Senin, 27 Juli 2026

PENDEKAR KELANA SAKTI 11 DURJANA PEMENGGAL KEPALA

Seri PENDEKAR KELANA SAKTI 11 DURJANA PEMENGGAL KEPALA
Cersil PENDEKAR KELANA SAKTI 11 DURJANA PEMENGGAL KEPALA
Baca Online PENDEKAR KELANA SAKTI 11 DURJANA PEMENGGAL KEPALA

Kisah Pengelana Sakti Menumpas Iblis Dan Persekutuan Durjana

Ilustrasi: Pertarungan Berdarah Menghadapi Durjana Pemenggal Kepala
Ikuti Rincian Episode Resmi di Komunitas Facebook:

Hak Cipta © Penerbit Mutiara, Jakarta. Setting: Trias Typesetting | Cover: David G.

Bangunan yang satu-satunya berdiri di atas bukit itu nampak menyeramkan. Apalagi dalam suasana malam seperti ini. Bulan yang bulat penuh mengembang di balik bukit membuat bangunan itu makin angker. Suara-suara binatang malam pun mengelilingi penuh suasana bukit. Diselingi dengan suara mengerikan belasan burung hantu yang bertengger pada pohon kering yang ada di samping bangunan. Belasan pasang mata mereka menyala bagai bara yang menerangi tiap-tiap cabang pohon kering.

Bangunan itu sendiri rupanya sudah tidak keruan. Meskipun besar sepertinya sudah tidak terurus lagi. Sekelilingnya semrawut bekas puing-puing. Tatkala angin berdesir, maka bau busuk menyengat memenuhi bukit itu. Di depan pintu bangunan berderet tangga batu yang memanjang menurun ke bawah. Di sepanjang kedua sisi tangga batu banyak berdiri tonggak-tonggak kayu. Sinar bulan dapat menerangi dengan jelas apa yang tertancap pada tiap-tiap kayu tonggak itu. Mengerikan sekali!

Kutungan bukit tersebut menyebar bau busuk. Dari kejauhan semuanya nampak dingin dan menyeramkan. Terdengar juga daun jendela yang berderak-derak tertiup angin, juga kepak-kepak sayap kelelawar yang berterbangan keluar dari bangunan itu. Namun semua pemandangan yang cukup membangunkan bulu roma itu tidaklah membuat takut bagi kedua orang yang nampak menjajaki tangga batu.

Keduanya berjalan saling susul tanpa menoleh. Langkah-langkah mereka sempoyongan. Orang yang berjalan di belakang entah sudah berapa kali jatuh bangun. Terkadang pula ia harus memanggil-manggil orang yang berjalan mendahului.

"Kang... Aduuuuh, tunggu dulu, Kang. Hoeeeek!" rintihnya sambil mengeluarkan muntah. Pasti karena bau busuk itu. "Rasanya aku hampir tidak sanggup berjalan lagi. Aku tidak tahan dengan bau busuk begini."

Orang yang berjalan di depan tidak menyahut. Mereka adalah kakak beradik yang akan menuju bangunan itu. Entah ada maksud apa mereka sampai berani mendatangi tempat semacam itu. Sebelumnya mereka sama sekali tidak mengetahui adanya sebuah bangunan di atas bukit. Meskipun mereka sekarang tahu betapa seramnya, tidak kepalang mereka nekad mendatangi juga.

"Itukah tempatnya, Kang?... Rasanya aku tidak berani masuk. Kau sajalah yang menemui Eyang Tumbal Segara. Biar aku tunggu di luar," kata sang adik sambil menutup kedua lobang hidungnya dengan jari.

Ketika mereka tiba di depan pintu bangunan, mereka berdiri berdampingan. Di tempat setinggi itu rupa mereka kelihatan jelas. "Kita harus masuk bersama, Ambali Songka. Jelas tujuan kita sama. Jadi kita tidak perlu takut apa pun yang harus kita hadapi," jawab lelaki itu menatap adiknya. Nampak wajah penuh berlumuran darah. Sebelah kelopak matanya pecah. Untunglah tidak menembus sampai ke bola mata. Keadaan Ambali Songka lebih parah lagi. Selain tubuhnya bersimbah darah, telinga serta mulutnya sapat seperti kena babatan pedang. Tentu saja sakit kalau ia bicara.

"Tapi aku tidak tahan dengan suasana yang begini, Kakang Basu Dewa. Keadaan di sini benar-benar menjijikkan," kata Ambali Songka bergidik.

Basu Dewa memandang geram. "Kita sudah sampai pada tempat tujuan. Mau apa lagi? Mau coba-coba balik? Itu sama saja kita bunuh diri. Bagi Eyang Tumbal Segara pantang gagal kedatangan tamu! Ayo masuk!"

Basu Dewa menarik lengan Ambali Songka yang menutupi lobang hidungnya. Keduanya serentak masuk melalui pintu. Sekali dorong daun pintu itu berderak menguak. Tanpa ragu-ragu Basu Dewa menuntun adiknya. Cukup terang ruangan itu, karena sinar bulan dapat langsung masuk dari pintu dan jendela yang terbuka lebar. Dan di dalam ruangan bangunan itu tidak ada apa-apa. Dalam bangunan begitu lapang bagai sebuah gudang. Lantainya dari susunan batu marmer. Di tengah-tengah ruangan itu pula terdapat sebuah kolam dengan airnya yang hitam keruh.

Hati-hati sekali kakak beradik itu masuk semakin ke dalam. Mereka berhenti sampai terhalang oleh kolam. Keduanya celingukan seperti mencari-cari seseorang. "Eyang... Eyang Tumbal Segara? Di mana kau? Kami datang untuk memohon petunjukmu," kata Basu Dewa. Suaranya bergema dalam ruangan itu. Ambali Songka berpegangan erat ketakutan. "Tidak ada siapa pun di sini. Pasti kita telah salah alamat," ujar Ambali Songka. "Di sini tidak lebih seperti tempat pejagalan," katanya lagi.

Basu Dewa tidak perduli dengan ucapan Ambali Songka. Ia terus memanggil-manggil. Matanya memandang berkeliling. "Eyang Tumbal Segara...."

Mendadak saja air kolam yang hitam keruh itu menggelegak! Buih-buih muncul bergelombang di hadapan mereka. Ambali Songka hampir loncat karena terkejut. Tapi Basu Dewa cukup tenang. Air kolam makin bergelombang. Dari buih-buih muncul asap kebiruan mengepul, lalu terdengar juga suara parau berbicara....

"Selamat datang, Cucuku... Selamat datang... Tempat ini memang selalu terbuka untuk siapa saja."

Tidak ada siapa pun di situ selain mereka berdua. Tapi jelas mereka dapat mendengar suara itu. Dan yang lebih yakin lagi kalau sumber suara itu berasal dari dasar kolam. "E-E-Eyang... Kaukah itu?" Mata Basu Dewa membelalak menatap yang tidak nampak ke arah kolam.

"Ha ha ha ha...!" Terdengar suara tawa yang menggelegar menggetarkan jantung mereka. Bersamaan dengan itu pula air kolam muncrat ke atas bagai air mancur, kemudian... "Siapa lagi yang mendiami tempat ini selain aku, si Tumbal Segara... Hak hak hak hak..."

Suara parau menggema nyaring. "Eyang..." Basu Dewa hampir-hampir tidak percaya mendengar suara parau itu dari dasar kolam. "Kakang Basu Dewa... Aku takut," bisik Ambali Songka.

"Hak hak hak hak hak... Kalau merasa takut kenapa jauh-jauh nekad datang ke sini? Heh? Kalian tahu bukan, aku selalu memenuhi apa pun permintaan kalian."

"Be-Benar, Eyang... Kami memang ingin meminta sesuatu pada Eyang..." Jawab Basu Dewa memberanikan diri. Kedua matanya tidak berkedip menatap air hitam yang mancur ke atas. "Tidak usah kau sebutkan pun aku sudah tahu maksud tujuanmu, Cucuku. Bagus-bagus... Tidakkah kalian menyesal bersekutu denganku?" Suara Eyang Tumbal Segara terdengar lebih menyeramkan.

"Ti-Tid-tidak, Eyang. Kami sudah berpikir panjang lebar. Bagaimana pun kami harus membalas sakit hati ini terhadap Amarsa Rawut. Dia pula yang membuat aku terluka parah begini," tutur Basu Dewa.

"Hal itu mudah. Kau bisa melakukannya nanti. Tapi sudahkah kalian tahu apa syarat-syaratnya?"

"Apa pun yang Eyang minta pasti aku penuhi," Jawab Basu Dewa cepat. "Betul, Eyang Tumbal Segara harus membantu kami. Tidakkah Eyang lihat sendiri rupa kami? Aku yang tolol harus kehilangan telinga dan mulutku pun hampir tidak ada bibirnya. Sedangkan Kakang Basu Dewa nyaris kehilangan sebelah matanya," Ambali Songka mulai berani buka suara. Air kolam itu bergolak lagi....

"Setelah kalian bersekutu denganku, maka rupa kalian akan kembali seperti semula. Juga tidak segan-segan aku menurunkan ilmu paling dahsyat pada kalian. Bukankah itu yang kalian pinta?"

"Be-Betul, Eyang. Kami memang berniat balas dendam terhadap si keparat Amarsa Rawut!" Jawab Basu Dewa penuh semangat.

"Itu mudah saja. Asalkan kalian menyetujui persyaratannya." Dua kakak beradik ini diam. Mereka saling pandang mendengar penuturan Eyang Tumbal Segara yang berdiam di dasar kolam. "Kalian harus mengirim kepala orang-orang berilmu tinggi setiap tujuh hari sekali. Sanggup?"

"Sanggup!" Jawab Basu Dewa cepat.

"Sebenarnya masih ada kesempatan untuk kalian berubah pikiran. Sebab dalam jangka waktu tujuh hari tanpa menyerahkan sebuah kepala, maka kepala kalian yang akan menjadi gantinya."

"Apa pun resikonya akan kami sanggupi, Eyang," Jawab mereka bareng. Bersamaan dengan itu pula air kolam membuih hebat. Asap kebiruan berbau busuk mengepul lebih banyak. Terdengar juga suara tawa parau yang menggelak-gelak... Hak hak hak hak hak hak hak hak hak hak... Kalau begitu mulai sekarang kalian telah menjadi sekutuku. Nah bukalah semua pakaian kalian, lalu bersila di hadapan kolam ini. Kalian akan menerima penyucian diri.

Mendengar perintah Eyang Tumbal Segara, Basu Dewa dan Ambali Songka langsung menuruti. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah duduk bersila telanjang bulat menghadap ke kolam. Keduanya tidak berani membuka mata selama bersila. Yang mereka rasakan hanyalah bau busuk menyengat hidung. Mereka tak tahu kalau asap kebiruan itu mulai menyelubungi tubuh mereka berdua. Terasa pula air kolam begitu dingin begitu menyiprat ke arah mereka. Air kolam seakan menyiram mereka berkali-kali.

Tanpa sepengetahuan mereka pula sesuatu muncul dari permukaan kolam yang menggolak. Sosok tubuh berjubah hitam. Wajahnya tidak begitu jelas, karena jubah itu langsung menutupinya. Ketika sosok itu menyembul dan berdiri di atas permukaan air, maka terlihatlah sosok menyeramkan. Kedua belah tangannya erat menggenggam dua buah kapak berkilat. Kedua lengan itu terangkat ke atas saat ia tertawa menggelegak.

"Hak hak hak hak..." Suara tawa itu mengusir asap kebiruan dan masuk kembali ke dasar kolam. Tempat itu menjadi terang dengan seketika. Sinar menyilaukan memancar memenuhi seluruh ruangan. Dua sosok telanjang bulat menggigil. Ketika mereka membuka mata, terlihatlah sosok tubuh berjubah hitam berdiri di atas permukaan air.

"Beginilah rupa Eyang Tumbal Segara, cucuku... Dan kalian tidak perlu takut." Sosok itu masih mengangkat kedua lengannya. Terlihat dua buah kapak berkilat sangat tajam. "Kalian telah ku sempurnakan sebagaimana seutuhnya manusia."

Mendengar ucapan itu, keduanya langsung memperhatikan tubuh mereka sendiri. Di tubuh mereka tidak nampak lagi bekas-bekas lumuran darah maupun luka. Ambali Songka tidak percaya saat ia memegang luka-lukanya. Mulut serta daun telinganya yang semula sipat, kini telah utuh kembali. Begitu juga dengan Basu Dewa. Kelopak matanya yang pecah telah sembuh tanpa bekas. Mereka tidak lebih seperti bayi yang baru lahir.

"Terima kasih, Eyang... Terima kasih."

"Hak hak hak hak hak... Mana pernah Eyang Tumbal Segara kepalang tanggung dalam menolong orang!" Kata sosok berjubah hitam. Lalu tawanya membahana lagi.... "Hak hak hak hak hak..."

Suara tawa itu sampai terdengar keluar bangunan. Burung-burung hantu yang banyak bertengger di atas cabang pohon kering beterbangan menyingkir. Juga kutungan-kutungan kepala yang menancap pada tiap-tiap tonggak yang berderet di sepanjang tangga batu bergetar hebat. Angin menderu-deru menimbulkan suara yang menakutkan. Bercampur aduk dengan suara tawa yang menggelegak lantang. Sedangkan di kejauhan bangunan itu tetap tegar berdiri seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Entah apa yang akan dilakukan Eyang Tumbal Segara terhadap dua kakak beradik di dalam bangunan itu. Yang jelas setelah suara tawa maupun angin berhenti, tempat itu kembali sunyi dan menyeramkan begitu dingin.


Dua kakak beradik itu sebenarnya murid-murid dari Perguruan 'Bukit Sampar'. Mereka telah diusir mentah-mentah dalam keadaan luka parah begitu oleh guru besarnya sendiri. Liung Sanca guru besarnya merasa dipermalukan oleh perbuatan kedua muridnya itu. Bagaimana tidak, mereka kedapatan menganiaya dan memperkosa salah seorang murid perempuan dari Perguruan 'Guci Perak'. Untung saja kedua perguruan itu berhubungan sangat baik. Kalau tidak, sudah pasti orang-orang 'Guci Perak' tidak memberi ampun terhadap dua pendekar cabul itu.

Bagus pula Nalantili belum terlanjur diperkosa. Meskipun begitu, Amarsa Rawut sebagai murid tertua perguruan 'Guci Perak' tidak kepalang tanggung memberi hajaran terhadap mereka. Liung Sanca sendiri tidak bisa bertindak apa-apa melihat dua orang muridnya menerima hukuman itu di depan mata. Terlebih-lebih Amarsa Rawut menghajarnya dalam lingkungan Perguruan 'Bukit Sampar'. Hal itu Liung Sanca sendiri yang meminta, karena sudah banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Basu Dewa dan Ambili Songka. Tentunya perbuatan mereka telah mencoreng nama besar Perguruan 'Bukit Sampar'.

Itulah sebabnya Liung Sanca mengusir mereka mentah-mentah. Dan juga tetap merahasiakan keaiban itu. Tiap hari Liung Sanca mendatangi Perguruan 'Guci Perak' untuk sekedar meminta maaf dan memberi pengobatan terhadap gadis Nalantili. Atas dasar hubungan mereka yang sangat erat, Ki Raka Banjaran serta putranya Amarsa Rawut masih mau memandang muka. Dan menganggapnya seolah-olah peristiwa itu hanyalah kejadian kecil. Bagaimana pun Liung Sanca merasa kikuk bila menghadapi para pentolan 'Guci Perak'.

"Luka-luka Nalantili tidak begitu parah, Liung Sanca. Jangan terlalu dipikirkan. Biar saja ini menjadi urusan kami," Ujar Raka Banjaran setelah melihat Liung Sanca memeriksa sekaligus mengobati gadis Nalantili.

"Mana bisa begitu... Kalau tidak ulah dua murid cabul itu, Nalantili tidak mungkin begini. Sudah sewajarnya kalau aku sebagai guru mereka bertanggungjawab," Tukas Liung Sanca. Mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu. Amarsa Rawut putra tunggal majikan Perguruan 'Guci Perak' berada di situ.

"Sebenarnya aku merasa malu. Khususnya dihadapanmu, Ki... Sudah sewajarnya kalau Amarsa Rawut anakmu menghajar mereka. Aku pun telah mengusirnya," Kata Liung Sanca lagi. Ki Raka Banjaran tersenyum. "Kenapa harus demikian, seharusnya mereka tidak perlu kau usir... Aku rasa sikap buruk mereka masih bisa diatasi..." Kata Ki Raka Banjaran. Ia mempersilahkan Liung Sanca duduk. Beberapa bantalan empuk berlapis kain sutra sudah tersedia di ruangan itu.

"Paman Liung Sanca, maafkan atas kekasaran yang telah kuperbuat terhadap Basu Dewa dan Ambali Songka. Aku betul-betul sudah lupa daratan waktu itu..." Sapa Amarsa Rawut.

"Tidak! Tidak ada yang perlu disesalkan untuk kedua murid cabul itu, Amarsa. Tindakanmu sangat tepat. Kenapa tidak sekalian kau habisi saja keduanya. Aku pun sudah merasa sangat dipermalukan oleh ulah mereka," Jawab Liung Sanca. "Ah, mana boleh bertindak sampai sejauh itu," Tukas Amarsa Rawut. "Aku pun harus menjaga hubungan erat perguruan kita. Kalau pada hari itu sampai ada korban nyawa, apa kata rekan-rekan yang lain?" Sambung Amarsa Rawut lagi.

Liung Sanca terdiam mendengar ucapan putra tunggal Ki Raka Banjaran. Pendapat itu memang benar. Peristiwa aib yang hampir menghancurkan kedua perguruan itu tidak ada satu pun yang tahu. Dari kedua belah pihak sengaja merahasiakannya.

"Aku cukup bangga dengan putra tunggalmu ini, Ki Raka Banjaran. Kau telah berhasil mendidiknya jadi manusia yang berguna. Menyesal aku tidak memiliki anak seorang pun. Sekalinya punya dua murid andalan, malah melumuri mukaku dengan tahi," Tutur Liung Sanca. Ucapan itu membuat Ki Raka Banjaran ngakak.

"Ha ha ha ha... Itu salahmu sendiri, kenapa sejak kematian istrimu kau tidak cepat-cepat kawin lagi. Sekarang baru menyesalinya. Tapi jangan kau pikir mengurus anak itu gampang. Satu orang macam Amarsa Rawut saja aku sudah kewalahan," Gurau Ki Raka Banjaran menimpali.

Catatan Tambahan Penggemar Cersil: Cerita silat ini fiktif belaka. Persamaan nama, tempat, dan ide hanyalah kebetulan belaka. Dilarang mengutip atau menggandakan tanpa izin tertulis dari penerbit terkait.

Disqus Comments