Selasa, 21 Juli 2026

Mustika Gaib Buyung Hok

Mustika Gaib -- Buyung Hok

Baca Online Mustika Gaib -- Buyung Hok

Cersil Mustika Gaib -- Buyung Hok

Sampul Ilustrasi Resensi & Sinopsis Novel Silat Klasik Mustika Gaib

Ulasan Kritis & Eksplorasi Sinopsis Mustika Gaib

Karya klasik cersil Mustika Gaib karya Buyung Hok menghadirkan narasi persilatan yang melintasi ruang geopolitik dinasti kuno Tiongkok, asimilasi budaya, hingga benturan spiritualitas yang sangat langka ditemukan dalam literatur wuxia pada umumnya. Karya ini tidak sekadar menyajikan jurus pedang dan pertarungan antar-tokoh, melainkan merajut elemen sejarah otentik—seperti dinamika Kerajaan Tang di bawah instruksi Kaisar Tang Tai Tsung serta ekspansi nilai-nilai kebudayaan dari benua Barat.

Bagi para pencinta petualangan dunia rimba persilatan yang ingin menikmati kisah sejenis dengan atmosfer perebutan pusaka legendaris dan konflik filosofi tingkat tinggi, Anda juga dapat membaca karya fenomenal lainnya dalam review Dewa Arak 77 Sengketa Guci Pusaka yang menyajikan dinamika pertarungan tak kalah mendebarkan.

Naskah Lengkap Cuplikan Cerita (Jilid 1 - Bab 1)

Mustika Gaib Saduran . Buyung Hok
Sumber DJVU . Dewi KZ & Aditya (Buku Sumbangan anelinda-store.com , trims yee)
Editor Text . Lynx & Mukhdan | Final Editor & Ebook oleh . Dewi KZ

*** Tiraikasih Website ***

Jilid 1 Bab 1

GERIMIS SALJU LAKSANA benang-benang sutera melayang turun ke bumi. Daun-daun pohon memutih tak bergoyang bagaikan kembang-kembang kapas menghiasi lereng gunung. Angin tiada berhembus, dunia laksana hampa tiada isi. Hawa udara dingin beku. Sejauh mata memandang, di sana-sini salju belaka, putih bertebaran dimuka bumi.

Tiada perduli daun atau ranting dan batang-batang pohon, tiada perduli jalan liku pegunungan di lamping-lamping gunung, semua memutih ditebali timbunan salju yang terus turun tiada hentinya.

Diantara kehampaan angin lereng gunung dalam gerimis salju itu tampak berlari mendaki lima orang berseragam hitam. Gerakan mereka sangat gesit, bagai bayang-bayang setan gentayangan di atas salju. Jenis lima bayangan tadi, sulit diketahui laki-laki atau perempuan, wajah mereka ditutupi selubung hitam, hampir menutupi seluruh mukanya, hanya bagian mata mereka tak tertutup selubung, sinar-sinar mata mereka memancarkan cahaya dingin menembusi gerimis salju di lereng gunung. Pada dada kiri setiap seragam yang dikenakan lima orang itu tampak terlukis sebuah gambar. Itulah lukisan Kalong putih mementangkan kedua sayap.

Mereka meluncur mendaki berliku di atas jalan bersalju berseliweran melewati batang-batang pohon di lereng itu, pandangan mata mereka dingin penuh kemisteriusan di bawah gerimis salju. Jauh di sana di atas puncak gunung hanya salju memutih bagaikan kapas. Selagi lima orang seragam hitam berselubung muka itu meluncur di atas salju, sayup-sayup terdengar suara bunyi kentrongan. Suara kentrongan itu sayup berirama panjang pendek, kemudian tak lama lenyap tiada terdengar lagi, ditelan kehampaan gerimis salju.

Haripun merayap gelap menjelang malam. Berbarengan dengan sirapnya suara kentrongan berirama tadi, mulai terdengar suara teriakan orang yang keluar dari atau lereng gunung. Suara teriakan itu berirama membawakan lagu bersifat seakan memanggil-manggil kalbu.

Mendengar suara aneh sayup-sayup itu, lima orang seragam hitam menghentikan gerakannya, dari balik-balik putihnya batang pohon mereka saling pandang satu sama lain. Mereka tidak mengerti apa maksud irama teriakan suara itu, tapi mereka tahu, itulah serangkaian kata bernada gelombang tinggi, rendah, panjang dan pendek, meskipun mereka tak mengerti apa arti dari suara itu. Lima orang itu berdiri seperti patung, tubuh-tubuh mereka disirami gerimis salju, kepala mereka menengadah ke atas memandang jauh dimana suara sayup-sayup tadi berkumandang datang.

Kalau tadi, lima orang itu bisa berjalan di atas salju dengan ringannya kini mereka berdiri tegak. kaki-kaki mereka yang mengenakan sepatu khusus jalan di salju itu mulai terbenam, perlahan-lahan amblas ditelan timbunan salju seakan suara sayup-sayup itu mengandung kekuatan magnit menekan diri mereka ambles ke dalam bumi. Suara irama teriakan sayup-sayup itu masih berkumandang terus menerobos rintikan gerimis salju, bertebaran keempat penjuru dunia dan lima orang seragam dan selubung hitam masih berdiri memaku mendengarkan suara teriakan irama lagu itu, yang mereka tidak mengerti apa maksudnya, mereka seperti ingin mengartikan apa maksud dari irama teriakan lagu terdengar sayup-itu yang masih memasuki telinga mereka, jelas bagaimana suara nada irama itu memasuki pendengaran mereka, dari mulai bergemanya......

"Allahu akbar Allahu akbar, Allahu akbar, Asyhadu alla ilaha illallah............."

Ayat demi ayat suara tadi sayup-sayup menggema mengumandang ke setiap pelosok permukaan bumi, hingga ayat terakhir. Tiada lama kemudian, suara itu lenyap tak terdengar lagi, haripun bertambah gelap. Lima orang tadi yang sejak mulai mendengar suara itu, berdiri mematung, kaki-kaki mereka sedikit demi sedikit terbenam ke dalam salju, dan begitu suara tadi sirap ditelan kegelapan gerimis salju itu mereka terjengkit kaget, mereka sadar kalau sudah dibuat bingung dengan bunyi suara tadi. Dengan serentak mereka lompat ke atas mengangkat kaki-kaki mereka yang terbenam di salju kemudian melanjutkan perjalanannya meluncur ke arah suara sayup-sayup tadi.

Suara asing apakah itu sebenarnya? Itu adalah suara adzan magrib dari balik-balik rimba di atas pegunungan.

Meluapnya semangat Islam menerobos dari barat memasuki perbatasan Tiongkok gelombang serangan semangat Islam itu, tak dapat dibendung oleh kerajaan Byzantium dan kerajaan Iran. Untuk menghadapi arus meluapnya semangat gelombang Islam itu pada tahun 640, kerajaan Iran meminta bantuan pada Kaisar Tang Tai Tsung dari Tiongkok, tapi kaisar Tang Tai Tsung tidak memberikan bantuan itu, hingga akhirnya kerajaan Iran tak berhasil membendung masuknya gelombang semangat Islam yang menyerang negerinya. Maka kerajaan itu jatuh dibawah pemerintah orang-orang Islam. Kerajaan Islam yang timbul pada tahun itu berbatasan dengan daerah kekuasaan Tiongkok, dan perlahan demi perlahan pengaruh Islam mulai merembes masuk ke dataran Tiongkok.

Di bawah rintiknya gerimis salju, lima orang berselubung dan berseragam hitam itu, meluncur terus ke arah datangnya suara adzan magrib tadi. Gerakan mereka terlalu cepat, sebentar saja mereka telah lenyap di balik bukit bersalju. Di bawah bukit itu tampak satu perkampungan terdiri dari enam buah wuwungan rumah. Dan di utara perkampungan terdapat sebuah bangunan yang lebih besar dan memiliki sebuah menara. Lima orang jubah hitam tadi memperhatikan perkampungan itu dari atas bukit, tampak atap-atap rumah tadi memutih dipenuhi salju. Kemudian salah seorang menunjuk ke arah bangunan yang bermenara, katanya dingin.

"Aku masuk kesana, kalian yang bunuh manusia-manusia penghuni perkampungan ini. Ingat jangan seorangpun dikasi hidup!"

Setelah memberi perintah tadi, dua orang seragam hitam meluncur turun menuju ke arah bangunan bermenara, dan tiga lainnya berpencaran ke pelosok perkampungan. Begitu dua orang seragam hitam tadi memasuki pintu rumah bermenara berlantai papan mereka menampak di dalam ruangan besar itu, belasan orang duduk berjejer menghadap ke barat, kepala-kepala mereka memakai pici. Di depan deretan jejeran orang-orang itu, tepat di tengah tampak duduk seseorang mengenakan pakaian putih, kepalanya memakai sebuah pici putih. Menyaksikan pemandangan itu, dua orang seragam hitam menghentikan langkah mereka di depan pintu, mereka saling pandang, lalu masing-masing mengeluarkan pedang, dan terdengar suara sreett...... dari pedang yang dicabut dari serangkanya.

Sementara itu, orang-yang duduk berderet di dalam ruangan itu terdengar suara.

"Assalam mualaikum......"

Berbarengan mana kepala mereka menoleh ke kanan, dan ujung jari mereka yang terletak ditekukkan lutut itu menunjuk ke muka. Dua orang berjubah hitam di belakang mereka dengan pedang terhunus mendengar suara ucapan itu, mereka tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kalimat tadi, dengan serentak mereka sudah maju, mengayun pedang mengarah pada batang leher orang-orang yang sedang duduk menghadap barat, yang belum lagi menyelesaikan ucapan kalimatnya.

Berbarengan dengan kelebatan sinar pedang, di dalam ruangan tadi terdengar suara kekagetan dari orang-orang yang masih duduk berjejer, tapi mereka tak sempat melihat apa yang terjadi karena secepat itu kepala mereka telah pada menggelinding jatuh di atas lantai papan. Darah mengambang di sana, lantai papan itupun jadi merah. Orang berbaju dan berpici putih yang duduk sendiri di paling depan ini, begitu mendengar suara keributan di belakangnya, ia menggosok wajahnya dengan dua tapak tangannya kemudian menoleh ke belakang, tapi begitu cepat sebuah pedang dari salah seorang seragam hitam itu telah menembusi dadanya, darah bermuncratan membasahi baju putihnya. Maka tak ampun lagi tubuh orang itupun terguling rebah di atas lantai papan tadi. Dari mulut orang itu terdengar sesuatu ucapan lemah.

"Asyhadualla illaha illallah, Wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah ... ."

Setelah mengakhiri kalimatnya orang itupun menghembuskan napasnya yang terakhir. Ucapan itu juga tidak dimengerti oleh kedua orang jubah hitam tadi. Setelah mereka membereskan orang-orang itu, mereka berjalan keluar, di depan pintu mereka berdiri memandang kearah rumah-rumah dalam perkampungan. Dari pintu-pintu rumah perkampungan tadi terdengar beberapa kali suara jeritan kematian disusul dengan suara menyebutkan kalimat seperti diucapkan oleh orang jubah putih berpici putih. Mendengar suara itu, kedua orang jubah hitam tadi yang baru saja membunuh belasan orang di dalam ruang bangunan bermenara pada menoleh ke belakang, memperhatikan mayat laki-laki berjubah putih berpici putih.

Dari gerak-gerak mimik muka dua orang seragam hitam itu yang tertutup oleh selubung hitamnya, tampak rasa ketakutan yang mencekam bathin mereka mendengar suara ucapan kalimat tadi. Setelah memandang mayat-mayat tadi sesaat mereka memasukkan pedang ke dalam serangka, dua orang itu lari keluar. Menyusul mana tiga orang lainnya, mereka berkumpul kembali berdiri saling pandang di tengah perkampungan.

"Sudah kalian bunuh semua?" Tanya si jubah hitam yang menjadi pimpinan dengan suara tergetar. Tiga orang jubah hitam tadi mengangguk kepala. Kemudian mereka meluncur meninggalkan perkampungan tadi.

Malam pun tambah kelam, gerimis salju masih turun terus, seakan tetesan-tetesan air mata malaikat turun ke bumi, menyaksikan kematian umat-umat Tuhan yang taat padaNya. Dunia berputar terus hari berganti, musim berganti musim, meninggalkan tahun-tahun yang lewat.


Bab: Latihan Keras & Awal Pertarungan Kang Hoo

"HAI-YAAAAA............!!!"

Berbarengan dengan suara teriakan dari dalam gerombolan pohon di bawah kaki bukit melesat sesosok bayangan putih melambung berputaran di tengah udara. Baru saja bayangan putih tadi melambung ke udara dibarengi dengan suara teriakannya, dari dalam gerombolan pohon kembali melesat ke udara sesosok bayangan kurus mengeluarkan suara desingan bagai suara tawon, mengejar sosok tubuh putih yang melambung indah di atas.

Sejenak terjadi gerak-gerak serangan beberapa jurus di tengah udara, kaki dan tangan bayangan putih yang melambung lebih dulu itu menyambut datangnya bayangan kurus mendesing. Suara desingan itu keluar dari tangan kanan bayangan kurus tadi yang berputar laksana kitiran. Kesiuran angin yang ditimbulkan dari gerak tempur beberapa jurus itu, membuat daun-daun gerombolan pohon di bawah mereka bergoyang-goyang.

Setelah terjadi benturan jurus-jurus yang keluar dari masing-masing kepandaian mereka, kedua bayangan itu mengeluarkan suara keluhan, keduanya berpentalan mundur dan jatuh kembali di antara gerombolan pohon.

Di bawah naungan lebatnya daun-daun pohon bayangan putih yang melambung lebih dulu ke udara tadi sudah berdiri dengan gagahnya ternyata ia adalah seorang pemuda, wajahnya bundar, sepasang matanya jeli keningnya lebar, bertubuh kekar. Tampak beberapa tetes keringat menetes di keningnya, melelehan di atas wajah tampannya. Napas pemuda itu agak tersengal-sengal, ia berdiri dengan sikap siap tempur menerima serangan dari lawan kurus yang juga sedang berdiri di depannya di bawah naungan ranting pohon.

Bayangan kurus itu adalah seorang tua berumur limapuluh tahunan, wajah kurusnya keriput, dari sinar matanya dapat diketahui bahwa ia memiliki ilmu silat, dan dari wajahnya bisa dipastikan bahwa ia bukan sembarang orang. Karena wajah itu mencerminkan kecerdikan dan kepandaiannya dalam ilmu Bun (surat) maupun ilmu Bu (silat). Di tangan kanan orang tua kurus itu mencekal sebatang tongkat bambu beruas tujuh, tongkat bambu tadi diputarnya perlahan di depan dirinya.

Angin yang keluar dari kesiuran putaran bambu itu, mengeluarkan suara desingan bagaikan suara tawon, membuat semak-semak di sekitarnya bergoyang. Orang tua kurus itu terdengar menggereng diantara suara desingan putaran bambunya, kemudian kaki kanannya maju kemuka disusul dengan gerakan kaki kiri mengikuti gerak kaki kanannya, mendekati pemuda baju putih yang siap menerima serangan.

Diantara kesiurannya angin, terdengar kibaran baju putihnya si pemuda. Kedua kaki pemuda itu memasang kuda-kuda kuat seakan tiang batu menjulang di permukaan bumi, kedua tangan pemuda tadi berkembang lurus sejajar dengan bahunya. Itulah gerak jurus Garuda mementangkan sayap.

Melihat sikap jurus pemuda itu seakan ia menyerahkan badannya dihajar oleh orang tua bertongkat bambu, karena tangan yang terentang itu bagaimana bisa dengan cepat melindungi dadanya bila ia mendapat serangan maut. Pemuda tadi begitu melihat orang tua kurus sudah merangsak maju sambil memutarkan tongkat bambunya. Ia juga sudah turut maju, kedua kakinya digeser ke depan sedang kedua tangannya masih tetap terpentang lebat.

Saat itu mendadak saja berbarengan dengan suara desingan tongkat bambu yang diputar di tangan. Si orang tua berteriak keras menyerbu si pemuda.

"Huaaaaaeeeeeeeeeetttt............"

Mendengar lawan sudah menyerang sambil mengeluarkan suara teriakannya, pemuda baju putih tidak mau kalah gertak, ia berteriak keras maju ke depan. Sambil mengeluarkan suara teriakannya.

"Haaaaaaahhhhhhh............."

Berbarengan dengan terdengarnya suara teriakan-teriakan tadi, serangan bambu tujuh ruas yang berputar mendesing itu, sudah membentur tubuh si pemuda. Pemuda baju putih tidak kalah ampuh gerakannya, begitu kitiran bambu itu datang membentur dirinya, kedua tangannya yang dipentang itu, berputar seperti mengikuti gerak arah putaran bambu tujuh ruas di tangan laki-laki tua itu.

Berbarengan dengan gerak putaran tangannya, mengikuti arah kitiran bambu, tubuh pemuda itupun turut berputar, kedua kakinya naik ke atas, dan kepalanya jumpalit miring ke samping. Pemuda itu melakukan dua kali gerak putaran tubuh demikian rupa, ternyata gerakan aneh itu berhasil mengelakkan datangnya serangan kitiran (putaran) bambu tujuh ruas yang mendesing.

Disqus Comments