Selasa, 21 Juli 2026

Bukit Pemakan Manusia -- Khu Lung

Bukit Pemakan Manusia — Khu Lung

Baca Online Bukit Pemakan Manusia — Khu Lung

Cersil Bukit Pemakan Manusia — Khu Lung



Cuplikan & Ulasan Novel Silat: Bukit Pemakan Manusia

Bukit Pemakan Manusia merupakan salah satu karya legendaris dari maestro cerita silat Khu Lung yang disadur secara apik oleh Tjan ID. Karya ini menyajikan ketegangan misteri, intrik persilatan (*Tionggoan*), serta teka-teki moral yang tajam dan tak terduga.

Berikut adalah petikan kisah pembuka dari serial langka ini yang dapat Anda nikmati secara bebas:

Jilid 1 — BAB KESATU

Bukit ini merupakan salah satu di antara “Sip ban-toa-san” (Sepuluh laksa buah bukit yang ada di daratan Tionggoan). Konon bukit ini jauh lebih berbahaya, lebih tinggi, serta lebih curam jika dibandingkan dengan bukit Kau-leu-san yang merupakan puncak paling berbahaya di antara Sip-ban-toa-san. Tapi berita ini susah untuk dibuktikan...

Masalahnya sukar dibuktikan karena belum pernah ada orang yang bisa mencapai puncak bukit itu. Bukit ini tidak bernama, tetapi penduduk di sekitarnya memberikan suatu nama yang mengerikan sekali, bahkan turun-temurun melarang anak cucunya untuk mendekati bukit itu. Mereka menamakannya: “Bukit Pemakan Manusia”.

Bukit bisa makan manusia? Kedengarannya memang agak janggal. Tapi kenyataannya bukit pemakan manusia ini benar-benar bisa “makan” manusia. Konon pada dua puluh tahun belakangan ini, sudah ada beratus-ratus orang dalam dunia persilatan yang tidak percaya dengan tahayul, atau mereka yang tidak puas dengan cerita burung, berbondong-bondong mendatangi bukit ini. Kelihatan jago-jago persilatan itu ibarat “batu yang kecemplung di tengah samudra” — begitu masuk ke dalam bukit, jejaknya lantas lenyap tak berbekas, bahkan mayat mereka pun tak pernah berhasil ditemukan.

Selain pemakan manusia, kebaikan apakah yang dimiliki bukit tersebut? Disana terdapat tiga jenis benda yang langka sekali: Pasir emas di bawah jurang, Buah aneh (Hi-ko) peningkat stamina, serta Rotan racun aneh yang bernilai ribuan tahil emas murni.

Suatu hari ketika lewat tengah hari, di atas jalanan menuju Bukit Pemakan Manusia muncul seorang penunggang kuda kurus bersenjata peta. Pemuda ini berumur sekitar 20 tahun, berwajah segar merah dadu, dan lebih mirip seorang sastrawan rudin daripada jagoan perkasa. Namanya adalah Sun Tiong-Io. Siapakah sebenarnya pemuda ini dan mengapa ia berniat menerobos bahaya maut hanya demi memotong jalan?

Saat menembus semak dan batu karang, Sun Tiong-Io menemukan sebuah batu peringatan raksasa:

“Batu peringatan ini terletak setengah li dari mulut bukit... Barang siapa tidak menuruti nasehat lohu dan bersikeras memasuki daerah terlarang ini, entah dia laki-laki atau perempuan, lohu akan menghukum mati dirinya tanpa ampun sehingga mayatnya tak berwujud. Pulanglah!”

Namun, Sun Tiong-Io menggelengkan kepala. “Tidak dapat diterima! Sekalipun bukit ini milikmu, kau tidak berhak menghukum mati orang yang hanya menumpang lewat!” Dengan tekad bulat, ia memacu kudanya menembus badai, hujan deras, hingga menemukan perkampungan misterius pimpinan Beng Liau-Huan (seorang kakek lumpuh berduduk di kursi roda) dan pengawalnya yang ketus, Beng Seng serta Chin Hui-Hou.


Konflik & Rahasia Kelam Persilatan

Di dalam perkampungan tersebut, Sun Tiong-Io dijatuhi aturan unik: Ia dijadikan Tamu Agung selama 5 hari sebelum akhirnya dikejar oleh pembunuh berdarah dingin. Di tempat yang sama, ia bertemu putri sang master perkampungan yang jelita namun dingin, serta sesosok pemuda angkuh bernama Pau-Ji.

Misteri semakin pekat saat terungkap bahwa Pau-Ji dan Sun Tiong-Io memiliki pertalian darah dan masa lalu kelam yang melibatkan tragedi pembantaian keluarga oleh organisasi rahasia pembawa lencana maut: Lok Hun Pay (Lencana Perontok Sukma).

Jilid 3 — Kilas Balik Tragedi Malam Tiong Ciu

Belasan tahun silam, ayah Sun Tiong-Io, sang pendekar pedang Sun Pak-Gi (Giok Bin Siam Kiam Soh Liong Jiu) dan istrinya Wan Pek-In (Hui Thian Giok Li) menerima ancaman maut dari pemilik misterius Lok Hun Pay.

Tragedi meletus di tengah malam bulan purnama ketika fitnah dan intrik menyelimuti kedatangan keluarga Yan Sian-Po dan putrinya Yan Tan-Hong dari bukit Han-San. Sebuah konspirasi tingkat tinggi memanfaatkan kelemahan manusia, hingga memaksa darah tercurah dan gedung raksasa keluarga Sun musnah menjadi puing-puing abu.

Siapakah sosok sebenarnya di balik топоeng manusia berkerudung yang mendalangi kehancuran dua generasi tersebut? Mampukah Sun Tiong-Io dan Pau-Ji memecahkan teka-teki miniatur mekanisme Hian Ki Lo di Bukit Pemakan Manusia dan meloloskan diri sebelum tenggat waktu berakhir?

Bagi Anda pencinta kisah klasik dan koleksi cerita silat langka lainnya, Anda juga dapat membaca petualangan menarik serial karya pengarang master melalui rujukan berikut: Baca Serial Dewa Arak 81 Mustika Ular Emas Online.


Disqus Comments