Dewa Arak & Satria Sinting — Dalam belantara cersil serial klasik Indonesia, babak pertarungan antara kebenaran dan ketamakan senantiasa menghadirkan jalinan takdir yang dramatis. Petualangan legenda Golok Sakti Chin Yung pun kerap beririsan dengan dinamika takdir tragis para pendekar di tanah Jawa.
Pendekar Kelana Sakti 03 Iblis Lengan Tunggal
Cersil Pendekar Kelana Sakti 03 Iblis Lengan Tunggal — Baca Online Pendekar Kelana Sakti 03 Iblis Lengan Tunggal.
Pendekar Kelana Sakti 03: Iblis Lengan Tunggal
Karya: Buce L. Hadi | Hak Cipta © Penerbit Mutiara, Jakarta (1991)
"Traaaz....! Glegaaaaaaar!"
Suara petir memecahkan kelamnya langit dengan lidah-lidah sinar yang amat menyilaukan. Bersamaan dengan itu derasnya air hujan menyiram permukaan bumi, membuat seluruh jalan itu becek dan tergenang air.
Seorang mengenakan tudung lebar berlari menerobos derasnya hujan. Bajunya sudah nampak basah kuyup, tubuhnya juga kelihatan menggigil. Langkahnya cepat menyeruak tanah becek. Suasana malam itu demikian dingin dan menyeramkan. Apalagi di sisi jalan nampak jelas puluhan patok kuburan yang telah usang. Pemandangan seperti itu sama sekali tidak membuat takut orang yang berlari melintasi daerah itu.
Di luar dugaan, orang itu membelok ke arah tanah pemakaman. Tidak jarang kakinya yang melangkah cepat menerjang tanpa sengaja patok usang sampai patah. Orang itu tetap lari tak perduli. Sampai kira-kira ia melangkah sepanjang tiga puluh tombak ia berhenti. Pandangannya menerobos derasnya hujan, tertuju pada sebuah kuburan batu. Ia dapat melihat lapat-lapat nyala api. Kuburan batu itu mirip sebuah tempat peristirahatan, sayang sudah tak terurus. Dengan penuh keyakinan, ia melangkah menuju ke situ.
Semakin dekat ia mendengar suara halus letupan api unggun.
"Seta Wungu....! Seta Wungu...! Aku datang....!"
Suaranya lantang bercampur dengan gemuruh derasnya hujan. Orang yang telah basah kuyup berjalan mendekati kuburan tua. Ia dapat melihat jelas seseorang duduk tenang menghadapi api unggun. Tempat itu cukup lumayan, dapat terlindung dari derasnya hujan. Air hujan menetes dari baju yang telah basah kuyup, orang itu berdiri di belakang seseorang yang tengah menghadapi api unggun....
Lalu membuka tudung lebarnya. Wajahnya nampak pucat karena hawa dingin.
"Maafkan.... Aku datang terlambat... Cuacanya kurang memungkinkan, Seta Wungu...." katanya lagi.
Orang yang diajak bicara diam. Ia nampak tengah menikmati hangatnya api unggun....
"Glegaaaar!"
Sekali lagi suara geledek memekakkan telinga. Tubuh kuyup itu menoleh keluar. Dilihatnya hujan semakin deras.... Suasana nampak gelap menakutkan....
"Siapa yang kau inginkan, Somarengga? Katakan sekarang...." tiba-tiba saja orang itu mengeluarkan suara. Pandangannya masih tertunduk menatap lidah-lidah api, Tubuh kuyup itu tidak berani mendekat maupun duduk di sebelahnya, ia hanya berdiri di belakang. Lalu dengan gemetar ia berani bicara....
"Sadewo.... Sadewo Mangli... Orang itu yang kuinginkan!"
"Sadewo Mangli....? Kenapa semua orang-orang yang kau inginkan rata-rata dari pembesar kerajaan....?" Orang yang disebut Seta Wungu menoleh ke belakang. Lalu ia berdiri di tempat. Nampak wajahnya yang angker. Begitu juga sebilah pedang tersampir di punggungnya. Sebelah lengannya kutung. Terlihat jelas lengan bajunya melambai-lambai tertiup angin. Lengan kirinya kekar dilapisi dengan lengan baju sampai sebatas pergelangan tangannya.
Tubuh kuyub itu tidak berani menatap. Dari balik bajunya yang basah ia mengeluarkan sebuah kantong sebesar kepala bayi. Dari situ terdengar suara gemerincingnya uang logam. Sudah pasti kantong itu berisi penuh dengan uang.
"Sebelumnya terimalah tanda jasa ini Seta Wungu...."
"Untuk Sadewo Mangli, aku minta bayaran dua kali lipat...." kata Seta Wungu. Somarengga yang kuyup kedinginan menatap dalam.
"Atau kita batalkan saja transaksi ini...!" Seta Wungu bicara lagi. Somarengga makin diam kedua kelopak matanya berkedip.
"Ba-ba-baiklah.... Setelah urusan ini beres, akan ku tambahkan lagi...." Janji Somarengga. "Tapi ingat.... Harus berhasil, Seta Wungu....!"
"Asal kau tepati janjimu.... Kau tak usah khawatir...." Jawab Seta Wungu mantap.
"Traaaaz!" Guratan kilat dengan lidah-lidahnya yang runcing merobek langit. Tempat itu terang dalam sekejap. Hujan masih deras. Percikan air hampir membasahi pinggiran lantai kuburan batu. Tubuh tanpa lengan itu berdiri menatap derasnya hujan.
"Di mana bisa kutemui Sadewo Mangli....?" Suara Seta Wungu terdengar datar.
"Besok malam bisa kau temui pada pesta malam di Joglo Alun...." Jawab Somarengga sambil mengenakan kembali tudung lebarnya.
Seta Wungu kembali duduk menghadapi api unggun. Sebelah lengannya membetulkan letak kayu bakar yang hampir mati. "Sekarang aku permisi.... Kutunggu hasilnya lusa.... Selamat tinggal...," Setelah mengenakan tudung lebarnya, Somarengga langsung beranjak dari tempat itu. Keduanya sama-sama acuh tak perduli.
Dengan berlari kecil, Somarengga menerobos derasnya air hujan melintasi tanah pekuburan. Beberapa kayu nisan ambruk lagi tertendang tanpa sengaja oleh langkah-langkah itu. Seta Wungu masih menekuri api unggun. Dalam pikirannya melintas seraut wajah lelaki setengah tua. Ia mengingat-ingat raut wajah itu.... Selintas pula senyumnya pahit. Lengan kanan bajunya melambai-lambai tertiup angin.
Joglo Alun sebenarnya tidak lebih dari sebuah lapangan luas. Tapi pada pesta malam seperti itu, orang-orang kampung itu menyulapnya menjadi sebuah tempat yang amat menyenangkan. Tenda-tenda didirikan di sana-sini. Segala macam hiburan ada pada tiap-tiap tenda. Para pedagangpun tidak sedikit yang ikut menyemarakkan tempat itu. Tiap setahun sekali tempat itu memang selalu ramai. Dan malam ini betul-betul nampak lebih meriah dibanding tahun-tahun yang lalu.
Orang-orang dari desa manapun pasti berdatangan ke Joglo Alun. Pesta malam yang diadakan setiap setahun sekali memang merupakan tradisi untuk mencari kesenangan atau menghibur diri seusai panen padi. Tidak heran kalau penduduk desa lain bermata hijau melihat lenggak-lenggok para gadis Joglo Alun yang berseliweran di situ....
Musik-musik gending Jawa maupun sejenisnya bercampur aduk terdengar. Tapi bagi orang-orang yang berada dalam tenda, musik yang mereka hadapi terdengar jelas. Dan hampir tiap-tiap tenda penuh dengan para pendatang yang keluar masuk. Dari kaum lelaki, perempuan sampai anak-anak....
Hanya sebuah tenda di bagian paling sudut nampak sepi. Tapi di dalamnya ada beberapa orang duduk menghadapi hidangan. Mereka adalah orang-orang kerajaan yang bertugas di situ sebagai penjaga keamanan. Sadewo Mangli sebentar-sebentar ke luar dari tenda itu. Sepertinya ada sesuatu yang ditunggunya. Beberapa penjaga yang berdiri di luar tenda sampai terheran-heran.
Seorang gadis memeluk kecapi berjalan menerobos dari kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Jemarinya yang lentik sengaja menyentil-nyentil tali senar. Maka terdengar alunan musik dentingan senar kecapi. Pandangannya memutar mengawasi keramaian itu. Hingga akhirnya tertuju pada sebuah tenda di sudut lapangan. Senyumnya tersungging, iapun menuju ke situ.
Mendengar alunan denting kecapi, Sadewo Mangli langsung berjingkat bangun dari tempat duduknya. Begitu ia ke luar tenda, matanya langsung tertuju pada seorang gadis pemetik kecapi yang telah berdiri di hadapannya.
"Arum Kemuning....! Ah, aku kira kau tidak datang.... Mari masuk semua sudah menunggumu.... Mari....!" Sadewo Mangli menyambut ramah.
"Mana bisa begitu, Tuan... Pekerjaan saya memang menjual suara... Kalau saya tidak datang, berarti sama saja menolak rejeki....." Suara gadis itu lembut, ia melangkah memasuki tenda.
Di dalamnya telah menunggu empat orang pembesar istana duduk berderet membentuk setengah lingkaran. "Nah, sobat-sobat.... Inilah Arum Kemuning yang kumaksudkan.... Dia sengaja ku undang ke mari untuk menghibur kita," kata Sadewo Mangli setelah memasuki tenda. Arum Kemuning senyum-senyum sambil menundukkan wajah berkali-kali ke arah tamu-tamu itu.
"Orang-orang menyebutnya Putri Kecapi.... Suaranya pun sudah banyak didengar orang. Termasuk aku pengagumnya... Kalian boleh dengar nanti..." Kata Sadewo Mangli sambil memberikan tempat duduk kepada Arum Kemuning si Putri Kecapi. Tempat itu sudah disediakan sebelumnya. Sebuah bantalan empuk berlapis Sutra berwarna kuning emas. Terletak di tengah-tengah ruangan tenda.
Para pembesar itu begitu kagum setelah melihat penampilan Putri Kecapi yang anggun menawan. Mereka tidak henti-hentinya memandangi wajah cantik itu. Arum Kemuning tertunduk malu....
Sadewo Mangli tersenyum melihat sobat-sobatnya merasa puas dengan kehadiran si jelita Arum Kemuning. Tanpa diperintah lagi, Arum Kemuning mulai memainkan kecapinya. Jari-jemari lentik terlihat halus memetik senar. Suaranya yang merdu mengisi alunan denting kecapi. Semua para pembesar yang berjumlah lima orang termasuk Sadewo Mangli betul-betul kagum dibuatnya. Mereka semua termangu mendengar si Putri Kecapi beraksi.
Dua orang penjaga di hadapan pintu tenda ikut pula mendengarkan suara dan musik kecapi. Mereka seakan hanyut dalam alunan merdunya dentingan senar. Keduanya berdiri saling berhadapan dengan senjata sebilah tombak. Keasyikannya benar-benar terusik ketika ia melihat seseorang berpakaian serba hitam.
Dua penjaga tenda itu dapat melihat jelas sosok yang mendekatinya itu orang cacat. Sebelah lengannya kutung. Di balik punggungnya tersoren sebilah pedang. Wajahnya yang angker menatap para penjaga itu. Kedua penjaga pintu tenda langsung menyilangkan tombak-tombaknya ketika orang berlengan tunggal itu mendekati.
"Maaf, Kisanak.... Tenda ini bukan untuk umum, di sini khusus para pembesar...." Jelasnya.
Sosok serba hitam itu tidak menyahut. Ia malah maju selangkah, lengan kirinya cepat bergerak mencabut gagang pedang. Kedua penjaga itu tidak dapat mengikuti kecepatan sebelah tangan yang bergerak menyilang. Seberkas sinar putih menyilaukan membersit.... Menghantam putus tombak-tombak mereka! Lalu dengan gerakan merunduk ia membabat memutar pedangnya....
"Sreeet!.... Sreeeet! Wuaaaa....!"
Mereka menjerit dengan masing-masing luka sayatan pedang di perut. Satu berguling.... Satu lagi ambruk masuk ke dalam tenda. Sudah tentu keduanya tewas. Ketika tubuh bergelimang darah itu ambruk memasuki tenda, tubuh itu hampir jatuh menimpa Arum Kemuning yang tengah memainkan kecapi. Seketika alunan yang merdu terhenti, malah berganti dengan suara teriakan kaget....
Kelima pembesar istana itupun tersentak menyaksikan tubuh penjaga tenda tahu-tahu ambruk dalam ruangan mereka. Sadewo Mangli berdiri sambil tangannya siap mencabut pedang dari pinggang. Yang empat orang lagi ikut-ikutan bangkit, malah ada yang lebih dulu mencabut pedang. Di hadapan mereka telah berdiri sosok hitam dengan pedang terhunus. Pandangannya tajam mengawasi kelima orang yang berada dalam ruangan tenda.
"Bandit buntung....! Mau apa bikin onar di sini.... Cari mampus!" Hardik Sadewo Mangli....
Kini kelimanya sudah mencabut senjata. Arum Kemuning beringsut ketakutan. Cepat ia berlari ke belakang Sadewo Mangli. Manusia berlengan tunggal itu tidak perduli, ia melangkah terus berdiri sampai di ruangan tengah.... Perlahan sekali ia mengangkat pedangnya. Bersamaan dengan itu, para pembesar mulai menerjang menyerang....
Babatan-babatan pedang bagaikan lecutan-lecutan sinar siap merencah. Sosok hitam melesat ke atas sambil pedangnya berputar menyambut gencaran itu...
"Trang....! Traang!" Senjata-senjata mereka beradu.
Ketika kakinya menyentuh tanah, sosok hitam menggerakkan pedangnya sekuat-kuat ke samping kiri.... "Bwet....! Arghhhhhh!" Salah seorang tewas dengan batang lehernya hampir putus. Darahnya menyembur tenda....
Datang lagi dua orang dengan babatan-babatan garang mengarah. Sosok hitam berbalik menyambut, lalu bagaikan serigala kelaparan ia mengganas. Ia mainkan pedangnya menerjang ke arah orang-orang itu. Melancarkan pembunuhan-pembunuhan sadis. Pedangnya bergerak menebas, darah segar seperti air mancur muncrat berhamburan dibarengi dengan batok kepala yang menggelinding ke tanah!
Seorang lagi tidak mampu menjerit. Dengan mata terbelalak pedangnya terlepas dari genggaman. Perutnya telah menembus sebilah pedang yang telah berlumuran darah. Dan saat sosok hitam menarik pedangnya, tubuh yang telah tertembus itu ambruk terjungkal.
Pedang itu tidak cukup berhenti sampai di situ. Setelah menarik pedangnya, sosok hitam menyambut serangan yang datang dari arah belakang.... "Traaang!" Kalau saja ia tidak cepat menyilangkan pedangnya ke atas kepala, sudah pasti kepalanya terbelah dua... Saat itu pula ia melancarkan tendangan menghantam keras di perut lawannya.... "Des!" Tubuh itu terhuyung beberapa langkah ke belakang...
Dengan beringas sosok hitam lompat menerjang. Babatan pedangnya keras menghantam.... "Breeet!" Tubuh yang terhuyung tadi ambruk dengan luka menggores dari dada ke perut.
Sadewo Mangli mundur selangkah sembari melindungi Arum Kemuning. Diam-diam ia cukup gentar menghadapi sosok hitam itu. Meskipun ia berlengan tunggal, tapi permainan pedangnya jauh di luar kemampuannya.
"Sebenarnya aku hanya membutuhkan nyawamu, Sadewo Mangli.... Sayang mereka ikut menjadi korban...." Kata sosok hitam dengan nada dingin.... Kedua matanya tidak berkedip menatap Sadewo Mangli. Arum Kemuning yang berdiri di belakang Sadewo Mangli gemetar ketakutan.
Sosok hitam melangkah maju mendekati mereka. Telapak tangannya menggenggam erat gagang pedang. Sadewo Mangli sudah tahu akan mendapat serangan. Maka ketika sosok hitam membabatkan pedangnya, cepat Sadewo Mangli memutar pedang itu ke depan.... "Traaang!" Pedang mereka beradu....
Sekali lagi sosok hitam membalikkan pedangnya.... Berkelebat cepat ke arah muka.... "Sreeet!"
Sebelum mata pedang itu mengenai sasaran, Sadewo Mangli merunduk bergulir ke samping. Tapi Arum Kemuning yang berdiri di belakangnya menjerit hebat.... Gadis itu bergulingan di tanah. Kedua telapak tangannya memegangi rongga matanya yang tampak mengeluarkan darah....
"Waaaaaa-aaaaaaaa!"
Wajah cantik itu telah berlumuran darah. Tubuhnya berkelojotan menahan sakit. Sebenarnya bukan maksud si sosok hitam melukai gadis itu, ia telah kelepasan membabatkan pedangnya ke arah Sadewo Mangli tadi. Kalau saja Sadewo Mangli tidak melarikan diri tentunya gadis itu tidak akan terluka.
Melihat gadis itu berkelojotan sambil berteriak-teriak, Sadewo Mangli marah bukan kepalang... Ia tidak lagi memandangi akan kehebatan ilmu pedang lawannya. Dengan nekad ia melompat maju sambil membabatkan pedangnya membabi buta.... Tapi gerakan sosok hitam lebih cepat lagi.... Ia menghantam babatan-babatan pedang Sadewo Mangli dengan pedangnya.... "Traak!"
Sadewo Mangli tersentak melihat pedangnya patah dua.... Dalam ketersiapannya itu ia tidak sempat menghindari babatan pedang yang menghantam putus lehernya...
Beberapa saat kemudian, tenda yang berada di sudut lapangan penuh dikerumuni orang. Semua pertunjukan hiburan berhenti. Alunan bermacam-macam musik lenyap berganti dengan riuhnya suara para pendatang pada pesta malam itu. Hampir semua orang menyaksikan korban-korban pembunuhan sadis di dalam tenda.
Beberapa pasukan dikerahkan untuk menjaga kegaduhan itu. Membuat pagar betis agar orang-orang yang berada di situ tidak masuk semua ke dalam tenda. Namun mereka masih saja menimbulkan suara-suara gaduh.
Seorang pemuda dengan pakaian bulu binatang menerobos kerumunan itu. Ia berusaha melawan desakan-desakan dengan sekuat tenaga. Orang-orang yang berada di dekatnya seperti terdorong ketika pemuda itu melewatinya. Pemuda yang tidak lain adalah Pengelana Sakti seakan tidak perduli. Padahal ia sengaja mendorong dengan menggunakan tenaga dalam. Kalau tidak dengan cara demikian, mana mungkin ia bisa berada paling depan, pikir Wintara si Pengelana Sakti. Ia pun ingin melihat para korban pembunuhan.
Setelah berada paling depan, Wintara dapat melihat jelas para korban berserakan di dalam tenda yang sudah terbuka lebar. Mayat-mayat itu dijejerkan berderet. Keadaan mereka semua cukup mengerikan. Perlahan Wintara mencoba melangkah lebih dekat, tapi seorang penjaga mendorong kembali. Pandangannya mengawasi seluruh ruangan dalam. Wintara dapat melihat lima orang terbujur kaku rebah berderet. Ada sesuatu yang menjadi perhatiannya... Sebuah benda tergeletak dengan noda-noda darah. Sebuah alat musik.... Sebuah kecapi!
Wintara mengernyitkan alisnya. "Minggir....! Minggir! Kereta pengangkut mayat datang! Minggir.... Kasih lewat....!" Tiba-tiba terdengar seruan. Deretan orang-orang yang mengerubungi tempat itu menyeruak. Sebuah kereta gerobak menuju ke situ.