Jumat, 24 Juli 2026

Rase Emas Chin Yung

Rase Emas – Chin Yung

Baca Online Rase Emas – Chin Yung

Cersil Rase Emas – Chin Yung

Kisah Klasik Dunia Persilatan: Rase Emas Karya Chin Yung (Saduran Dewi KZ)

Bagian 1: Tragedi Berdarah di Toko Obat Thing Sun Lie

Malam telah melarut benar di bilangan San-see. Cahaya rembulan yang pucat mencoba menembus kabut tipis yang menyelimuti perkampungan Wu-Sie-Cung. Kesunyian malam itu terasa mencekam, seolah menyembunyikan badai yang siap meletus. Di ujung jalan menuju pasar, berdiri sebuah bangunan sederhana yang berfungsi sebagai rumah obat. Sebuah papan merek tergantung lesu di langkan muka rumah, bertuliskan: Toko Obat Thing Sun Lie.

Meskipun papan penutup toko telah terpasang rapat, setitik cahaya masih tampak berkedip dari bagian belakang bangunan. Di ruang dalam, sang tabib, Thing Sun Lie, seorang pria paruh baya yang tampak sehat dan kemerahan wajahnya, masih sibuk di depan meja kayu asem kecil. Jemarinya lincah menghitung uang logam hasil penjualan obat hari itu. Di sudut lain, istrinya, Thang Hujin, duduk dengan tekun menyulam sehelai baju.

"Thang Koko...!" suara lembut Thang Hujin memecah keheningan, sarat dengan nada kekhawatiran yang dipendam. "Kau terlalu letih. Beristirahatlah dahulu."

Thing Sun Lie hanya bergumam pelan, pandangannya tak beralih dari tumpukan uang. "Aku belum selesai, Isteriku. Jika kau mengantuk, tidurlah duluan."

Nyonya Thang menghela napas panjang, wajahnya muram. Ia melihat suaminya semakin diperbudak oleh tumpukan uang sejak rumah obat mereka mulai ramai dikunjungi warga kampung yang menganggap obat Thing Sun Lie sangat manjur. "Ingatlah kesehatanmu, Koko. Kau semakin kurus, dan kau... kau kurang memperhatikan Kie Bouw, anak kita," isaknya pelan, air mata mulai menggenang.

Mendengar nama putra tunggal mereka disebut, hati Thing Sun Lie terenyuh.

Ia bangkit dan melangkah menuju kamar sebelah. Di atas pembaringan kecil, seorang bocah lelaki berusia tiga tahun, Thang Kie Bouw, tengah tertidur nyenyak. Wajahnya bulat montok dengan rona merah di pipi, mengulum senyum dalam mimpinya. Bocah ini adalah jimat keturunan yang mereka dambakan selama belasan tahun pernikahan.


Malam Kesunyian yang Robek oleh Kelebat Golok

Kembali ke meja hitung, suasana kembali hening. Namun, keheningan itu mendadak robek oleh suara ketukan pintu yang keras dan tidak sabar.

"Sinshe! Tolonglah! Puteri kami sakit keras dan pingsan!" suara menghiba terdengar dari luar.

Meskipun Thang Hujin merasa tidak enak hati dan ingin suaminya menolak karena waktu sudah lewat tengah malam, naluri tabib Thing Sun Lie tidak bisa berdiam diri. Ia membereskan uangnya dan melangkah membuka pintu. Sebuah kesalahan fatal.

Begitu pintu terbuka, belasan sosok tubuh menerobos masuk dengan beringas. Sesosok bayangan mendorong Thing Sun Lie hingga terjungkel di lantai. Toko obat itu seketika berubah menjadi neraka. Thang Hujin menjerit histeris melihat suaminya diperlakukan kasar.

Seorang lelaki berewok dengan wajah menyeramkan melompat maju, menempelkan mata golok yang dingin di leher Thang Hujin. "Diam! Atau kau mampus!" ancamnya.

Thing Sun Lie merangkak bangun, wajahnya pucat pasi. "Apa... apa maksud kalian?"

"Cepat kumpulkan harta bendamu! Jangan banyak bicara!" bentak seorang perampok bertubuh gemuk tinggi. Sreeet! Kelebat golok menyambar, meninggalkan luka goresan melintang di wajah Thing Sun Lie. Darah segar mengucur deras.

Melihat suaminya terluka, Thang Hujin histeris. Ia melupakan ancaman golok di lehernya dan mencoba berlari menuju suaminya. Lelaki berewok itu tidak tinggal diam. Goloknya berayun, menebas leher wanita lemah lembut itu. Tubuh Thang Hujin ambruk, darah menggenang di lantai.

Melihat istrinya tewas, Thing Sun Lie menjadi kalap. Dengan raungan kemarahan, ia menerjang maju. Namun, golok perampok lain lebih cepat berkelebat. Tubuh sang tabib rubuh bersimbah darah, menyusul istrinya ke alam baka.

Komplotan perampok itu dengan buas menjarah uang di meja dan membongkar lemari obat, memasukkan obat-obatan mahal ke dalam karung. Dua di antaranya mendorong pintu kamar, tempat Kie Bouw tertidur.

"Dimampusi saja bocah ini!" kata salah seorang perampok sambil mengayunkan golok ke arah bocah yang tak berdosa itu.

Tringgg!

Sesosok bayangan berkelebat masuk melalui jendela, dibarengi setitik sinar terang yang menghantam golok perampok itu hingga terpental jatuh. "Sungguh manusia-manusia kejam melebihi serigala!" desis sebuah suara yang sabar namun penuh wibawa.

Seorang pendeta tua berkurus jangkung muncul. Perampok lain menyerang, namun pendeta itu dengan tenang menjepit golok lawan dengan dua telapak tangannya. Dengan gerakan aneh dan cepat, pendeta itu melancarkan tendangan yang mengandung tenaga dalam luar biasa, menghancurkan perut perampok itu hingga tewas seketika.

Sisa perampok menyerbu masuk kamar. Namun, pendeta tua itu tidak gentar. Tubuhnya berkelebat cepat, sepasang tangannya bergerak misterius. Tranggg! Tranggg! Suara jerit kematian terdengar silih berganti. Lima perampok roboh dengan jiwa kabur dari tubuh. Pemimpin perampok yang gemuk mencoba menyerang, namun pendeta itu menyentil golok lawan dengan jari telunjuknya, membalikkan senjata itu hingga membelah batok kepala pemiliknya sendiri.

Setelah membasmi seluruh perampok, pendeta tua itu menghela napas dan menyebut Omitohud. Ia menghampiri pembaringan, mengambil bocah Kie Bouw yang masih tertidur nyenyak, dan menggendongnya dengan hati-hati. Dengan sekali menjejakkan kaki, tubuhnya mencelat keluar jendela dan menghilang dalam kegelapan malam, membawa pergi bocah she Thang itu menuju takdir baru di Pegunungan Thian-san.


Bagian 2: Penggemblengan di Puncak Salju Thian-san

Pegunungan Thian-san menjulang megah, puncaknya selalu diselimuti salju abadi dan kabut tebal yang tak pernah mencair oleh panas matahari. Keindahan tempat ini luar biasa, dengan pohon-pohon ajaib seperti Swat-lian (Teratai Salju) yang tumbuh di lereng-lereng curam. Di tempat sunyi inilah, pendeta tua yang menyelamatkan Kie Bouw menetap.

Ternyata, pendeta tua itu adalah tokoh lihay dari rimba persilatan, Lam Ceng Siansu. Dulu ia adalah tokoh terkemuka di Siauw Lim Sie, namun menolak jabatan Ciangbunjin (Ketua Perguruan) karena ingin hidup bebas.

Lam Ceng Siansu melihat bakat luar biasa pada Kie Bouw. Tulangnya sangat baik, dan kecerdasannya mengagumkan. Ia memutuskan mengangkat bocah itu sebagai murid tunggalnya.

"Mulai hari ini, panggillah aku Suhu (Guru),"
katanya sabar.

Kie Bouw dididik dengan keras. Ia dimandikan dengan ramuan obat berharga untuk "menukar tulang" dan memperkuat daya tahannya terhadap hawa dingin Thian-san yang ekstrem. Ia diajarkan ilmu bersemedi, mengatur peredaran napas, dan menyalurkan tenaga sakti yang murni.

Hari demi hari berlalu. Empat tahun kemudian, Kie Bouw telah tumbuh menjadi bocah berusia tujuh tahun yang sangat sehat. Kepandaiannya luar biasa. Ia mampu melompati jurang-jurang lebar di Thian-san dengan Ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sempurna. Tenaga dalamnya sangat kuat; sekali hantam, ia dapat menumbangkan pohon besar.

Lam Ceng Siansu sendiri kagum melihat kemajuan muridnya. Didalam usia semuda itu, kepandaian Kie Bouw hampir dapat mengimbangi kepandaian gurunya. Ia berbakat, cerdik, dan tabah menghadapi latihan yang berat.

Suatu pagi, ketika Kie Bouw sedang berlatih berlari mengelilingi puncak-puncak Thian-san, ia mendengar suara desisan perlahan di sebuah lembah penuh bunga Bhotan.

"Ajaib! Mengapa bocah sekecil itu bisa memiliki kegesitan yang luar biasa?"

Kie Bouw segera menghentikan larinya dan berseru ramah, menantang orang yang bersembunyi untuk keluar. Ternyata ada tiga orang tua yang bersembunyi. Mereka adalah tokoh-tokoh rimba persilatan yang datang ke Thian-san untuk mencari Lam Ceng Siansu, musuh besar mereka.

Kie Bouw yang cerdik berpura-pura tidak mengetahui keberadaan gurunya dan menyesatkan ketiga orang tua itu menuju puncak utama Thian-san yang penuh bahaya. Ketiga orang tua itu kewalahan mengikuti Ginkang Kie Bouw yang seperti angin, melompati jurang-jurang terjal dan lapisan es yang licin. Akhirnya, mereka tertinggal jauh dan tersesat di puncak Hoa-san yang asing.

Sementara itu, Kie Bouw segera kembali ke Lam-hong memberitahukan gurunya perihal pertemuan dengan ketiga orang tua itu. Lam Ceng Siansu segera menyadari bahwa mereka adalah Sam-sat Sukoan (Tiga Iblis dari Sakoan), musuh lamanya yang terkenal bertangan telengas.

Pertempuran hebat pun tak terelakkan di lereng Thian-san yang bersalju!

Lam Ceng Siansu harus menghadapi pengeroyokan Sam-sat Sukoan. Namun, dengan kepandaiannya yang sempurna, Lam Ceng Siansu dapat mendesak ketiga lawannya. Pukulan telapak tangannya yang dahsyat membuat ketiga iblis itu kewalahan. Satu per satu perampok itu rubuh bergulingan di atas salju, terluka dalam akibat gempuran tenaga dalam Lam Ceng Siansu. Akhirnya, setelah bertempur puluhan jurus, Lam Ceng Siansu berhasil membinasakan salah seorang dari Sam-sat Sukoan dengan pukulan telapak tangan yang menghancurkan dada lawan. Dua orang Sam-sat Sukoan lainnya ketakutan melihat kematian kawan mereka dan melarikan diri meninggalkan tempat itu dengan membawa dendam yang sangat dalam.

Kie Bouw mengawasi kepergian kedua iblis itu dengan sorot mata yang dingin. Ia menyadari bahwa di dalam dunia rimba persilatan, bahaya selalu mengancam.


Bagian 3: Turun Gunung dan Gelar Si Rase Emas

Waktu terus berjalan. Sempurnalah Kie Bouw mempelajari seluruh kepandaian dari Lam Ceng Siansu. Di usia enam belas tahun, ia telah menjadi pemuda yang gagah dan memiliki kepandaian ilmu silat serta tenaga dalam yang sangat tinggi. Lam Ceng Siansu menyadari sudah waktunya murid tunggalnya itu turun gunung untuk mencari pengalaman di dunia ramai.

Perpisahan antara guru dan murid itu diiringi linangan air mata.

"Hati-hatilah engkau berkelana, Bouw-jie!"
kata Lam Ceng Siansu terharu. Kie Bouw pun melangkah turun gunung dengan berat hati, meninggalkan tempat penggemblengannya selama tiga belas tahun.

Kie Bouw mengembara dari kota ke kota, melakukan kebajikan, membantu yang lemah dari tindasan sikuat. Suatu hari, di kota Hay-ping-kwan, Kie Bouw melihat seorang gadis penjual bakso, Khang Pai Lan, sedang disiksa oleh seorang lelaki bertubuh tinggi besar, buaya darat kota itu yang suka memeras pajak liar.

Darah kependekaran Kie Bouw mendidih. Dengan gerakan yang cepat, ia menempiling wajah lelaki tinggi besar itu berulang kali hingga terpental rubuh. Lelaki itu murka, menerjang maju. Namun Kie Bouw dengan tenangnya menghantam dada lawannya, mematahkan kedua tangannya! Lelaki itu meraung kesakitan dan melarikan diri.

Lelaki itu kembali membawa belasan kawannya untuk mengeroyok Kie Bouw. Namun, Kie Bouw tidak gentar. Dengan Ginkangnya yang sempurna, gerakannya lincah menyerupai seekor rase, dan kemuliaan hatinya yang bagaikan murninya emas, Kie Bouw dengan mudah merubuhkan pengeroyok-pengeroyoknya. Tujuh orang perampok roboh tewas terkena senjata mereka sendiri yang mental balik akibat sampokan tenaga dalam Kie Bouw. Sisa perampok lainnya berlutut meminta pengampunan dan berjanji tidak akan melakukan kejahatan lagi.

Berkat perbuatannya yang mulia membela keadilan, penduduk kota memberikan gelaran kepada Kie Bouw sebagai Si Rase Emas. Gelaran ini semakin populer dan dihormati oleh orang-orang beraliran putih.

Pengembaraan Si Rase Emas terus berlanjut. Di perkampungan Pan-san-cun, Kie Bouw berhasil membongkar tabir rahasia yang menyelimuti kampung itu. Ia membasmi komplotan hantu-hantu yang dipimpin oleh Ratu Setan Wie Ling, yang ternyata merupakan kumpulan manusia-manusia jahat yang menggunakan trik dan ilusi untuk menakut-nakuti penduduk. Dengan bantuan seorang hweshio lihay, Kong Tai Siansu, Kie Bouw berhasil memusnahkan sarang hantu Wie Ling dan menyelamatkan ayah dari seorang gadis cantik, Kwa Sin Lan.

Di Pegunungan Hoa-san, Kie Bouw terlibat kesalahpahaman dengan Tojin-tojin dari Hoa-san Pai. Namun, kesalahpahaman itu akhirnya dapat diselesaikan. Kie Bouw malah membantu Tojin-tojin itu menghadapi pemuda jahat, Bwe Hoa Siucay Kim Long Kun, yang sering membinasakan murid-murid Hoa-san Pai. Dengan pukulan geledeknya yang dahsyat, Kie Bouw berhasil merubuhkan Kim Long Kun yang lihay!

Kie Bouw terus mengembara melakukan kebajikan. Di perkampungan Wie Ian cung, ia menyelamatkan seorang gadis cantik, Siangkoan Nio, putri dari jago tua Siangkoan Tat yang telah mengasingkan diri. Orang tua Siangkoan Nio telah dibinasakan oleh iblis jahat Siang-mo-kiam. Kie Bouw berhasil menghajar Siang-mo-kiam hingga bercacad dan memusnahkan seluruh kepandaiannya.

Siangkoan Nio yang sebatang kara akhirnya mengikuti pengembaraan Kie Bouw. Benih-benih cinta pun tumbuh di antara mereka. Akhirnya, mereka menikah dan hidup mengasingkan diri di sebuah lembah indah di lereng Pegunungan Thian-san, hidup tenang dan bahagia menantikan kelahiran putra mereka. Nama Si Rase Emas pun menjulang harum dalam rimba persilatan sebagai simbol keadilan dan kebajikan.

Baca Juga: Jangan lewatkan kisah seru lainnya dalam dunia persilatan, simak kelanjutan petualangan Dewa Arak 93 Perawan Buronan di sini .

Daftar Episode Rase Emas - Chin Yung (Baca di Facebook)

Bergabunglah di Group FB untuk update terbaru: Group FB Cersil Rase Emas

Disqus Comments