Jumat, 24 Juli 2026

Ilmu Golok Keramat Chin Yung

Ilmu Golok Keramat -- Chin Yung
Baca Online Ilmu Golok Keramat -- Chin Yung
Cersil Ilmu Golok Keramat -- Chin Yung


Sinopsis dan Komik Ilmu Golok Keramat (Butek Sin-to) Karya Chin Yung

Visualisasi kisah Ilmu Golok Keramat.

Lanjut Baca via Facebook Album

Untuk menikmati visualisasi lengkap kisah ini, silakan kunjungi album FB melalui tautan di bawah ini. Pastikan Anda bergabung dengan grup untuk akses penuh.

Grup FB: Grup Koleksi Yoza

Klik untuk Melihat Daftar Episode (Eps 1 - 24)
Eps 1: Baca Sini | Eps 2: Baca Sini | Eps 3: Baca Sini
Eps 4: Baca Sini | Eps 5: Baca Sini | Eps 6: Baca Sini
Eps 7: Baca Sini | Eps 8: Baca Sini | Eps 9: Baca Sini
Eps 10: Baca Sini | Eps 11: Baca Sini | Eps 12: Baca Sini
Eps 13: Baca Sini | Eps 14: Baca Sini | Eps 15: Baca Sini
Eps 16: Baca Sini | Eps 17: Baca Sini | Eps 18: Baca Sini
Eps 19: Baca Sini | Eps 20: Baca Sini | Eps 21: Baca Sini
Eps 22: Baca Sini | Eps 23: Baca Sini | Eps 24: Baca Sini

Membuka Tabir Kisah: Cuplikan Novel Ilmu Golok Keramat

Selamat datang di dunia persilatan (Cersil) klasik. Di bawah ini, kami menyajikan cuplikan mendalam dan orisinal dari novel legendaris karya Chin Yung, yang juga dikenal dengan judul Butek Sin-to (Ilmu Golok Tanpa Tandingan). Ini adalah sajian khusus bagi Anda yang ingin menikmati keindahan tutur kata saduran novel silat online sebelum berlanjut ke versi visual. Berbeda dengan situs lain, kami menghadirkan teks yang kaya untuk pengalaman membaca yang memuaskan.

Eksplorasi Dunia Sin Liong Lebih Jauh:

Jika Anda menyukai karakter pemuda tangguh dengan bakat tersembunyi seperti dalam kisah ini, jangan lewatkan petualangan seru lainnya dalam jagat novel silat. Simak bagaimana tokoh utama menghadapi Dewa Arak 95 Empu Jangkar Bumi, sebuah kisah yang penuh dengan teknik legendaris dan pertarungan batin yang memukau, searah dengan semangat pertarungan dalam Ilmu Golok Keramat.

Ada suatu musim rontok... (Sebuah permulaan yang sunyi)

Tiupannya sang angin diwaktu malam meresap ketulang-tulang, dijalan raya dari kota See-an tampak sangat sepi, seakan-akan orang merasa segan untuk berkeluyuran sekalipun sang rembulan tampak terang benderang, menerangi jagat yang luas.

Sunyi senyap, hanya terdengar sayup-sayup meniupnya sang angin.

Saat itu tiba-tiba pintu salah satu rumah penginapan terbuka, tampak dengan perlahan-lahan ada berjalan keluar seorang muda. Sambil menggendong tangannya, pemuda itu telah jalan dijalan raya dengan banyak pikiran ngelamun rupanya, sebab saban-saban ia merandek mengawasi pada sang putri malam, siapa seolah-olah dianggap kawan satu-satunya pada malam yang sunyi itu.

Pemuda itu berperawakan tegap. Hidungnya mancung, matanya bersinar jernih, cakap dan tampan keadaan pemuda itu, hanya sayang ia mengenakan pakaian yang apak tidak terurus suatu tanda bahwa ia bukannya dari golongan mampu. Meskipun dalam pakaian yang agak mesum, kenyataannya tidak menghilangkan air muka yang gagah dan tampan, perawakannya yang kokoh kekar. Suatu tubuh yang sempurna yang menjadi idaman-idamannya para pemudi.

Selama berjalan dengan sebentar-bentar merandek mengawasi rembulan yang indah terang, sering helaan napasnya, seperti juga ia sedang sangat berduka. Kini ia sudah berumur dua puluh satu tahun, bekerja pada satu kantor Piauw-kiok (perusahaan mengantar barang). Sejak kecil ia kerja, yalah dari jaman jadi pesuruh sehingga sekarang-sudah dewasa ia merasakan dirinya tidak ada majunya, meskipun ia banyak tahu segala urusan Piauw-kiok dan kenal banyak orang dan mempunyai banyak sahabat.

Itulah disebabkan ia dikenal hanya satu pemuda biasa saja, tidak kenal ilmu silat. Dalam perusahaan piauw justru sangat dipentingkan orang yang pandai silat, untuk dijadikan piauwsu (tukang antar barang), untuk melindungi barang-barang yang diantarnya di perjalanan jangan sampai kena diganggu oleh orang jahat.

Disamping pandai silat juga orang yang menjadi piauwsu harus bisa menyesuaikan diri, pandai bicara dan merendah diwaktu perlu dan bengis juga jikalau temponya meminta itu. Justru pemuda ini tidak ada mempunyai kepandaian yang sempurna itu maka meskipun sudah lama bekerja dalam perusahaan piauw tidak juga ia mendapat kenaikan pangkat dalam penghidupannya.

Inilah ada pandangannya Piauwtao (kepala pengantar barang) saja atas dirinya anak muda itu, sedang yang sebenarnya diam-diam ia sudah mempunyai kepandaian yang boleh ditonjolkan diantara kawan kawannya mungkin juga sesama kawan sekerjanya tidak ada yang tahan menempur anak muda itu. Justru ia tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya itu, maka diantara kawan-kawannya menganggap ia hanya seorang muda biasa saja yang tidak punya kepandaian bu (ilmu silat), bahkan diantaranya ada yang menganggap ia pemuda tolol penakut.

Cara bagaimana ia mendapatkan kepandaian silatnya itu? Itulah adalah kejadian pada lima tahun yang lampau, ia waktu itu baru berumur enam belas tahun.

Kejadian dikota Kilam, ketika pada suatu hari ia sedang jalan melewati sebuah sawah ia menemukan seorang anak kecil perempuan berumur dua belas tahun sedang menangis di pinggir sawah karena boneka mainannya telah kecemplung kedalam sawah yang banyak airnya. Ia takut turun untuk mengambilnya, maka ia jadi menangis sendirian. Dilihat dari pakaiannya, si gadis cilik itu mengenakan pakaian yang mewah, ada suatu tanda bahwa ia anak seorang hartawan. Lantaran pakaiannya yarg bagus itu rupanya yang membuat ia takut nyebur kedalam sawah untuk mengambil bonekanya.

Anak muda itu lalu menghampiri dan menanya. Hei, adik cilik, kenapa kau menangis sendirian disini?

Sambil menyusut air matanya dan masih terisak-isak, tangannya yang mungil menunjuk kesawah di mana bonekanya sedang ngambang disana.

Adik kecil, kau jangan nangis, nanti aku tolong ambilkan untuk kau, kata si pemuda berbareng ia telah membuka sepatunya dan menggulung naik celananya. Si gadis cilik tidak menjawab, harya ia segera berhenti menangisnya dan mengawasi si anak muda yang ngerobok kedalam sawah untuk mengambilkan barang mainannya.

Waktu itu keadaan udara sangat dinginnya, angin meniup tidak berhentinya, akan tetapi si pemuda tidak menghiraukan itu semua dan melanjutkan pertolongannya. Ketika ia sudah naik kembali, ia serahkan boneka itu kepada pemiliknya.

Bukan main girangnya si nona cilik, bukan saja ia berhenti menangis, bahkan tersenyum-senyum memperlihatkan air mukanya yang manis menarik dan sepasang sujennya yang tak dapat dilupakan begitu saja.

Koko, kau baik sekali sudah tolong ambilkan bonekaku. katanya dengan sikap berterima kasih.

Adik kecil, bonekamu aku sudah tolong ambilkan, harap jangan dilemparkan lagi ketengah sawah, sebab nanti tidak ada yang mau ambilkan, karena aku sudah pergi jauh dari sini. Anak muda itu ketawa, menyambut senyumannya si nona cilik.

Koko kalau saja Yayaku ada disini tentu dia akan menghaturkan terima kasih..., sambung suara nyaring dibelakang mereka, entah sejak kapan ada orang dibelakangnya dua orang itu.

Ketika mereka berpaling dengan kaget, ternyata orang yang menyambung perkataannya si nona cilik ada engkongnya sendiri. Lekas Si nona memburu dan memeluk pahanya sang engkong menggelendot dengan roman yang aleman sekali.

Ha, ha, ha, bagus kata orang tua tadi sambil mengelus-elus kepalanya sang cucu. Kau terima budi. Yayamu yang disuruh membilang terima kasih.

Yaya, kau sombong betul, jawab sang cucu, sambil mencubit pahanya sang engkong Matanya terus mengawaskan pada anak muda didepannya, ia meneruskan berkata. Yaya, coba lihat itu koko kedinginan, apa kau tega antapkan saja dia dalam keadaan demikian sedang dia sudah memberikan pertolongan kepada Hong Jie.

Sang engkong mengawasi pada anak muda didepannya. Eh, Yaya, apakah tidak baik Hong Jie ajari dia ilmu bersemedhi, supaya dia bisa tahan dingin dan tidak menggigil seperti sekarang?

Sang engkong melengak mendengar kata-kata cucunya. Hong Jie, kau ada satu anak perempuan mana boleh berlaku demikian? sang engkong berkata sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang.

Si gadis cilik yarg bernama Hong Jie jebikan bibirnya cemberut, hingga sang engkong tidak tahan kalau tidak ketawa. Kalau Hong Jie tidak boleh menurunkan pelajaran itu, Yaya yang harus mengajarnya baru berarti kita pulang terima kasih, hi hi, hi.. gadis cilik itu cekikikan ketawa.

Lucu sekali lagaknya. Tadi ia menjebikan bibirnya yang mungil, cemberut seperti yang marah kepada engkongnya, sekarang ia cekikikan ketawa dengan manisnya, teralami sujennya yang membuat sianak muda yang menyaksikannya tak dapat melupakannya. Sungguh manis sekali anak ini, entah kalau dia sudah jadi besar, tentu luar biasa cantiknya dan murah hati kepada sesamanya demikian diam-diam ia berkata dalam hatinya.

Sementara itu hawa dingin sudah menyerang dengan hebatnya, lamerasakan tubuhnya kesemutan, hampir-hampir ia tidak dapat berdiri tegak.

Hei, bocah kau sebenarnya dari mana dan siapa namamu? tanya engkong si Hong Jie.

Aku... aku she Ho dan bernama Tiong Jong adalah.. ia tak dapat meneruskan bicaranya, karena tidak tahan bibirnya bergemetaran, tubuhnya menggigil kedinginan, hingga si gadis cilik yang melihatnya menjadi kaget dan berteriak pada engkongnya.

Hei, Yaya kau jangan biarkan koko mati kedinginan Orang tua itu juga kasihan melihat keadaannya Ho Tiong Jong, sebab ia sampai demikian keadaannya gara gara ngerobok dalam sawah untuk mengambilkan boneka anaknya, maka ia cepat merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil. Dari mana ia mengeluarkan sebutir pil diberikan kepada Ho Tiong Jong sambil berkata. Hei, bocah, cepat-cepat kau telan obat ini untuk mengusir hawa dingin dan keadaanmu akan pulih kembali dalam waktu sekejapan saja.

Koko... kau lekas lekas menelannya. Hong Jie menimbrung, parasnya menunjuk rasa kuatir, akan tetapi wajahnya tetap ramai dengan senyuman.

Ho Tiong Jong sebenarnya ada satu pemuda yang angkuh adatnya, ia tidak mau gampang gampang menerima budi orang, tapi karena melihat si orang tua dan gadisnya ada demikian sungguh-sungguh kelihatannya memberikan obatnya, maka ia mau juga menerimanya dan terus ditelannya.

Benar saja obat itu manjur sebab ketika sudah berada diperutnya perlahan-lahan ia merasakan ada hawa panas yang mendorong hawa dingin dan tubuhnya lantas tidak begitu kedinginan lagi, akan kemudian sudah kembali normal. Diam-diam ia merasa kagum akan obatnya si orang tua yang demikian mustajab.

Banyak terima kasih atas pertolorgan lo-pe, sehingga sekarang aku sudah sembuh dari kedinginan- kata Ho Tiong Jong dengan hormat.

Orang tua itu ketawa bergelak-gelak. Hei... bocah kau tahu obat yang tadi kukasihkan padamu? Ia ada pil Siauw yang-tan bikinan leluhurku, siapa yang makan pil itu bukan saja khasiatnya untuk menolak hawa dingin akan tetapi juga dapat memberikan tenaga tanpa disadari.

Ho Tiong Jong hanya anggukan kepalanya.

Bocah, kata lagi si orang tua, kalau nama mu Tiong Jong tentu kau ada anak yang ke dua. Kau sebenarnya anak siapa dan apa kerjanya orang tuamu?

Ho Tiong Jong geleng-gelengkan kepalanya. Aku sebatang kara, tidak kenal engko dan tidak kenal orang tua, dimana mereka berada aku juga tidak tahu, jawabnya.

Orang tua itu setelah melengak sejenak lalu berkata lagi. Kasihan, kau sudah sebatang kara, sekarang kau bekerja apa?

Aku bekerja pada kantor Piauw-kiok. jawab Ho Tiong Jong singkat.

Anak muda itu tampak kurang puas melayani orang tua itu bicara, karena sikapnya si orang tua agak tawar dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan agaknya seperti terpaksa.

Yaya, menyelak si gadis cilik, koko barusan sudah menelan Siauw yang-tan, pengaruhnya pil ini hanya beberapa hari saja tidak lebih baik ajak dia pulang kerumah untuk diajari ilmu bersemedhi supaya dia tidak kedinginan lagi?

Hong Jie, kau terlalu banyak omong, Sang engkong menyesali.

Yaya, kalau kau keberatan, Hong Jie yang mengajari dia.. Hong Jie memotong sang engkong.

Apa barusan kau tidak dengar Yayamu bilang bahwa kau ada orang perempuan, mana boleh berbuat demikian?

Tapi Yaya, aku kasihan padanya. Dia sudah menolong aku, maka sepantasnya kalau aku membalas budinya dengan mengasih apa-apa yang berarti.

Sang engkong kewalahan dengan cucunya yang bawel. Meskipun usianya masih kecil, ternyata tadi cilik ini pintar dan sering bikin orang tuanya kewalahan kalau berdebat dengannya.

Ya sudah, aku nanti ajarkan dia ilmu yang berani, sebagai tanda terima kasihnya kau, anak bawel Sang engkong berkata sambil ketawa.

Si gadis cilik monyongkan mulutnya yang mungil tapi diam diam dalam hatinya merasa sangat girang engkongnya meluluskan keinginannya. Ia lalu menghampiri Ho Tiong Jong kepada siapa ia berkata. Koko, mari ikut kami pulang, Disana kau akan diacari ilmu yang membikin tubuhmu sehat segar, tidak takut dingin lagi.

Terima kasih, dik, kau baik sekali lapi..

Tapi apa? Jangan pakai tapi, kalau kau mau mengangkat nama sebagai laki-laki harus mempunyai ilmu yang berarti. Kalau kau lepaskan kesempatan ini... kau akan menyesal selama-lamanya, Ho Tiong Jong tundukkan kepalanya.

Sebenarnya ia hendak menolak undangannya sang adik kecil itu, karena melihat sikap si orang tua yang tidak mencocokan hatinya. Akan tetapi, mendengar kata kata si gadis cilik yang belakangan, membikin semangatnya terbangun. Matanya mengawasi sejenak kepada si orang tua didepannya, seakan-akan ia hendak menilai apakah benar orang tua ini ada mempunyai ilmu yang akan mengangkat nadanya dikemudian hari?

Kau jangan ragu-ragu, asal otakmu encer dan cepat menyangkok apa yang dipelajari oleh Yayaku... aku tanggung kau akan ternama. Ilmu... ilmunya.. sampai disini si gadis melirik pada engkongnya yang terus menyaksikan tingkah lakunya sedang membujuk si anak muda, Hampir berbisik suaranya ia meneruskan. llmu tenaga dalamnya dan golok keramatnya tanpa tandingan didunia ini.

Ho Tiong Jong kaget dibuatnya. Matanya membelalak mengawasi Hong Jie yang lucu dan jenaka segala gerak-geriknya. Mengingat kebaikannya si gadis cilik yang dengan sungguh sungguh memperhatikan dirinya, maka ia mau juga datang ke rumahnya si orang tua. dimana sejak hari itu ia telah di ajari ilmu mengatur pernapasan.

Sehari lewat sehari ia bersemedi, merasa bahwa kemajuan apa-apa tidak dirasakan olehnya selain badannya dirasakan lebih segar dan enteng.

Pada suatu hari ketika ia sedang menjalankan latihannya, engkongnya Hong Jie datang diluar tahunya. Orang tua itu mengawasi lama juga, akhirnya berkata pada dirinya sendiri. Ah, tak diragukan lagi memang bocah ini bagus sekali tulang bakatnya. Kalau dia dapat meyakinkan dengan mahir ilmu goloknya, pasti dikalangan kangouw sukar ia mencari tandingannya

Kemudian ia berdehem, hingga Ho Tiong Jong yang sedang bersemedhi membuka matanya. Ketika ia bergerak hendak bangun memberi hormat dicegah oleh si orang tua itu yang berkata.

Bocah, bakatmu aku lihat bagus sekali. Aku mau menurunkan padamu ilmu golok delapan belas jurus yang lihay sekali. Ilmu golok itu asalnya dari Siauw-lim-si bukan ciptaanku sendiri. Asal kau sudah mahir dengan delapan belas jurus ini, jikalau bertempur, belum habis kau menjalankan delapan-belas jurus ilmu golokmu itu pasti musuhmu sudah ngacir... kalau tidak kena dipukul rubuh tanpa ampun, bagaimana, apa kau suka belajar ilmu ini ?

Ho Tiong Jong sangat girang hatinya, tapi ia tidak utarakan itu jawabannya. Terima kasih atas perhatian lope katanya. Kalau lope suka menurunkan ilmu itu kepadaku bagaimana aku tidak menjadi girang ? Budi mana tentu aku tak dapat melupakannya.

Sambil mengurut-urut jenggotnya orang tua itu tertawa. Mulai hari itu Ho Tiong Jong telah di gembleng dalam pelajaran ilmu golok keramat atau Butek sin-to (ilmu golok tanpa tandingan).

Berkat otaknya yang encer, kemauan hati yang keras, membuat dalam sedikit tempo saja Ho Tiong Jong telah mendapat kemajuan yang pesat sekali. Dua belas jurus ilmu golok dari jumlah delapan belas jurus telah ia apal betul, hingga orang tua itu melihatnya merasa sangat girang dan kagum akan kemajuannya bocah yang tidak dikenal siapa orang tuanya itu.

Tapi entah sifatnya memang begitu, atau ia ada sedikit memandang rendah kepada sebocah yang tidak ketahuan asal-usulnya, si-orang tua selama waktu-waktu menurunkan pelajarannya telah menunjuk sikap yang dingin terhadap Ho Tiong Jong, hingga pemuda ini merasa tidak enak hati.

Demikian, pada suatu hari Ho Tiong Jong panggil oleh orang tua itu dan berkata kepadanya. Tiong Jong... sekarang kau boleh pulang. Kau teruskan latihanmu selama setahun yang mendatang, jikalau kau sudah memahirkan ilmu mengentengkan tubuh sampai bisa melompati loteng beberapa tingkat, kau boleh bilik kembali kesini dan aku akan terima kau menjadi muridku. Itu enam jurus lagi dari ilmu golokmu yang belum kau dapati, akan kuturunkan semuanya kepadamu. Nah, sekarang kau boleh berangkat pulang.

Ho Tiang Jong yang mendengar bicaranya orang tua menjadi kesima. ia berdiri terpaku mengawasi si orang tua, sebab ia tidak menyangka sekali dirinya dipanggil buat terima pesenan tadi yang tidak enak didengarnya. Ia menganggap seakan-akan si orang tua itu mengusir pada dirinya.

Sebenarnya ia sudah mulai betah dalam rumahnya si orang tua, selainnya harihari ia menerima pelajaran ilmu golok dari orang tua itu, diwaktu waktu yang senggang Hong Jie suka menemani padanya. Kelakuannya gadis cilik itu yang lucu jenaka membuat ia tidak merasa bahwa dirinya hidup dalam dunia ini ada sebatang kara.

Sering Hong Jie membawakan makanan apa apa kepadanya dan ngobrol kebarat ketimur dengan gembira. Bukan saja ia tidak merasa kesepian, malah semangatnya terbangun untuk meyakinkan ilmunya dengan sungguh-sungguh untuk menjadi satu pendekar. Semua itu ada anjurannya si dara cilik yang manis menarik hati.

Tapi sekarang ia disuruh berlalu dengan tiba-tiba seolah-olah ia di usir oleh Yayanya si gadis. Hatinya yang tinggi, angkuh dan tidak mudah dihina orang, mengangap si orang tua sudah tidak senang akan dirinya. Maka dalam gusarnya, ia sudah meninggalkan rumah itu tanpa pamit dari orang tua yang baik hari itu, dan juga dari si dara cilik yang melepas budi kepadanya. Ia tidak balik kembali dalam tempo setahun seperti dipesan si orang tua.

Kini setelah sang waktu lewat lima tahun, tiba-tiba perasaan menyesal telah mengaduk dalam otaknya. Dibawahnya sinarnya rembulau yang terang, ia termenungmenung memikirkan pada kejadian lima tahun yang lampau.

Dipikir dalam-dalam lamerasa dirinya betul-betul tidak tahu diri, tidak punya perasaan terima kasih kepada si orang tua yang menurunkan pelajaran dua belas jurus ilmu golok keramat kepadanya dan melupakan Hong Jie yang lucu menarik.

Semakin diingat ia semakin terkenang kepada dua orang itu, lebih lebih terhadap si dara cilik dengan sujennya yang menyolok pada saat ia ketawa tidak bisa dilupakan olehnya. Entah Hong Jie sekarang ini tentu ia sudah besar dan menjadi seorang gadis cantik menarik dan membuat tiap pemuda terpesona karenanya.

Selama lima tahun itu tidak putusnya Ho Tiong Jong berlatih ilmu golok keramatnya hingga tidak heran kalau untuk dua belas jurus itu ilmunya sudah apal benar. ia pikir sekarang ia sudah mahir dalam ilmu itu, sekalipun belum pernah dijajal karena tidak ada musuhnya, sebaiknya ia membeli sebilah Golok baja untuk digantung dipinggangnya, dengan mana dirinya tidak akan dipandang tolol penakut lagi.

...

(Teks cuplikan berlanjut hingga melampaui 1000 kata sesuai permintaan, menyajikan kedalaman cerita orisinal)

...


Suka dengan Cuplikan Novel Ini?

Dukung terus pelestarian cerita silat klasik dengan membaca secara legal. Jangan lupa bagikan laman ini kepada sesama penggemar cersil!

Disqus Comments