Pendekar Kelana Sakti 02 Tangan Hitam Elang Perak
Cersil Pendekar Kelana Sakti 02 Tangan Hitam Elang Perak
Baca Online Pendekar Kelana Sakti 02 Tangan Hitam Elang Perak
Petualangan Pendekar Kelana Sakti: Episode Tangan Hitam Elang Perak
Dunia persilatan tanah air kembali dihebohkan dengan kelanjutan kisah petualangan pendekar legendaris. Bagi Anda pecinta karya klasik seperti kisah Seruling Samber Nyawa karya Chin Yung, babak pertarungan dalam episode Tangan Hitam Elang Perak ini menyajikan intrik berdarah, pengkhianatan, dan pertempuran perebutan pusaka sakti yang sangat mencekam di tepi Kali Progo.
Simak ulasan mendalam serta cuplikan cerita eksklusif lengkapnya di bawah ini untuk merasakan atmosfer persilatan yang memikat!
Cuplikan Cerita: Tragedi Perahu Elang Perak di Kali Progo
Arus kali Progo begitu deras membawa sebuah perahu yang cukup besar dan bagus. Sekeliling perahu itu dihiasi dengan ukiran-ukiran yang membentuk seperti hiasan-hiasan kerajaan. Pada kepala perahunya tergambar sebuah kepala burung Elang. Dengan layar berkembang dihembus angin, perahu itu semakin melaju menyusuri sepanjang kali. Salah seorang penumpangnya mengatur haluan, kedua matanya tidak berhenti mengawasi sisi-sisi kali yang mereka lewati.
Dari dalam sebuah ruangan yang terdapat pada perahu tersebut, keluar seorang perempuan berumur tiga puluhan. Seekor anjing berbulu hitam mengikuti langkahnya. "Kanda Adinaya... Sudah sampai di manakah kita?" kata perempuan itu. "Masih jauh, istriku... masih jauh sekali..." jawab orang yang berdiri mengatur haluan. Perempuan itu mendekatinya. "Aku ingin secepatnya sampai di desa Gerongsewu sebelum hari gelap. Udara di sini dingin sekali... Kanda sendiri sudah merasakannya, bukan...?"
Senja merambat pelan, angin makin kencang berhembus. Suara dedaunan dari pohon-pohon yang lebat di kedua sisi kali itu bergemeresek. Suara binatang malam pun mulai terdengar. Sebentar-sebentar lelaki itu mengusap-usap lengannya yang nampak menggigil. Keadaan menjadi sunyi. Hanya suara derit haluan yang bergerak ke kanan dan ke kiri mengiringi perjalanan itu.
"Hoooooooi...! Orang-orang Elang Perak... Kenapa harus terburu-buru...! Apa kalian tidak takut melintasi Kali Progo di tengah malam buta begini...?"
Teriakan nyaring menggema dari sebelah kanan dan kiri pinggir kali. Tiba-tiba saja dedaunan yang lebat itu berguncang-guncang. Kemudian dari atas pepohonan yang cukup tinggi, muncul beberapa sosok bayangan berputar di udara, lalu dengan mantap hinggap di atas perahu tersebut. Empat orang berpakaian seperti prajurit kerajaan tanpa mengenakan baju, berambut sanggul, dan wajah hampir ditutupi berewok menyeramkan. Mereka adalah gerombolan begal Singa Kali Progo.
Perkelahian hebat tak terelakkan lagi. Adinaya dan istrinya, Ratih, melancarkan jurus-jurus andalan perguruan Elang Perak. Namun, empat begal berewok itu menyerang secara bertubi-tubi dari atas dan bawah. Dalam pertempuran sengit tersebut, anjing peliharaan mereka, Gerong, tewas mengenaskan dengan kepala diinjak hancur. Ratih yang emosi melancarkan serangan, namun terkena hantaman telak di dada hingga memuntahkan darah segar dan membentur tiang layar.
Adinaya yang berdiri tegar bagai batu karang akhirnya ambruk setelah dihantam jurus-jurus mematikan oleh empat anggota Singa Kali Progo. Pemimpin begal, Dawuk, memerintahkan menggeledah seluruh isi perahu untuk mencari Pusaka Elang. Namun, setelah membongkar perahu dan menelanjangi mayat Ratih, mereka tidak menemukan benda pusaka tersebut. Dengan kesal dan merasa tertipu, gerombolan begal itu melompat meninggalkan perahu.
Di dalam sisa nafasnya yang terputus-putus, Adinaya merangkak mendekati bangkai anjingnya. Dengan tangan gemetar, ia menarik seutas tali hitam berbandul kain yang melingkar di leher anjing itu. "Aaaaaah... Untung saja benda ini tidak jatuh ke tangan mereka..." bisiknya.
Saat itulah seorang pemuda datang melompat ke atas perahu. Adinaya yang mengira pemuda itu musuh, menghembuskan nafas terakhirnya sambil menggenggam erat kalung tersebut. Pemuda yang ternyata bernama Wintara (Sang Pengelana Sakti) itu penasaran. Ia membuka bungkus kain hitam pada kalung tersebut dan menemukan sebuah liontin kepala Elang berbahan perak sebesar telapak tangan. Wintara kemudian memakai kalung liontin Elang Perak itu di lehernya tanpa menyadari bahwa benda tersebut adalah pusaka sakti yang diperebutkan seluruh tokoh rimba persilatan.
Penyelidikan Kematian & Pertemuan Tokoh Persilatan
Kematian Adinaya dan Ratih menjadi pukulan berat bagi perguruan Elang Perak. Ketua Agung Elang Perak, Ki Randaka, mengumpulkan 14 murid utamanya. Muncullah prasangka dan ketegangan terkait siapa pelakunya serta ke mana hilangnya Pusaka Elang. Bahruna dan murid-murid lainnya diperintahkan menyisir sepanjang Kali Progo serta menuju Gerongsewu—tempat dilaksanakannya pertemuan lima tahunan empat partai besar persilatan.
Sementara itu, di desa Wadaslintang yang ramai, Wintara bertemu dengan seorang pejabat kaya bernama Raden Sintoro Tinggil dan seorang gadis cantik berpedang pendek bernama Tari Wening Asih. Tari Wening Asih sebenarnya adalah putri dari tokoh kosen Lungo Paksi yang tewas terbunuh secara keji oleh pukulan rahasia Telapak Tangan Hitam. Tari berkelana menuju Gerongsewu demi menuntut balas kepada sang pembunuh ayahnya.
Perjalanan mereka penuh dengan dentangan senjata dan hujan panah. Ketika diserang oleh puluhan pasukan pemanah misterius di sebuah gubuk tua, Tari Wening Asih dengan gilang-gemilang memutar pedang pendeknya bagai lingkaran kilat, mematahkan belasan anak panah dan merobek tenggorokan para pengeroyok. Wintara pun unjuk kebolehan melompat dari cabang ke cabang pohon dengan ilmu peringan tubuh yang sukar tertandingi, menumbangkan setiap musuh yang menghadang.
Pertempuran puncak pecah ketika dalang di balik semua kekacauan ini mulai menampakkan diri. Penggunaan jurus mematikan Telapak Tangan Hitam yang membara beradu langsung dengan jurus Sayap Menghempas Karang milik Ki Randaka serta pukulan tangkas Wintara. Rahasia besar persilatan dan perburuan Pusaka Elang Perak pun kian membara!