Dewa Arak 96 Malaikat Tanpa Wajah
Cersil Dewa Arak 96 Malaikat Tanpa Wajah
Baca Online Dewa Arak 96 Malaikat Tanpa Wajah
Dewa Arak Episode 96: Malaikat Tanpa Wajah menyajikan kisah aksi pendekar legendaris Arya Buana (Dewa Arak) dalam memecahkan misteri besar di dunia persilatan. Nikmati alur cerita klasik penuh pertarungan tenaga dalam, intrik, dan rahasia masa lalu pendekar sakti yang belum pernah Anda baca di tempat lain.
"Sebilah pedang bisa dipatahkan, namun tekad pendekar yang menegakkan kebenaran tak akan pernah bisa dihancurkan."
Bagi Anda yang menyukai petualangan dunia persilatan dan babak pertarungan sengit lainnya, baca juga kisah silat menarik berikut ini: Bangau Sakti Chin Tung.
Ikuti pula diskusi komunitas pencinta cersil dan pembaruan episode terbaru melalui Grup Komunitas Facebook Cersil Online.
Eps 1 Malaikat Tanpa Wajah
Satu-satunya penumpang di perahu itu adalah seorang pemuda tampan berpakaian ungu. Ketika perahu sudah mencapai tepi sungai, ditariknya agak ke darat lalu ditambatkan pada sebatang tonggak. Pemuda yang memiliki wajah jantan dan bertubuh tegap kekar itu kemudian mengambil keranjang rotan berisi ikan dari lantai perahu.
Sejenak pandangannya diedarkan berkeliling. Arah tatapannya terhenti pada pohon yang tergolek di tanah, sekitar sepuluh tombak dari tempatnya berada. Langkahnya terayun begitu cepat. Sekejap saja pemuda yang mengenakan caping dan menjinjing keranjang rotan itu telah berada di dekat pohon meranggas yang tergolek di tanah.
Pemuda itu melepas capingnya. Rambutnya yang digelung ke atas pun diuraikan. Panjang mencapai pinggang dan berwarna putih keperakan! Rambut yang mempunyai warna tidak seperti rambut pemuda pada umumnya itu diayunkannya ke arah batang pohon.
Crasss!
Batang pohon sepanjang satu tombak dengan besar sepelukan tangan orang dewasa itu terbelah dua. Rambut yang telah menegang kaku karena aliran tenaga dalam, hingga tak ubahnya sebilah pedang, menghantamnya dengan telak. Pemuda berpakaian ungu tampaknya bukan orang sembarangan. Dia memiliki ilmu cukup tinggi. Terbukti, dapat menggerakkan rambutnya untuk membelah pohon.
Ketika rambutnya kembali menghantam, batang pohon terbelah menjadi puluhan potongan kayu sebesar pergelangan tangan. Si pemuda lalu menghempaskan pantatnya pada belahan batang pohon yang lain. Dengan bantuan batu api dia membuat perapian dari potongan-potongan kayu yang tadi dibelahnya! Beberapa saat kemudian, dia sibuk memanggang ikan-ikan hasil tangkapannya. Bau sedap menyebar ke sekitar tempat itu.
Pemuda berambut putih keperakan ini mendengar bunyi langkah kaki mendekati tempatnya berada. Datangnya dari arah belakang. Karena, saat ini dia tengah duduk menghadap sungai. Tapi meskipun tahu akan adanya orang yang menuju ke tempatnya, si pemuda bersikap biasa saja. Dia tetap meneruskan kesibukannya. Hanya indera pendengarannya lebih dipertajam. Sikapnya pun terlihat sedikit waspada untuk menjaga segala kemungkinan yang tak diinginkan.
"Ayah...!"
Tertangkap oleh telinga pemuda tampan itu nada ucapan yang halus dan merdu. Suara itu begitu lirih. Kalau saja ia tak memiliki pendengarannya yang luar biasa tajam, tak akan terdengar sapaan itu.
"Menurut pendapatku, tak perlu kita mencari tahu siapa pemilik perahu itu. Lagi pula, andai kata benar pemiliknya adalah orang yang tengah memanggang ikan, tak perlu kita minta izinnya...."
Eps 2 Malaikat Tanpa Wajah
"Maksudmu kita mencurinya. Begitu, Pringgani?!" timpal orang yang disapa ayahnya.
"Tidak seperti itu, Ayah," bantah suara seorang gadis. "Maksudku, kita bawa saja dulu perahu itu. Kelak kita akan kembalikan ke sini dan sekaligus memberikan ganti rugi yang berlipat ganda. Kau tahu sendiri Ayah, waktu kita sangat sempit. Aku khawatir...."
"Lupakan saja maksudmu itu, Pringgani," potong sang ayah, tak sabar. "Aku tak setuju dengan usulmu. Aku lebih baik mati daripada harus melakukan kejahatan yang memalukan ini! Mencuri perahu. Huh! Betapa rendahnya!"
Pringgani tak memberikan tanggapan lagi. Ia tahu pendirian ayahnya tak mungkin dapat berubah. Dia hanya menghela napas berat dan menampakkan sikap tak puasnya. Dengan roman wajah seperti itu, diikutinya ayahnya yang tengah menghampiri pemuda berpakaian ungu.
"Maaf, Kisanak...." Sapaan yang dikeluarkan ayahnya Pringgani membuat pemuda berpakaian ungu tak dapat terus berpura-pura tidak mengetahui kehadiran mereka.
"Ada apa, Paman?" Pemuda itu bangkit berdiri setelah meletakkan ikan panggangnya. Diperhatikannya dua sosok tubuh yang berdiri di hadapannya. Terlihatlah seorang lelaki setengah baya, berkumis tebal, dan berpakaian putih. Lelaki ini mengembangkan senyum ramah di bibir. Sebaliknya, di sebelahnya dengan wajah cemberut berdiri seorang gadis jelita bertubuh montok dan berpinggang ramping.
Eps 3 Malaikat Tanpa Wajah
Hanya sekilas pemuda berpakaian ungu memperhatikan Pringgani. Perhatiannya kini lebih ditunjukkan pada wajah gadis itu. Di samping tak nyaman menatap wajah yang cemberut, juga ayahnya Pringgani mengajaknya berbicara.
"Kau tahu pemilik perahu itu?" tanya laki-laki berpakaian putih seraya menunjuk ke arah sungai.
"Tahu, Paman. Akulah pemiliknya."
"Sungguh kebetulan sekali!" sahut ayahnya Pringgani, gembira. "Saat ini aku sangat membutuhkan perahu untuk menyeberangi sungai ini bersama anakku, Kisanak. Sayang, kami telah kehabisan uang, jadi tak bisa membeli atau menyewanya. Tapi percayalah, aku Paksi Dilaga, bukan seorang penipu. Kelak kami akan kembali dan memberikan ganti rugi yang berlipat ganda. Bagaimana, Anak Muda?"
Pemuda berpakaian ungu meneliti wajah lelaki setengah baya yang tengah menatapnya. Dia sedang menunggu jawaban atas permintaannya.
"Ambil saja, Paman. Tampaknya kau lebih memerlukannya daripada aku," jawab pemuda itu kemudian.
Eps 4 Malaikat Tanpa Wajah
Wajah Paksi Dilaga langsung berseri-seri. Lelaki ini kelihatan gembira sekali. Ditatapnya sang pemuda penuh rasa terima kasih, kemudian mengalihkannya pada putrinya.
"Bagaimana, Pringgani? Bukankah keputusan yang Ayah ambil jauh lebih tepat? Kita tak perlu melakukan tindakan yang tercela untuk mendapatkan sebuah perahu."
Pringgani hanya tersenyum pahit. Kendati demikian, kilatan pada sepasang matanya yang bening dan indah menyiratkan kegembiraan pula. Betapapun juga, dia lebih gembira mendapatkan perahu itu tanpa perlu mencurinya. Pringgani sama sekali tidak mengira akan demikian mudah memintanya.
Hasil yang menyenangkan ini membuatnya agak memperhatikan pemilik perahu. Namun, dengan diam-diam dia melakukannya. Sebagai seorang gadis, dia merasa malu untuk memperhatikan seorang pemuda secara terang-terangan. Dalam pandangan yang hanya sekilas itu Pringgani harus mengakui kalau sang pemilik perahu tersebut cukup menarik. Tubuhnya tegap dan kekar. Sayang, wajahnya tak terlihat jelas karena terhalang oleh caping yang bertengger di kepalanya.
"Terima kasih, Anak Muda. Kau baik sekali. Kami tak akan melupakan budi baik ini. Bila Tuhan mengizinkan, kami akan kembali untuk membalas jasamu. Siapa kau, Anak Muda? Dan di mana tempat tinggalmu?" tanya Paksi Dilaga.
Pemuda berpakaian ungu ini tersenyum. "Lupakan saja, Paman. Aku tak menganggap hal ini sebagai budi yang harus dibalas. Namaku Arya," sahut pemuda ini, masih dengan tersenyum.
"Aku Paksi Dilaga, Arya. Dan ini putriku, Pringgani," Paksi Dilaga balas memperkenalkan diri. Dia tak mendesak ketika Arya tak mengatakan di mana tempat tinggalnya. "Tapi apa pun pendapatmu kami tak akan bisa melupakan budi baik ini. Kalau saja waktu mengizinkan, kami suka berbincang-bincang denganmu. Sayang, kami mempunyai urusan penting yang harus segera diselesaikan. Sekali lagi terima kasih atas kebaikan hatimu, Arya."
Pemuda berpakaian ungu yang bernama Arya Buana alias Dewa Arak ini, hanya tersenyum. Dan senyum pemuda ini semakin lebar ketika melihat Pringgani melempar senyum pula padanya. Senyum tipis yang mengutarakan perasaan terima kasih.