Dewa Arak 95 Empu Jangkar Bumi
Cersil Dewa Arak 95 Empu Jangkar Bumi
Baca Online Dewa Arak 95 Empu Jangkar Bumi
Eps 1 Empu Jangkar Bumi
Mulai baca dan ikuti alur cerita episode pertama melalui diskusi resmi Komunitas Cerita Silat di Facebook: Baca Episod 1 di FB.
Eps 2 Empu Jangkar Bumi
Kelanjutan konflik dunia persilatan di episode kedua dapat disimak di sini: Baca Episod 2 di FB.
Eps 3 Empu Jangkar Bumi
Pertarungan jurus-jurus sakti semakin sengit di episode ketiga: Baca Episod 3 di FB.
Eps 4 Empu Jangkar Bumi
Aksi persilatan memuncak pada episode keempat yang penuh intrik: Baca Episod 4 di FB.
Eps 5 Empu Jangkar Bumi
Puncak klimaks dari pertarungan para pendekar dapat dibaca selengkapnya di: Baca Episod 5 di FB.
Untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai intrik dan kisah para pendekar klasik lainnya, Anda dapat bergabung di grup komunitas Facebook Komunitas Cersil Online.
Serial Dewa Arak: Episode Empu Jangkar Bumi
Bagi Anda penggemar kisah pendekar persilatan tanah air, baca juga kisah legendaris yang tidak kalah seru dalam ulasan Kisah Persilatan Badik Buntung GKH yang menyajikan pertarungan sengit di rimba persilatan.
Karya: Aji Saka | Cetakan Pertama | Penerbit Cintamedia, Jakarta | Penyunting: Tuti S.
Sang surya baru saja muncul di ufuk timur dengan sinarnya yang menyala. Perlahan sinarnya yang hangat itu menyeruak ke persada alam. Sementara itu kicau riang burung-burung terdengar riuh mengiringi langkah tiga sosok tubuh yang baru keluar dari dalam Hutan Karet...
Mereka terdiri dari dua orang lelaki dan seorang wanita berusia sekitar empat puluhan. Gerakan mereka sigap dan gesit. Senjata-senjata yang tersampir di punggung dan terselip di pinggang cukup menjadi petunjuk, kalau mereka memiliki ilmu bela diri!
Kini mereka berhadapan dengan padang ilalang yang cukup luas. Tinggi ilalang yang hanya sebatas pinggang itu, tak mengganggu pemandangan mereka. Beberapa tindak sebelum melintasi padang ilalang, tiga sosok itu menghentikan langkahnya. Pandangan mereka tertuju lurus ke depan, di tengah-tengah kerimbunan rerumputan.
Di tempat itu tampak tertancap sebuah tongkat hitam kelam. Pada bagian atas tongkat terdapat tengkorak kepala manusia berwarna merah darah! Tampak mengiriskan!
"Apakah aku tak salah lihat?!" desis salah seorang lelaki yang berpakaian coklat. Tubuhnya jangkung dan kurus. Suaranya terdengar bergetar seperti tengah menahan luapan perasaan. Paras dan sinar matanya tampak memperlihatkan keterkejutan, kegentaran, dan kengerian hati!
"Apa artinya, Kang Abiyasa?!" tanya wanita berpakaian hijau pupus yang berwajah cukup cantik meski sudah berusia cukup lanjut. Tahi lalat cukup besar yang terdapat di dagunya menambah kecantikannya.
Lelaki satunya lagi, yang mengenakan pakaian abu-abu dan berkulit kehitaman, tak mengajukan pertanyaan. Tapi, paras dan sorot matanya yang tertuju pada Abiyasa, menandakan pengertian yang sama. Abiyasa malah menghela napas berat sebelum memberikan jawaban. Seakan-akan ada sesuatu yang memberatkan hatinya.
"Aku juga tak yakin akan dugaanku ini, Wati," ujar lelaki berpakaian coklat itu bernada tak yakin. "Hanya saja..., sepengetahuanku... ciri seperti itu merupakan pertanda adanya Setan Tengkorak Merah...."
"Setan Tengkorak Merah?!" ulang lelaki berkulit kehitaman, tanpa bisa menyembunyikan perasaan kagetnya.
"Setan Tengkorak Merah? Siapa dia, Kang Antasena? Julukannya demikian mengerikan?" tanya wanita yang bernama lengkap Jembawati, lagi. Kali ini ditujukan pada lelaki berpakaian abu-abu.
Antasena mengangkat kedua bahunya, ketika bentrok pandangan dengan Jembawati yang sinar matanya menghendaki jawaban. Lelaki berkulit kehitaman itu malah melemparkan pandangan pada Abiyasa. "Entahlah, Wati. Aku hanya sedikit mengetahui perihal Setan Tengkorak Merah. Tapi, aku yakin Kakang Abiyasa tahu banyak tentang tokoh yang terkenal sakti dan amat kejam itu," jelas lelaki berkulit kehitaman ini, sekadarnya.
"Tahu banyak sih, tidak, Anta," jawab Abiyasa, merendah. "Yang jelas berita tentang Setan Tengkorak Merah yang kudengar. Dan, menurut berita yang sampai ke telingaku, Setan Tengkorak Merah adalah seorang datuk sesat yang memiliki kepandaian menakjubkan, dan kekejaman yang tak masuk akal. Selentingan kabar mengatakan kalau dia berasal dari pulau di seberang lautan. Tokoh itu berasal dari Aceh. Dia melarikan diri dari wilayah Kerajaan Aceh karena diburu oleh orang-orang kerajaan. Dia dijuluki Setan Tengkorak Merah setelah menginjakkan kakinya ke tanah Jawa Barat ini dan menyebarkan kekacauan! Entah siapa nama aslinya, kurasa tak ada seorang pun yang tahu. Bukan tak mungkin, iblis itu sendiri pun lupa, karena dia berada di tanah Jawa Barat ini sudah hampir dua puluh tahun."
"Apakah di tanah kelahirannya dia juga termasuk tokoh hitam, Kang?!" tanya Jembawati lagi, penuh rasa ingin tahu.
"Menurut berita yang kudengar sih, tidak," jawab Abiyasa, ragu-ragu. "Dia diburu karena dulu sewaktu Kerajaan Aceh masih di bawah kekuasaan Kerajaan Pedir, Setan Tengkorak Merah adalah seorang algojo, yang mengirim banyak orang dari Kerajaan Aceh ke akhirat."
Jembawati dan Antasena mengangguk-anggukkan kepala seperti layaknya orang yang mengerti. "Berarti..." Antasena membuka suara, lambat-lambat. "Sudah lebih dari dua puluh tahun Setan Tengkorak Darah tinggal di tanah Jawa Barat ini, Kang?! Nama besarnya saja sudah terdengar dan mengakui dirinya sebagai salah seorang dari pentolan kaum sesat sekitar dua puluh tahun."
"Ya, kira-kira demikianlah," ujar Abiyasa membenarkan. "Waktu pastinya aku tak yakin, tapi yang jelas sekitar dua puluh tahunan," tambahnya.
Suasana kembali hening ketika Abiyasa tak berbicara lagi. Keheningan yang tak menyenangkan, karena ketiga orang itu tak berani melanjutkan langkahnya lagi dan hanya terpaku menatap tongkat bergagang tengkorak kepala manusia berwarna merah!
"Kudengar...," ujar Antasena tiba-tiba memecah keheningan. "Setan Tengkorak Merah lenyap dari dunia persilatan beberapa bulan yang lalu."
"Benar, Anta," Abiyasa menganggukkan kepala. "Menurut selentingan kabar, datuk sesat itu dikalahkan oleh seorang tokoh sakti! Setelah itu, beritanya sudah tak terdengar lagi. Lenyap begitu saja bagai ditelan bumi."
"Ah...!" desis Antasena dan Jembawati, kaget. Kedua orang itu saling berpandangan. Wajah mereka menampakkan perasaan terkejut. Sungguh tak pernah disangka, terutama sekali oleh Antasena, kalau Setan Tengkorak Merah dapat juga dikalahkan orang!
"Oleh karena itu," lanjut Abiyasa tanpa mempedulikan keterkejutan yang masih membelit hati Jembawati dan Antasena. "Aku masih tak yakin kalau benda itu ditancapkan oleh Setan Tengkorak Merah! Bukankah dia sudah cukup lama lenyap?!"
Ancaman Kemunculan Tengku Daud
"Ha ha ha...!" Tawa keras yang menggelegar tiba-tiba, membuat Abiyasa menghentikan ucapannya. Semula, lelaki itu masih hendak melanjutkan bicaranya dan mencari kata-kata yang tepat untuk menyambung pendapatnya. Abiyasa terkejut bukan main. Bahkan bukan hanya dia saja. Antasena dan Jembawati pun demikian. Tidak hanya rasa kaget, tapi juga perasaan tegang menyelimuti hati mereka semua.
"Benarkah Setan Tengkorak Merah yang datang?! Setan Tengkorak Merahkah yang tertawa?!" tanya mereka dalam hati.
Dengan jantung berdetak kencang, mereka menunggu keluarnya pemilik tawa itu. Tapi, sampai beberapa lama menunggu, orang yang mereka harapkan tak juga keluar. Bahkan tanda-tanda kemunculannya pun tak terlihat sama sekali.
Perasaan tak sabar untuk segera mengetahui pemilik tawa itu membuat Abiyasa, Antasena, dan Jembawati, mencoba untuk mengira-ngira tempat beradanya orang yang mereka maksudkan. Setidak-tidaknya, asal tawa itu. Tapi, betapapun ketiga orang itu sudah mengerahkan seluruh kemampuannya, tetap saja tak mampu mengetahui asal suara itu. Tawa itu seperti berasal dari delapan penjuru.
"Aku tak bisa memperkirakan asal tawa ini, Kang," ujar Antasena dengan suara putus asa.
"Aku pun tak bisa, Anta," sahut Antasena dengan bola mata berputaran ke sana kemari untuk mencari tahu keberadaan si pemilik tawa. "Tapi, aku yakin kalau pemilik tawa itu adalah Setan Tengkorak Merah!"
"Mengapa kau menduga demikian, Kang?!" kali ini Jembawati yang mengajukan pertanyaan tanpa menyembunyikan perasaan takutnya.
"Menurut kabar yang kudengar, Setan Tengkorak Merah memiliki Tenaga Dalam Delapan Sudut. Dan aku yakin, Iblis itu menggunakan tenaga istimewanya ketika tertawa sehingga membuat asal tawanya seperti berasal dari delapan penjuru. Jadi, kupikir..., tak ada gunanya lagi kita bertindak seperti ini. Lebih baik kita menunggu dan bersikap waspada. Aku yakin, iblis ini akan datang menemui kita, bila dia memang merasa mempunyai keperluan dengan kita bertiga."
Antasena dan Jembawati tidak memberikan tanggapan sama sekali. Tapi, dari wajah mereka tampak bahwa mereka membenarkan ucapan Antasena. Setelah Antasena menghentikan ucapannya, secara tiba-tiba saja suara tawa itu lenyap.
Sesaat kemudian, berkelebat sesosok bayangan dari kerimbunan ilalang. Gerakannya secepat kilat sehingga tak terlihat jelas bentuknya. Yang tampak hanya sekelebatan bayangan hitam. Dan terlihat jelas ketika sudah menghentikan gerakannya dan berdiri di atas tongkat yang tertancap di tanah dengan mempergunakan kepala! Sementara kedua kaki sosok hitam itu menjulang ke angkasa.
Abiyasa, Antasena, dan Jembawati terperanjat melihat tingkah sosok hitam yang aneh itu. Mendarat saja kok, mesti menggunakan kepala. Apakah berlari pun mempergunakan kepala?! Berjalan pun demikian?! Tanya ketiga orang itu dalam hati. Keterkejutan akhirnya melanda mereka, karena mengetahui sosok hitam itu memiliki kepandaian tinggi. Karena, hanya tokoh berkepandaian tinggi sajalah yang dapat mendarat di ujung tongkat tanpa tubuh atau pun tongkat bergeming sedikit pun juga.
Di samping terkejut, kelegaan hati pun melanda ketiga orang itu, terutama Abiyasa. Semula mereka mengira sosok yang akan muncul adalah sosok ringkih seorang kakek. Ternyata dugaan mereka itu, keliru!
Di atas tongkat, menempel seorang pemuda bertubuh kecil pada bagian atas tengkorak kepala manusia itu. Wajahnya cukup tampan, tapi karena kurusnya dan juga kulitnya yang pucat seperti orang penyakitan, sehingga kelihatan menyolok dan menyeramkan!
"Apakah kalian murid-murid dari Empu Jangkar Bumi?!" tanya pemuda berwajah pucat itu bernada mengancam.
Sambil bertanya demikian, pemuda berpakaian hitam itu mengedarkan pandangan. Ditatapnya Abiyasa, Antasena, dan Jembawati satu persatu dengan sinar mata penuh selidik tapi terkesan memandang rendah! Tetapi ketiga orang itu tidak memberikan jawaban.
Jembawati dan Antasena menyerahkan seluruh urusan pada Abiyasa. Di lain pihak, lelaki berpakaian coklat itu masih balas memperhatikan orang yang mengajukan pertanyaan padanya. Pemuda kecil itu ternyata bukan termasuk orang yang memiliki kesabaran besar. Sepasang matanya memancarkan maut saat menatap tiga orang di hadapannya yang belum juga memberikan jawaban atas pertanyaannya.
"Anjing-anjing Tuli...! Apakah kalian murid-murid anjing buduk yang bernama Keparat Empu Jangkar Bumi?!" tanya pemuda berpakaian hitam lagi. Suaranya kali ini lebih keras dan kasar.
"Tutup mulutmu, Manusia Penyakitan!" bentak Abiyasa karena tak kuasa menahan amarahnya dihina seperti itu. "Dengar baik-baik, kami bukan anjing-anjing dan juga tidak tuli! Matamulah yang harus diperiksa karena salah melihat! Pasang telingamu, agar tak salah mendengar! Benar, kami adalah murid-murid dari Empu Jangkar Bumi! Lalu, kau mau apa?!"
"Ha ha ha...! Kebetulan sekali! Memang sudah lama aku ingin bertemu dengan empu keparat itu atau dengan muridnya. Tak kusangka bisa bertemu di sini. Jadi aku tak perlu repot-repot untuk mendatangi tempat kalian yang buruk!" ejek pemuda berpakaian hitam dengan suara lantang dan keras.
Abiyasa menggertakkan giginya menahan geram. Ejekan yang diberikan pemuda jangkung terlalu menyakitkan. Meskipun sudah dapat menduga kalau pemuda berpakaian hitam itu memiliki kepandaian luar biasa, Abiyasa tak menjadi gentar. Kemarahannya rupanya menghilangkan pertimbangannya. Apalagi setelah diyakini kalau pemuda yang berada di depannya bukan Setan Tengkorak Merah! Tokoh sakti pelarian dari Aceh itu diyakini Abiyasa sudah berusia lanjut! Dan, pemuda di depannya paling banyak baru berusia dua puluh delapan tahun!
Kemarahan besar yang melandanya dan keyakinan kalau sosok di depannya itu bukan Setan Tengkorak Merah, mendorong keberanian Abiyasa. Bahkan sekarang lelaki berpakaian coklat itu mengayunkan kaki mendekati calon lawannya.
"Mulutmu terlalu lancang, Manusia Penyakitan!" bentak Abiyasa dengan suara bergetar karena kemarahan yang menggelora. "Kami tak mengenalmu, dan kami yakin, guru kami, Empu Jangkar Bumi pun tak mengenalmu! Mengapa kau bersikap demikian kurang ajar dan lancang?! Kami, selaku murid-murid beliau tak bisa membiarkan hal ini! Kalau tak segera mencabut ucapan-ucapanmu, terpaksa kami akan membuat perhitungan denganmu!"
Pemuda berpakaian hitam tertawa dengan nada menghina sekali. Ia tidak melakukan tindakan apa pun, tapi tongkat di mana kepalanya bertumpu, sedikit demi sedikit amblas ke dalam tanah! Tubuh si pemuda itu sendiri tak bergeming sama sekali. Malah, ketika yang tampak di permukaan tanah hanya tinggal tengkorak kepala manusia, tubuh pemuda pucat itu tetap tak bergoyang sama sekali!
Abiyasa dapat melihat itu secara jelas. Walaupun begitu dia tak merasa gentar atau memperlihatkan kekaguman. Tapi tidak demikian halnya dengan Antasena dan Jembawati. Kedua orang ini jelas-jelas memperlihatkan keterkejutan dan kekaguman yang bercampur dengan kengerian!
Pemuda berpakaian hitam itu tak terlalu mempedulikan tanggapan Abiyasa. Dengan kepala tetap di bawah, ditatapnya Abiyasa yang sekarang sudah menghentikan langkahnya ketika berjarak dua tombak darinya.
"Kau hendak membuat perhitungan denganku?! Mengapa hanya sendiri majunya?! Ajak kawan-kawanmu biar urusan ini cepat selesai!" tantang pemuda bertubuh jangkung itu penuh kesombongan. "Kalau hanya menghadapi kecoak-kecoak seperti kalian, aku, Tengku Daud, dengan tanpa bergerak dari tempat pun, akan dapat mengusir kalian semua sekali pun kalian maju berbarengan!"