Pendekar Kelana Sakti 10 Keris Buntung Ki Srongot
Cersil Pendekar Kelana Sakti 10 Keris Buntung Ki Srongot
Baca Online Pendekar Kelana Sakti 10 Keris Buntung Ki Srongot
Eksplorasi Takdir dan Pusaka Maut dalam Serial Pendekar Kelana Sakti
Dunia persilatan klasiknya Buce L. Hadi selalu menghadirkan pertarungan sengit antara idealisme moral dan keserakahan kekuasaan. Dalam episode Keris Buntung Ki Srongot, pembaca diajak mendalami bagaimana sebuah pusaka legendaris mampu mengubah konstelasi kekuatan antara golongan lurus dan aliran sesat. Sosok Wintara (Pendekar Kelana Sakti) kembali diuji oleh intrik konflik antar-perguruan yang tak hanya melibatkan benturan fisik, tetapi juga pergolakan batin dan asmara tragis antar-tokohnya.
Bagi pencinta kisah silat yang juga gemar mendalami legenda klasik, seperti kisah Si Rase Hitam karya Chin Yung, dinamika takdir dan ilmu kesaktian dalam serial ini menyajikan perbandingan filosofis yang sangat unik dan kaya akan nilai moral.
Catatan Penerbitan & Hak Cipta:
KERIS BUNTUNG KI SRONGOT Oleh Buce L. Hadi.
© Penerbit Mutiara, Jakarta. Cetakan Pertama, 1991.
Disclaimer: Cerita ini adalah fiktif. Persamaan nama, tempat, dan ide hanya kebetulan belaka.
--- BACA ONLINE CUPLIKAN CERITA ---
Lembah yang sunyi itu mendadak dikejutkan oleh suara kepak burung-burung yang semula berkolompok bertengger di atas pepohonan. Begitu juga dengan para binatang penghuni lembah tersebut. Semuanya saling serabut lari sembunyi. Karena saat itu serombongan orang mengiring sebuah tandu melintasi lembah.
Empat orang nampak memikul tandu, mereka berjalan serempak paling dulu. Sedangkan di belakangnya dua puluh orang mengikuti membentuk dua barisan. Mereka tidak peduli melihat para penghuni lembah berlarian menjauh ketika rombongan itu semakin masuk ke dalam lembah.
Nampak pula bekas beberapa gubuk yang telah usang. Gubuk-gubuk yang hampir reyot itu memang sudah lama tidak ditinggali. Lagi pula tidak mungkin bila ada penduduk yang dapat tinggal menetap di situ. Selain jauh dari desa lain, lembah itu nampak rawan dan jarang dilalui orang.
Di dalam tandu itu duduk seorang lelaki berusia tiga perempat abad dengan tenang. Lelaki itu nampak lebih muda dibanding dengan usianya, meskipun rambut serta janggutnya telah memutih. Dari penampilannya dan cara ia duduk bersila di dalam tandu itu terlihat orang tua itu semakin gagah. Dia pula yang sebenarnya memimpin rombongan itu. Mereka tidak lain anak buah Ki Tapak Kliwon, kakek sakti dari Perguruan Lembah Karang Hantu.
Setelah seharian penuh barulah mereka dapat menembus lembah yang pengap itu. Ki Tapak Kliwon nampak menghempaskan nafasnya kuat-kuat. Kedua matanya tidak berkedip menatap sebuah perkampungan kecil. Perkampungan itu nampak seperti tidak terurus.
Seorang anak kecil yang telah menggendong seekor ayam jantan berdiri di tengah-tengah jalan. Ia menatap rombongan itu penuh keheranan. Dan saat rombongan Ki Tapak Kliwon berjalan semakin dekat pada anak yang berdiri di tengah-tengah jalan, mendadak ayam jantan dalam dekapannya itu melompat. Anak itu pun terkejut setengah mati. Spontan saja ia berlari mengejar ke mana ayam jagonya lari. Sambil berkaok-kaok ayam jantan itu menyusup lari di hadapan keempat orang yang tengah memanggul tandu.
Tapi belum sempat anak itu melintas di hadapan keempat orang itu, mendadak tubuh kecil itu terlempar jauh dan jatuh terbanting dengan sangat keras. Setelah kelojotan sambil menyemburkan darah, bocah malang itu diam tak bergeming. Ir-ing-iringan itu tetap berjalan terus tak peduli. Nampak seorang lelaki memapah anaknya sambil berteriak histeris, "Mista...! Mista...!" Namun Mista tetap diam tak bernyawa.
Laki-laki itu lantas mengejar rombongan. "Kalian keparat! Kalian telah membunuh anakku...!" bentaknya sengit. Ki Tapak Kliwon menyibakkan kain penutup tandu, menyeringai lalu berkata dingin, "Jangan perdulikan kunyuk ini. Jalan terus...!" Laki-laki itu pun dihantam hingga tewas memeluk anaknya yang bersimbah darah.
"Kau telah membunuh dua nyawa di kampung ini, Ki."
"Biar saja! Kalau perlu kita habisi semua penduduk kampung ini. Karena kampung ini daerah Ki Karma Sentanu!" jawab Ki Tapak Kliwon menggekeh.
Anak buah Ki Tapak Kliwon mulai mendobrak pintu-pintu gubuk dan memporak-porandakan perkampungan. Pekik ketakutan membumbung tinggi. Namun tiba-tiba saja terdengar benturan nyaring yang memekakkan telinga:
"Creeeng...! Creeeng...! Creeeng...!"
Suara itu bagai memecahkan gendang telinga. Seorang laki-laki berkepala botak hitam berkilat berdiri di atas atap jerami gubuk tanpa baju, menggenggam dua senjata mirip tutup panci. Dialah Ki Karma Sentanu! Dua tenaga dalam raksasa saling beradu saat Ki Tapak Kliwon melesat keluar dari tandu mencabut senjata pusakanya: sebuah keris buntung yang aneh!
Pertarungan dahsyat tak terelakkan. Angin puyuh dan deru pusaka menggetarkan tanah. Namun keampuhan Keris Buntung Ki Tapak Kliwon akhirnya memotong senjata gembreng Ki Karma Sentanu dan menebas leher kakek botak tersebut hingga kepalanya menggelinding ke tanah. Kendati menang, Ki Tapak Kliwon sendiri mengalami luka dalam parah hingga darah mengalir dari kedua telinganya.
Peta Pergolakan Asmara & Pertumpahan Darah di Batang Karang
Di tempat lain, di Desa Batang Karang yang sejuk bagai taman, dua muda-mudi tengah berdua. Buringan (pemuda dari aliran lurus Perguruan Tapak Angin) dan Murtiati (putri dari Sengkala Getih, tokoh aliran sesat). Cinta mereka terhalang oleh jurang perselisihan antar-golongan.
Ketahuan oleh Mandra Loka (kakak kandung Murtiati), Buringan dihajar habis-habisan tanpa melawan demi cintanya pada Murtiati. Buringan yang bersimbah darah hampir tewas jika tidak ditolong oleh pemuda misterius berbaju bulu binatang: Wintara si Pendekar Kelana Sakti!
Konflik kian memuncak saat Tanjung Lodaya dan Rambi Somat (adik-adik Buringan) menyatroni markas Sengkala Getih untuk menuntut balas. Namun mereka justru berhadapan dengan Ki Tapak Kliwon dan gelombang badai dari Keris Buntung Ki Srongot. Beruntung Wintara berhasil menyelamatkan nyawa kedua adik Buringan tepat pada waktunya.
Giri Paksi, ketua Perguruan Tapak Angin, mengungkapkan legenda tua:
"Keris Buntung itu adalah milik Ki Srongot, tokoh jahat masa lalu yang berhasil ditumpas oleh Eyang Buana Penangsang. Pusaka itu memiliki kekuatan dahsyat bagaikan sepasukan tenaga manusia..."
Mendengar nama Eyang Buana Penangsang, Wintara tersentak. Ia teringat masa lalunya saat diselamatkan induk beruang, memakan jamur ajaib di reruntuhan tua, dan mewarisi jurus-jurus legendaris seperti Bayu Menghantam Karang serta Tinju Bayu Delapan Penjuru dari sosok jasad renta yang ternyata adalah Eyang Buana Penangsang sendiri!
Pertempuran tak terelakkan ketika Mandra Loka menyerbu Perguruan Tapak Angin. Namun di tengah kecamuk perang, Murtiati mengambil keputusan mengejutkan: ia berbalik membantai para pengikut aliran sesat demi membela kebenaran dan cintanya, lalu bersujud memohon perlindungan kepada Giri Paksi dan Ni Tambun Tambak.
Mandra Loka yang kalah bertarung melawan Buringan akhirnya melarikan diri dengan dendam membara. Sementara itu, keretakan terjadi di pihak aliran sesat. Ki Tapak Kliwon yang murka atas pengkhianatan Murtiati justru berbalik menyerang Sengkala Getih dan anak buahnya. Pertarungan internal yang sengit dan berdarah pun pecah di antara para sesepuh aliran hitam tersebut...