Golok Sakti -- Chin Yung
Baca Online Golok Sakti -- Chin Yung
Cersil Golok Sakti -- Chin Yung
Golok Sakti Karya . Chin Yung
Tiraikasih Website — PADA suatu musim rontok...
Tiupannya sang angin diwaktu malam meresap ketulang-tulang. Di jalan raya dari kota See-an tampak sangat sepi, seakan-akan orang merasa segan untuk berkeluyuran sekalipun sang rembulan tampak terang benderang, menerangi jagat yang luas.
Sunyi senyap, hanya terdengar sayup-sayup meniupnya sang angin.
Saat itu tiba-tiba pintu salah satu rumah penginapan terbuka, tampak dengan perlahan-lahan ada berjalan keluar seorang muda.
Sambil menggendong tangannya, pemuda itu telah jalan di jalan raya dengan banyak pikiran ngelamun rupanya, sebab saban-saban ia merandek mengawasi pada sang putri malam, siapa seolah-olah dianggap kawan satu-satunya pada malam yang sunyi itu.
Pemuda itu berperawakan tegap, hidungnya mancung, matanya bersinar jernih, cakap dan tampan keadaan pemuda itu. Hanya sayang ia mengenakan pakaian yang apak tidak terurus, suatu tanda bahwa ia bukannya dari golongan mampu.
Meskipun dalam pakaian yang agak mesum, kenyataannya tidak menghilangkan air muka yang gagah dan tampan, perawakannya yang kokoh kekar. Suatu tubuh yang sempurna yang menjadi idaman-idamannya para pemudi.
Selama berjalan dengan sebentar-sebentar merandek mengawasi rembulan yang indah terang, sering helaan napasnya, seperti juga ia sedang sangat berduka.
Kini ia sudah berumur dua puluh satu tahun, bekerja pada satu kantor Piauw-kiok (perusahaan mengantar barang).
Sejak kecil ia kerja, yalah dari jaman jadi pesuruh sehingga sekarang-sudah dewasa ia merasakan dirinya tidak ada majunya, meskipun ia banyak tahu segala urusan Piauw-kiok dan kenal banyak orang dan mempunyai banyak sahabat.
Itulah disebabkan ia dikenal hanya satu pemuda biasa saja, tidak kenal ilmu silat.
Dalam perusahaan piauw justru sangat dipentingkan orang yang pandai silat, untuk dijadikan piauwsu (tukang antar barang), untuk melindungi barang-barang yang diantarnya di perjalanan jangan sampai kena diganggu oleh orang jahat.
Disamping pandai silat juga orang yang menjadi piauwsu harus bisa menyesuaikan diri, pandai bicara dan merendah diwaktu perlu dan bengis juga jikalau temponya meminta itu.
Justru pemuda ini tidak ada mempunyai kepandaian yang sempurna itu maka meskipun sudah lama bekerja dalam perusahaan piauw tidak juga ia mendapat kenaikan pangkat dalam penghidupannya.
Inilah ada pandangannya Piauwtao (kepala pengantar barang) saja atas dirinya anak muda itu, sedang yang sebenarnya diam-diam ia sudah mempunyai kepandaian yang boleh ditonjolkan diantara kawan kawannya mungkin juga sesama kawan sekerjanya tidak ada yang tahan menempur anak muda itu.
Justru ia tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya itu, maka diantara kawan-kawannya menganggap ia hanya seorang muda biasa saja yang tidak punya kepandaian bu (ilmu silat), bahkan diantaranya ada yang menganggap ia pemuda tolol penakut.
Cara bagaimana ia mendapatkan kepandaian silatnya itu?
Itulah adalah kejadian pada lima tahun yang lampau, ia waktu itu baru berumur enam belas tahun.
Kejadian di kota Kilam, ketika pada suatu hari ia sedang jalan melewati sebuah sawah ia menemukan seorang anak kecil perempuan berumur dua belas tahun sedang menangis di pinggir sawah karena boneka mainannya telah kecemplung kedalam sawah yang banyak airnya.
Ia takut turun untuk mengambilnya, maka ia jadi menangis sendirian.
Dilihat dari pakaiannya, si gadis cilik itu mengenakan pakaian yang mewah, ada suatu tanda bahwa ia anak seorang hartawan. Lantaran pakaiannya yang bagus itu rupanya yang membuat ia takut nyebur kedalam sawah untuk mengambil bonekanya.
Anak muda itu lalu menghampiri dan menanya.
"Hei, adik cilik,kenapa kau menangis sendirian disini?"
Sambil menyusut air matanya dan masih terisak-isak, tangannya yang mungil menunjuk kesawah di mana bonekanya sedang ngambang disana.
"Adik kecil, kau jangan nangis, nanti aku tolong ambilkan untuk kau,"
Kata si pemuda berbareng ia telah membuka sepatunya dan menggulung naik celananya.
Si gadis cilik tidak menjawab, hanya ia segera berhenti menangisnya dan mengawasi si anak muda yang ngerobok kedalam sawah untuk mengambilkan barang mainannya.
Waktu itu keadaan udara sangat dinginnya, angin meniup tidak berhentinya, akan tetapi si pemuda tidak menghiraukan itu semua dan melanjutkan pertolongannya.
Ketika ia sudah naik kembali, ia serahkan boneka itu kepada pemiliknya.
Bukan main girangnya si nona cilik, bukan saja ia berhenti menangis, bahkan tersenyum-senyum memperlihatkan air mukanya yang manis menarik dan sepasang sujennya yang tak dapat dilupakan begitu saja.
"Koko, kau baik sekali sudah tolong ambilkan bonekaku."
Katanya dengan sikap berterima kasih.
"Adik kecil, bonekamu aku sudah tolong ambilkan, harap jangan dilemparkan lagi ketengah sawah, sebab nanti tidak ada yang mau ambilkan, karena aku sudah pergi jauh dari sini."
Anak muda itu ketawa, menyambut senyumannya si nona cilik.
"Koko kalau saja Yayaku ada disini tentu dia akan menghaturkan terima kasih....."
Sampai disini si gadis melirik pada engkongnya yang terus menyaksikan tingkah lakunya sedang membujuk si anak muda. Hampir berbisik suaranya ia meneruskan—"Ilmu tenaga dalamnya dan golok keramatnya tanpa tandingan didunia ini."
Ho Tiong Jong kaget dibuatnya. Matanya membelalak mengawasi Hong Jie yang lucu dan jenaka segala gerak-geriknya.
Mengingat kebaikannya si gadis cilik yang dengan sungguh sungguh memperhatikan dirinya, maka ia mau juga datang ke rumahnya si orang tua.
... [Bagian cerita dipotong untuk efisiensi, teks asli file txt dilanjutkan di bawah ini] ...
... Teng Hong merasa bersyukur kepada kawannya yang sudah meloloskan dirinya dan bahaya kematian.
Pertempuran masih terus dilanjutkan dengan sengitnya.
Ho Tiong Jong merasa kagum akan kepandaiannya Seng Giok Cin yaig tadinya ia duga tidak punya kepandaian silat makanya ia berulang-ulang menyuruh ia pergi supaya tidak kerembet dan menjadi korban nya Sepasang orang ganas.
Pikirnya, pantasan Seng Giok Cin saban kali ia menyuruh berlalu hanya dijawab dengan senyum dan anggukkan kepala, akan tetapi tidak bergerak dari tempatnya Kalau begitu memangnya ia pandai silat?
Melihat Seng Giok Cin berikan perlawanan dengan tangan kosong berada diatas angin dari kedua musuhnya Ho Tiong Jong pikir tidak perlu ia turun tangan membantu.
Ketambahannya ia merasakan sakit dibahu-nya yang terluka kena hajaran golok musuh.
Maka setelah sejenak melihat lukanya, ia lantas meninggalkan tempat itu pergi kelereng gunung, dimana tadi ia bersama Bhe Kong dan Kho Piauwtao berada.
Ia disana kecele, sebab ia tidak menemukan kawannya itu.
Ho Tiong Jong menghela napas jikalau mengingat akan dua kawannya itu yang berhati pengecut dan memikirkan hidupnya sendiri saja.
Ia periksa dengan teliti lukanya, ternyata hanya luka biasa saja, tidak terkena racun-Maka setelah ia membelebat. lantas ia duduk mengasoh mengawasi kebawah.
dimana Seng Giok Cin masih terus bertempur dengan "Sepasang orang ganas"
Betul-betul lihay Seng Giok Cin itu, sebab saban kali ia menyerang dengan telapakan tangannya, musuhnya mesti sempoyongan dan dengan susah payah baru bisa menegakkan pula dirinya.
Demikian ketika untuk kesekian kalinya ia membikin dua musuhnya sempoyongan mundur, ia telah bersiul kegirangan dan berkata.
"Hmmm Kalian ini orang macam apa, baru tiga gebrakan saja sudah begini rupa keadaannya. Sebaiknya kalian ngiprit saja pulang kesarangmu untuk memikirkan nasib kalian yang sialan itu ketemu aku. Kalau kalian masih tidak puas dan hendak menagih hutang kekalahan ini, boleh datang cari aku dibenteng seng-kee-po yang terletak disebelah timur dari kota Lok-yang."
Teng Hong yang sedang sesak napasnya habis menerima angin pukulan Seng Giok Cin, berubah mukanya ketika mendengar kata-katanya si pemuda pelajar.
ia bertanya apakah pemuda itu ada kepala dari Seng kee-po?
Pertanyaan mana tidak dijawab oleh Seng Giok cin, hanya ia menambahkan-"Untuk mencari aku, jikalau kalian tidak menemui aku di Seng-kee-po, boleh mencari ke "Rumah Es digunung Taypekssan", kalian pasti akan menempurnya."
"sepasang orang ganas" Itu dibikin terkejut mendengar perkataannya Seng Giok Cin.
Bagaimana mereka tidak kaget, karena benteng Sengkeepo itu ada sangat termasyhur namanya, pusat dari Peserikatan Benteng-Perkampungan, lebih lagi ketika mendengar disebutnya "Rumah Es" Digunung Tay-pekssan yang dikepalai oleh Kok-Lo lo, salah satu dari lima pendekar yang termasyhur dalam rimba persilatan pada masa itu.
Teng Hong meskipun ketakutan, coba menabahkan hatinya dan dengan ketawa dibikin-bikin ia berkata.
"Ya, harap Seng Siauw-ya suka mengampuni perbuatan kami yang tidak baik. Kami adalah orang yang berwatak tidak baik, sukar dirubahnya. Harap saja lain kali kita dapat berjumpa pula."
Setelah mengucapkan perkataan itu, lalu ia mengajak Lauw coe Teng dan anak buahnya berlalu dari situ.
Seng Giok Cin mengawasi mereka berlalu sampai kemudian menghilang dari pemandangan-nya.
Mendadak ia seperti kaget, matanya celingukkan seperti ada yang dicari.
Memang ia kehilangan Ho Tiong Jong, di mana adanya pemuda itu ia tidak tahu.
Pelayannya ditanya hanya mengunjuk ke lereng gunung, lain tidak.
Pemuda pelajar itu mengelah napas dengan muka muram. setelah menyemplak pula kudanya lantas berjalan diikuti oleh pelayannya. juga beberapa saudagar yang terluput dari kematian, sudah mengikuti jejaknya dua orang tadi yang masing-masing naik kuda putih dan hitam.
Ho Tiong Jong diatas gunung menyaksikan berlalunya mereka itu dengan pikiran kusut.
Ia sebenarnya ingin bisa berkenalan dengan Seng Giok Cin yang berkepandaian tinggi, tapi hatinya tidak mengasih karena tertekan oleh rasa rendah diri.
PIKIRAN ia ada seorang pemuda miskin, tidak berpendidikan dan ilmu silatnya tidak seberapa tinggi.
Sebaliknya Seng Giok Cin ada suatu Kongcu (anak hartawan), terpelajar dan berilmu silat tinggi, mana dapat ia bergaul dengan orang seperti Seng Giok cin?
Tambahan dalam katakatanya yang mengandung teka-teki ia tidak dapat memecahkannya^ Setelah menghela napas beberapa kali, Ho Tiong Jong berbangkit dari duduknya dan ia juga pergi mengikuti mereka menuju ke kota Lok-yang.
Di dalam perjalanannya yang telah memakan waktu lima hari lamanya untuk sampai di kota Lokyang, bukan sedikit ia mengalami penderitaan dari bahunya yang sakit kena hajaran golok.
ia naik turun gunung dengan susahnya, tapi akhirnya, sampai juga ketempat tujuannya.
... [Teks cuplikan berakhir di sini untuk memenuhi kuota kata, dilanjutkan dengan elemen SEO] ...
Ingin membaca kisah seru lainnya?
Baca Juga: Cersil Dewa Arak Tombak Panca Warna Online