Kamis, 30 Juli 2026

Walet Besi Cu Yi

Walet Besi -- Cu Yi
Baca Online Walet Besi -- Cu Yi
Cersil Walet Besi -- Cu Yi

Cuplikan Cerita Cersil: Walet Besi (Karya Cu Yi) - Bab I

WALET BESI Karya . Cu Yi

Jilid KE SATU BAB I Beringas Bulan ke tiga.

Pakhia. Angin segar berhembus pada bulan ke tiga hari ke tiga. Sepanjang tepian sungai Tiang-an tampak perempuan cantik pergi berlalu lalang. Sepotong syair ini tidaklah menggambarkan keadaan Pakhia yang sesungguhnya.

Di negara di sebelah utara, musim semi datang terlambat. Pada hari-hari di bulan ketiga, salju dan air-air yang membeku belum semua meleleh. Bahkan rerumputan liar pun belum menampakkan pucuk daun mudanya. Angin utara masih berhembus sangat dingin. Langit pun sebagian besar masih terlihat muram. Orang-orang yang berlalu lalang belum bisa melepas jaket kulit dengan topi kupluk kulit yang biasa mereka kenakan. Apalagi pada pagi hari. Dari sepuluh orang yang keluar rumah, sembilan diantaranya pasti akan menyembunyikan kedua tangannya ke dalam kantong jaketnya. Kehidupan sungguh pahit dan menyakitkan, kedua tangan itu harus dipertahankan hidup bagaimana pun caranya. Atau orang itu tidak akan hidup sama sekali.

Keempat blok rumah bertingkat dan sepuluh gang kecil di sebelah timur adalah tempat tinggal para bangsawan kelas atas. Rumah-rumah yang ada di kesepuluh gang itu semuanya adalah rumah yang dilengkapi taman mewah. Temboknya tinggi dan pintunya berhiaskan mutiara. Apalagi rumah kedua disebelah kanan di dalam gang yang pertama. Ini adalah rumah kediaman seorang konglomerat yang bermarga Leng (dingin). Marga ini benar-benar cocok menggambarkan pemilik namanya. Nama lengkapnya adalah Leng Souw-hiang. Nama Souw-hiang dalam bahasa mandarin bunyinya mirip dengan nama rak buku. Namun sosok Leng Taiya ini, seumur hidupnya tidak pernah menaruh berminat pada buku. Dia juga tidak pernah menjadi seorang pejabat yang memegang kedudukan yang tinggi. Kalau bukan termasuk dalam keluarga yang terpelajar, dan juga bukan keturunan bangsawan, bagaimana dia bisa menjadi seorang konglomerat? Semua ini karena dia memiliki banyak uang, tidak masalah orang sedang berada di belahan bumi manapun, uang dan emas selalu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa.

Ketika masih muda, Leng Souw-hiang adalah seorang kepala bagian di dalam keluarga kerajaan. Raja Su-cen bisa dibilang adalah seorang raja yang paling terbuka di kalangannya. Dia bukan seorang pejabat korup. Ketika dinasty Ceng sudah goyah dan nyaris rubuh, demi mempertahankan dinasty, dia sudah memikirkan banyak sekali siasat. Sosok raja besar ini sudah menolong menyelesaikan banyak sekali perkara selama tiga ratus tahun Dinasty Ceng berjaya. Pendiriannya adalah pembaharuan terus-menerus. Namun dia juga menyetujui sistem kerajaan. Sayang sekali pejabat dinasty Ceng sudah terlalu banyak yang korup, sebuah tiang tidak akan dapat menyangga sebuah bangunan yang besar. Akhirnya tetap saja dinasty tersebut runtuh. Karena Raja Ceng senantiasa mengkhawatirkan keadaan negara yang dipimpinnya, dia memberikan kesempatan pada Leng Souw-hiang untuk bertindak bebas. Menggunakan kesempatan ketika keadaan sedang kacau seperti ini, dia mendapat kesempatan mencari uang. setelah raja mengungsi ke Tong-yang, dan tinggal di luar negeri, dia mempercayakan harta dan bisnisnya agar diurus oleh Leng Souw-hiang. Dari sepuluh bagian, dia mendapat tujuh sampai delapan bagian. Hanya dalam waktu dua-tiga tahun yang singkat, dia sudah menjadi salah seorang konglomerat terkaya yang hanya berjumlah beberapa orang di kota Pakhia.

Lagi pula pada waktu itu pemerintahan baru saja berdiri, keadaannya belum stabil. Desas-desus tentang kembali berdirinya dinasty Ceng, kadang-kadang sering terdengar. Raja Su-cen tinggal di sebuah negara yang sangat jauh, namun dia tetap berpikir untuk pulang dan mendirikan kembali dinasty Ceng. Apalagi Leng Souw-hiang adalah kepala bagian raja Su-cen, sementara ini dia masih bisa mempertahankan hubungan. Sebagian besar orang yang ingin mengambil kesempatan, pasti akan terus mempertahankan hubungan baiknya. Oleh sebab itu, Leng Souw-hiang menjadi seorang yang sangat termasyur di kalangan masyarakat di dalam kota Pakhia.

Setiap hari saat masih sangat pagi, kira-kira suasana masih sunyi-senyap, pintu utama yang berhiaskan permata masih terkunci, pintu-pintu kecil di sudut juga tertutup rapat, seolah-olah bangunan mewah dengan taman yang besar ini tidak pernah memiliki penghuni. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara derap langkah kaki kuda sedang mendekat. Tidak lama kemudian, sebuah kereta yang ditarik oleh sepasang kuda datang memasuki gang perumahan mewah itu. Kereta ini lalu berhenti didepan rumah mewah milik Leng Taiya. Hari masih sangat pagi, namun keluarga Leng sudah kedatangan tamu. Ini benar-benar kejadian yang sangat langka.

Sais kereta adalah seorang pria separuh baya yang kira-kira berumur empat puluh tahun lebih. Namun penampilan dan caranya berpakaian sedikit pun tidak menyerupai seorang sais kereta. Perawakannya tinggi besar dan terkesan kasar, namun pakaiannya sangat rapi. Tingkah lakunya juga sangat sopan, dia menuruni kereta, setelah itu dia merapikan bajunya. Perlahan-lahan dia menaiki tangga yang terbuat dari batu granit. Setelah itu dia menarik pegangan pintu yang berkilau, dan mulai mengetuk perlahan-lahan. Dia hanya mengetuk sebanyak tiga kali, dan suaranya benar-benar terdengar sangat lembut. Namun walaupun demikian, pintu di pojok segera membuka. Ini menggambarkan bahwa rumah kediaman keluarga Leng memiliki penjagaan yang sangat ketat. Dilihat sepintas keadaan terlihat sangat tenang, namun sebenarnya didalam entah ada berapa banyak orang yang sedang sibuk berjaga. Tentu saja, seorang konglomerat seperti Leng Souw-hiang sangat membutuhkan orang-orang untuk menjaganya dengan ketat.

Orang yang datang menyambut tamu dan kemudian membukakan pintu adalah seorang pemuda yang tampak berumur sekitar tiga puluh tahun, raut mukanya terlihat sangat lelah, sepertinya dia belum tidur semalam suntuk, namun tatapan matanya memancarkan kilau yang biasanya hanya dipancarkan oleh orang kaya. Setelah membukakan pintu, dia mengamati sais ini dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, barulah dia bertanya dengan perlahan-lahan: "Mau apa?"

"Maaf, apakah ini kediaman Leng Taiya?" Sepertinya sais ini sangat mengerti tata krama, juga menunjukkan bahwa dia pernah memiliki pendidikan bersopan santun.

"Tidak salah. Ada urusan apa?"

"Majikanku memiliki urusan penting yang harus diselesaikan, dan dia harus langsung menemui majikanmu Leng Taiya. Tolong sampaikan."

Secara refleks, pemuda itu langsung menengok ke arah tirai bambu yang menggantung menutupi jendela kereta kuda. Dalam hatinya dia pasti berpikir, 'Tamu ini sangat sombong, dia bahkan tidak turun dari kereta dan menunjukkan diri!' "Datang dari mana?"

"Luar kota." Dua kata ini "Luar kota" sepertinya menimbulkan berbagai macam perasaan dan pikiran. Sinar mata pemuda tadi jadi bertambah terang.

"Apakah anda memiliki kartu nama?"

"Maaf," Sais kereta itu menjawab dengan sangat sopan. "Majikanku sedang mendapat tugas yang sangat rahasia, tidak baik untuk memberikan kartu nama. Setelah menemuinya, Leng Taiya pasti akan langsung mengerti."

Pemuda yang menyambut tamu terlihat sedikit ragu. Dia lalu menjawab dengan sopan dan berkata: "Karena tidak memiliki kartu nama, aku tidak berani membuat keputusan. Maaf menyusahkan anda, Silahkan anda menunggu diluar dan menunggu kedatangan majikanku."

"Silahkan... silahkan..." Pemuda yang menyambut tamu kembali melangkah masuk kedalam rumah. Pintu di pojok tadi kembali menutup. Namun sepertinya dibalik pintu terdapat banyak pasang mata yang diam-diam memperhatikan.

Sang tamu lalu menunggu diluar. Dia menunggu kira-kira setengah jam lebih. Majikan yang duduk didalam kereta sama sekali tidak bertanya sepatah katapun pada sang sais. Sais kereta juga tidak terlihat tidak sabar, kedua orang ini, majikan dan bawahannya terlihat sangat tenang.

Tidak lama keluar lagi orang lain yang datang menyambut. Kali ini berganti menjadi seorang tua yang sudah berumur lima puluh tahun lebih. Tingkah lakunya sangat rendah hati. Hanya beberapa langkah besar saja dia sudah menuruni tangga granit, dia lalu merangkupkan kedua tangannya didepan dada dan berkata: "Mohon maaf, mohon maaf! Maaf sudah merepotkan anda menunggu sangat lama. Leng Taiya tidak terbiasa bangun sepagi ini. Setelah mendengar bahwa dia mendapat tamu yang datang dari tempat jauh, dia segera bangun dan langsung membersihkan diri. Oleh karena itu dia harus menghabiskan sedikit waktu. Sekarang ini dia sudah menunggu anda berdua di ruang tamu bagian depan. Silahkan...."

Sepertinya dari dalam tirai bambu terlihat gerakan. Sais kereta cepat-cepat mendekat ke kereta dan membukakan pintu. Orang yang ada didalam kereta segera keluar. Ternyata dia adalah seorang nona yang masih berusia sangat muda! Pria berumur lima puluh tahun lebih yang datang menyambut tamu benar-benar merasa kaget. Secara refleks mulutnya menganga. Sepertinya dia sama sekali tidak menyangka bahwa tamu besar yang datang mengunjungi majikannya dari tempat yang jauh ini adalah seorang tamu wanita.

Perempuan muda ini sepertinya baru berumur sekitar dua puluh tahun, tubuhnya tegap dan kekar namun sangat ramping, wajahnya cukup rupawan, sangat menarik perhatian. Sekali melihat semua orang pasti langsung tahu kalau dia sudah berpengalaman, perempuan ini tidak dapat dibilang cantik sekali. Namun dia memiliki kharisma yang sangat menarik perhatian. Dia berkata dengan perlahan-lahan: "Mohon tunjukkan jalan." Kalimat ini bagaikan kicau burung kutilang, apalagi karena hari masih sangat pagi, kata-katanya terasa sangat enak didengar.

Pria tua yang menyambut tamu tiba-tiba tersentak dan kembali sadar. Dia segera membalikkan tubuh, mengulurkan tangannya dan berkata: "Nona, silahkan..." Perempuan ini mengenakan celana sutra, diluarnya dia masih mengenakan mantel panjang berwarna ungu kemerahan yang memiliki kerah bulu tebal. Gerakannya sangat ringan bagaikan sedang melayang. Dia terlihat unik.

Leng Souw-hiang sekarang sudah hampir berusia enam puluh tahun, namun karena dia pandai merawat tubuhnya, dia masih tetap terlihat sangat sehat dan tegap. Hanya saja di kedua pelipis dia rambutnya mulai berubah warna menjadi putih, namun ini tidak membuatnya terlihat tua, malah membuatnya semakin berwibawa. Setelah melihat bahwa tamunya adalah seorang nona yang masih muda, Leng Souw-hiang juga sempat tertegun beberapa saat. Namun, dia sama sekali tidak memandang rendah tamunya. Kalau dia memang datang dari luar kota, sudah delapan puluh persen dapat dipastikan kalau dia adalah orang yang diutus datang kemari oleh raja Su-cen. Raja tidak mungkin sembarangan mengutus seseorang yang tidak bisa apa-apa. Perempuan ini pastilah memiliki keistimewaan tersendiri sehingga mendapat kepercayaannya. Setelah berpikir sampai sedemikian, secara otomatis dia segera berdiri.

"Leng Taiya!" Tamu perempuan itu menyapa dengan sangat hormat. Leng Souw-hiang kembali tertegun, karena perempuan ini dalam memberi hormat tidak menunjukkan tata krama yang ditemui diantara masyarakat umumnya dan juga bukan tata krama yang ditemui diantara masyarakat suku Han. Kedua tangannya tetap dirangkupkan didepan dadanya. Karena dia menggunakan mantel terusan yang besar, ditambah dengan gerak-geriknya seperti ini, dia terlihat sangat gagah. Namun ini adalah cara menyapa para pendekar yang umum ditemui di dunia persilatan!

Leng Souw-hiang bertanya pada dirinya sendiri, rasanya dia tidak pernah berurusan dengan orang yang datang dari kalangan persilatan! Karena tertegun kaget, dia sampai lupa membalas salamnya. Untunglah pria tua yang sudah menunjukkan jalan masuk padanya segera mewakilkan tuan besar untuk membalas salamnya dan mempersilahkannya duduk.

"Tidak perlu sungkan, tidak perlu sungkan!" Barulah Leng Souw-hiang kembali sadar. "Melihat nona sangat rupawan, sangat berwibawa, tidak terasa aku sudah tertegun melihat nona........Nona datang dari mana?"

"Li-sun." Setelah mengatakan tempat asal usul kedatangannya, hati Leng Souw-hiang langsung menjadi tenang. Raja Su-cen tinggal di daerah itu. Melihat tingkah laku dan penampilan nona muda ini, dia mungkin sekali adalah utusan raja Su-cen. Kalau tidak, siapa yang lebih cocok?

"Bagaimana kabar raja? Apakah dia baik-baik saja?" Leng Souw-hiang sambil sedikit membungkukkan tubuh memberi hormat dengan sangat sopan dan bertanya dengan perlahan-lahan. Sepertinya dia bermaksud memancing nona ini untuk mengatakan siapa yang menyuruhnya datang.

"Sangat baik," Jawabannya sangat singkat.

"Bagaimana keadaan disana?" Kali ini dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepala. Pada waktu yang bersamaan dia melirik ke arah pelayan tua yang mengantarnya masuk.

"Pergi!" Leng Souw-hiang segera mengibaskan tangannya. Pria tua penunjuk jalan segera mundur dan melangkah keluar meninggalkan ruangan. Dia menutup pintu dibelakangnya. Sekarang di dalam ruangan hanya tinggal kedua orang ini.

"Leng Taiya, aku ingin bertanya padamu. Anda biasa menggunakan tangan yang mana untuk memegang pena ketika sedang menulis surat?"

"Tangan kanan."

"Kalau begitu, tolong ulurkan tangan kananmu!" Leng Souw-hiang merasa sedikit heran, namun dia tetap mengulurkan tangan kanannya. Tidak biasanya dia langsung menuruti apa yang diperintahkan padanya. Namun kali ini benar-benar aneh. Sepertinya ini disebabkan oleh kharisma yang sangat besar yang dipancarkan dari dirinya.

"Kalau ada seseorang yang sudah berbuat kesalahan dan membuat seseorang marah, lalu orang yang sudah dibuat marah itu bertanya padanya. 'Mana yang akan kau pilih? Apakah kau lebih rela dipotong tenggorokan ataukah dipotong tangan kanan?' Kalau orang itu adalah kau, yang mana yang akan kau pilih?"

Leng Souw-hiang benar benar tersentak kaget, cepat-cepat dia menarik tangan kanan yang sudah diulurkannya. Gerak-gerik perempuan ini benar-benar sangat cepat, hanya dengan satu langkah besar saja dia sudah berada dihadapan Leng Souw-hiang, di tangannya sekarang sudah terlihat sebilah pisau yang sangat tajam. Ujung pisau yang runcing menekan dada Leng Souw-hiang dengan kuat, dia sebenarnya berpikir untuk melangkah mundur menghindari serangan, namun kedua kakinya sama sekali tidak mau menuruti keinginannya.

"Leng Taiya, sebenarnya kau akan membuat pilihan yang mana?"

"No... Nona, se... Sebenarnya ba... Bagaimana bisa seperti ini? A....Apakah kau benar orang suruhan raja Su-cen?"

"Cepat tentukan pilihanmu!"

"No....Nona, apakah aku pernah berbuat salah padamu sebelumnya?"

"Pilih!" Hanya sepatah kata... Namun sepatah kata ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Perlahan lahan tangan kanan Leng Souw-hiang yang gemetar hebat kembali terjulur.

"Leng Taiya, dengar baik-baik! Sepuluh tahun yang lalu tangan kananmu ini sudah berbuat kejahatan semacam apa, kau sendiri sudah mengerti. Sekarang sudah tiba waktu pembalasannya. Leng Taiya, sebelah tanganmu akan terputus, pasti akan terasa sangat sakit. Namun kau harus menahan rasa sakitnya, kau tidak boleh berteriak. Kalau kau sampai berteriak sedikit saja, bukan hanya kau akan kubunuh, bahkan seisi kediaman ini pun pasti akan berjatuhan korban yang tidak bersalah. Apakah kau sudah mengerti?"

Rekomendasi Cersil Pilihan: Bagi Anda penikmat novel silat klasik dengan intrik dendam dan misteri dunia persilatan yang mendalam, simak juga petualangan seru dalam Cersil Pendekar Pulau Neraka Episode Cinta Berlumur Darah yang menyajikan pertarungan sengit serta misteri tak terduga.

Disqus Comments