Sabtu, 25 Juli 2026

Pendekar Kelana Sakti 09 Dendam Jago Kembar

Pendekar Kelana Sakti 09 Dendam Jago Kembar

Cersil Pendekar Kelana Sakti 09 Dendam Jago Kembar

Baca Online Pendekar Kelana Sakti 09 Dendam Jago Kembar

Sampul Asli Serial Pendekar Kelana Sakti Episode: Dendam Jago Kembar - Penerbit Mutiara Jakarta (1991).

Cuplikan Cerita: Serial Pendekar Kelana Sakti Episode Dendam Jago Kembar

Ujung Kali Talang Hawu merupakan muara yang paling luas di Tanah Genang Banyu. Tidak heran kalau banyak kapal-kapal besar milik para saudagar yang bersandar di situ. Seperti sekarang ini, hampir seluruh pinggiran muara dipenuhi oleh kapal-kapal besar. Para pekerja buruh angkut barang nampak giat mengangkut muatan, begitu juga dengan para nelayan yang baru pulang menangkap ikan. Suara-suara mereka sangat riuh karena hasil yang mereka bawa hari ini lebih dari cukup.

Kegembiraan itu sejak tadi telah menjadi perhatian beberapa orang yang berdiri seperti menunggu sesuatu pada sebuah pos. Orang-orang itu tersenyum mengangguk saat para nelayan itu lewat di hadapan mereka memberi salam. Semua orang merasa segan terhadap Adipati Rekayasa. Beliau salah seorang kepercayaan sri baginda, apalagi beliau menjabat sebagai panglima tertinggi.

Pagi itu Adipati Rekayasa bersama seorang putranya berada pada keramaian bandar muara Kali Talang Hawu. Mereka dikawal oleh beberapa orang prajurit kerajaan. Mereka menatap tegang setiap melihat kapal-kapal yang berdatangan sandar di tempat itu. Terlebih-lebih putranya, Riwang. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Hal itu bukannya Adipati Rekayasa tidak mengetahui.

"Riwang, seharusnya kau merasa gembira menyambut kedatangan saudara kembarmu! Tidakkah kau merasa rindu terhadap Rawing? Selama sepuluh tahun kalian berpisah, entah seperti apa rupanya?"

Tegur Adipati Rekayasa. Mendengar ucapan sang ayah, Riwang agak tersentak. "Bukannya aku tidak gembira, Ayah. Aku takut kedatangan Kakang Rawing malah akan membuat ayah bertambah pusing," jawab Riwang. Adipati Rekayasa tersenyum.

Kalian sudah dewasa sekarang. Tidak mungkin kalian akan bertengkar terus seperti dulu. Semasa kecil, kalian memang selalu memusingkan ayah. Apalagi Rawing, wataknya yang keras dan ugal-ugalan hampir setiap hari membuat jengkel. Lain dengan kau. Tapi bagaimana pun kalian adalah anak-anakku. Aku berharap selama sepuluh tahun ini Rawing dapat merubah pendiriannya, lanjut sang Adipati.

Riwang tidak menjawab karena telah dilihatnya sebuah kapal mulai merapat di pinggir muara. Adipati Rekayasa dan para pengawalnya ikut berdebar menanti para penumpangnya turun. Tapi ternyata kapal itu hanyalah pengangkut barang milik seorang saudagar dari tanah sebrang. Kembali rombongan Adipati Rekayasa merasa kecewa.


Pertempuran Berdarah di Tengah Laut Jawa

Jauh di tengah Laut Jawa, dua buah kapal besar dengan layar terkembang saling rapat. Dari kejauhan terdengar benturan senjata maupun teriakan-teriakan orang mengerahkan tenaga. Terlihat pula beberapa awak kapal berjatuhan bersimbah darah menembus permukaan laut yang tenang membiru. Tidak disangkal lagi, dua buah kapal yang saling rapat itu telah terjadi suatu pertempuran sengit.

Telah banyak mayat-mayat bergelimpangan penuh luka babatan pedang. Sebelah pihak dari mereka mengenakan seragam prajurit kerajaan. Mereka pula yang mendesak lawan-lawan yang tinggal beberapa orang itu. Meskipun tinggal sembilan orang, mereka tidak gentar menghadapi kurang lebih dua puluh orang prajurit kerajaan, walaupun mereka akhirnya mengantarkan nyawa satu demi satu.

Lima orang yang nampaknya memiliki kemampuan masih dapat bertahan. Bahkan mereka sempat menjatuhkan beberapa orang prajurit. Pedang mereka tidak henti-hentinya bergulung. Melihat para prajurit itu tewas mengerikan, pemimpin dari prajurit-prajurit itu melompat menghadapi seorang lawan yang berilmu tinggi. Pedangnya langsung menyambar tanpa ampun. Tapi hanya dengan sekali tepis, pemimpin prajurit itu seperti kelabakan.

"Kalian orang-orang kerajaan gadungan. Tindakan kalian tidak lebih macam perompak!" bentak penumpang kapal itu sengit. Pedangnya berdesing bagai segulungan sinar. Gerakannya yang nampak tenang menunjukkan bahwa pemuda itu salah satu lawan yang tidak mudah dilumpuhkan.

"Melihat dari tampangmu, pastilah kau Rawing saudara kembar Riwang!" seru pimpinan prajurit garang.
"Sudah tahu begitu kenapa masih juga menyerang! Tidak takutkah kau terhadap ayahku?" balas Rawing keras.

Pemuda itu ternyata Rawing, seorang yang telah dinantikan oleh keluarganya di tepi muara. Kenapa harus takut terhadap Adipati Rekayasa? Kau pikir dia itu apa? Aku datang ke sini justru akan melumatkanmu! jawab pimpinan prajurit sembari melancarkan serangan kilat.

Rawing yang terdesak akhirnya terkepung belasan prajurit. Punggungnya tersayat, pakaiannya koyak dan bersimbah darah. Dalam kondisi kehabisan tenaga, sebuah hantaman dahsyat mengenai dadanya. "Deeer!" Tubuh Rawing mental membentur tiang layar dan meluncur jatuh nyemplung ke dalam laut yang memerah bercampur darah.

Pemimpin prajurit yang bernama Dwipa Kuntar menyeringai puas. Ia berencana memfitnah keluarga Adipati Rekayasa sebagai pemberontak demi menguasai Tanah Genang Banyu.


Fitnah Keji Dwipa Kuntar dan Pelarian Riwang

Kabar tragis sampai ke kediaman Adipati Rekayasa. Kedatangan Dwipa Kuntar bersama belasan pengawal bersenjata bukannya membawa berita baik dari Sri Baginda, melainkan membawa tuduhan palsu bahwa Rawing memimpin gerombolan pembunuh di tengah laut. Keributan tidak terelakkan. Dalam bentrokan itu, istri Adipati Rekayasa tewas mengenaskan terkena babatan pedang Dwipa Kuntar, sementara sang Adipati sendiri gugur akibat tebasan di punggung saat berusaha mengambil pedangnya.

Riwang yang tidak memiliki kepandaian ilmu silat terpaksa melarikan diri melintasi rimbunnya semak alang-alang. Dalam pelariannya yang menegangkan, ia berhasil meloloskan diri dari lima orang pengejar di sebuah bangunan batu tua dengan melemparkan batu dan kayu, sebelum akhirnya berhasil kabur ke arah perkampungan.

Sementara itu, Rawing yang tenggelam di laut ternyata diselamatkan oleh seorang nelayan tua bernama Ki Balung dan putrinya yang cantik bernama Mayang. Setelah meminum obat herbal dan memulihkan lukanya di gubuk pesisir, Rawing terkejut mendengar kabar dari Ki Balung bahwa saudaranya, Riwang, telah ditangkap di Desa Branjangan dan orang tuanya tewas dibantai oleh intrik jahat Dwipa Kuntar.

Riwang dijebloskan ke dalam penjara air yang mengerikan, dikelilingi oleh kolam berisi jutaan ikan pemakan bangkai. Di dalam sel pengap tersebut, ia bertemu dengan seorang kakek tua bernama Kala Suta yang telah terkurung puluhan tahun. Sebelum mengakhiri hidupnya secara tragis demi menjaga rahasia, Kakek Kala Suta menyerahkan lempengan batu bertuliskan namanya dan menunjukkan lorong terowongan rahasia di bawah lantai jerami.

Riwang merayap keluar dari terowongan gelap itu menuju tepi kali. Di sana, secara tidak sengaja ia mengambil kuda dan menukar pakaian kotornya dengan pakaian kulit binatang milik seorang pemuda sakti yang sedang berendam. Pemuda itu tak lain adalah Wintara, sang Pendekar Kelana Sakti!

"Maling busuk! Aku sudah mendapatkan kudaku. Sekarang kembalikan pakaianku... Kalau tidak...!" teriak Wintara mengejar Riwang hingga ke sebuah bangunan tua misterius.

Bangunan tua itu ternyata menyimpan misteri lima buah peti mati berisi mayat hidup yang ternyata adalah samaran sekelompok pejuang rakyat pimpinan dua wanita tangguh, Wuning Sari dan Lela Warni. Karena Riwang membawa lempengan batu milik Kala Suta, kelompok pejuang tersebut langsung mengangkat Riwang sebagai ketua pimpinan mereka untuk menggulingkan kelicikan Dwipa Kuntar!

Disqus Comments