Kamis, 23 Juli 2026

Dewa Arak 88 Puteri Teratai Merah

Dewa Arak 88 Puteri Teratai Merah

Cersil Dewa Arak 88 Puteri Teratai Merah

Baca Online Dewa Arak 88 Puteri Teratai Merah

Ulasan Khusus & Sinopsis Kritis: Mengapa Episode Ini Sangat Spesial?

Dalam jagat cerita silat (cersil) klasik Indonesia, episode Puteri Teratai Merah menandai babak krusial petualangan Arya Buana (Dewa Arak). Berbeda dengan episode sebelumnya, serial ke-88 ini menyajikan konflik emosional yang memadukan dendam masa lalu, misteri ilmu racun, dan intrik asmara terselubung di antara para jawara rimba persilatan.

Perseteruan lama antara tokoh-tokoh sepuh seperti Kamandaka (Pendekar Naga Emas) dan Putri Teratai Putih yang sempat terhalang oleh restu Prabu Banyak Santang kini berujung pada klimaks yang mengharukan. Bagi para penikmat sastra persilatan yang menyukai kisah bertema misteri identitas—seperti halnya dalam karya petualangan Pendekar Bego Can—serial Dewa Arak episode ini menghadirkan perpaduan aksi pencak silat tingkat tinggi dan kedalaman plot yang tiada duanya.


Cuplikan Naskah: Dewa Arak Episode Puteri Teratai Merah

Karya: Aji Saka | Hak Cipta Penerbit Cintamedia, Jakarta

Bunyi kukuk burung hantu terdengar memecah kesunyian malam. Langit tampak bersih. Hanya ada sedikit awan yang menggantung di sana. Itu pun tipis saja. Hingga, meskipun bulan hanya sepotong namun suasana terlihat cukup terang.

Dalam suasana seperti itulah tampak sesosok bayangan berkelebat cepat. Karena suasana cukup terang, sosok bayangan itu terlihat agak jelas. Sosok itu bertubuh tinggi kurus dan berpakaian serba hitam. Wajahnya putih pucat seperti orang berpenyakitan, sepasang matanya yang besar berwarna merah. Lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun ini berlari cepat menuju sebuah bangunan besar yang terlihat menjulang kokoh di kejauhan.

Larinya cepat bukan main hingga dua kakinya bagai tak menginjak tanah! Berkat ilmu larinya yang luar biasa, lelaki berpakaian serba hitam ini dalam waktu yang tidak terlalu lama tiba di tempat yang dituju. Tanpa mengendurkan kecepatan larinya, lelaki ini melompat ke atas pagar tembok yang mengurung bangunan besar itu. Pagar tembok setinggi dua tombak itu dilompatinya tanpa kesulitan sedikit pun.

Begitu dua kakinya menjejak tanah di dalam benteng, lelaki berpakaian serba hitam ini merendahkan tubuhnya. Sepasang matanya yang berwarna merah diedarkan ke sekeliling. Tempat itu tampak sepi. Sama sekali tak ada tanda-tanda tempat itu dijaga. Padahal, tempat itu milik seorang bangsawan kaya di kota tempatnya berada.

Lelaki berpakaian serba hitam mengulas senyum tipis. Senyum yang menimbulkan kesan dingin dan menyeramkan pada wajahnya yang pucat.

"Rupanya bangsawan dungu itu sama sekali tidak curiga kalau malam ini ajalnya akan tiba. Bagus! Ini akan memudahkan pekerjaanku!" desis lelaki berpakaian serba hitam di dalam hati.

Kembali bayangan lelaki berpakaian serba hitam melesat cepat. Sasaran yang ditujunya kali ini sebuah bangunan kecil di belakang bangunan utama. Dalam beberapa kali kelebatan saja, dia telah tiba di tempat yang dituju. Setelah mengamati sejenak tempat di sekitarnya, lelaki berpakaian serba hitam ini mengulurkan sepasang tangannya ke arah pintu.

Brak...!

Pintu dari kayu jati yang cukup tebal itu hancur berantakan terpukul dorongan sepasang tangan lelaki berpakaian serba hitam. Tanpa membuang waktu lagi, lelaki itu melangkah masuk. Dari dalam tempat itu terdengar jeritan membahana penuh ketakutan.

"Siapa kau?! Mau apa malam-malam begini mendobrak masuk ke dalam kamar kami?!" seru seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang berada di atas pembaruan bersama seorang wanita muda berwajah cantik yang tampak ketakutan.

"Aku orang yang diutus untuk mencabut nyawamu, Kanjeng Lelar!" sahut lelaki berpakaian serba hitam dingin dan penuh ancaman.

"Mencabut nyawaku?! Siapa orang yang telah membayarmu?!" seru Kanjeng Lelar dengan wajah pucat pasi. Dia sadar betul kalau orang di depannya bukan orang sembarangan. Mampu menghancurkan pintu kayu tebal dengan sekali dorongan tangan saja, jelas menandakan kalau tingkat kepandaian orang itu amat tinggi.

"Siapa yang membayarku tidak penting bagimu, Kanjeng Lelar. Yang penting bagimu sekarang adalah bersiap-siaplah untuk mampus!"

Selesai berkata demikian, lelaki berpakaian serba hitam melangkah maju. Sepasang tangannya diangkat ke atas. Dari sepasang telapak tangannya memancar sinar berwarna merah darah yang redup namun memancarkan hawa dingin yang amat menusuk tulang.

Kanjeng Lelar yang sama sekali tidak memiliki keahlian dalam ilmu beladiri, tak mampu berbuat banyak. Lelaki setengah baya ini hanya bisa menjerit ketakutan seraya memeluk wanita muda di sampingnya.

Desh...! Desh...!

Dua pukulan jarak jauh melesat cepat menghantam Kanjeng Lelar dan wanita muda di sampingnya. Seketika itu juga kedua orang itu terkulai tak bernyawa lagi. Dari mulut, hidung, telinga, dan mata mereka mengalir darah segar berwarna hitam pekat.

Lelaki berpakaian serba hitam terkekeh dingin. Ditatapnya dua sosok tubuh yang kini telah menjadi mayat itu dengan pandangan puas.

"Satu tugas telah diselesaikan dengan baik..." gumam lelaki berpakaian serba hitam.

Selesai bergumam, lelaki ini memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari dalam kamar. Namun, baru saja dua kakinya melewati ambang pintu, langkahnya terhenti. Sepasang matanya yang besar dan berwarna merah menatap tajam sosok tubuh yang berdiri tenang di halaman bangunan kecil itu.


Sosok tubuh yang berdiri di halaman adalah seorang pemuda tampan berpakaian ringkas warna biru. Di punggungnya terikat sebuah bintalan kain berwarna hitam dan sebuah caping bambu. Wajahnya yang tampan tampak tenang tanpa bayangan ketakutan sedikit pun.

"Siapa kau, Pemuda?" tanya lelaki berpakaian serba hitam dengan suara dingin dan serak.

Pemuda bertubuh tegap berpakaian biru ini tak lain adalah Arya Buana atau yang lebih dikenal di jagat persilatan dengan julukan Dewa Arak!

Arya Buana tersenyum tipis. Ditatapnya lelaki berpakaian serba hitam itu dengan tenang.

"Siapa aku tidak penting bagimu, Kisanak. Yang jelas, perbuatanmu malam ini sungguh terlalu kejam! Apa dosa Kanjeng Lelar dan istrinya hingga kau tega membunuh mereka dengan cara sekeji itu?"

Lelaki berpakaian serba hitam mendengus dingin. Matanya menyipit menatap Arya Buana.

"Bocah pemula! Kau tidak tahu apa-apa tentang urusan ini, jadi jangan mencampuri urusanku kalau kau masih sayang pada nyawamu! Pergilah dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran!"

"Tugas seorang pendekar adalah membela yang lemah dan membasmi kejahatan, Kisanak. Bagaimana mungkin aku bisa tinggal diam melihat kejahatan terjadi di depan mataku?" sahut Arya Buana tenang namun mengandung kekuatan tegas yang tak bisa dibantah.

"Ha ha ha...! Rupanya kau seorang sok pahlawan yang ingin mencari nama di jagat persilatan! Baiklah, kalau kau memang sudah bosan hidup, akan kupenuhi permintaanmu!"

Tanpa banyak bicara lagi, lelaki berpakaian serba hitam itu menghentakkan tubuhnya melesat ke depan. Sepasang tangannya dihantamkan bergantian ke arah dada Arya Buana. Angin pukulan berhawa dingin disertai bau amis darah berhembus deras!

Arya Buana yang maklum kalau lawan di depannya menggunakan ilmu racun tingkat tinggi, tidak berani menganggap enteng. Dewa Arak menggeser kakinya ke samping kanan setengah langkah. Tubuhnya miring secara luar biasa sehingga angin pukulan beracun itu hanya lewat beberapa senti dari dadanya.

Wut...! Wut...!

"Ilmu gipsi yang lumayan, Kisanak. Tapi belum cukup untuk mencabut nyawaku!" ujar Arya Buana seraya mengibaskan lengan bajunya.

Serangan balasan dari kibasan lengan baju Arya Buana mendatangkan gelombang angin murni yang amat dahsyat. Lelaki berpakaian serba hitam terkejut bukan main. Dia terpaksa melompat mundur dua tombak ke belakang untuk menghindari benturan angin tenaga dalam tersebut.

"Ilmu apakah yang kau pergunakan tadi, Bocah?!" seru lelaki berpakaian serba hitam dengan nada tak percaya.

"Bukan ilmu yang istimewa, hanya sekadar ilmu pertahanan diri sederhana," jawab Arya Buana sambil tersenyum tenang.

"Kurang ajar! Jangan berlagak sombong kau!"

Lelaki serba hitam itu kembali menerjang dengan jurus-jurus yang lebih berbahaya. Pertarungan sengit di tengah kegelapan malam di halaman kediaman Kanjeng Lelar pun tak terelakkan lagi. Kedua tokoh ini saling mengadu kepandaian dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh mata telanjang biasa.

"Siapa pun kau sebenarnya yang mengutus pembunuh berdarah dingin ini, kebenaran pasti akan terungkap di akhir kisah!" batin Arya Buana di tengah kecamuk pertarungan.

Disqus Comments