Pendekar Kelana Sakti 01 Tapis Ledok Membara
Cersil Pendekar Kelana Sakti 01 Tapis Ledok Membara
Baca Online Pendekar Kelana Sakti 01 Tapis Ledok Membara
TAPIS LEDOK MEMBARA
Hak cipta dan Copy Right pada Penerbit. Dilindungi Undang-Undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Serial Pendekar Kelana Sakti — Episode 001
Cuplikan Novel Silat: Gelora Sabung Ayam & Amarah Pertarungan
Suara-suara teriakan para penyabung ayam memekakkan telinga saat dua ekor ayam jago bertarung saling hantam di tengah gelanggang!
Sekeliling arena pertarungan yang cukup besar itu dipagari oleh sederetan batang-batang bambu yang dilapisi karung, membatasi orang-orang yang menyaksikan pertarungan seru tersebut. Teriakan penonton semakin menjadi ketika seekor ayam jago berwarna hitam kemerahan menghantam lawannya tanpa ampun. Beberapa lembar bulu beterbangan di udara...
Nampak ayam yang terkena jalu si jago hitam bergulingan kelojotan, tetapi ia masih bisa bertengger dengan kekar walaupun di bagian sayapnya mulai mengeluarkan darah segar. Bagaimana tidak? Masing-masing pada kaki kedua jago itu terikat sepasang pisau kecil yang bukan main tajamnya.
Banyak penonton yang menggerutu, namun lebih banyak orang yang kegirangan. Di luar dugaan, ayam yang sudah terluka itu tiba-tiba melompat membentangkan kedua sayapnya! Paruhnya yang runcing setajam pedang mencocor langsung ke batang leher si hitam.
Kembali sekeliling arena itu menjadi riuh. Ada juga yang berjingkrak-jingkrak menyumpah. Kedua jago itu kembali saling berhadapan dengan bulu-bulu leher berdiri tegang. Kedua kakinya pun mulai bersiap-siap menerjang...
"Breeet...!"
Hantaman itu beradu keras, membuat keduanya berpentalan! Si Hitam nampak tegar beringas, sedangkan lawannya—jago berwarna putih bercampur abu-abu—seloyongan mundur dengan sayap kiri memerah bercampur darah. Mendadak si Hitam menyerang lagi! Hantaman jalunya tepat mengenai punggung lawannya. Darah pun mengalir makin deras. Si Putih makin limbung dan langkah-langkahnya mulai goyah.
Si Hitam yang masih garang melompat menghantam dengan jalu pisaunya. Semua orang sudah menyangka dan menatap ngeri, membayangkan leher si Putih bakal putus... Tapi ternyata tidak! Si Putih bergeser ke kanan sehingga serangan mematikan itu dapat dielakkannya. Bahkan dalam kesempatan emas tersebut, si Putih berhasil membalas serangan dengan terjangan dua kaki yang mantap!
Kedua jalu pisaunya yang nampak berkilat terlihat jelas menghantam dada si Hitam. Siapa menyangka kalau si Putih yang sudah terluka parah itu masih dapat melancarkan serangan balasan yang demikian telat dan teliti?
Seluruh arena menjadi semakin bising. Para pencandu sabung ayam saling tuding meremehkan. Si jago Hitam, meskipun terluka di dadanya, nampak tenang seakan luka-luka di dadanya itu tidak berarti sama sekali. Bulu-bulu di lehernya meregang tegang. Si Putih yang nampak lunglai mengais-ngaiskan sebelah kakinya di tanah.
Di saat si Hitam kembali datang menyerang, si Putih melompat disertai sabetan jalu pisaunya yang tajam! Seketika semua orang berhenti berteriak. Semua mata memandang seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat...
Leher si Hitam putus! Tubuh ayam hitam itu berkelojotan di tanah, dan sesaat kemudian ia diam tak berkutik lagi!
Belasan orang melompati pagar karung sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan. Namun, Ki Sapta Nrenggana melotot seakan tidak percaya. Si jago Hitam miliknya tewas begitu saja oleh lawan yang sudah terluka! Ia menggeram sadis dengan kedua telapak tangan mengepal erat hingga menimbulkan gemeretak yang sangat kencang.
Seorang anak muda kemudian masuk ke dalam arena persabungan itu. Ia memapah si Putih dengan senyum terarah pada Ki Sapta Nrenggana. Anak muda itu berjalan mendekati Ki Sapta Nrenggana lalu menjulurkan telapak tangannya. Dengan wajah berang, Ki Sapta Nrenggana melemparkan sekantung uang logaman, lalu dengan kesal meninggalkan arena sabung ayam tersebut.
Pemuda itu tidak peduli. Ia melangkah dikerubuti oleh orang-orang yang menyaksikan sabung ayam tadi yang bermaksud meminta persenan. Pemuda itu mengambil separuh dari isi kantong uang tersebut lalu membagikannya kepada orang-orang itu. Kebanyakan dari mereka mengelu-elukan si Putih demi mengambil hati si pemuda.
"Wuaaah... Hebat benar ayam aden! Jago Ki Sapta Nrenggana yang tak terkalahkan itu akhirnya tewas juga di tangan si Putih. Benar-benar luar biasa!" kata Bayan, seorang lelaki kurus tinggi yang selalu mengawal ke mana saja pemuda itu pergi.
"Itu namanya mujur, Mang Bayan. Sebenarnya kita sudah kalah. Coba kau lihat..." jawab pemuda itu sambil mengangkat ayam jagonya. Mang Bayan mengernyitkan alis.
"Nafasnya sudah kembang kempis. Mungkin si Putih tidak akan bertahan lama. Aku yakin sampai di rumah pun tak akan tertolong," kata pemuda itu lagi.
"Kalau begitu cepat-cepat saja kita pulang, biar bisa memotong ayam," usul Mang Bayan.
Pemuda itu pun melangkah diikuti Mang Bayan di samping kanannya. "Makan ayam piaraan sendiri rasanya kurang enak, Mang."
"Jadi harus diapakan ayam itu, Den? Sayang kalau mati begitu saja," sahut Mang Bayan.
"Bagaimana kalau dikasihkan orang saja...?" Kedua orang itu nampak menjauh meninggalkan tempat persabungan.
Konflik Kedai Kedai Ki Dulang Sungkar
Sekantung uang sebenarnya tidak ada artinya bagi Ki Sapta Nrenggana. Kalau tadi dia merasa marah, bukan karena uang taruhan tersebut, melainkan soal harga diri dan ayam kesayangannya. Siapa menyangka jagoan yang selama ini tak terkalahkan kini harus menerima kematian tragis dengan kepala terpisah? Belum pernah ada kejadian seperti itu di wilayah Tapis Ledok.
Sementara itu di tempat lain, Ki Dulang Sungkar tersentak kaget di dalam kedainya. Ia melihat dua orang anak buah Ki Sapta Nrenggana—yakni Dularata dan Surakarma—datang menghampiri. Tiga orang pengunjung yang sedari tadi asyik menikmati hidangan langsung ngibrit kabur ketika melihat kedua orang garang itu.
Ki Dulang Sungkar tetap mencoba tenang sembari berpura-pura menyibukkan diri membereskan perabotan. Setelah dua orang anak buah Ki Sapta Nrenggana itu duduk menghadapi meja, barulah Ki Dulang Sungkar menyambut ramah.
"Ah... Ada tamu rupanya. Silakan, silakan dimakan kue-kuenya. Sebentar akan saya buatkan kopi..."
"Tidak usah repot-repot, Ki! Kita langsung saja pada persoalan Ki Sapta Nrenggana," potong Dularata dingin.
"Oh... Soal itu... Sa... saya belum membicarakannya pada Maladewi, anak saya..."
"Apa...? Jadi kapan soal lamaran Ki Sapta Nrenggana bisa dibicarakan? Apa Ki Dulang sengaja mau mempermainkan majikan kami...? Jangan cari penyakit, Ki! Turuti saja apa kemauan Ki Sapta Nrenggana!" bentak Surakarma keras.
Ki Dulang Sungkar mencoba berdalih bahwa anak gadisnya keras kepala. Namun kedua utusan itu sudah hilang kesabaran. Surakarma mencengkeram kerah baju Ki Dulang Sungkar dengan kasar. Pada saat itulah keluar seorang gadis cantik bernama Maladewi dari dalam kamar untuk membela ayahnya.
Kejutan Ilmu Silat Samber Nyawa:
Ketika Dularata dan Surakarma berusaha membawa paksa Maladewi, Ki Dulang Sungkar menunjukkan identitas aslinya yang telah lama dipendam. Dengan gerakan secepat kilat, ia membongkar rahasia bahwa dirinya adalah sang legenda persilatan yang pernah sangat ditakuti: "Samber Nyawa"!
Pertarungan sengit pun pecah di pelataran kedai. Meskipun usianya sudah lanjut, Ki Dulang Sungkar mampu merobohkan kedua anak buah Ki Sapta Nrenggana dengan mudah tanpa harus merenggut nyawa mereka—suatu perubahan sikap dari masa lalunya yang terbukti amat sadis belasan tahun silam.
Ancaman Gada Rencah & Kedatangan Wintara
Kabar kegagalan tersebut membuat Ki Sapta Nrenggana murka. Namun kehadiran seorang tamu misterius bernama Gada Rencah—murid dari tokoh jahat masa lalu Bah Lodaya—mengubah situasi secara drastis. Gada Rencah memiliki jurus kebal dan mematikan yang dikenal dengan julukan "Tinju Pasir Wesi".
Di sisi lain, pemuda pemenang sabung ayam yang bernama Wintara (disertai pengawalnya Mang Bayan) berkunjung ke kedai Ki Dulang Sungkar untuk menemui kekasihnya, Maladewi. Hubungan romantis Wintara dan Maladewi sempat diwarnai firasat buruk berupa mimpi Maladewi tentang siluman jahat yang merenggut nyawa Wintara.
Firasat tersebut menjadi kenyataan ketika Ki Sapta Nrenggana memboyong Gada Rencah untuk menggempur kedai Ki Dulang Sungkar. Pertarungan dahsyat tidak terelakkan lagi. Ki Dulang Sungkar mengerahkan seluruh kemampuannya, namun kehebatan Tinju Pasir Wesi milik Gada Rencah akhirnya berhasil menembus benteng pertahanan sang legenda.
"Bah Lodaya! Kau lihat ini! Aku muridmu Gada Rencah berhasil melumatkan si Samber Nyawa! Aku telah bermandikan darahnya! Semoga kau puas di alam baka sana!" teriak Gada Rencah usai merenggut nyawa Ki Dulang Sungkar.
Wintara yang berusaha menyelamatkan Maladewi dan membela Ki Dulang Sungkar turut dihantam hingga sekarat. Gada Rencah yang kejam kemudian menyeret tubuh Wintara yang bersimbah darah dan melemparkannya ke dalam jurang sungai deras yang sangat angker!
Tak berhenti di situ, Bi Warsih yang berusaha memohon belas kasihan pun tewas dihantam oleh Gada Rencah. Ayah Wintara, yaitu Kyai Sempar, yang mendengar kabar duka ini langsung memuncak amarahnya dan mendatangi markas Ki Sapta Nrenggana. Naas, Kyai Sempar pun akhirnya gugur di tangan kebolehan ilmu hitam Gada Rencah.
Penyelamatan Misterius di Jeram Air Terjun
Tubuh Wintara yang hanyut terbawa arus sungai deras mendekati jeram air terjun yang penuh bebatuan tajam. Namun, di tengah kegelapan hutan rimba, muncul sesosok makhluk raksasa berbulu tebal—seekor Beruang Hitam Raksasa—yang dengan ajaib menghadang arus sungai dan menyelamatkan tubuh Wintara!
Wintara dilarikan ke sebuah reruntuhan bangunan kuno di tengah hutan. Di sana, makhluk buas tersebut bukannya memangsa Wintara, melainkan memberinya semacam jamur obat langka yang tumbuh di dinding batu untuk memulihkan luka-luka dalam yang parah.
Bagaimanakah nasib Wintara selanjutnya? Mampukah ia menguasai ilmu baru dan membalaskan dendam kematian ayahnya, Kyai Sempar, serta Ki Dulang Sungkar atas kekejaman Gada Rencah dan Ki Sapta Nrenggana? Simak terus kelanjutan kisah luar biasa ini!