Pendekar Kelana Sakti 12 Dua Pendekar Buntung
Cersil Pendekar Kelana Sakti 12 Dua Pendekar Buntung
Baca Online Pendekar Kelana Sakti 12 Dua Pendekar Buntung
Ulasan Ringkas & Sintesis Cerita Silat Classic
Dunia persilatan klasik tanah air selalu menyajikan dinamika pertarungan jurus, pengorbanan jiwa, dan batas tipis antara kebaikan serta kebatilan. Dalam episode "Dua Pendekar Buntung" karya Maestro Buce L., pembaca diajak mendalami kisah emosional Wintara sang Pendekar Kelana Sakti saat menyaksikan kegigihan dua ksatria cacat namun berjiwa karang: Pendekar Gelugut Sutra (kutung kedua pergelangan tangan) dan Amarsa Rawut (buntung kedua belah kaki).
Untuk mengikuti perjalanan Wintara di babak sebelumnya, Anda dapat membaca kelanjutan pertarungan dahsyatnya dalam Cersil Pendekar Kelana Sakti 02: Tangan Hitam yang menjadi pilar awal terbentuknya filosofi jurus ilahi sang pendekar.
Kutipan Cerita: Episode Dua Pendekar Buntung
Karya: Buce L. | Setting: Trias Typesetting | Penerbit: Mutiara, JakartaSepagi ini sudah terdengar suara-suara teriakan yang menggelegar. Dibarengi dengan suara gerakan yang menimbulkan deru angin yang bergulung-gulung. Jelas suara angin yang menderu-deru itu ditimbulkan oleh seseorang yang tengah melancarkan beberapa hantaman. Pukulan-pukulan yang sengaja diarahkan pada tempat kosong itu justru mengeluarkan benturan yang sangat dahsyat.
Setiap kali orang itu menggerakkan kedua tangannya, seperti keluar serat-serat halus siap menjerat. Gerakan-gerakan dari jurus itu kelihatan sangat hebat. Dan yang aneh lagi, pendekar yang tengah mementang jurus ini tidak memiliki telapak tangan. Pergelangan tangannya kutung. Namun dari situlah serat-serat yang dinamakan 'Gelugut Sutra' keluar.
"Paman Gelugut Sutra. Mari kita bermain-main barang beberapa jurus. Aku ingin tahu sampai di mana kemajuan paman," ujar Amarsa Rawut sambil mementang jurus pedang dengan tongkatnya.
Sedangkan tidak jauh dari situ, berdiri puluhan tonggak setinggi dua meter. Di atasnya tidak kalah seorang sedang beraksi mengeluarkan jurus-jurusnya. Orang ini memiliki cacat yang lain. Dengan kedua kaki yang buntung dan menggunakan dua buah tongkat masih dapat memamerkan kepandaiannya. Bahkan ia sanggup berdiri dengan sebuah tongkat. Dan sebelah tongkatnya lain digunakan sebagai senjata.
Sambaran-sambaran tongkatnya yang bergerak bergantian tidak ubahnya bagai jurus-jurus pedang. Lompatan-lompatannya yang selalu berpindah-pindah dari tonggak ke tonggak tidak pernah meleset. Gerakannya yang lincah membuat semua orang memperhatikan berdecak kagum. Meskipun cacat tanpa kedua kaki, putra tunggal mantan guru besar Perguruan 'Guci Perak' ini sekarang telah menguasai penuh jurus-jurus pedang yang sangat ampuh.
Pagi itu semua murid Perguruan 'Guci Perak' yang berjumlah dua puluh orang berkumpul menyaksikan kehebatan dua orang yang tengah beraksi. Selama ini pula mereka merasa kagum. Di depan teras perguruan, Wintara bersama seorang gadis bernama Nalantili turut menyaksikan juga. Telah dua bulan lewat Pendekar Kelana Sakti ini berkecimpung dalam lingkungan Perguruan 'Guci Perak'. Berkat pendekar ini pula kedua manusia cacat ini menempa hidupnya menjadi manusia-manusia tangguh tanpa putus asa. Sekarang Wintara sudah dapat melihat, dari kegigihan yang disertai semangat, maka jadilah mereka Dua Pendekar Buntung.
Jurus 'Pedang Seribu Halilintar' diletupkan oleh Amarsa Rawut. Tubuh Amarsa Rawut melesat ke atas meninggalkan tonggak-tonggak yang berdiri bersusun-susun. Begitu Amarsa Rawut menginjakkan tongkatnya ke tanah, sebelah lengannya lagi yang menyandang tongkat berputar merobek. Pendekar Gelugut Sutra beringsut nunduk.
"Astaga.... Amarsa Rawut! Kau hampir saja memenggal kepalaku. Kau tidak main-main rupanya!" hardik lelaki tangan buntung.
"Makanya paman harus sungguh-sungguh. Ayo tunjukkan kebolehan paman!" pancing Amarsa Rawut.
Saat Pendekar Gelugut Sutra membalas dengan mengeluarkan jurus Menjaring Bayangan, pendekar muda berkaki buntung seperti digeluti oleh ribuan serat. Diapun tidak kalah gesit menyapu hantaman itu dengan babatan tongkatnya yang laksana pedang. "Bweeeet...!" Ribuan serat yang semula menjaring di tubuh Amarsa Rawut berpencaran.
Sebenarnya hantaman Pendekar Gelugut Sutra itu hanyalah merupakan sebuah bayangan. Serat-serat yang dikeluarkan dari kedua pergelangan tangannya yang buntung tidak lebih dari hawa tenaga dalam yang sempurna. Bisa juga dikatakan pukulan jarak jauh. Hanya saja hawa pukulan itu berbentuk laksana serat halus. Maka sebelum hantaman itu mengenai tubuh pendekar tanpa kaki ini, Amarsa Rawut selekasnya membalas dengan Pedang Menyapu Geledek.
Melihat situasi yang bertambah maju, timbul hasrat Wintara untuk segera meninggalkan mereka. Selama dua bulan lebih ia hampir melupakan tugasnya sebagai pengembara yang siap akan menggulingkan kejahatan. Khususnya dalam rimba persilatan. Masih banyak orang-orang yang butuh pertolongannya. Masih banyak orang-orang persilatan yang perlu ditegakkan. Masih banyak pula tokoh-tokoh sesat yang perlu ditegakkan.
Bunga Rampai Pertempuran Hutan Kumbarawa
Ancaman Nyi Awak Ceger dengan racun mematikan Racun Kuku Wesi menjadi titik balik pertumpahan darah di ranah Tenggara. Pertemuan tokoh-tokoh aliran lurus seperti Ki Geri Mojang dari Perguruan 'Angin Manik', kelompok 'Teratai Kencana', hingga hadirnya kakek eksentrik Siluman Arak Sakti membuktikan betapa rumitnya intrik politik antar-perguruan silat nusantara.
Terik matahari mencorot masuk menerobos lebatnya hutan Kumbarawa. Siapapun tahu kalau hutan tersebut sangatlah rawan dan menakutkan. Pohon-pohon besar yang malang melintang sekitar hutan bagaikan sekumpulan raksasa. Alang-alang yang hampir setinggi manusia menghampar di sekitar hutan. Jalan yang cuma satu-satunya menghubungkan ke sebuah desa nampak lengang. Tidak segelintir orangpun yang berani melintasinya.
Lima orang pentolan Perguruan 'Angin Manik' ini duduk berderet setengah melingkar. Ki Geri Mojang paling tengah. Mereka melepaskan haus dan lapar di situ. Namun kedamaian itu pecah saat suara tawa melengking membelah udara. "Hik-hik-hik-hik-hik...!" Terdengar tawa yang mengerikan mengambang di atas rerimbunan daun.
Nyi Awak Ceger muncul membawa malapetaka! Senjata rahasia berupa tahi kuku besi beracun merenggut nyawa murid-murid Perguruan Angin Manik dan Teratai Kencana. Pertarungan sengit di pesanggrahan Tenggara pun bereskalasi ketika Wintara harus beradu kesaktian bersama Kakek Siluman Arak Sakti menghadapi intrik iblis betina tersebut.
Kakek Siluman Arak Sakti menggunakan jurus andalannya 'Jurus Pemabuk Meminum Arak' untuk melibas dua pengikut Nyi Awak Ceger yang bersenjatakan gada berduri, Pitu Langsa dan rekannya. Meski tawa Nyi Awak Ceger kerap mengecoh lawan melalui gerakan merangsang dan genit, keteguhan hati Wintara mampu meluncurkan serangan balasan yang meremukkan pertahanan lawan.
Pengorbanan tokoh-tokoh persilatan yang tewas terkena gempuran racun kuku besi menyulut ketegangan baru bagi Wintara dan Dua Pendekar Buntung. Perjalanan berlanjut menuju Partai Dewa Tenggara tempat di mana Kuncoro Sona menyimpan rahasia besar mengenai pusaka sakti dan konspirasi aliran sesat!
Informasi Hak Cipta & Catatan Penerbitan
Judul Serial: Pendekar Kelana Sakti 12 - Dua Pendekar Buntung
Pengarang: Buce L.
Penerbit: Penerbit Mutiara, Jakarta (Pintu Besi Baru Plaza, lantai 2-B69 H. Samanhudi No.14, Jakarta-Pusat)
Desain Sampul: David G. | Setting Layout: Trias Typesetting
Disclaimer: Cerita ini adalah fiktif. Persamaan nama, tempat, dan ide hanya kebetulan belaka. Hak cipta dilindungi penerbit.