Selasa, 21 Juli 2026

Badik Buntung GKH

Badik Buntung -- GKH

Baca Online Badik Buntung -- GKH

Cersil Badik Buntung -- GKH

Restorasi Sampul Klasik: Badik Buntung Saduran GKH — Karya Seni Silat Nusantara

Ulasan Eksklusif & Analisis Karakter

Dunia persilatan (Kangouw) selalu menyajikan intrik berdarah demi memperebutkan pusaka legendaris. Dalam kisah klasik Badik Buntung karya GKH, pembaca diajak menyelami konflik batin pemuda berbakat Hun Thian-hi. Sebagai murid dari tokoh legendaris Lam-siau (Seruling Selatan), ia harus menanggung beban amanat sang ayah untuk merebut kembali senjata ampuh Badik Buntung yang dirampas dengan tipu muslihat.

Bagi Anda penggemar fanatik serial pendekar seperti pada Kisah Petualangan Dewa Arak 85 Golok Kilat, jalinan cerita Badik Buntung ini menawarkan dinamika jurus pedang dan pertarungan Lwekang yang tak kalah mendebarkan serta sarat pesan moral filosofis.

Cuplikan Cerita Badik Buntung (Bab 1 & 2)

Catatan Pengantar: "Kabut malam menyelimuti kota Hangciu, menjadi saksi bisu kembalinya pusaka berdarah yang memicu pertumpahan darah di antara para perwira rimba hijau."

Kabut malam mulai menyelimuti seluruh kota Hangciu. Disebelah timur kota Hangciu terdapat sebuah bangunan gedung mentereng yang berdiri megah dan angker dikegelapan malam. Dari dalam gedung yang megah dan angker ini lapat-lapat terdengar gelak tawa orang banyak.

Seorang pemuda mengenakan jubah panjang warna putih, seperti pemuda pelajar umumnya tengah beranjak cepat menuju ke arah gedung besar ini, pemuda itu berpaling menengadah melihat cuaca, memandang sang putri malam yang memancarkan cahayanya yang terang cemerlang. Ditimpah cahaya sang bulan purnama kelihatan sikap tegas dan watak keras dari wajah pemuda yang putih cakap itu.

Sejenak ia berhenti mengamat-amati gedung besar dihadapannya, ujung mulutnya mengulum senyum, sedikit pundaknya bergoyang gerak tubuhnya sudah terbang tinggi ke tengah udara langsung melesat ke atas wuwungan ruangan besar terus meluncur turun memasuki ruangan pesta itu. Suara tawa dan percakapan ramai dalam ruangan besar seketika sirap.

Dengan berputar tubuh pemuda itu menjelajahkan pandangannya keseluruh ruang besar itu. Penerangan terpasang terang benderang, meja besar perjamuan berputar tiga lingkaran. Yang terletak paling tengah sana duduk seorang tua bermuka merah, dua lilin besar dibelakangnya tengah terbakar menyala menerangi sebuah huruf "SIU" (panjang umur) yang besar dari kertas mas. Semua mata memandang heran ke arah sipemuda. Mereka merasa takjub akan kepandaian silatnya begitu lihai sampai sudah mendarat di dalam ruangan besar itu baru hadirin mengetahuinya.

Setelah berputar memeriksa keadaan seluruh ruangan pesta ini sipemuda langsung menghadap ke arah si orang tua bermuka merah itu, serunya sambil menjura:
"Siautit Hun Thian-hi, mendapat perintah dari orangtua untuk menyampaikan salam panjang umur, setindak telah terlambat harap paman suka memberi maaf!"

Waktu Hun Thian-hi memperkenalkan diri, si orang tua muka merah mengerutkan kening dan mengunjuk rasa heran dan curiga, dengan tajam ia awasi Hun Thian-hi bibirnya bergerak seperti hendak berkata apa, tapi urung diucapkan. Selanjutnya air mukanya lantas menunjukkan rasa kejut dan marah. Sekilas kedua biji matanya melirik keseluruh ruang, sekejap saja wajahnya berubah lagi menjadi beringas dan gusar.

Hun Thian-hi seakan tidak merasa dan tidak tahu akan segala perubahan air muka si orang tua muka merah, acuh tak acuh seperti anak kecil yang tertarik akan sesuatu yang memincut hatinya ia berputar dan celingukan menatapi satu persatu seluruh hadirin. Setelah sepasang mata tajam berkilat menerawang seluruh isi ruang pesta ini, ujung mulutnya lagi-lagi menampilkan senyum dikulum. Mendadak berkelebat cahaya aneh dan mengejutkan terpancar dari kedua biji matanya tanpa merasa sebelah tangannya mengelus Seruling batu pualam di pinggangnya.

Ternyata bahwa di kedua samping kiri kanan si orang tua merah duduk sepasang muda mudi, sorot pandangan mereka berdua juga berkilat mengandung ketajaman yang luar biasa, pandangan muda-mudi itu juga tertuju ke arah dirinya. Dengan muka gusar si orang tua muka merah membentak kepada Hun Thian-hi:

"Siapa kau? Berani kau mengaku sebagai putra Hun Siau-thian Hun-toako untuk menyampaikan salam hormat kepadaku?"

Seluruh hadirin yang terdiri dari orang-orang gagah persilatan terkejut, begitu mendengar nama Hun Siau-thian disebut. Harus diketahui bahwa Hun Siau-thian adalah tetua dari Bulim-samciat pada dua puluh tahun yang lalu, dengan menggembol dan bersenjatakan Badik Buntung ia belum pernah mendapat tandingan di seluruh jagat. Selama dua puluh tahun terakhir jejaknya menghilang tak karuan paran. Sungguh di luar dugaan hari ini ada seseorang yang berhubungan dekat dengan beliau muncul di sini menyampaikan salam hormat.

Hun Thian-hi mengulum senyum tawar, katanya pelan-pelan:
"Jangan takut! Aku tidak akan menuntut balas, kedatanganku ini hanya mau minta balik badik buntung saja, apa kau minta bukti?" — dari dalam lengan baju tangan kanannya ia melolos keluar sarung pedang pendek sepanjang satu kaki entah terbuat besi atau mas, yang terang sarung Pedang ini memancarkan cahaya terang terus diangsurkan ke depan orang tua muka merah.

Seluruh hadirin bertambah kejut dan heran lagi. Badik buntung sudah menghilang ikut lenyapnya Hun Siau-thian selama dua puluh tahun, tak duga bisa berada di sini! Merah padam muka si orang tua, mendadak ia berjingkrak bangun terus membentak sambil menuding Hun Thian-hi:

"Badik buntung berada di tangan Hun Siau-thian, seluruh orang gagah di jagat ini mengetahui. Siapa kau sebenar-benarnya? Kau kira aku Hoan-thian-chiu Su Tat-jin gampang dihina dan dipermainkan?"

Baru lenyap suara Su Tat-jin, seseorang yang duduk di sebelah samping kanannya sudah bergegas berdiri serta serunya: "Su Toako, biar kuberi hajaran kepadanya!"

Kalem saja Hun Thian-hi memutar tubuh menghadapi si orang pembicara ini, dengan seksama ia awasi orang ini. Kiranya seorang Tosu pertengahan umur mengenakan jubah pendeta warna hijau mulus. Matanya juling seperti mata garuda menyorotkan sinar dingin mendelik ke arah dirinya. Sekonyong-konyong wajah putih Hun Thian-hi menampilkan senyum tawa yang aneh. Seketika si Tosu itu berhenti dan berdiri melongo, matanya berkilat ragu-ragu, agaknya tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah melihat senyum tawa Hun Thian-hi yang penuh arti itu.

📌 Poin Intrik Cerita:

  • Kemunculan Senjata Rahasia: Kehebohan di ruang pesta akibat ilmu seruling giok pualam milik murid Lam-siau.
  • Siasat Licik Su Tat-jin: Kebohongan dan pemicu perangkap pisau terbang di balik ranjang kamar pribadi.
  • Pertarungan Giok-hong-gay: Bentrok dua aliran raksasa Lam-siau (Seruling Selatan) melawan Pak-kiam (Pedang Utara).

"Harap tanya siapakah gelaran Totiang ini?" tanya Hun Thian-hi dengan nada mengejek. Tiba-tiba Tosu pertengahan umur ini tersentak kaget seperti sadar dari suatu lamunan, dimakluminya sekarang bahwa senyum tawa Giok-liong tadi hakikatnya mengandung sindiran dan memandang ringan dirinya, saking gusar selebar mukanya menjadi merah padam, teriaknya: "Hun-tiong-it-ho Ling-ci-cu itulah aku adanya!"

Habis berkata kakinya terus bergerak menubruk maju ke hadapan Hun Thian-hi disertai dengan mulutnya membentak: "Lihat pukulan!" Sebelah tangannya tahu-tahu nyelonong menjotos ke dada Hun Thian-hi. Hun Thian-hi sedikit menekuk dengkul lalu menggeser mundur, ringan sekali tubuhnya ikut berputar menghindar. Maka pukulan lawan dengan mudah sekali dapat dihindarkan menyambar lewat di samping dadanya terpaut seurat saja.

Ling-ci-cu menggerung murka, tangan kiri berputar menyusul tiba terus menepuk ke punggung Hun Thian-hi. Sambil tetap mengulum senyum Hun Thian-hi menggoyangkan sedikit badan, indah sekali ia bergaya berkelit dari serangan musuh. Gerak tubuhnya enteng laksana awan mengembang seperti air mengalir ia main mundur ke tengah ruangan, di mana sepasang matanya berkilat menyapu pandang ke seluruh keadaan meja perjamuan dalam ruang pesta besar ini.

Disqus Comments