Pendekar Kelana Sakti 13 Alap Alap Liang Kubur
Cersil Pendekar Kelana Sakti 13 Alap Alap Liang Kubur
Baca Online Pendekar Kelana Sakti 13 Alap Alap Liang Kubur
Ulasan & Bedah Cerita Silat KlasiK
Gelombang konflik di tanah persilatan Nusantara kembali membara dalam episode "Alap-Alap Liang Kubur" karya Maestro Buce L.. Duka mendalam menyelimuti rimba persilatan saat putri tunggal Ki Wirayuda gugur tragis di tangan penganut aliran hitam. Kehadiran sosok misterius penguasa Ilmoe Mati Pamungkas menyeret sang pengembara agung, Wintara, ke dalam jaring konspirasi berdarah di seputar tanah Sungkawarang.
Sebelum menyelami pertempuran sengit di tanah pekuburan ini, pembaca juga dapat menyimak rekam jejak perjuangan awal Wintara dalam Cersil Pendekar Kelana Sakti 03: Iblis Lengan Tunggal yang mengulas benang merah intrik antar-perguruan silat klasik.
Kutipan Cerita: Episode Alap-Alap Liang Kubur
Karya: Buce L. | Setting: Trias Typesetting | Penerbit: Mutiara, JakartaLangit mendung menutupi suasana tanah pekuburan. Hari itu tanah pekuburan nampak ramai. Semua orang berdiri mematung menghadapi mayat membujur terbungkus kain kafan. Di sebelah mayat telah tersedia liang lahat yang cukup dalam. Hampir seluruh mata memandangi mayat pucat pasi itu. Hari itu seorang putri tunggal Ki Wirayuda telah tewas di tangan seorang tokoh berilmu tinggi. Padahal Ki Wirayuda sendiri seorang tokoh silat yang sangat disegani. Selain berilmu tinggi, ia juga memiliki banyak cabang perguruan. Oleh karena itu kebanyakan yang menghadiri pemakaman tidak lain orang-orang persilatan. Mereka benar-benar turut belasungkawa.
Istri Ki Wirayuda tidak mengikuti upacara pemakaman. Ia sengaja diam dalam sebuah kereta. Entah berapa ratus titik air mata menumpahi pipinya yang kempot. Kematian putri tunggalnya benar-benar memukul batinnya. Kematian yang begitu mendadak dan tragis. Penguburan berlangsung khidmat. Ketika liang lahat diurug tanah, terdengar isak tangis istri Ki Wirayuda meledak. Beberpa orang murid wanita Ki Wirayuda berusaha menenangkan. Sementara Ki Wirayuda yang berdiri di samping taburan bunga masih tetap mematung. Wajahnya yang membesi tidak membayangkan duka sedikitpun. Tatapan matanya lurus ke depan seakan-akan tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya yang perlahan-lahan meninggalkan pekuburan.
Seorang pemuda tampan berbaju biru melangkah perlahan menghampiri Ki Wirayuda. Pemuda itu tidak lain Wintara sang Pendekar Kelana Sakti. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Ki Wirayuda.
"Ki Wirayuda, semua yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya. Ikhlaskanlah kepergian putri tercinta," bisik Wintara perlahan.
Ki Wirayuda tidak bergeming. Rahangnya mengatup rapat. Dada tokoh tua itu bergolak hebat membayangkan peristiwa hitam semalam. Seorang manusia misterius berkelebatan di atas atap kediamannya, meninggalkan jasad putrinya yang membiru akibat terkena gempuran beracun yang sangat ganas.
Kedatangan pembunuh misterius yang dijuluki Alap-Alap Liang Kubur ini membawa teror baru di tanah Sungkawarang. Belum selesai luka lama rimba persilatan, kini muncul tokoh jahat yang mengincar kitab pusaka dan jiwa para pemimpin perguruan lurus.
Catatan Pertempuran Tanah Sungkawarang
Penggunaan ilmu mati rahasia oleh penganut ajaran sesat seperti Gentara Karma dan Ki Karantungan menciptakan ancaman nyata. Kombinasi ilmu tenaga dalam tingkat tinggi dan serangan beracun menuntut Wintara mengarahkan seluruh puncaknya jurus Bayu Menghempas Gelombang demi menumpas kebatilan hingga ke akar-akarnya.
Bayangan kelam menyelimuti area sekitar pemakaman. Langkah-langkah kaki perlahan menghilang meninggalkan angin dingin yang berhembus mengibaskan ujung jubah biru Wintara. Pendekar muda ini tahu, tugasnya di Sungkawarang baru saja dimulai, dan bahaya besar tengah mengintai dari balik pepohonan rindang di sekitar pekuburan tua tersebut.
Informasi Hak Cipta & Catatan Penerbitan
Judul Serial: Pendekar Kelana Sakti 13 - Alap Alap Liang Kubur
Pengarang: Buce L.
Penerbit: Penerbit Mutiara, Jakarta (Pintu Besi Baru Plaza Lt. 11 B52/69 Jl. Samanhudi No.14-16, Jakarta-Pusat)
Cetakan Pertama: Tahun 1991 | Setting Layout: Trias Typesetting
Disclaimer: Cerita ini adalah fiktif. Persamaan nama, tempat, dan ide hanya kebetulan belaka. Hak cipta dilindungi penerbit.