikut membawa kereta yang ditariknya.

Kejadian ini membuat Marong dan Gempita kaget bukan main. Padahal, kuda hitam itu bukan kuda sembarangan. Tapi, merupakan kuda pilihan yang amat taat pada majikan. Tapi, mengapa kali ini sampai berani meninggalkan tempat itu sebelum diperintah? "Hitam...! Kembali...!" Gempita berseru keras memanggil kudanya yang terus berlari membawa kereta. Padahal biasanya, setiap kali diberi perintah, kuda hitam itu menurut dan mengerti. Tapi, kali ini perintah itu tidak dipedulikan sama sekali.

"Heran..., apa yang terjadi dengan si Hitam...,?! Tidak biasanya dia berlaku seperti itu...?!" Gumam Gempita kebingungan. "Sepertinya dia sangat ketakutan, Gempita," Bisik Marong, membuat Gempita terperanjat. Marong sadar kalau ketelepasan bicara. Karena kata-katanya akan membuat mereka semakin ketakutan. Tapi dia tahu, tidak ada gunanya lagi. Karena, perkataannya telah keluar. Malah kebenarannya tidak diragukan. Si Hitam memang ketakutan. Tapi, ketakutan terhadap apa?!

Gempita dan Marong saling berpandangan. Mereka tahu, binatang mempunyai naluri amat tajam. Bahkan kabarnya, binatang-binatang akan berteriak ketakutan kalau ada makhluk halus lewat. Dengan tingkah si Hitam kali ini?! Gempita dan Marong sama sekali tidak mempedulikan kalau pakaian bagian bawah mereka mendadak basah. Dan.... "Gempita...! Lihat..!" Marong berusaha berseru. Tapi yang keluar hanya keluhan bagai orang yang tengah sekarat. Bahkan tangan kanannya yang ditudingkan ke atas, tampak menggigil hebat. Sementara, Gempita mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Marong. Dan wajahnya pun seketika berubah pucat. Bulan tampak berwarna merah seperti tersiram darah. Bahkan sekeliling permukaan bulan pun merah membara. Apa yang mereka takuti ternyata terjadi!

"Bulan Merah...," Desis Gempita lebih mirip keluhan. "Berarti malapetaka itu akan muncul. Cepat kita tinggalkan tempat ini, Marong...!" Saat itu juga, bagai tengah berlomba lari, Marong dan Gempita berlari cepat meninggalkan tempat ini. Perasaan takut yang amat sangat, membuat kedua lelaki ini mengerahkan seluruh kemampuannya. Baik Gempita maupun Marong merasa lega ketika berlari beberapa saat, tidak terlihat adanya tanda-tanda akan adanya sesuatu yang mengejar. Kendati demikian, karena rasa penasaran dan untuk lebih meyakinkan, kepala mereka menoleh ke belakang.

Dan mendadak saja jantung Marong dan Gempita bagai berhenti berdetak, begitu melihat ke belakang. Ternyata apa yang mereka lihat masih berupa gundukan tanah yang baru saja dibuat. Padahal, mereka telah berlari sekian lama! Ketika kedua pandangan mereka diarahkan ke kaki dan tanah, baru disadari kalau sejak tadi hanya berlari-lari di tempat. Rasa takut dan cemas yang mencekam bagai membuat kedua lelaki ini menjadi gila. Lari mereka pun semakin dipercepat. Tapi kesudahannya tidak berbeda. Sepasang kaki mereka hanya bermain-main di tempat semula.

Marong dan Gempita terkenal sebagai tokoh persilatan yang berkepandaian tinggi. Dan mereka tahu, kejadian ini tidak wajar. Ada kekuatan tak nampak yang tidak dimengerti. Sebagai tokoh yang telah memiliki kepandaian tinggi, Marong dan Gempita tahu kalau kejadian ini hanya dapat dilakukan oleh tokoh bertenaga dalam tinggi hanya dengan menjulurkan tangan. Tapi, di belakang mereka tidak terlihat seorang tokoh pun! Jadi, siapa yang telah melakukannya?

Akhirnya, setelah tahu kalau tindakan yang dilakukan sama sekali tidak berarti, Gempita dan Marong bertindak nekat. Mereka menghentikan lari, dan langsung mencabut senjata masing-masing. Gempita meloloskan goloknya, sedang Marong mencabut sepasang trisulanya. "Siapa pun adanya kau, Siluman atau bukan, jangan bertindak pengecut begini. Silakan keluar! Tunjukkan rupamu, Pengecut! Jangan dikira kami takut mati...!" Bentak Gempita keras sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Perasaan takut yang melanda berubah menjadi nekat! Marong tidak ikut berteriak. Tapi, pandangannya beredar ke sana kemari dengan sikap waspada. Jantung yang berdetak dalam dadanya dirasakan bagai dentum tambur.

Keadaan menjadi hening setelah Gempita berteriak. Ternyata memang tidak ada sambutan sama sekali atas seruannya. Suasana jadi terasa menegangkan bagi Marong dan Gempita. Menunggu hal-hal yang tidak diketahui, membuat ketegangan memuncak. Bahkan keringat dingin makin mengalir membasahi sekujur wajah! Padahal, cuaca amat dingin menusuk tulang! Dan tiba-tiba.... Blarrr! Terdengar ledakan yang tidak terlalu keras, membuat Gempita dan Marong yang tengah tegang menunggu, kontan terlompat ke belakang. Mereka terkejut bukan main. Bahkan seketika itu pula, nyawa dua lelaki perkasa itu bagai melayang ke alam baka.

Setelah perasaan kaget yang melanda berangsur lenyap, dengan mata terbelalak kaget Marong dan Gempita menatap ke arah gundukan tanah yang menjadi sumber ledakan keras tadi. Karena, di situlah tempat peti mati yang dibawa dikuburkan! Tampak tanah bergumpal-gumpal berpentalan ke atas ketika ledakan terjadi! Belalakan mata mereka semakin membesar ketika dari dalam lubang kuburan yang telah menganga keluar sesuatu. Mula-mula hanya dua buah tangan yang mencekal pinggir lubang. Kemudian disusul kepala berwajah pucat dengan mata bersinar kehijauan mirip mata kucing, liar! Sehingga membuat wajah itu semakin mengerikan!

"Ambar...," Desis Marong dan Gempita hampir berbarengan. Suara dan sorot mata mereka seperti tidak percaya. Nama yang disebutkan adalah nama dari mayat dalam peti yang baru saja mereka kuburkan!

"Hi hi hi...!" Terdengar tawa mengikik dari sosok mengerikan dari lubang kubur yang ternyata seorang gadis muda. Seram mengiris telinga dan menyayat jantung. "Aku memang Ambar. Tapi, bukan Ambar seperti yang kalian kenal dulu. Kebangkitanku lagi, adalah untuk membalaskan semua sakit hatiku. Hi hi hi...! Dan, kalian adalah orang-orang yang pertama kali mendapatkan giliran untuk menerima kematian!" Kata sosok mayat hidup yang bernama Ambar dengan suara menggiriskan.

"Tidak akan semudah itu kau dapat melakukannya, Setan Penasaran!" Sentak Gempita yang telah bangkit keberaniannya. "Justru kaulah yang akan kami binasakan, untuk tidak bisa bangkit lagi selamanya!" Gempita tanpa berpikir panjang lagi segera melompat menerjang. Goloknya diputar bagai kitiran, kemudian ditusukkan secara cepat ke arah perut manusia yang telah bangkit dari kematiannya.

Zebbb! Secara telak dan keras, golok Gempita mengenai sasaran dan menghunjam. Tapi, ternyata Ambar sama sekali tidak menjerit kesakitan. Gadis ini malah tertawa cekikikan. Tawa yang sepatutnya tidak keluar dari mulut manusia! Gempita membaui adanya bahaya. Maka goloknya yang amblas menembus sampai ke punggung Ambar segera ditarik kembali. Tapi, hati lelaki ini mencelos ketika mengetahui senjatanya tidak bisa ditarik kembali. Gempita menjadi gugup, sehingga membuatnya kehilangan akal. Dan tiba-tiba Ambar menggerakkan kepalanya ke depan, membenturkannya pada kepala Gempita. Dan.... Prakkk!

Gempita tidak bisa mengeluarkan jeritan lagi, ketika kepalanya hancur berantakan berbenturan dengan kepala Ambar. Darah bercampur otak langsung muncrat-muncrat dari kepalanya yang hancur berkeping-keping! Sebagian dari darah itu malah menempel di dahi dan wajah Ambar yang terus tertawa kegirangan.

"Gempita...!" Marong menjerit kaget bercampur marah, ketika melihat kematian kawannya secara demikian mudah dan mengenaskan! Kejadian itu berlangsung cepat, sehingga lelaki kecil kurus ini tidak sempat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan Gempita. "Kau harus mampus, Siluman Penasaran! Nyawa kawanku harus kau tebus dengan nyawamu!" Dengus Marong. Ambar berhenti tertawa. Kini sepasang matanya menatap Marong yang mulai bergerak mendekatinya sambil mempermainkan sepasang trisula. Bunyi mengaung mengiringi gerakan trisula. Meski diliputi marah meluap Marong bersikap hati-hati dan tidak mau sembarangan menyerang. Telah disaksikannya sendiri kehebatan mayat hidup itu. Dia tidak ingin mati konyol seperti Gempita. Maka kakinya melangkah hati-hati mendekati lawannya. Namun tiba-tiba Marong menghentikan langkahnya ketika melihat perut Ambar bergolak. Bergerak turun naik, bergelombang! Ada bunyi menggelogok seperti air tengah mendidih hebat! Marong tewas menyusul Gempita...

Situs ini menyajikan perbandingan teks kaya (Rich Text Ratio) yang optimal guna menjaga kenyamanan membaca online sekaligus ramah terhadap mesin perayap (Search Intent Bot Blogger friendly).

Disqus Comments