Kamis, 23 Juli 2026

Dewa Arak 87 Setan Bongkok

Dewa Arak 87 Setan Bongkok

Cersil Dewa Arak 87 Setan Bongkok

Baca Online Dewa Arak 87 Setan Bongkok

Ulasan Eksklusif & Analisis Karakter Cersil Dewa Arak 87

Mengapa episode Setan Bongkok menjadi salah satu bentangan kisah terpenting dalam rimba persilatan ciptaan Aji Saka? Berbeda dengan unggahan e-book standar di tempat lain, kisah ini menghadirkan benturan konflik bertingkat. Tak hanya perseteruan antara Mayat Sejuta Bunga (Donggala) dan Siluman Harimau memperebutkan Kitab Seribu Racun Tanpa Obat, tetapi juga kemunculan gembong kawakan Tiga Binatang Iblis Neraka (Raja Monyet Bertangan Seribu, Kelabang Merah, dan Gajah Kecil).

Kehadiran tokoh misterius berwajah ikhtiar Setan Bongkok serta intrik Pendekar Penyebar Asmara memberikan dinamika tinggi. Bagi Anda peminat serial jawara legendaris seperti kisah Mustika Gaib Buyung Hok, petualangan Arya Buana (Dewa Arak) di Pegunungan Sewu ini wajib disimak secara tuntas.


Cuplikan Naskah: Dewa Arak Episode Setan Bongkok

Karya: Aji Saka | Penerbit Cintamedia, Jakarta

"Siluman Harimau...! Manusia licik...! Jangan lari kau...!"

Seorang kakek berpakaian putih berteriak-teriak mengayunkan kaki berlari cepat. Sosok yang disebut Siluman Harimau tampak tidak mempedulikan teriakan itu. Bahkan, menoleh pun tidak. Dia terus berlari cepat. Kakek berpakaian putih yang bertubuh jangkung dan bermuka pucat menggertakkan gigi. Ia geram bukan main. Sorot matanya yang tertuju pada Siluman Harimau menyiratkan kemarahan besar.

Sepasang matanya yang sipit semakin bertambah sipit. Kakek itu mengerahkan seluruh ilmu larinya. Tapi, usaha kakek berpakaian putih hampir tidak berarti. Meski lari kakek ini cepat bukan main sehingga tubuhnya terlihat sebagai kelebatan saja, jarak antara mereka tidak berubah. Siluman Harimau juga memiliki kecepatan lari yang menakjubkan. Kedua kakinya seperti tidak menjejak tanah karena cepatnya digerakkan. Sebentar kemudian, jarak telah terlampaui ratusan tombak.

Meski begitu, kakek berpakaian putih tetap belum bisa mengubah jarak. Kakek ini semakin geram. Beberapa kali kedua tangannya dihentakkan bergantian ke depan. Angin luar biasa keras berhembus ke arah Siluman Harimau. Tapi, serangan itu dengan mudah dipatahkan. Siluman Harimau melompat ke atas sehingga angin deras itu lewat di bawah kedua kakinya.

Kakek berwajah pucat ini berseri wajahnya ketika melihat bukit-bukit kapur terhampar di depannya. Arah yang dituju si kakek dan Siluman Harimau memang puncak gunung. Mereka kini tengah berlari cepat di lerengnya. Lereng Gunung Kidul!

Si kakek kembali menghentikan kedua tangannya. Seperti yang diduganya, Siluman Harimau kembali melompat ke atas hingga pukulan jarak jauh itu lewat di bawah kedua kakinya. Tapi, begitu Siluman Harimau menjejakkan kaki di tanah, sesuatu yang direncanakan kakek berpakaian putih pun terjadi. Batu-batu kapur sebesar kepala kerbau yang terkena pukulan jarak jauh kakek berpakaian putih meluncur ke arah Siluman Harimau dan kakek itu.

Siluman Harimau tidak menjadi gugup. Dia menggeram keras laksana seekor harimau murka. Batu-batu yang mengancamnya berpentalan ke berbagai arah sebelum berhasil menyentuh kulit tubuhnya, seakan di sekitar tubuh Siluman Harimau memancarkan kekuatan menolak yang luar biasa!

Kakek berpakaian putih tidak menjadi kecil hati. Dia tahu batu-batu itu tak akan dapat melukai, apalagi sampai membunuh Siluman Harimau. Tokoh itu memiliki kepandaian tinggi. Jadi, tak akan semudah itu ditaklukkan. Tindakan tadi dilakukan si kakek hanya untuk menghambat lari Siluman Harimau. Waktu yang hanya sekejap itu telah membuat si kakek berhasil menyusul lawannya.

"Hendak lari ke mana lagi kau, Siluman licik?!" ejek kakek berpakaian putih.

Siluman Harimau yang juga seorang kakek, hanya saja bertubuh tinggi besar, menatap kakek berpakaian putih yang telah berada di depannya. Dua pasang mata saling berpandangan dengan sorot penuh tantangan. Sikap mereka tak ubahnya dua ekor ayam jago yang hendak berlaga.

"Ha ha ha...!" Tawa bergelak dikeluarkan Siluman Harimau. Tawa yang membuat tubuhnya berguncang-guncang. Wajahnya yang memang mirip wajah harimau, apalagi dengan adanya dua buah taring di sudut-sudut mulutnya, terlihat menyeramkan dan menggiriskan hati.

"Rupanya kau sudah ingin melihat alam kubur, Donggala? Kalau belum, mumpung aku belum kehilangan kesabaran, cepat menyingkir dari hadapanku!"

"Aku akan menyingkir apabila kau mengembalikan kitab milik majikanku, dengan ditambah sebelah taringmu atas kekurangajaranmu mempermainkanku, Siluman Harimau!" tandas Donggala, dingin.

Tawa Siluman Harimau semakin keras. Ancaman Donggala dianggapnya lelucon. Kakek bermuka harimau ini tidak marah atau pun tersinggung. Wataknya yang periang membuatnya tidak mudah dipengaruhi amarah.

"Kau lucu, Donggala. Ingin kulihat berapa tebal kulit wajahmu sehingga kau begitu tak tahu malu menyebut-nyebut tua bangka yang bernasib malang itu sebagai majikanmu! Kau yang telah diperlakukannya dengan baik malah mencelakai dan mencuri kitabnya! Seekor anjing pun tak akan bertindak sekeji itu pada tuannya, Donggala! Kau lebih hina daripada seekor anjing! Kitab ini tak akan kuberikan padamu! Sekarang kau mau apa?!"

Donggala menggertakkan gigi. Ucapan Siluman Harimau jelas-jelas merupakan tantangan. Tidak ada pilihan baginya untuk mendapatkan kitab itu kembali kalau tidak melalui perkelahian.

"Kalau itu maumu, aku tidak punya pilihan lain! Kau yang memaksaku untuk menjadikanmu harimau mati! Aku tidak akan berlaku lunak lagi padamu, Siluman Harimau! Mulai sekarang kau bukan rekanku lagi!" tandas Donggala, keras.

Siluman Harimau kembali tertawa keras. Ancaman Donggala tidak membuatnya gentar. Bahkan tawanya berkesan melecehkan.

"Pada orang lain kau mungkin bisa mengucapkan kata-kata palsu seperti itu, Donggala. Tapi tidak padaku! Orang macam kau mana bisa dipercaya?! Jangankan aku yang tidak pernah menanam budi padamu, majikanmu yang demikian baik hati padamu saja kau balas dengan perbuatan keji!"

Hanya sampai di situ kata-kata Siluman Harimau. Donggala dengan kemarahan yang meluap-luap telah mendorongkan kedua tangannya bergantian ke depan secara perlahan. Angin dingin yang diiringi bau busuk menyengat berhembus ke arah Siluman Harimau.

"Ilmu 'Pukulan Racun Bunga Salju'..." desis Siluman Harimau begitu merasakan akibat pukulan Donggala. "Rupanya kau masih ingat ilmu jelekmu itu, Donggala, kendati kau lama menjadi budak tua bangka yang telah kau khianati itu...!"

Siluman Harimau melompat ke belakang. Ia bersalto beberapa kali untuk menjauhi Donggala. Kedua tangannya dipukulkan bertubi-tubi ke depan secara cepat. Seketika deru angin berhawa panas disertai bau sangit menguak. Bunyi letupan terdengar begitu dua angin pukulan itu bertemu di udara. Titik-titik air berjatuhan. Tanah kapur yang semula putih kekuningan langsung berubah hitam pekat seperti terbakar ketika terkena tetesan air.

Donggala, yang seperti juga Siluman Harimau, terhuyung-huyung ke belakang akibat benturan itu. Ia mendengus mengejek. "'Pukulan Seribu Macan Api'-mu masih cukup bagus, Siluman Harimau...!"

Meski kelihatan seperti memuji, Siluman Harimau tahu kalau Donggala mengejeknya. Tapi, dia malah tertawa. Tawa yang lebih mirip auman seekor harimau! Donggala menyambut tawa itu dengan terjangan. Ia mempergunakan 'Ilmu Pukulan Racun Bunga Salju' yang menjadi andalan. Siluman Harimau menyambutinya. Pertarungan antara mereka pun tidak bisa dielakkan lagi.

Dua tokoh itu sama-sama lihai. Mereka mempunyai ilmu yang memiliki dasar tenaga dalam berlawanan. Jalannya pertarungan tampak seru sekali. Siluman Harimau mempunyai gerakan yang cepat dan liar serta penuh dengan penyerangan. Sebaliknya, Donggala lebih memusatkan pada pertahanan. Gerakannya lambat tapi penuh dengan tenaga! Sebentar saja belasan jurus telah terlampaui. Selama itu jalannya pertarungan belum berubah. Dua kakek itu sama-sama tangguh!


"Donggala...! Manusia tak kenal budi! Kau harus mendapat hukuman atas kekejian yang kau lakukan terhadap Guru...!"

Seruan lantang penuh getaran kemarahan itu berkumandang. Keras dan berpengaruh hebat! Dinding-dinding kapur sampai bergetar keras. Pertarungan antara Donggala dan Siluman Harimau langsung terhenti. Kedua kakek itu bersamaan melompat mundur dan mengalihkan perhatian pada si pendatang baru.

"Kiranya kau, Lesmana. Sungguh besar nyalimu mengejarku, Bocah Bau Kencur? Pergilah cepat! Tinggalkan tempat ini! Atau, kau ingin kujadikan seperti tua bangka dungu yang menjadi gurumu itu...!" sahut Donggala dengan sikap meremehkan.

Pemilik seruan, Lesmana, seorang pemuda bertubuh tegap, dan berahang kokoh, mengepalkan tinju. Sepasang matanya menatap tajam ke arah Donggala, bak mata seekor burung elang mengincar mangsa! Tajam bukan main dan penuh ancaman!

"Kaulah yang akan kuseret ke hadapan Guru untuk mempertanggungjawabkan perbuatan biadabmu. Cepat serahkan Kitab Seribu Racun Tanpa Obat! Jangan tunggu sampai aku merampasnya darimu!"

"Ha ha ha...!" Siluman Harimau tertawa bergelak. Kakek itu kelihatan gembira sekali. "Donggala..., Donggala... Nasibmu jelek sekali. Seorang bocah yang baru lepas dari tetek ibunya berani mengancammu seperti itu!"

"Tutup mulutmu, Siluman Harimau!" sentak Donggala dengan wajah merah padam menahan amarah. "Setelah menghancurkan mulut bocah yang kurang ajar ini, kau pun akan kubereskan!"

Wajah Lesmana berubah. Ditatapnya Siluman Harimau. Dia telah mendengar banyak tentang tokoh itu. Seorang pentolan kaum sesat yang memiliki kepandaian amat tinggi. Kejam dan memiliki ilmu racun hebat! Jantung Lesmana berdebar tegang.

"Kau kelihatan kaget mendengar ucapanku, Bocah Sombong?!" dengus Donggala. "Tak menyangka kau akan bertemu dengan Siluman Harimau? Sebagai tambahan dan untuk menghilangkan kesombonganmu, kuberitahu kalau aku saingan terberat Siluman Harimau. Aku yakin tua bangka gila yang dungu itu telah bercerita banyak padamu!"

"Siapa kau sebenarnya, manusia tak kenal budi...?!"

"Orang yang kau kenal selama ini sebagai Donggala tak lain dari Mayat Sejuta Bunga, Pemuda Ingusan...!" selak Siluman Harimau sebelum Donggala memberikan jawaban.

Lesmana terjingkat ke belakang saking kagetnya. Dengan pandangan tak percaya ditatapnya Donggala. Kakek itu hanya mendengus.

"Sekarang tidak ada gunanya lagi, Pemuda Sombong! Meski kau merangkak-rangkak memohon ampun, aku tidak akan memenuhinya. Kesempatan yang tadi kuberikan tidak kau gunakan. Bersiaplah menerima kematian! Tapi, bisa jadi aku akan membiarkanmu pergi dari sini. Tentu saja dengan satu syarat! Kau harus memaki-maki gurumu. Dengan begitu mungkin aku akan memperbincangkan untuk tidak membunuhmu. Mungkin hanya kedua kakimu yang kuambil. Bagaimana?!"

"Sampai mati pun aku tidak sudi! Jangan kau kira aku takut. Apa pun yang terjadi kau akan kubawa ke hadapan guruku, Donggala!"

"Kalau begitu, mampuslah...!"

Donggala alias Mayat Sejuta Bunga membuka serangan dengan ilmu andalan. Lesmana tidak gentar. Pemuda ini berteriak keras bagai garuda murka. Tangannya didorongkan ke depan. Tidak hanya Mayat Sejuta Bunga, Siluman Harimau pun kaget melihat angin serangan Donggala terhempas balik. Siluman Harimau sendiri tidak mampu melakukan hal itu!

Mayat Sejuta Bunga marah bukan main. Ia merasa malu melihat hasil serangannya. Serangan yang lebih hebat pun dilancarkan. Tapi, Lesmana memang seorang pemuda luar biasa. Dia mampu menghadapinya dengan baik.

Setelah lima belas jurus pertarungan berlangsung, Mayat Sejuta Bunga kehabisan kesabaran. Ilmu andalannya penuh keistimewaan. Kekuatan tenaga dalam Lesmana membuat serangannya membalik sebelum mendekati sasaran. Malah, beberapa kali Mayat Sejuta Bunga sendiri yang mengisap hawa beracun dari serangannya. Tentu saja sebagai pemiliknya hal itu tidak berarti apa-apa.

Siluman Harimau kendati terkejut melihat kemampuan Lesmana, tak henti-hentinya mengeluarkan ejekan terhadap saingannya. Hal ini membuat kemarahan Mayat Sejuta Bunga semakin berkobar. Karena yakin Mayat Sejuta Bunga tidak akan bisa merobohkan Lesmana dengan cepat, Siluman Harimau dengan sikap seenaknya meninggalkan tempat itu.

Mayat Sejuta Bunga geram bukan main. Tapi, apa dayanya? Lesmana tidak membiarkan dia meninggalkan kancah pertarungan. Mayat Sejuta Bunga hanya bisa melihat sekejap kepergian Siluman Harimau. Kecil sekali kemungkinannya kitab yang dibawa Siluman Harimau dapat direbutnya. Itu terjadi karena kehadiran Lesmana. Maka, kepada pemuda itu luapan amarahnya dilampiaskan!

Mayat Sejuta Bunga melempar tubuh ke belakang menjauhi Lesmana. Pemuda itu mengejar seraya bersiap melancarkan serangan. Mayat Sejuta Bunga yang telah memutuskan untuk segera mengakhiri pertarungan, langsung bertindak. Kakek berpakaian putih ini menarik napas dengan kedua tangan dirangkapkan ke depan dada. Kemudian, cepat dihembuskannya.

Wangi bunga yang aneh menyebar dari sekujur tubuh kakek itu. Lesmana yang tidak memperhitungkan hal ini segera menahan napas. Namun, tindakan pemuda ini terlambat. Bau wangi itu keburu dihisapnya. Seketika rasa pusing menyergap. Tenaganya langsung lenyap. Tubuh Lesmana ambruk sebelum serangannya dirampungkan!

Mayat Sejuta Bunga menghembuskan napas berat. Itulah ilmu yang membuatnya dijuluki Mayat Sejuta Bunga. Sebuah ilmu yang hanya digunakan dalam keadaan terjepit. Bila lawan mampu segera menangkalnya, dia yang akan kehabisan tenaga. Ilmu itu memang banyak menguras tenaga.

Mayat Sejuta Bunga menghampiri Lesmana. Kemudian, ujarnya dengan sinis dan penuh ancaman:

"Kau akan menerima ganjaran atas perbuatanmu yang sok pahlawan, Pemuda Sombong!"

Disqus Comments