Sabtu, 25 Juli 2026

Pendekar Kelana Sakti 05 Jago Jago Rogo Jembangan

Pendekar Kelana Sakti 05 Jago Jago Rogo Jembangan

Cersil Pendekar Kelana Sakti 05 Jago Jago Rogo Jembangan

Baca Online Pendekar Kelana Sakti 05 Jago Jago Rogo Jembangan

Serial Cersil Klasik: Pendekar Kelana Sakti Episode Jago-Jago Rogojembangan

Sampul Cerita Silat Klasik: Jago-Jago Rogojembangan karya Buce L. Hadi

SINOPSIS & ARSIP BACAAN BUKU

IDENTITAS PUSTAKA:

Karya: Buce L. Hadi | Penerbit: Mutiara, Jakarta (Cetakan Pertama, 1991) | Setting: Trias Typesetting.

"Cerita ini adalah fiktif. Persamaan nama, tempat, dan ide hanya kebetulan belaka. Dilarang mengutip atau mengcopy sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa ijin tertulis dari penerbit."


BAB 1: Jejak Sang Pengendali Gerobak & Bangkitnya Mayat Hidup

Dua ekor kuda yang menarik sebuah gerobak kayu itu meringkik berbarengan ketika melewati padang tandus. Di mana-mana banyak berserakan tulang belulang. Entah bekas kerangka apa. Yang jelas di situ ada bermacam-macam tulang belulang. Di antara tulang belulang binatang, ada juga terselip kerangka manusia. Bahkan beberapa roda pedati yang telah usang sekalipun ikut berserakan di situ.

Gerobak itu berhenti mendadak. Pengendalinya yang hanya seorang itu geram sekali memecuti kuda-kudanya. Dua ekor kuda itu masih terus meringkik, membuat gerobak yang ditariknya bergoyang-goyang dan hampir terbalik. Pengendali kuda itu makin kencang mencambuki kuda-kudanya....

"Hreaaaa! Hreaaaaa! Hreaaaa!"

Teriakannya menggelegar memecah kesunyian padang tandus. Burung-burung Nazar beterbangan mendengar suara yang menakutkan itu. Bersamaan dengan beterbangan burung-burung pemakan bangkai, kuda-kuda itu berlari kencang. Debu-debu pun menggumpal bagai asap mengikuti ke mana arah gerobak kayu itu melaju. Pengendalnya merasa lega. Sesekali ia menoleh ke belakang. Beberapa peti besar masih utuh pada tempatnya ditambahkan memenuhi ruang belakang gerobak. Setelah itu ia kembali mencambuki kuda-kudanya.

Beberapa saat kemudian kereta gerobak berhenti lagi. Kali ini bukan karena kuda-kudanya. Si pengendali sendiri yang menghendaki. Di hadapannya membentang sebuah jembatan kayu yang menyeberangi jurang menghubungkan pada puncak jurang berikutnya. Hati-hati sekali ia mengendalikan kuda-kudanya menyeberangi jalan itu. Roda-roda gerobak berderak-derak saat melindas jembatan kayu. Jembatan itu cukup kuat, di kedua sisinya terdapat dua utas tambang sebesar lengan memanjang sebagai pembatas lebarnya jembatan itu.

Udara yang berhembus dari jurang seberang begitu segar. Dataran itu nampak lebih subur dari padang tandus yang ia lewati tadi. Di situ banyak pepohonan, tanahnya pun berumput. Dari kejauhan nampak seperti permadani hijau yang membentang di kaki langit. Kereta gerobak itu kembali melaju dengan cepat setelah melewati jembatan penghubung.

"Huh kalau tahu keadaan Rogojembangan begini, aku tak mau lagi ke sini..." keluh si pengendali gerobak dalam hati. Kedua lengannya memacu tali kekang. Derap kaki kuda semakin cepat menelusuri jalan yang berliku. Melalui pohon-pohon besar yang tumbuh banyak di kedua sisi jalan.

"Mudah-mudahan saja ini untuk yang terakhir kalinya..." keluhnya lagi ketika ia melihat sebuah bangunan yang hampir roboh termakan usia. Dari kejauhan nampak bangunan itu begitu kotor dan tak terurus. Kereta gerobak itu berjalan perlahan menghampiri halaman bangunan. Si pengendali menghapus keringat yang membanjir di sekitar keningnya. Seluruh bajunya telah basah oleh keringat yang mengucur sedari tadi. Belum kereta gerobak itu berhenti, seorang lelaki berperawakan kurus keluar dari bangunan. Melihat sosok berkulit hitam dengan rambut yang semrawut, si pengendali kereta gerobak begitu tercengang...

Bukan karena takut! Tapi baru kali ini ia melihat seseorang berkulit yang demikian hitamnya. Kuda-kuda itu tidak meringkik begitu mendekati sosok hitam yang berdiri tepat di muka pintu bangunan.

"Kaukah Umbara Komang dari lereng Ungaran yang terkenal itu...?" sapa sosok hitam ketika kereta gerobak berhenti di hadapannya.

Orang yang duduk di atas gerobak menjawab dengan anggukan kepala.

"Aku Wadak Keling akan membawa masuk barang-barang yang kau bawa... Mana barang-barang itu...?" kata sosok hitam yang menamakan dirinya Wadak Keling.

Si pengendali kereta yang ternyata Umbara Komang menunjuk ke belakang gerobak dengan ibu jarinya. Wadak Keling mengangkat wajahnya melongok ke belakang gerobak. Dilihatnya dua buah peti berukuran besar terikat kuat saling tindih. Umbara Komang turun dari gerobak, ia menambatkan kuda-kudanya pada sebatang tonggak. Ia sempat melirik ke arah Wadak Keling yang mulai membuka ikatan peti-peti di belakang gerobak. Tanpa minta bantuan Umbara Komang, Wadak Keling menurunkan satu demi satu peti-peti itu. Lalu memanggul peti itu memasuki ruangan bangunan yang nampak begitu gelap.

Umbara Komang sengaja menunggu di luar. Ia membiarkan Wadak Keling memasukkan peti-peti itu sendirian. Suatu kesempatan untuk menghemat tenaga. Peti kedua telah masuk ke dalam bangunan. Umbara Komang menghela nafas. Ingin rasanya ia cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Bau kemenyan yang sedari tadi keluar dari ruangan sejak pintu bangunan itu terbuka sangat menyesakkan hidungnya. Sebentar-sebentar ia mengendus mengusir aroma yang sangat membangunkan bulu roma.

Namun Umbara Komang sengaja menunggu di luar. Menunggu Wadak Keling keluar dengan membawa sesuatu yang menjadi imbalan untuknya. Lama sekali Wadak Keling tidak menampakkan diri. Setelah ia membawa masuk peti kedua Wadak Keling tidak muncul-muncul lagi. Umbara Komang jadi tidak sabar.

"Wadak Keling...! Aku tidak bisa lama-lama di sini! Tolong sampaikan salamku kepada Ki Rondo Mayit! Bagianku harus ku terima sekarang...!" teriak Umbara Komang. Ia membenahi tali-tali pengikat peti yang malang melintang di sekitar roda gerobak.

"Aku mendengar suaramu, Umbara Komang...! Terimalah ini!" Terdengar suara dari dalam bangunan. Jelas bukan suara Wadak Keling. Bersamaan dengan itu desiran angin sangat kencang menjurus keluar...

"Wwwwes!"

Tiba-tiba saja Umbara Komang memekik dengan tubuh terbanting. Terasa sesuatu menghantam dadanya... Dengan tubuh yang masih seloyongan, ia berusaha bangkit.

"Apa-apaan kau, Ki Rondo Mayit! Aku tidak pernah mengecewakan kau, kenapa malah menyerangku sampai sedemikian rupa...!" bentak Umbara Komang. Ia melangkah memasuki bangunan itu. Wajahnya merah padam menahan amarah yang luar biasa...

Tapi baru saja ia melangkah pada garis depan pintu yang terkuak lebar... "Deeeeees!" Sebuah pukulan angin menghantam lagi. Tanpa dapat menghindari, tubuh Umbara Komang terlempar lebih jauh. Kali ini ia tidak dapat bangun lagi. Umbara Komang terkapar di tanah dengan berlumuran darah di mulutnya. Kedua kuda yang tertambat di samping pintu meringkik hebat. Keduanya menyepak-nyepakkan kaki seakan-akan hendak pergi dari tempat itu.

Ringkikan kuda terhenti seketika saat dua orang keluar dari balik pintu. Wadak Keling bersama majikannya Ki Rondo Mayit. Mereka berdua sama seramnya. Rambutnya sama-sama tak terurus. Hanya kelainan pada Ki Rondo Mayit dengan rambut yang awut-awutan memutih. Raut wajah Ki Rondo Mayit sendiri tidak menggambarkan bahwa ia telah termakan usia. Tidak ada kerut-kerut sedikit pun pada kulit mukanya. Tapi sewaktu Ki Rondo Mayit menyeringai melihat tubuh Umbara Komang terkapar, terlihat kedua gusinya tanpa sebutir gigi.

Wadak Keling yang berdiri di samping majikannya melangkah menghampiri tubuh Umbara Komang.

"Dia tidak mati, Ki... Jantungnya masih berdenyut halus...!" katanya setelah memeriksa tubuh berlumuran darah itu.

"Memang itu yang kuharapkan! Aku tidak sampai hati untuk membunuhnya, karena ia telah banyak berjasa untukku..." jawab Ki Rondo Mayit ikut melangkah mendekat. "Bawa saja ia masuk ke dalam... Aku masih membutuhkan dirinya..." katanya lagi. Ia langsung berbalik memasuki bangunan lebih dulu.

Wadak Keling menuruti perintah majikannya. Tanpa banyak bicara ia memanggul tubuh Umbara membawa masuk ke dalam ruangan yang sedikit gelap. Ruangan itu tidak seberapa besar. Tapi ketika ia memasuki ruangan yang kedua. Ruangan itu gelap lagi. Meskipun hanya diterangi dengan sebuah lampu obor, cukup membuat keadaan di situ nampak jelas.

Ki Rondo Mayit telah menunggunya di samping meja kayu yang di atasnya banyak berserakan alat-alat pendupaan. Salah satu pendupaan itu masih mengepulkan asap menyebar bau kemenyan. Dua buah peti berdiri bersandar pada dinding batu. Ki Rondo Mayit memandangnya. Pandangannya beralih ketika Wadak Keling masuk membawa tubuh Umbara Komang ke ruangan itu. Wadak Keling meletakkannya pada sebuah balai di sudut ruangan.

"Penutup peti-peti itu harus kau buka Wadak Keling. Aku ingin melihatnya! Jangan-jangan ia menipuku..." majikannya berseru.

Wadak Keling tidak pernah membantah perintah majikannya. Ia pun melangkah ke arah dua peti yang bersandar pada dinding. Hanya dengan sekali tarik saja penutup peti itu terbuka. Maka terlihatlah dua sosok tubuh yang telah membiru berdiri membujur dalam peti-peti itu. Ki Rondo Mayit tersenyum. Kembali gusi tanpa gigi terlihat. Rambut yang putih beruban tidak bergeming. Lalu.....

"Baringkan kedua mayat itu di samping tubuh Umbara Komang... Awas. hati-hati Wadak Keling! Jangan sampai kulit mereka rusak...!"


BAB 2: Kemunculan Pemuda Baju Bulu (Wintara)

Wintara yang tadi berjalan di tengah-tengah jalanan, melompat ke pinggir ketika mendengar suara derap kaki kuda yang berjalan cepat dari arah belakang. Ia sengaja berhenti dan melihat beberapa kuda yang melaju dengan cepat melintasi jalan itu. Ketiga para penunggang itu tidak perduli saat Wintara memperhatikan mereka. Ketiganya berlalu tanpa berpaling barang sekejap pun ke arah Wintara yang berdiri di sisi jalan. Sepertinya ada sesuatu yang mereka buru.

Wintara pun masa bodoh. Sama acuhnya. Setelah kuda-kuda itu menjauh, barulah Wintara meneruskan perjalanannya. Debu-debu bekas derap langkah-langkah kuda masih mengepul.

"Sombong! Mentang-mentang memakai lencana kerajaan, berjalan seenaknya saja!" gerutu Wintara sambil mengibas-ngibaskan telapak tangan pada baju bulunya.

Matanya masih tertuju pada ketiga ekor kuda yang mulai hilang dari pandangan mata. Debu-debu yang melekat pada baju bulunya tidak hilang. Dengan kesal Wintara berlari kencang menyusul mereka. Kecepatan larinya membuat rumput-rumput yang tumbuh di pinggir jalan seperti merebah tidur saat ia melewatinya. Itu karena terjangan angin yang begitu deras. Langkah-langkah Wintara sendiri tidak jelas kelihatan. Tahu-tahu saja ia sudah berada jauh di depan sana. Menyusul ketiga kuda yang berlari di hadapannya.

Sekali hentak, kedua kaki Wintara melejit ke udara. Tubuhnya berputar berkali-kali. Kemudian hinggap tanpa menimbulkan suara di atas tanah. Ketiga penunggang kuda itu tercengang. Karena tahu-tahu saja telah muncul di hadapan mereka seorang pemuda mengenakan baju bulu binatang berdiri menghalangi perjalanan mereka.

"Minggirlah, anak muda! Kami tengah mengejar seseorang. Orang itu amat berbahaya sekali... Jadi kami tidak ingin kehilangan jejaknya," kata salah seorang penunggang yang berada paling tengah.

"Begitu pentingkah orang itu sehingga kalian tidak menghormati orang yang berjalan kaki di jalan ini...? Kalian lihat pakaian ku! Aku memang seorang jembel yang tidak patut dihormati... Tapi justru kalian orang-orang dari kerajaan tidak memiliki rasa sopan sedikit pun...!" bicara Wintara blak-blakan.

"Oh... maafkanlah kami, Anak muda! Bukan sengaja kami mengotori pakaian mu... Sungguh! Kami kelewat terburu-buru... Sekali lagi maafkanlah kami..." kata orang yang menunggangi kudanya di pinggir.

"Betul, anak muda. Kami tengah mengemban tugas dari kerajaan... Sebenarnya kami bukan orang-orang kerajaan, kami hanya orang-orang pilihan Raden Mas Kinanjar Swantaka... Bukan hanya kami bertiga orang-orang pilihan beliau. Masih banyak lagi orang-orang seperti kami."

"Orang-orang pilihan...?" Wintara jadi heran.

Ketiganya tidak luput dari tatapan Wintara. Ia melangkah ke samping jalan seolah-olah memberi jalan pada mereka.

"Kami tidak dapat menjelaskannya sekarang, Anak muda... Maaf, kami harus mengejar buruan yang telah lepas dari pengamatan... Permisi... Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi," kata penunggang kuda yang paling tengah. Orang itu segera menghela kudanya, maka kuda itu pun berlari lagi. Yang lain mengikuti mengejar.

Wintara terpaku diam melihat kepergian mereka. Sebentar saja kuda-kuda itu jauh menghilang dengan asap-asap debu yang berterbangan di sekitar langkah-langkah kuda.

Disqus Comments