Bangau Sakti -- Chin Tung
Baca Online Bangau Sakti -- Chin Tung
Cersil Bangau Sakti -- Chin Tung
Ulasan Eksklusif & Analisis Kritis Storyline
Karya legendaris Chin Tung berjuluk Bangau Sakti (Judul Asli: Sin Hok Sin Cin) merupakan salah satu karya sastra Wuxia klasik yang menonjolkan kedalaman estetika ilmu silat tingkat tinggi serta konflik batin antar mazhab. Berbeda dari narasi cersil pasaran, Chin Tung membungkus intrik kekuasaan kalangan Bu Lim dengan pendekatan romansa tragis dan filosofi pendewasaan tokoh.
Fokus utama cerita ini menyoroti pergerakan rahasia memperebutkan peta harta pustaka Kui Goan Pit Cek serta penguasaan jurus legendaris Cui Hun Cap Ji Kiam (Dua Belas Jurus Mengusir Setan) milik Partai Kun Lun. Penyajian dinamika karakter seperti pendeta senior Hian Ceng Totiang, pemuda berbakat Bee Kun Bu, dan gadis jelita Lie Ceng Loan menjadikan karya ini sebuah mahakarya yang tidak lekang oleh waktu.
Cuplikan Naskah Lengkap: Awalan & Konfrontasi Kuil San Ceng Koan
Di antara kebun raya To Hoa Goan di sebelah Utara propinsi Hunan, ketika bunga-bunga Bwee sedang mekarnya, tiba-tiba keluarlah dari hutan pohon-pohon Bwee tersebut seorang gadis yang berpakaian merah dan memegang seikat bunga-bunga Bwee di tangan kirinya.
Gerakannya sangat lincah ketika ia berjalan dari hutan pohon-pohon Bwee itu menuju ke tepi sungai. Gadis itu berparas cantik, dan pakaiannya yang dari sutera merah itu menyebabkan lebih cantik lagi kelihatannya. Setelah ia tiba di tepi sungai, dipetiknya beberapa tangkai bunga-bunga Bwee yang sedang dipegangnya dengan tangan kirinya dan dilemparkannya ke dalam sungai yang mengalir dengan sangat derasnya itu.
Pada saat itu dari hulu sungai datanglah sebuah perahu dengan laju sekali karena didorong oleh arus air yang deras itu. Di atas perahu itu berdiri seorang pendeta yang berusia enam puluh tahun lebih, berjubah abu-abu, dengan wajah yang menampakkan kemurahan hatinya. Setelah melihat pendeta itu, dengan tegas gadis itu berseru dengan suara yang nyaring:
“Suhu (guru)...!”
Lalu melemparkan seikat bunga-bunga Bwee ke dalam sungai, ia menghantamkan ujung jari kakinya ke tanah, dan secepat kilat meloncatlah ia ke atas perahu itu setelah menyentuh terlebih dahulu dengan ujung jari kakinya. Ikatan bunga-bunga yang terapung di atas sungai membuatnya meloncat dari tepi sungai ke samping pendeta itu dengan gesit sekali. Pendeta tua itu tertawa dan berkata:
“Gadis berusia tujuh belas tahun, mengapa demikian nakalnya!”
Lalu diambilnya jangkar besi dan dilemparkannya ke tepi sungai. Tenaga pendeta tua itu betul-betul amat menakjubkan, karena baru saja gadis itu berada di sampingnya, jangkar besi telah dilemparkannya ke tepi sungai dan terpancang di dalam tanah. Kemudian dengan mengibaskan lengan bajunya, pendeta tua itu meloncat ke tepi, walaupun jarak dari perahu ke tepi sungai masih lima depa lagi jauhnya.
Setelah berada di tepi sungai, pendeta tua itu melihat bahwa gadis itu juga ingin meloncat ke tepi sungai. Rupanya gadis itu kurang cukup mengeluarkan tenaganya. Agaknya ia akan kecemplung ke dalam sungai, akan tetapi lekas dibentangkannya kedua lengannya ke atas, dan ia pun melonjak ke atas lalu mendarat di samping pendeta tua itu! Sambil tertawa ia berkata:
“Suhu, bagaimana pendapat Suhu tentang ilmu burung walet terbang di udara?”
Pendeta tua itu menyahut sambil tersenyum: “Kau telah peroleh kemajuan. Tetapi tenaga yang kau curahkan masih kurang. Jika kau berada di dalam kepungan musuh, loncatan serupa tadi tidak akan berhasil untuk membebaskan dirimu dari kepungan.”
Mendengar celaan itu gadis tersebut rupa-rupanya tidak gembira, dan ia diam tidak bicara lagi. Si pendeta tua mengerutkan keningnya, dan berpikir: Aku tak dapat memanjakannya terus-menerus. Ada baiknya aku cela ia pada kesempatan ini agar ia dapat mengerti maksud baik dari celaan itu.
Pertemuan Rahasia dan Rahasia Peta Mustika
Dan dengan tidak disadarinya, berkatalah ia dengan suara rendah: “Loan Jie, mari sini!”
Gadis yang sedang menahan kemarahannya itu menoleh ke arah pendeta tua itu ketika mendengar teguran itu, ia melihat mata pendeta tua itu berlinang-linang. Terkejutlah ia dan cepat-cepat ia berlutut di hadapannya. Sambil menangis ia berkata:
“Suhu, jangan marah, Loan Jie tak akan bersikap angkuh lagi terhadap Suhu, Mohon Suhu sudi memaafkan.”
Pendeta tua itu lalu mengangkatnya sampai berdiri dan berkata sambil tersenyum: “Hian Ceng Totiang dari kuil San Ceng Koan adalah salah seorang dari ketiga guru-guru partai Kun Lun. Ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat-nya tak ada taranya di kolong langit. Untuk melatih ilmu silatmu, aku telah berjanji dengan dia untuk tukar menukar mengajar murid-murid masing-masing agar kau sendiri dapat membalas dendam ibu-bapakmu....”
Ia berhenti, mengerutkan keningnya, dan tak bicara lagi. Ia terkenang lagi pada kisah yang lampau. Si gadis merasa cemas melihat Suhunya tidak berbicara lagi. Dipegangnya tangan pendeta tua itu, dan dengan suara yang ramah ia menghibur:
“Suhu, jangan bersedih hati lagi. Loan Jie telah berjanji tak akan menyedihkan Suhu lagi.”
Ia teringat suatu soal, dan bertanya: “Suhu, baru saja Suhu berbicara tentang ibu-bapakku, Soal itu selalu menjadi buah pikiranku, tetapi Suhu tidak sudi menceritakan tentang kelahiranku. Aku tak ingat sedikit pun tentang ibu-bapakku.”
Air matanya pun mengucur keluar dari kedua matanya. Wajah pendeta tua itu menjadi sedih. Diusap-usapnya rambut gadis itu dan berkata: Soal itu akan kuceritakan juga kelak kepadamu, Hanya waktunya belum tepat. Aku menghendaki agar kau mempelajari ilmu pedang Hun Kong Kiam Sut dulu dari paman gurumu Hian Ceng Totiang....
Ketika pembicaraan mereka sampai di situ, pendeta tua melihat seorang pemuda bertubuh tegap, berwajah tampan dan berpakaian hijau berjalan keluar dari kebun pohon-pohon Bwee. Dihampirinya pendeta tua itu, lalu sambil membungkukkan tubuh memberi hormat, berkatalah ia:
“Guruku mengetahui bahwa Ngo Kong Su Pek akan datang menyambut Teecu, tidak menduga Su Pek telah tiba.”
Si pendeta tua berkata sambil tertawa: “Selama tiga bulan Loan Jie mungkin telah berbuat kenakalan dan mengganggu gurumu Ceng Siu.”
Cepat-cepat pemuda itu menggoyangkan tangannya dan menyahut: “Ceng Loan Sumoy sangat pintar dan cerdas, ia telah mempelajari ilmu silat dari Ngo Kong Su Pek. Guruku sering berkata bahwa kemajuannya di kemudian hari tak akan terhingga. Teecu ini bodoh, selama tiga bulan telah berlatih silat bersama-sama Ceng Loan Sumoay, dan Teecu memperoleh banyak manfaat daripadanya.”
Si gadis mendengar ia dipuji merasa gembira, dan wajahnya yang sedih tadi lenyap, berubah menjadi berseri-seri. Ia mengawasi pemuda itu, yang tak berani mengawasinya kembali. Melihat sikap pemuda dan pemudi itu, pendeta tua itu menarik napas dan berpikir:
“Setelah Loan Jie berjumpa dengan pemuda ini, ia sering-sering mengajak aku datang ke kuil San Ceng Koan dengan alasan memetik bunga-bunga Bwee. Aku insyaf bahwa Loan Jie telah jatuh cinta pada pemuda ini... Kini ibunya telah meninggal dunia karena dicelakakan orang. Ketika ia hendak menarik napas yang penghabisan ia mengatakan bahwa Loan Jie adalah puterinya, Aku harus menjaga Loan Jie baik-baik demi untuk kenang-kenangan....”
Ketika itu keringat keluar dari seluruh tubuhnya. Matahari pun sudah condong ke sebelah Barat, dan melalui hutan pohon-pohon Bwee menyorot muka Ceng Loan yang masih mengawasi pemuda itu.
Pendeta tua itu pun mengawasi pemuda itu dan berpikir: “Hian Ceng telah memilih pemuda ini sebagai murid, sebetulnya pemuda ini luar biasa. Hati Loan Jie yang cantik jelita telah tertawan padanya, akan tetapi ia seakan-akan tak tertarik pada Loan Jie!”
Pada saat itu pemuda berpakaian hijau itu membungkukkan tubuhnya memberikan hormat lagi, dan berkata: “Guruku telah menanti Su Pek (paman guru) di kamarnya. Mohon Su Pek datang ke kuil.”
Si pendeta tua menganggukkan kepalanya dan mereka bersama-sama menuju ke kuil San Ceng Koan dengan jalan melalui hutan pohon-pohon Bwee. Ketiga orang itu baru saja berjalan beberapa tindak, tetapi sekonyong-konyong terdengar oleh mereka suara jeritan yang nyaring seperti juga seekor burung terluka dan menjerit-jerit karena sakit dan sedih sehingga menyebabkan bulu roma berdiri!
Ngo Kong Toa-su mengerutkan keningnya, dan Ceng Loan beserta pemuda berpakaian hijau itu juga telah berhenti dan berdiri tegak. Jeritan itu kedengaran makin lama makin dekat. Ketika suara jeritan tersebut berhenti, terdengar oleh mereka suara senjata yang saling beradu seakan-akan dua orang sedang bertarung dengan menggunakan senjata tajam.
Pemuda yang berpakaian hijau mengerutkan kening dan berpikir: Tempat di luar kuil San Ceng Koan maupun di tepi sungai Goan Kang senantiasa aman dan tenang. Suara itu rupanya dari tepi sungai. Masa perampok-perampok berani datang ke sini dan merampok para saudagar yang kebetulan lewat di sini? Aku harus pergi menyelidiki!
Lalu ia lari ke tepi sungai. Ceng Loan masih saja dimabuk asmara, dan setelah melihat pemuda itu lari ke tepi sungai, ia pun tak dapat menahan diri, ia berseru-seru: “Bee Suheng, tunggu aku! Kita pergi bersama-sama!”
Si pemuda berhenti sejenak menunggu Ceng Loan yang berseri-seri wajahnya. Tepat pada saat itu, di jalan hutan pohon-pohon Bwee lari keluar seorang yang bertubuh besar dengan berlumuran darah, ia memegang sebuah golok besar, dan di belakangnya mengejar dua orang! Ketiga orang itu pesat sekali larinya, dan sudah hampir mendekati Ceng Loan dan pemuda berpakaian hijau itu.
Orang yang mengejar paling depan mengeluarkan pisau perak dan melemparkannya ke punggung orang yang dikejarnya itu. Meskipun sudah luka dan kena senjata rahasia, orang yang dikejar itu masih berusaha lari secepat-cepatnya. Ketika melihat si gadis dan si pemuda, orang yang dikejar itu berteriak:
“Lekas-lekas panggil kepala kuil San Ceng Koan!”
Pada saat itu ia berteriak, ia telah tertangkap, dan dipukul oleh kedua orang yang mengejarnya. Orang yang bertubuh besar itu tak dapat bertahan lagi, ia jatuh ke tanah, dan darah mengalir keluar dari mulutnya. Pemuda berpakaian hijau yang menyaksikan dahsyatnya tinju-tinju kedua orang yang mengejar itu, juga terkejut. Ia telah mendengar orang yang jatuh itu menyuruhnya lekas-lekas memanggil kepala kuil San Ceng Koan, gurunya. Ia menduga bahwa orang itu ada hubungannya dengan gurunya.
Dengan tidak memikirkan akibatnya, ia meloncat dan berdiri di hadapan orang-orang yang sedang memukul orang yang bertubuh besar itu. Kedua pengejar itu telah melihat bahwa orang yang bertubuh besar itu telah kena jarum Liong Si Cin (kumis naga) dan tinju Pai San Cong (menggempur gunung), dan yakin orang itu tak akan dapat melarikan diri lagi. Mereka berhenti memukul dan menghadapi pemuda itu.
Pemuda berpakaian hijau bernama Bee Kun Bu. Ia adalah murid kesayangan Hian Ceng Totiang dari kuil San Ceng Koan, dan Hian Ceng Totiang adalah salah seorang dari ketiga guru-guru partai Kun Lun yang termasyhur dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam (memancarkan sinar) dan ilmu silat tinju Tian Kang Cong (meninju bintang-bintang di langit) di kalangan Bu Lim. Bee Kun Bu telah tinggal bersama gurunya, Hian Ceng Totiang selama dua belas tahun dan telah mempelajari hampir semua ilmu silat partai Kun Lun.
Dengan berdiri tegak Bee Kun Bu mencegah kedua orang itu. Ketika ia mengawasi wajah kedua orang itu, ia pun terkejut. Ia melihat bahwa kedua orang itu berusia lebih dari lima puluh tahun. Yang seorang mempunyai alis mata yang merupakan huruf M, matanya berbentuk segi tiga, mukanya hitam di sebelah kiri dan putih di sebelah kanan, dan rambutnya hanya tiga dini panjangnya. Yang seorang lagi, mukanya agak putih, akan tetapi pucat pasi seperti mayat dan berkumis kuning. Keduanya berjubah kain goni dan bersandal kain goni pula. Pada umumnya rupa keduanya membangkitkan perasaan seram!
Ceng Loan melihat Bee Kun Bu maju seorang diri, merasa khawatir kalau-kalau ia tak dapat meladeni kedua orang itu. Ia meloncat maju, tetapi ketika melihat rupa kedua orang itu, ia pun merasa seram! Lalu orang yang bermuka belang itu bertanya dengan mengejek:
“Kamu ini, pemuda dan pemudi, apakah hubunganmu dengan kuil San Ceng Koan? Ayo! Lekas-lekas enyah! Jangan merintangi kami!”
Bee Kun Bu sangat waspada, karena ia tadi telah menyaksikan betapa dahsyatnya tinju kedua orang itu. Ia menduga, bahwa kedua orang ini, jika bukan perampok-perampok besar, tentunya jago-jago silat. Sebelum ia memperoleh sesuatu keterangan ia pun tidak ingin mencari kerusuhan, apalagi kedua orang itu bukan musuhnya. Ia bermaksud merintangi perbuatan kejam dari kedua orang itu dengan jalan memberi peringatan, sambil mengulur waktu sampai gurunya datang.
Lalu dengan suara rendah ia berbisik pada Ceng Loan: “Loan Sumoay, kau lekas-lekas pergi minta Su Pek datang.”
Ceng Loan menganggukkan kepalanya, lalu lari memanggil Suhunya. Kemudian sambil membungkukkan tubuh, dengan ramah Bee Kun Bu berkata kepada kedua orang yang ganjil itu:
“Hamba adalah murid dari San Ceng Koan. Hamba ingin mengetahui nama-nama kedua Bapak ini, agar hamba dapat menyampaikan kepada guru hamba, bahwa ada tamu-tamu datang.”
Kedua orang ganjil itu telah menerka maksud Bee Kun Bu, dan dengan tertawa si muka belang mengejek: “Kau ini banyak akal. Apakah kau kira dengan menggunakan nama Hian Ceng Totiang kau dapat menakut-nakuti kita?!”
Belum lagi selesai ia bicara, si muka pucat meneruskan: “Lote, mengapa kau banyak bicara.” Lalu ia menerkam orang yang bertubuh besar yang menggeletak di tanah. Bee Kun Bu tak dapat menyabarkan dirinya. Dengan menggunakan ilmu tenaga dalamnya, dirintanginya si penerkam dengan ilmu Heng Kang Cai Tou atau melangkah lebar untuk mengambil bintang.
“BUK!”
Terdengar suara dari dua tenaga yang beradu! Tubuh Bee Kun Bu terdorong mundur lima atau enam kaki, dan tubuh si muka pucat, yang tidak menduga lihaynya Bee Kun Bu, juga terdorong mundur tiga atau empat kaki. Bee Kun Bu merasa kepalanya pusing, akan tetapi ia masih dapat melihat bahwa orang yang telah terluka dan menggeletak di tanah itu terguling-guling tujuh atau delapan kaki jauhnya, dengan kedua matanya terbelalak, dan darah mengalir keluar dari hidung dan mulutnya.
Kedua orang ganjil itu menyerang lagi dari kiri dan kanan, dan si muka belang membentak: “Kau ini mau mati! Jangan menyalahkan kami kejam!”
Baru saja Bee Kun Bu dapat merasakan, bahwa ia tak dapat melawan si muka pucat, bagaimanakah sekarang ia dapat melawan mereka berdua? Ia bertekad untuk melawan terus, karena ia ingin mengetahui barang apakah yang hendak mereka ambil, dan ia menduga bahwa barang itu tentu ada hubungannya dengan gurunya. Maka ketika ia diserang oleh kedua orang itu, dibentangkannya kedua lengannya dan menangkis dengan sekuat tenaga.
Baru saja ia membentangkan kedua lengannya, terdengar olehnya suara orang berseru: “Kun Bu! Lekas mundur! Apakah kau tidak sayang dengan jiwamu?!”
Mendengar seruan itu, Bee Kun Bu buru-buru menarik kembali kedua lengannya, dan dengan ilmu Yan Ceng Cap Pwee Hoan atau “Burung walet melakukan delapan belas putaran”, ia meloncat terbang ke atas membebaskan diri dari serangan-serangan dahsyat lawannya! Ia membaui hawa yang harum dan punggungnya terdorong ke depan!
Rekomendasi Cersil Klasik Selanjutnya
Bagi para pecinta serial silat klasik Dewa Arak karya Kho Ping Hoo / Kang Zusi, Anda juga dapat membaca kelanjutan episode menarik lainnya secara lengkap dalam tautan navigasi resmi berikut:
👉 Baca Cerita Silat Dewa Arak Episode 86: Penyair Cengeng Online
Diskusi & Arsip Komunitas Facebook
Ikuti perkembangan update episode harian Cersil Bangau Sakti serta diskusi penggemar novel silat Indonesia melaui Grup Facebook Pembaca Novel Silat.
Klik untuk Melihat Daftar Arsip Episode 1 - 118 di Facebook
- Bangau Sakti Episode 01
- Bangau Sakti Episode 02
- Bangau Sakti Episode 03
- Bangau Sakti Episode 04
- Bangau Sakti Episode 05
- Bangau Sakti Episode 06
- Bangau Sakti Episode 07
- Bangau Sakti Episode 08
- Bangau Sakti Episode 09
- Bangau Sakti Episode 10
- Bangau Sakti Episode 11
- Bangau Sakti Episode 12
- Bangau Sakti Episode 13
- Bangau Sakti Episode 14
- Bangau Sakti Episode 15
- Bangau Sakti Episode 16
- Bangau Sakti Episode 17
- Bangau Sakti Episode 18
- Bangau Sakti Episode 19
- Bangau Sakti Episode 20
- Bangau Sakti Episode 21
- Bangau Sakti Episode 22
- Bangau Sakti Episode 23
- Bangau Sakti Episode 24
- Bangau Sakti Episode 25
- Bangau Sakti Episode 26
- Bangau Sakti Episode 27
- Bangau Sakti Episode 28
- Bangau Sakti Episode 29
- Bangau Sakti Episode 30
- Bangau Sakti Episode 31
- Bangau Sakti Episode 32
- Bangau Sakti Episode 33
- Bangau Sakti Episode 34
- Bangau Sakti Episode 35
- Bangau Sakti Episode 36
- Bangau Sakti Episode 37
- Bangau Sakti Episode 38
- Bangau Sakti Episode 39
- Bangau Sakti Episode 40
- Bangau Sakti Episode 41
- Bangau Sakti Episode 42
- Bangau Sakti Episode 43
- Bangau Sakti Episode 44
- Bangau Sakti Episode 45
- Bangau Sakti Episode 46
- Bangau Sakti Episode 47
- Bangau Sakti Episode 48
- Bangau Sakti Episode 49
- Bangau Sakti Episode 50
- Bangau Sakti Episode 51
- Bangau Sakti Episode 52
- Bangau Sakti Episode 53
- Bangau Sakti Episode 54
- Bangau Sakti Episode 55
- Bangau Sakti Episode 56
- Bangau Sakti Episode 57
- Bangau Sakti Episode 58
- Bangau Sakti Episode 59
- Bangau Sakti Episode 60
- Bangau Sakti Episode 61
- Bangau Sakti Episode 62
- Bangau Sakti Episode 63
- Bangau Sakti Episode 64
- Bangau Sakti Episode 65
- Bangau Sakti Episode 66
- Bangau Sakti Episode 67
- Bangau Sakti Episode 68
- Bangau Sakti Episode 69
- Bangau Sakti Episode 70
- Bangau Sakti Episode 71
- Bangau Sakti Episode 72
- Bangau Sakti Episode 73
- Bangau Sakti Episode 74
- Bangau Sakti Episode 75
- Bangau Sakti Episode 76
- Bangau Sakti Episode 77
- Bangau Sakti Episode 78
- Bangau Sakti Episode 79
- Bangau Sakti Episode 80
- Bangau Sakti Episode 81
- Bangau Sakti Episode 82
- Bangau Sakti Episode 83
- Bangau Sakti Episode 84
- Bangau Sakti Episode 85
- Bangau Sakti Episode 86
- Bangau Sakti Episode 87
- Bangau Sakti Episode 88
- Bangau Sakti Episode 89
- Bangau Sakti Episode 90
- Bangau Sakti Episode 91
- Bangau Sakti Episode 92
- Bangau Sakti Episode 93
- Bangau Sakti Episode 94
- Bangau Sakti Episode 95
- Bangau Sakti Episode 96
- Bangau Sakti Episode 97
- Bangau Sakti Episode 98
- Bangau Sakti Episode 99
- Bangau Sakti Episode 100
- Bangau Sakti Episode 101
- Bangau Sakti Episode 102
- Bangau Sakti Episode 103
- Bangau Sakti Episode 104
- Bangau Sakti Episode 105
- Bangau Sakti Episode 106
- Bangau Sakti Episode 107
- Bangau Sakti Episode 108
- Bangau Sakti Episode 109
- Bangau Sakti Episode 110
- Bangau Sakti Episode 111
- Bangau Sakti Episode 112
- Bangau Sakti Episode 113
- Bangau Sakti Episode 114
- Bangau Sakti Episode 115
- Bangau Sakti Episode 116
- Bangau Sakti Episode 117
- Bangau Sakti Episode 118