Raja Silat -- Chin Hung
Baca Online Raja Silat -- Chin Hung
Cersil Raja Silat -- Chin Hung
Restorasi Visual & Baca Online Cersil Klasik
Naskah Asli & Cuplikan Spesial: Drama Ha Mo Leng
Karya Legendaris | Diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe (1969) | Digital Ebook oleh Dewi KZ
Jilid 1 — Liem Tou kembali ke Ie Hee cung.
Puncak Ha Mo Leng yang terletak dekat kota Ceng Shia dalam propinsi Coan See merupakan sebuah gunung yang sangat tinggi, curam serta berbahaya. Batu-batu cadas menghiasi seluruh puncak gunung disamping jurang yang tak terhingga dalamnya, sedang jalan-jalan yang menghubungi tempat itu pun tak ada, dengan demikian hubungan dengan dunia luar boleh dikata putus sama sekali.
Sebaliknya pada lereng gunung banyak terdapat sungai serta air terjun yang penuh dengan batu cadas yang tajam disamping pusaran air yang amat dahsyat. Perahu yang berani melayari tempat itu tak lebih hanya mencari mati saja.
Saat itu merupakan tengah malam pada pertengahan musim gugur, bulan purnama yang berada jauh ditengah awan menyinarii seluruh jagad dengan terangnya. Suasana pada saat itu begitu sunyi serta tenangnya, hanya terlihat mengalirnya air sungai mengisi keheningan malam yang semakin kelam, tak ubahnya seperti irama surga membelah bumi.
Tiba-tiba ditengah sungai yang tenang serta berkilauan memantulkan cahaya rembulan itu beriak dan memecah keempat penjuru disertai dengan suara deburan ombak yang keras, pancaran air sungai memancar keatas setinggi beberapa kali yang kemudian jatuh kembali kedalam sungai yang saat itu mulai menjadi tenang kembali.
Tak selang lama kemudian dari permukaan sungai muncullah seorang pemuda yang baru berusia kurang lebih lima enam belas tahun. Tampak dia terus berenang hingga mencapai tepi sebuah batu cadas, sambil menengadah keatas, mulutnya berkemak-kemik dengan perlahan.
‘Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan pencabut nyawa, bagaimana aku harus melalui tempat-tempat itu?’ Dia duduk sejenak diatas batu cadas tersebut, beberapa saat kemudian mendadak meloncat bangun lagi, ujarnya dengan nada yang penuh semangat.
‘Bagaimanapun juga aku harus pergi sekalipun dipukul atau dibinasakan oleh mereka aku tetap akan menemui cici Siauw Ie’ Sehabis berkata kakinya menjejak tanah, sekali lagi tubuhnya meluncur ketengah sungai yang kemudian berenang dengan cepatnya kedepan.
Pada saat yang bersamaan ruangan Cie Eng Tong atau ruangan para orang gagah didalam perkampungan Ie Hee Cung diatas puncak Ha Mo Leng terlihat terang benderang oleh sorotan sinar lampu. Cungcu atau ketua perkampungan yang bergelar Ang in sin piau atau si cambuk mega Pouw Sak San sedang berkumpul dengan keempat jago penjaga kampungnya yang paling diandalkan, Liong ciang atau lengan naga, Houw jiauw atau si Kuku harimau, Siang hui kok atau sepasang bango terbang serta putranya yang bernama Pouw Siauw Ling guna merundingkan siasat penjagaan ketiga tempat-tempat berbahaya tersebut.
Tetapi, mereka sama sekali tidak menduga kalau putri dari cungcu yang bernama Pouw Jin Cui bersembunyi dibalik horden mencuri dengar perundingan mereka dengan hati yang kebat-kebit, keringat dingin mengalir keluar membasahi seluruh bajunya, sedang jantungnya hampir-hampir terasa copot dibuatnya.
Beberapa saat kemudian tak tersadar olehnya dengan perlahan ujarnya berkali-kali. “Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan Pencabut nyawa….Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan Pencabut nyawa…”
Kemudian pikirnya lagi. “Biasanya ayah sangat welas asih dan ramah terhadap siapa pun, kenapa terhadap seorang anak yang tidak memiliki kepandaian serta yatim piatu semacam Liem Tou dapat bersikap demikian kejam serta tanpa perikemanusiaan? Apalagi pada saat ayah Liem Tou yaitu Liem Han San masih hidup telah diakui oleh ketua perkampungan yang terdahulu Lie Cungcu sebagai warga perkampungan Ie he cung ini. Dulu dengan menggunakan alasan ayah telah mengusir Liem Tou dari kampong tindakannya ini sudah tak pantas, ini hari merupakan hatri yang telah ditetapkan baginya untuk balik keatas perkampungan, tetapi kenapa ayah akan mencelakakannya? Bukankah tindakannya ini kelewat kejam?”
Pada saat Pouw Jin Cui sedang berpikir dengan perasaan sangat bingung, Cungcu dari Ie hee cung telah meneruskan pesannya pada para jago berkepandaian tinggi dari perkampungan itu.
“Ingat, bilamana Liem Tou si cecunguk itu benar-benar berani menempuh bahaya mendaki atas puncak ini harap saudara sekalian tanpa perasaan was-was membinasakan dirinya. Tindakanku ini semata-mata hanya dikarenakan aku tidak ingin melihat perkawinan diantara keluarga Lie dan keluarga Pouw kami diberantakkan oleh campur tangan seorang bocah dungu”
Sehabis berkata dia menoleh memberi perintah kepada putranya Pouw Siauw ling. “Siauw Ling, saat tengah malam hampir tiba lekas turun gunung melakukan pemeriksaan apakah bocah itu telah datang atau belum? Tetapi bila sampai bertemu dengan dia jangan sampai diketahui olehnya. Lekas pergi dan cepat balik kembali”
Pouw Siauw Ling menyahut, tubuhnya dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat melayang meninggalkan ruangan itu.
Pouw Jin cui yang mencuri dengar dibalik horden menjadi bingung dan tidak mengerti kenapa ayahnya dapat mengambil tindakan sedemikian kejamnya terhadap Liem Tou, bagaimana pula dia merasakan sedih bagi Lie Siauw Ie yang hidup bagaikan kakak beradik dengan dirinya itu.
Sementara di puncak sebelah timur Ha Mo Leng seorang gadis berbaju putih berusia kurang lebih enam belas tahun sedang berdiri tertekur dibawah sorotan sinar rembulan, wajahnya sangat cantik, bibirnya kecil mungil berwarna merah muda, hidungnya mancung sedang alisnya kelihatan hitam, hanya sayang wajahnya sedikit pucat, rambutnya riap-riap bergoyang tertiup oleh angin malam sedangkan matanya yang sayu serta mengandung kesedihan yang amat sangat itu dengan terpesona memandang ke bawah gunung dengan tak berkedip.
Tak selang berapa lama dari bawah gunung terdengar siulan panjang yang memecahkan kesunyian, tak terasa alisnya dikerutkan, sedang dari air mukanya menampilkan perasaan yang sangat girang, ujarnya seorang diri.
“Adik Tou…Adik Tou, kau benar-benar datang, cicimu telah sangat lama menantikan kedatanganmu disini, sekali pun cicimu tidak percaya kalau dalam setahun ini kau berhasil memiliki kepandaian silat guna menerobos tiga tempat berbahaya itu untuk bertemu denganku tetapi dengan melalui siulan yang panjang dengan jurang atau lembah sebagai penghalang, kita masih bisa saling berhubungan, bukankah itu sangat bagus?”
Informasi Bacaan & Komunitas Silat
Dapatkan pula pembaruan bab dan diskusi lengkap cersil legendaris serial lainnya melalui tautan internal dan ruang diskusi komunitas resmi di bawah ini:
- Rekomendasi Serial Silat Terkait: Baca Novel Silat Dewa Arak Episode 82: Lorong Batas Dunia
-
Diskusi Komunitas Facebook:
- Grup Utama Pembaca Cersil Klasik
- Eps 1 | Eps 2 | Eps 3 | Eps 4
- Eps 5 | Eps 6 | Eps 7 | Eps 8
- Eps 9 | Eps 10 | Eps 11 | Eps 12
- Eps 13 | Eps 14 | Eps 15 | Eps 16
- Eps 17 | Eps 18 | Eps 19 | Eps 20
- Eps 21 | Eps 22 | Eps 23 | Eps 24
- Eps 25 | Eps 26 | Eps 27 | Eps 28
- Eps 29 | Eps 30 | Eps 31 | Eps 32
- Eps 33 | Eps 34 | Eps 35 | Eps 36
- Eps 37 | Eps 38 | Eps 39 | Eps 40
- Eps 41 | Eps 42 | Eps 43 | Eps 44
- Eps 45 | Eps 46 | Eps 47 | Eps 48
- Eps 49 | Eps 50