Sabtu, 25 Juli 2026

Pendekar Kelana Sakti 04 Pemikat Nyi Sekar Dayang Kunti

Pendekar Kelana Sakti 04 Pemikat Nyi Sekar Dayang Kunti

Cersil Pendekar Kelana Sakti 04 Pemikat Nyi Sekar Dayang Kunti

Baca Online Pendekar Kelana Sakti 04 Pemikat Nyi Sekar Dayang Kunti

Naskah Lengkap & Unsur Intrinsik: Balas Dendam dari Lembah Maut

Dunia persilatan Klasik Tanah Air karya Buce L. Hadi kembali menyajikan intrik gelap, dendam kesumat, dan karma yang berdarah. Serial serial populer Pendekar Kelana Sakti dalam episode Pemikat Nyi Sekar Dayang Kunti ini menyuguhkan ketegangan psikologis warga Desa Rawa Kandar yang harus berhadapan dengan malapetaka penyakit aneh sekaligus teror mistis yang membakar jiwa manusia.

Peringatan Hak Cipta & Fiksi:
Cerita ini adalah fiktif. Persamaan nama, tempat, dan ide hanya kebetulan belaka. PEMIKAT NYI SEKAR DAYANG KUNTI Oleh Buce L. Hadi. © Penerbit Mutiara, Jakarta. Setting Oleh: Trias Typesetting. Cetakan Pertama. Dilarang mengutip atau mengcopy sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. Hak Cipta ada pada Penerbit.


Awal Malapetaka di Desa Rawa Kandar

Bau busuk menyeruak menyengat hidung. Para penduduk desa Rawa Kandar merasa resah dengan aroma yang membuat perut mereka mual. Mereka juga bukannya tidak tahu dari mana asal bau busuk itu... Dari sebuah gubuk reyot! Gubuk kecil yang nampak kotor dan tak terurus. Dari celah-celah dinding bilik yang nampak rombeng, banyak bertebaran lalat-lalat hijau keluar masuk dalam gubuk itu.

Pemiliknya seorang nenek keriput bernama Ni Luh Wedas. Dia memang tidak pernah mengurusi rumahnya. Sehari-harinya ia selalu sibuk dengan putrinya yang sudah sekian lama terbaring dalam sebuah kamar. Keadaan Narsiah, putrinya memang harus mendapat perawatan khusus. Penyakit yang selama ini diderita sangat aneh dan kian parah. Seluruh pori-porinya nampak mengeluarkan darah. Kulitnya seperti meleleh hampir copot. Mungkin itulah yang mengundang lalat-lalat berdatangan.

Dalam gubuk itu, Ni Luh Wedas sudah terbiasa dengan bau busuk yang berasal dari tubuh Narsiah. Ia pun hampir putus asa menghadapi kenyataan yang diderita putrinya. Dan siang itu, Ni Luh Wedas betul-betul terkejut melihat orang-orang kampung berdatangan memenuhi halaman gubuk reyot yang menyebarkan bau busuk. Cepat-cepat Ni Luh Wedas menutup pintu.

"Ni Luh Wedas...! Kami sudah hilang kesabaran...! Bukan kami bertindak jahat ataupun tidak memiliki sifat persaudaraan..." Parto yang berdiri paling depan berbicara lantang. Beberapa orang di sebelahnya nampak muntah-muntah sambil memegangi perut. Yang lainnya menutup lobang hidung. "Kami semua berharap agar Ni Luh Wedas meninggalkan kampung ini..." kata Parto suaranya lebih kencang lagi.

"Betul...! Penyakit putrimu itu akan membawa bencana bagi orang-orang kampung ini...! Penyakit kusta sangat berbahaya dan menular...!" kata Welang Galih yang rumahnya paling dekat dengan gubuk itu. Ni Luh Wedas tidak menjawab. Tubuh kurusnya gemetar menahan takut. Narsiah yang ikut mendengar teriakan-teriakan itu memeluk ibunya.

"Kalau kau tidak mau pergi dari sini, kami akan mengusir kalian...! Ini demi kebaikan kampung ini...!" Parto masih berteriak. Beberapa orang yang tadi muntah-muntah mengambil beberapa gelintir batu, lalu mereka melemparinya.... Batu-batu itu melesat menghujani gubuk. Timbul suara yang mirip serentetan ledakan senjata. Ni Luh Wedas semakin takut.

"Mereka tidak menjawab, Parto.... Aku khawatir mereka berdua sudah menjadi mayat! Coba kalian mengendus. Bau busuknya lebih parah, bukan...?" kata Welang Galih. "Kalau benar mereka semua mampus, bakar saja gubuk penyebar penyakit ini..." usul seseorang. "Ya...! Lebih baik dimusnahkan! Biar penyakit turunan itu tidak menular pada sanak saudara kita...!" seseorang menimpali. "Bakar...!" "Betul...! Bakar gubuk itu, bakar...!"

Suara teriakan mereka ramai memenuhi halaman muka. Suasana jadi kacau. Beberapa orang mulai menyulut api, di antaranya Parto dan Welang Galih.... Dari dalam gubuk Ni Luh Wedas melihat nyala api meletup-letup dari beberapa batang obor. Mereka semua yang berada di luar halaman sudah nekad dan siap menurut perintah melemparkan batang-batang obor ke atas atap jerami. Semuanya tergantung dari perintah Parto yang memimpin rombongan itu. Pandangan Parto sendiri sudah tidak sabaran. Ingin rasanya gubuk itu cepat-cepat menjadi arang. Ketika ia hendak memberikan perintah...

"Hentikan!"

Suara teriakan seseorang terdengar tidak jauh dari situ. Semuanya menoleh ke arah suara. Parto dan Welang Galih tersentak. Ki Lurah Sentanu tiba-tiba saja berada di situ. Wajahnya nampak memancarkan sinar kemarahan. "Kalian hendak melakukan apa...? Membakar mereka hidup-hidup...? Sungguh picik pikiran kalian...!" kata Ki Lurah Sentanu sambil melangkah mendekati keramaian itu. "Apakah kalian pikir dengan membakar mereka satu cara yang terbaik...?" kata Ki Lurah lagi. Mereka tidak ada yang berani jawab. Kecuali Parto....

"Apakah Ki Lurah Sentanu tidak menyadari kalau penyakit turunan itu amat berbahaya dan menular...? Kalau mereka dibiarkan menetap di kampung ini, maka kampung ini akan terancam...!"

"Itu bukan berarti kalian harus membakar mereka hidup-hidup...! Mestinya kalian musyawarah dulu!" jawab Ki Lurah Sentanu.

"Buat apa...! Musyawarah atau tidak, hasilnya akan sama saja! Kami tidak setuju dengan adanya mereka di sini.... Apa Ki Lurah Sentanu masih ingat kematian putraku yang masih kecil pada beberapa minggu yang lalu...?" Welang Galih maju mendekati Ki Lurah. "Itu karena mereka...! Dukun mengatakan putraku mengidap penyakit keparat itu! Bagaimana penyelesaiannya..? Yang jelas anak beranak itu mesti dibikin mampus," katanya lagi lebih lantang.

"Itu bukan suatu usul yang benar...!" bentak Ki Lurah Sentanu sambil menatap Welang Galih. "Sekarang kalian bubar...! Ayo bubar...! Nanti malam kalian semua berkumpul di balai desa untuk membicarakan masalah ini.... Ayo bubar...!" Perintah Ki Lurah Sentanu tidak main-main.... Kontan satu demi satu mundur menjauh. Orang-orang itu melangkah meninggalkan gubuk itu. Hanya Parto dan Welang Galih masih tetap berdiri menatap Ki Lurah Sentanu.

"Nanti malam kalian pun harus hadir...!" kata Ki Lurah tidak kalah menatap mereka. Parto dan Welang Galih gelagapan mendapat tatapan yang demikian angker. Keduanya melangkah mundur. Lalu dengan cepat mereka membalikkan tubuh segera berlalu dari situ dengan menggumamkan sumpah serapah.

Ki Lurah Sentanu mencium bau busuk dari dalam gubuk itu. Tapi ia berusaha menahannya. Ia berjalan melangkah mendekati pintu. Ni Luh Wedas yang sedari tadi mengintip dari balik pintu merasa lega, karena orang-orang kampung sudah tidak mengepung rumahnya lagi. Ia pun memberanikan diri membuka pintu. Daun pintu terbuka dengan disertai deritan yang berat.... Bau busuk menyeruak ke luar. Ki Lurah Sentanu hampir tidak menguasainya. Isi perutnya serasa anjlok ke luar.

"Sebaiknya menjelang gelap nanti kalian meninggalkan kampung ini... Aku khawatir mereka akan bertindak kasar. Aku memang sebagai Lurah....Tapi aku tidak dapat berbuat banyak! Mereka sudah tidak dapat dikendalikan lagi..." kata Ki Lurah Sentanu setengah berbisik. Ni Luh Wedas nampak cemas.... "Ka-ka-kami harus pergi ke mana, Ki.... Lagi pula keadaan putriku..."

"Aku tahu, Ni.... Tapi ini demi keselamatan kalian... Pergilah dari tempat ini, sebelum mereka bertindak seperti yang tidak kita inginkan..." usul Ki Lurah Sentanu halus.

Sebenarnya Ki Lurah Sentanu sendiri tidak tega melihat keadaan keluarga kecil Ni Luh Wadas yang amat terpojok itu. Bagaimana tidak, penduduk kampung tidak menyukai adanya seorang penderita kusta. Ni Luh Wedas sendiri merasakannya. Betapa mereka mengucilkan dirinya. Pahit memang..! Semua orang tidak menerima kehadirannya.

Pernah suatu waktu, ketika ia membawa putrinya Narsiah ke sungai untuk memandikannya. Para wanita yang kebetulan mencuci pakaian di sungai melempari dengan batu-batu kali. Mereka sangat jijik melihat keadaan Narsiah. Mereka takut kalau Narsiah mandi di kali itu akan menularkan penyakit keturunannya. Luka dikepala mereka tidak seberapa hebat dengan rasa sakit yang ada di hati... Sampai sekarang luka itu masih membekas!

Ni Luh Wedas tidak lebih bagai seekor makhluk yang amat mengerikan. Tidak ada satu orang pun yang berani mendekat ketika ia melewati perkampungan. Mereka semua beringsut kabur masuk ke dalam rumah. Jangankan mendekat atau berpapasan secara kebetulan, baru melihat sosok tua renta itu saja mereka sudah menyingkir jauh-jauh.

Pernah sewaktu ia berjalan ke pasar. Meskipun ia membawa uang yang sedikit ia tetap bermaksud membeli sesuatu yang dapat mengisi perut bersama putrinya. Seorang pedagang tidak mau melayani.... Bahkan pedagang itu lari pontang-panting meninggalkan dagangannya. Sekalinya ada, seorang pedagang tidak mau menerima uangnya. Pedagang itu hanya melemparkan beberapa batang singkong ke tanah sembari meludahi. Dan semua orang tertawa mengejek melihat sosok tua itu memunguti singkong-singkong yang berserakan di tanah.

Ni Luh Wedas tersadar dari lamunannya ketika sosok Ki Lurah Sentanu sudah berada jauh dari gubuknya. Ia menatap tubuh lelaki yang berjalan semakin menjauh. Dan ia kembali masuk ketika Narsiah memanggil-manggil...


Malam Pembakaran dan Penghakiman Sendiri

Hari hampir gelap, dalam sebuah ruangan di balai desa nampak dipenuhi oleh para penduduk desa Rawa Kandar. Semuanya duduk bersila menghadap kepada Ki Lurah Sentanu yang duduk di depan ditemani dengan Mayan Danang, putra tertuanya.

"Kita belum bisa mulai kalau seluruh penduduk ini belum kumpul...!" kata Ki Lurah Sentanu memecahkan kegaduhan dalam ruangan itu. Pertemuan malam itu memang tidak seperti biasanya.... Malam itu Ki Lurah Sentanu sengaja mengundang semua kepala keluarga desa Rawa Kandar. "Mana Parto dan Welang Galih...? Kenapa mereka belum muncul...!" katanya lagi.

Semuanya saling mencari-cari dua sosok yang amat dinantikan Ki Lurah Sentanu. Namun Parto dan Welang Galih tetap tidak ada. "Apa pentingnya mereka, Ayah.... Tanpa mereka pun kita bisa mulai..." kata Mayan Danang putra tertuanya yang duduk di samping sang ayah. "Karena masalah ini merupakan gagasan mereka..." jawab sang ayah.

Tiba-tiba terdengar suara kentongan tanda berita bertalu-talu dipukul oleh orang. Semua orang yang ada di situ menjadi ribut seketika. Ada di antaranya banyak yang keluar sehingga menimbulkan kekacauan. Suara kentongan yang bertalu-talu itu amat mencemaskan bagi orang-orang yang menghadiri pertemuan. Bagaimanapun mereka dapat mengartikan isyarat kentongan... Tanda adanya kebakaran!

Dari muka balai desa sudah terlihat asap api yang membubung tinggi menyala dalam kegelapan malam. Suasana dalam ruangan balai desa morat-marit. Orang-orang itu berdesakkan ke luar. Menyaksikan nyala api yang begitu hebat. Mereka pun berlarian mendekati arah kebakaran. Ki Lurah Sentanu bersama putranya Mayan Danang terpaksa ikut berlari mengikuti mereka.

Api masih berkobar membakar sebuah gubuk kecil. Sekeliling gubuk yang kian panas telah dikerumuni orang-orang kampung. Semuanya terjadi, seperti tidak wajar.... Tidak ada satu orang pun dari puluhan warga desa Rawa Kandar yang berusaha memadamkan kobaran api tersebut. Semuanya hanya menonton dengan perasaan puas.

Sementara itu jeritan panjang terdengar jelas dari dalam gubuk yang terbakar. Seorang perempuan tua berusaha keluar dari kurungan api. Orang-orang kampung melihat jelas perempuan tua itu menggapai-gapai meminta pertolongan.

"Jangan bawa anakku...! Kalian jahat...! Jangan bawa Narsiah...!"

Suara itu jelas terdengar dari dalam kobaran api. Tapi seakan-akan para penduduk Rawa Kandar tidak mendengarnya sama sekali. Malah.... "Aaaaaaaaaarght!" Nampak jelas tubuh renta bergerak-gerak termakan api yang demikian membara. Tubuh itu kelojotan di tanah dalam kurungan pagar api. Sampai akhirnya sebuah tiang jatuh menimpa tubuh berkelojotan itu.

Ki Lurah Sentanu bersama anaknya baru tiba di tempat kejadian. Ia menatap cemas ke arah gubuk yang mulai habis termakan api. "Bagaimana keadaan Ni Luh Wedas bersama putrinya...?" tanya Ki Lurah Sentanu ketika mereka melangkah ke depan melihat kobaran api. "Entahlah.... Dari tadi tidak mendengar suaranya..." jawab orang yang ditanya acuh. Lalu ia berusaha untuk tidak menatap Ki Lurah Sentanu yang berdiri di sebelahnya.

Ki Lurah Sentanu menarik lengan orang itu. "Kau lihat Parto dan Welang Galih...?" tanya Ki Lurah lagi. Orang itu hanya mengangkat bahu. "Mengapa ayah selalu menanyakan mereka...?" tanya putranya Mayan Danang. "Aku yakin ini hasil perbuatan mereka! Pasti...!" jawab Ki Lurah Sentanu. "Belum tentu ayah...! Siapa tahu keluarga Ni Luh Wedas memang bermaksud bunuh diri...!" pendapat Mayan Danang.


Aksi Kriminal Parto dan Welang Galih di Tebing Jurang

Narsiah sudah tidak dapat berteriak lagi. Tubuhnya telah terjerat dengan dua utas tambang. Dua orang bertubuh kekar berusaha menyeretnya cepat. Dua orang itu tidak lain Parto dan Welang Galih, mereka membawanya masuk ke dalam hutan belukar yang gelap dan menyeramkan. Suara binatang malam maupun burung hantu mengiringi langkah-langkah mereka yang menyeret tubuh Narsiah dengan terburu-buru.

Langkah-langkahnya menyeruak menyibak alang-alang liar. Tubuh Narsiah yang diseretnya tidak nampak karena terhalang dengan alang-alang yang tumbuh tinggi. Kedua orang yang menyeret tidak perduli bilamana kepala Narsiah membentur batu. Sekalipun mereka mendengar suara benturan itu sampai membledar. "Biar mampus sekalian!" sumpah Parto.

Pohon-pohon besar berakar rambat menyaksikan perjalanan mereka. "Cepat, Welang Galih... Langkahmu kian lama kian lambat saja...! Kenapa? Takut?" kata Parto menarik lebih cepat. "Bukannya aku takut.... Aku bingung, sebentar kita mau ke mana...?" jawab Welang Galih. "Ah kau ini...! Makanya sewaktu Den Mayan Danang bicara kau, dengarkan...!" kata Parto.

Ia mengibaskan lengannya memberi aba-aba, maka Welang Galih pun menarik cepat tali tambang itu. Kembali suara benturan membledar! Entah apa yang mengenai di tubuh Narsiah. Udara dingin menyengat kulit, manakala suasana yang begitu menyeramkan menampakkan dua sosok tubuh kekar berjalan menyusuri tepian jeram. Dua sosok itu berhenti menatap gelapnya dasar jurang. Seperti telah direncanakan, mereka menarik tambang lebih kuat!

Maka sosok tubuh berlumuran darah menyembul dari hamparan alang-alang. Sosok tubuh Narsiah yang sudah tak sadarkan diri. Kedua orang yang menyeret itu mengikatkan batu pada tiap-tiap ujung tambang. Batu-batu yang dipilihnya cukup besar. Mereka sendiri susah payah mengambil batu-batu itu. Untuk mengikat pada kedua batu itu mereka tidak perlu waktu lama...

"Sudah beres Parto...!" kata Welang Galih selesai mengikat. Parto pun demikian. Tanpa menjawab ia mendorong batu itu. Welang Galih mengikutinya... Sebentar saja batu-batu menggelinding. Begitu juga dengan tubuh Narsiah yang terikat di antara batu-batu ikut terbawa terjerumus ke bawah sana yang demikian gelapnya...

Parto dan Welang Galih merasa tugasnya telah selesai. Merekapun tersenyum puas. Mereka belum beranjak dari tempat yang menyeramkan itu. Masih ada yang mereka tunggu. Yaitu mendengar suara degum batu-batu dari dasar jurang. Karena hal itu meyakinkan mereka, bahwa batu-batu yang mereka lemparkan akan hancur bersama tubuh Narsiah si penyebar malapetaka!

Batu-batu yang membawa tubuh Narsiah memang meluncur deras. Sebelum batu-batu itu jatuh ke dasar jurang, terlebih dahulu membentur tebing-tebing bebataan yang menjorok ke bawah. Berkali-kali batu-batu itu menggelinding akibat benturan dinding tebing. Parto sendiri yang menantikan dari atas tebing sudah tidak sabaran menantikan deguman batu-batu yang diikatnya.

Wajah Parto maupun Welang Galih tersentak kaget tatkala suara deguman batu amat nyaring menggema. Ingin sebenarnya mereka melongok ke dasar jurang. Sayang ia merasa agak takut dan ngeri karena tebing berbatu itu amat terjal dan dalam. Sambil bergidik membayangkan apa yang terjadi di bawah sana, kedua orang itu berlari menerobos hutan.

Dua bongkah batu besar yang jatuh ke dasar jurang masih menggelinding terpisah berlainan arah. Batu-batu besar itu tidak hancur. Tetapi utuh seperti semula. Hanya tambang pengikat tubuh Narsiah saja yang nampak tersayat-sayat seperti terpotong-potong kecil... Yang lebih aneh, tubuh gadis yang berpenyakit kusta itu tidak ada di sekitar batu-batu dan potongan-potongan tambang... Memang tidak mungkin!


Kehadiran Sang Pengelana: Wintara Sang Pendekar Kelana Sakti

Parto dan Welang Galih mana tahu raibnya tubuh Narsiah di dasar jurang. Yang mereka tahu hanyalah degumam benturan batu-batu yang amat dahsyat! Kini mereka berdua berlari menerobos gelapnya hutan kayu. Sesekali mereka harus melompati akar-akar pohon yang malang melintang. Kedua kaki mereka pun terasa sekali perih di saat bergesekkan dengan rumput-rumput berduri. Tidak heran kalau mulai menampakkan baret-baret ringan di kedua betis mereka. Larinya makin kencang ketika mereka hampir berada di pinggir hutan.

Mereka pun masih dapat melihat sisa-sisa asap hitam mengepul membumbung ke atas. Api yang semula berkobar-kobar, kini perlahan-lahan padam akibat siraman-siraman para penduduk yang karena terpaksa atas perintah Ki Lurah Sentanu. Tinggal asap hitam saja yang masih mengepul. Parto dan Welang Galih sudah berada di situ. Mereka langsung menyelinap dalam kerumunan puluhan orang.

Seorang anak muda mengenakan pakaian bulu binatang merasa kaget karena terdorong oleh Parto. Welang Galih sempat menatap anak muda itu, ia pun sama acuhnya dengan Parto. Malah langsung mendesak menerobos kerumunan menyusul. Mayan Danang yang sudah dapat melihat kehadiran Parto dan Welang Galih langsung melangkah mundur, kemudian berbalik menemuinya.

Anak muda yang mengenakan baju bulu binatang itu—yang tak lain adalah Wintara—menatap aneh ke arah mereka. Ia pun bersikap masa bodoh seakan tak mau ambil pusing, mungkin mereka tengah mengurusi kebakaran itu sampai sedemikian seriusnya. Pikir anak muda itu.

"Singkirkan puing-puing ini... Ayo bantu aku..." kata Ki Lurah Sentanu melangkah mendekati gubuk yang telah menjadi arang. Ia berharap tidak ada korban barang seorang pun. Ada suatu keanehan dalam pikiran anak muda ini. Mengapa sekarang baru mengadakan pertolongan..? Kenapa tidak di saat-saat api masih berkobar...?

"Ayo...! Bantu aku! Kenapa kalian diam saja!" bentak Ki Lurah Sentanu. "Tapi, Ki Lurah.... Puing-puing itu masih sangat panas." Jawab salah seorang berada di dekatnya. "Bodoh! Gunakan sebatang bambu...!" Ki Lurah Sentanu sengit sambil melemparkan sebatang bambu yang semula digenggamnya. Dengan gelagapan orang itu menerimanya.

Ki Lurah Sentanu mengais-ngais lengannya menyingkirkan puing-puing serta abu-abu bekas atap jerami. Ia tidak melihat apa-apa. Orang-orang berdatangan mengerumuni. Cuma menonton...! "Ah buat apa aku harus berdiri di sini mengikuti menonton yang semesti memerlukan pertolongan, biar saja! Sekarang aku tidak perlu ikut campur... Besok pun pasti ada beritanya," kata anak muda itu dalam hati sambil berlalu meninggalkan kerumunan orang-orang kampung. Baju bulunya bergerak-gerak tertiup angin. Ujung celananya yang compang-camping ikut bergerak-gerak saat ia melangkah.

Ki Lurah Sentanu membelalakkan matanya, ketika ia melihat sosok hangus tertimbun sebatang tiang yang habis termakan api. Cepat ia melangkah ke situ. Dipandanginya sosok kaku itu. Ki Lurah Sentanu mengernyitkan alis... Ia betul-betul tidak dapat mengenalinya lagi... Tubuh Ni Luh Wedas dan Narsiah putrinya hampir sama... Ia tidak dapat membedakan mayat siapa yang tertimbun hangus menghitam bagai arang, dengan wajah yang hampir rata tanpa wujud. Bau busuk sudah lenyap sama sekali, kini berganti bau wanginya daging panggang.


Keajaiban Mistis: Kemunculan Nyi Sekar Dayang Kunti dari Istana Lembah

Sementara itu, di sebuah dasar lembah rahasia yang megah bercahaya keemasan, berlangsung peristiwa gaib. Penguasa Istana Lembah, Nyi Dayang Kunti Naga, telah menyelamatkan tubuh Narsiah yang sekarat dari dasar jurang. Dengan ajian khusus dan pemandian gaib di Sumur Banyu Pitu (Tujuh Sumur Suci), penyakit kusta yang mengerogoti tubuh Narsiah lenyap tanpa bekas!

Wajah yang dahulunya penuh luka busuk kini berubah menjadi sosok gadis cantik jelita tiada tanding, dengan kulit mulus dan daya pikat luar biasa. Nyi Dayang Kunti Naga membakar semangat dendam dalam jiwa gadis itu dan memberikannya nama baru yang menggetarkan jagat persilatan: Nyi Sekar Dayang Kunti!

"Mulai sekarang namamu bukan Narsiah lagi... Tapi, Nyi Sekar Dayang Kunti! Kau dengar...? Kau boleh melampiaskan dendammu, tapi hanya kepada Parto, Welang Galih, dan Mayan Danang yang telah menzalimimu!"

Dengan berbekal kesaktian gaib serta keindahan fisik yang memikat, Nyi Sekar Dayang Kunti kembali ke Desa Rawa Kandar. Pertama-tama, ia menjebak Parto. Lewat godaan kemolekan tubuhnya dan pesona magis, Parto terjerat dalam buaian asmara yang berujung pada maut mengerikan: penyakit kusta dahsyat secara instan berpindah dan menyerang seluruh pori-pori kulit Parto hingga tewas membusuk di bekas gubuk pembakaran!

Selanjutnya, giliran Welang Galih yang terjerat oleh ilusi kecantikan sang penyihir dendam di sebuah gubuk kosong. Usai melampiaskan nafsu bejatnya, Welang Galih pun tak luput dari infeksi gaib yang membuat seluruh dagingnya meleleh dan tubuhnya hancur mengerikan.


Pertempuran Melawan Anak Buah Singo Kobar

Di lain pihak, pertikaian memuncak ketika gerombolan anak buah Singo Kobar—tokoh hitam penguasa kawasan tersebut—seperti Kebo Dungkil dan Somat Codet melancarkan penyerangan ke rumah Ki Lurah Sentanu. Wintara sang Pendekar Kelana Sakti, bersama Ki Lurah Sentanu dan adiknya Kunta Danang, terpaksa harus mengeluarkan ajian dan jurus-jurus silat tingkat tinggi untuk menumpas pengeroyokan tersebut.

Meskipun ketujuh pengeroyok berhasil dirobohkan oleh kelihaian ilmu silat Wintara, Mayan Danang yang ternyata berhati licik (bahkan sempat berniat meracuni ayahnya sendiri) akhirnya diculik langsung oleh sosok misterius Singo Kobar sebagai sandera!

Pertarungan puncak akan ditentukan pada malam bulan purnama di Bukit Kendal, di mana Wintara harus berhadapan dengan Singo Kobar sekaligus mengurai benang kusut teror pembunuhan berdarah yang dilancarkan oleh Nyi Sekar Dayang Kunti!


Disqus Comments