Jumat, 24 Juli 2026

Pendekar Bunga Karya Chin Yung

Pendekar Bunga – Karya Chin Yung

Nikmati kemudahan Baca Online kisah legendaris Cersil Pendekar Bunga karya maestro Chin Yung di sini.

Jilid 1: Pertarungan di Persimpangan Jalan Pay-hoa-kwan

Senja sudah tiba. Sinar matahari yang hijau bercampur kuning menyilaukan mata. Pohon-pohon tampak terhembus angin sore, tampak indah memenuhi jalan yang menuju kekota Pay-hoa-kwan yang kurang lebih tepisah lima lie dari daerah tersebut.

Serombongan orang yang berkuda, tampak telah melaratkan kuda tunggangan mereka. Rombongan itu terdiri dari enam orangan lelaki yang berpakaian singset. Tampaknya mereka tengah memburu waktu. Dari sepasang alis dari mereka yang telah mengkerut dalam-dalam, terpancar sikap gelisah dari keenam lelaki ini. Tampaknya ada sesuatu yang harus diselesaikan. Debu juga telah mengepul tinggi.

Dilihat dari cara berpakaian keenarn orang itu, dengan masing-masing pinggang tergantung pedang, memperlihatkan bahwa mereka adalah enam orang ahli silat yang tampaknya memiliki kepandaian yang tidak rendah. Kuda yang mereka tunggangi itu juga merupakan kuda pilihan. Bertubuh tinggi besar dan juga tampaknya dapat berlari kuat sekali. Dilihat dari potongannya, kuda ini tentunya binatang tunggangannya dari Mongolia.

"Berhenti....!!"
Tiba-tiba sesosok tubuh menghadang...

Tetapi, ketika keenam orang itu tengah melarikan kudanya dengan cepat, tahu-tahu di sebuah persimpangan jalan, telah melompat sesosok tubuh menghadang jalan majunya rombongan tersebut. Malah telah terdengar suara orang membentak dengan suara yang keras, juga sangat bengis. Kedua tangan orang itu digerakkan dengan gerakan yang berulang kali. Serangkum angin serangan yang kuat bukan main telah meluncur dari kedua telapak tangannya.

Dan aneh! Rombongan keenam orang itu, tampaknya terkejut sekali, karena kuda tunggangan mereka seperti menubruk dinding, sehingga kuda-kuda itu tidak bisa maju lebih lanjut dan telah meringkik keras dengan sepasang kaki mukanya diangkat tinggi-tinggi. Keenam orang penunggang kuda itu mementang mata mereka lebar-lebar.

Mereka melihat jelas sekali, orang yang menghadang mereka seorang laki-laki berusia diantara empat puluh tahun, wajahnya tidak memperlihatkan perasaan apapun juga. Dan yang mengejutkan sekali hati keenam orang penumpang kuda ini, mereka melihat sorot mata orang yang menghadang itu sangat tajam bukan main. Orang itu memakai baju warna hijau, dengan celana warna kuning. Dan biarpun usianya tampak agak tinggi, namun dia tidak memelihara kumis dan janggut.

Salah seorang penunggang kuda itu telah memajukan binatang tunggangannya lebih dekat pada orang itu, lalu membentaknya: "Mengapa kau menghalangi perjalanan kami?"

Orang yang menghadang itu telah tertawa dingin. "Serahkan seluruh barang-barang kalian!" Katanya dengan suara yang dingin. "Hmmm.....!" Mendengus penunggang kuda itu dengan murka. "Rupanya kau seorang pembegal!?" Dan dia telah melompat turun dari kuda tunggangannya itu. Dengan cepat tangannya telah merabah gagang pedangnya. Maksudnya akan mencabut keluar pedangnya.

Namun bersamaan dengan itu, penghadang itu telah menggerakkan tangannya. "Mampuslah kau!" Bentaknya dengan suara yang dingin sekali. Dari telapak tangan penghadang itu telah meluncur keluar serangkum angin yang kuat bukan main, mendesir kuat, dan seketika itu juga tubuh orang yang baru turun dari binatang tunggangannya itu terpental keras, dengan mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan hati. Tubuhnya segera menggeletak ditanah.

Tempat tinggal jiwa orang itu sudah kosong. Jiwanya sudah siang-siang melayang meninggalkan badannya. Bukan main! Sekali menggerakkan tangannya, orang yang menghadang ini telah dapat membinasakan lawannya. Malah dia tidak memberikan kesempatan pada penunggang kuda itu untuk mencabut keluar pedangnya, telah dihajarnya binasa.

Kelima orang penunggang kuda lainnya jadi kaget sekali, wajah mereka telah berobah pucat. Bersamaan dengan itu, mereka tersadar dengan kemurkaan yang sangat. Karena mereka telah melihatnya kawan mereka telah tidak bernyawa. Dengan serentak kelima orang penunggaug kuda itu telah melompat turun. Salah seorang dari mereka telah memeriksa keadaan kawan mereka. Wajahnya segera memperlihatkan kemarahan bukan main, karena dia memperoleh kenyataan sahabatnya itu telah meninggal dengan wajah yang hitam keungu-unguan. Itulah suatu kematian yang sangat mengerikan sekali.

Dengan penuh kemurkaan, dia telah mencabut keluar pedangnya. "Penjahat biadab, tangaumu terlalu telengas sekali!" Teriaknya kalap. Dia juga bukan hanya berteriak begitu saja, karena dengan cepat telah menjejak tanah, tubuhnya dengan cepat meluncur akan melancarkan serangan dengan tikaman pedangnya.

Keempat kawannya juga telah mencabut senjata mereka dan mengurung penghadang mereka. Tetapi lelaki yang menghadang rombongan ini telah tertawa dingin. "Hemmmm....... kalian ingin mampus juga rupanya!" Katanya dengan suara mengejek. Dan membarengi dengan itu, dia telah memandang datangnya tikaman dari lawannya yang seorang itu.

Ketika mata pedang hampir tiba, dengan cepat orang ini menggerakkan tangannya. Dengan gerakan yang sukar diikuti oleh pandangan mata, penghadang itu telah berhasil menyentil pedang lawannya, sehingga terdengar suara "trinnggggg......!" Yang nyaring bukan main.

Dengan sendirinya, hal ini telah membuat orang itu terkejut lagi, sebab dia merasakan pedangnya yang kena disentil itu telah terpental dan hampir terlepas dari cekalannya, karena telapak tangannya dirasakannya pedih bukan main. Dia telah melompat mundur dengan wajah yang pucat.

Tetapi orang yang menghadang rombongan tersebut rupanya tidak mau memberikan kesempatan sama sekali, dia telah menggerakkan kedua tangannya. "Beeerrrr......!" Angin yang kuat bukan main telah meluncur kearah orang itu. Tidak ampun lagi, tubuh orang itu kejengkang, rubuh terkulai dan diam tidak bergerak. Terhenti juga napasnya. Dan dia telah berhenti menjadi manusia, karena nyawanya telah melayang meninggalkan raganya.

Sisa keempat kawannya bukan main terkejutnya, mereka telah melihat dengaa mata kepala sendiri betapa kedua kawannya telah dibuat tidak berdaya begitu mudah oleh penghadang mereka. Malah kedua orang itu telah dapat dibinasakan hanya dengan diserang mempergunakan tenaga dalam dan menyerang dari jarak jauh. Hal ini memperlihatkan bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu bukan main hebatnya.

"Si..... siapa kau?" Bentak salah seorang dari keempat penunggang kuda itu, suaranya agak tergetar, karena amarah bercampur juga perasaan jeri.

Orang yang menghadang rombongan itu telah tertawa dingin. "Hemm...... kalian pernah mendengar nama Giok Bian Gin Kiam (Si Pedang Perak bermuka Kumala)....?" Bertanya orang itu dengan suara yang dingin. "Itulah aku.......!"

"Hah?!"

Keempat orang itu telah jadi terkejut bukan main. Semangat mereka seperti juga meninggalkan raga mereka, kedua lutut mereka tampak tergetar. Tampaknya mereka lemas hampir tidak bisa berdiri. Giok Bian Gin Kiam merupakan seorang iblis yang sangat tangguh sekali.

Boleh di bilang, selama ini Giok Bian Gin Kiam Siauw Cu Lung tidak pernah menemui tandingan. Dia malang melintang dengan segala angkara murka yang dimilikinya. Setiap orang yang tidak disenanginya, pasti akan dibunuhnya. Dan keempat orang penunggang kuda ini tadi telah melihatnya, bahwa nama besar dari si iblis Giok Bian Gin Kiam Siauw Cu Lung ini memang bukan nama kosong belaka, sebab kedua kawan mereka tadi dengan begitu mudah telah kena dirubuhkan oleh si iblis.

Melihat keempat orang itu seperti bengong dengan muka yang pucat dan memperlihatkan sikap yang jeri, Giok Bian Gin Kiam telah tertawa mengejek. "Apakah kalian masih tidak mau cepat-cepat meninggalkan barang kalian....?" Tegurnya dengan suara yang bengis.

Sepasang alis dari keempat orang ini jadi bergerak berdiri, mereka setidak-tidaknya memiliki nama yang tidak kecil didalam rimba persilatan. Walaupun hati mereka jeri, tetapi disebabkan sakit hati melihat kedua kawan mereka yang telah terbinasa dengan cara yang begitu mengerikan, tentu saja membuat mereka jadi murka tidak kepalang. Dan mereka jadi berbalik nekad.

Di tengah ketegangan akibat hadangan Giok Bian Gin Kiam, bagi Anda penggemar cersil yang ingin menikmati variasi cerita lain, simak juga kisah seru Dewa Arak 87: Setan Bongkok yang tak kalah mendebarkan.

"Baiklah Giok Bian Gin Kiam, walaupun kami harus mati ditanganmu, tetapi kau juga harus mampus ditangan kami!!" Teriak salah seorang dari keempat penunggang kuda itu. Dan dia bukan hanya membentak begitu sebab dengan cepat sekali dia telah menjejakkan kakinya. Tubuhnya bagaikan terbang telah melesat ditengah udara, dan membarengi mana dia telah menggerakkan pedang ditangannya. Gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat sekali, sebab pedangnya segera juga mengancam akan menikam dada dari Giok Bian Gin Kiam.

Gerakan mana sesungguhnya merupakan gerakan untuk mengadu jiwa dengan pihak lawan, maka sangat berbahaya sekali.

Tetapi Giok Bian Gin Kiam Siauw Cu Lung sangat tenang sekali. Dia memandangi saja betapa pedang yang tengah meluncur menyambar kearahnya itu. Dan ketika mata pedang hanya terpisah beberapa dim saja, dengan gerakan yang cepat dia telah mementang mulutnya, dan memiringkan kepalanya, tahu-tahu dia telah menggigit pedang itu. Gigitannya keras bukan main. Pedang itu sampai tidak bisa bergerak lagi.

Dan membarengi mana, dia telah menggerakkan kedua telapak tangannya. "Weeeerrrrr.....!" Serangkum angin serangan yang hebat sekali, bagaikan runtuhnya gunung, telah menyambar dada dari penyerangnya. "Bledakkkkk!"

Dada orang itu telah kena disambar oleh tenaga serangan Giok Bian Gin Kiam. Seketika itu juga tubuh orang yang melancarkan serangan dengan mempergunakan pedang itu, telah terpental keras sekali. Seketika itu pula tubuhnya telah terlambung dan pedangnya tetap tergigit oleh Giok Bian Gin Kiam. Waktu tubuh orang itu terjungkal keras terbanting ditanah, maka batang lehernya telah patah, dadanya telah melesak dan juga mukanya telah hitam legam. Napasnya telah terhentikan ketika tubuhnya tadi masih melayang di udara.

Ketika kawannya mengeluarkan suara jeritan kalap dan mereka telah melompat menerjang kearah Giok Bian Gin Kiam dengan serangan pedang mereka. Dari tiga jurusan mereka telah mengepung Giok Bian Gin Kiam, tetapi mereka tidak berdaya sama sekali.

Belum lagi satu jurus, belum lagi pedang mereka itu dapat meluncur mendekati tubuh Giok Bian Gin Kiam, dengan cepat sekali Siauw Cu Lung telah menggerakkan sepasang tangannya, seketika itu juga sekitar tubuhnya seperti dikurung oleh serangkum angin yang sangat kuat sekali. Dan kejadian yang hebat telah terjadi lagi pada saat itu.

Terdengar suara jeritan yang menyayatkan dari ketiga orang yang bersenjata pedang itu. Dan tubuh mereka tampak telah terpental, lalu menggeletak tidak bergerak lagi. Diam kaku. Karena merekapun telah menyusul ketiga kawan mereka lainnya, yang telah terlebih dahulu telah pergi keakherat itu.

Giok Bian Gin Kiam memperdengarkan suara dengusan, kemudian dia berjongkok.

Satu persatu mayat-mayat itu diperiksainya dengan teliti. Seluruh pauwhok (buntalan) dari keenam orang itu telah dibukai. Tetapi tidak ada satu barangpun yang diambilnya, uang atau permata tidak diperhatikannya. Giok Bian Gin Kiam seperti juga tengah mencari sesuatu dan mukanya jadi murung waktu telah memeriksa keenam mayat itu dan tidak menemui barang yang diinginkannya itu.....!

Dia berdiam sejenak ditempat itu, berdiri mematung dengan wajah yang muram. Matanya memancarkan sinar aneh, dan waktu dia mengeluarkan suara siulan yang panjang, kedua kakinya telah menjejak tanah, tubuhnya mencelat cepat sekali, didalam waktu sekejap mata saja, di telah lenyap dari pandangan mata.

Yang tertinggal ditempat itu hanyalah keenam sosok mayat yang menggeletak tidak bernapas lagi.... hanya kesunyian belaka yang terdapat ditempat itu.....

Menjelang sore harinya, keenam sosok tubuh itu masih menggeletak diam ditempat semula, karena sejak tadi tidak ada juga orang yang lewat ditempat tersebut. Dan diwaktu malam akan tiba itu, tiba-tiba salah satu dari keenam mayat itu telah bergerak perlahan, disusul oleh suara erangannya, seperti rintih kesakitan bukan main.

Dia telah membuka sepasang matanya, dan melihat kelima sosok mayat lainnya. Mukanya tampak meringis, dan hilang harapannya, karena dia segera menyadarinya bahwa kelima kawannya telah terbinasa ditangan Giok Bian Gin Kiam.

Dan secara kebetulan saja, tadi dia cuma pingsan, walaupun lukanya terlalu hebat, dengan dada yang melesak dan tulang-tulang dada yang telah patah, namun disebabkan tenaga lwekangnya yang tinggi sekali, dengan sendirinya dia belum menghembuskan napasnya....!

Dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga yang masih terdapat pada dirinya dan dengan menahan perasaan sakit yang bukan main, orang ini telah berusaha untuk merangkak bangun. Tetapi sepasang lututnya telah gemetaran keras sekali. Dia tidak berdaya untuk berdiri. Karena luka yang dideritanya itu sangat berat sekali.

Dengan pandangan mata nanar, dia memandang sekitar tempat itu. Sunyi sekali, tidak terlihat sebuah rumah pendudukpun juga. Dan tampak keenam kuda tunggangan mereka masih berada ditempat itu. Walaupun keenam binatang tunggangan itu berdiri agak jauh, tetapi hal itu bisa membantu banyak pada diri orang yang satu ini.

Dia telah bersiul, walaupun siulannya itu serak dan sumbang, namun telah menyebabkan salah seekor dari keenam kuda itu menghampirinya. Orang yang sedang dalam keadaan sekarat ini telah mengulurkan tangannya. Dia mencekal tali pelana yang terjuntai, dia menghentaknya. Dengan meminjam tenaga gentakannya itu, maka dia bisa berdiri.

Dengan bersusah payah, akhirnya dia berusaha untuk dapat menunggangi kudanya. Kuda tersebut seperti juga mengerti maksud majikannya yang tengah terluka parah itu. Binatang tunggangan itu telah menekuk kedua kaki depannya, sehingga tubuhnya agak merendah. Dan akhirnya orang itu telah berhasil menaiki kuda tunggangannya.

Dia menggemblok dipunggung kuda itu tanpa memiliki tenaga pula. "Pulang...... Sie-ma!" Bisiknya pada kuda itu, yang memang merupakan kuda tunggangannya. Binatang tersebut mengerti perkataan majikannya. Dengan cepat dia telah berlari.

Tanpa dikendalikan oleh orang yang menggemblok dipunggungnya, kuda itu mengetahui kearah mana dia harus berlari. Sedangkan orang yang menungganginya itu, telah jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Hanya tubuhnya saja yang menggemblok diatas kuda tunggangannya itu. Dan binatang tunggangan itu telah berlari kearah jurusan barat, kearah kota Pay-hoa-kwan. Sedangkan orang yang berada dipunggung kuda itu, sudah tidak mengetahui, kearah mana kuda tunggangannya ini berlari.......

Disqus Comments