Senin, 27 Juli 2026

Pendekar Pulau Neraka 05 Pengantin Dewa Rimba

Pendekar Pulau Neraka 05 Pengantin Dewa Rimba

Cersil Pendekar Pulau Neraka 05 Pengantin Dewa Rimba

Baca Online Pendekar Pulau Neraka 05 Pengantin Dewa Rimba


Ilustrasi Sampul: Pendekar Pulau Neraka Episode Pengantin Dewa Rimba

Baca juga karya cersil menarik lainnya melalui tautan internal berikut: Pendekar Kelana Sakti 10 Keris Buntung.


Suara gamelan mengalun merdu mengiringi langkah-langkah rombongan manusia yang berjalan pelahan-lahan, menyusuri jalan setapak di sebuah bukit batu. Tampak delapan orang laki-laki bertubuh kekar, menggotong tandu berhiaskan kain warna-warni dan bunga-bunga indah. Berjalan paling depan adalah seorang laki-laki yang mengenakan jubah kuning gading dan berkepala gundul. Di tangan kanan laki-laki itu, tergenggam seuntai tasbih dari rangkaian batu hitam pekat dan berkilat.

Di belakang orang berjubah kuning gading itu, berjalan dengan rapi sekitar tiga puluh orang pemuda tampan yang mengenakan jubah warna putih. Mereka terus berjalan pelahan-lahan dengan tangan melipat di dada. Lengan baju mereka yang panjang dan longgar, tergulung sampai ke siku. Pada bagian belakang tandu, tampak orang-orang dari berbagai golongan. Laki-laki, perempuan, tua dan muda, bahkan juga anak-anak. Mereka terus mengikuti dengan wajah tertunduk, tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.

Para nayaga terus memainkan gamelan bernada lembut dan syahdu. Sedangkan rombongan itu pun terus mendaki ke Puncak Bukit Batu itu. Beberapa saat kemudian, suara gamelan terhenti setelah mereka mencapai puncak bukit tersebut. Tampak di depan mereka berdiri dengan megahnya dua buah batu yang menyerupai sebuah pintu gerbang.

Laki-laki yang berada paling depan, langsung berlutut, diikuti oleh para pengikutnya. Kemudian tandu segera diturunkan, disusul dengan berlututnya semua orang yang berjalan di belakang tandu. Keadaan di sekitar Puncak Bukit Batu itu sunyi senyap. Tampak laki-laki yang berkepala gundul dan berjubah kuning gading itu mulai bangkit berdiri. Sejenak tubuhnya membungkuk tiga kali dengan telapak tangan merapat di depan dada.

"Dewata yang bersemayam di Swargaloka, terima-lah persembahan kami ini...!"

Lantang dan besar suara laki-laki itu. Setelah berkata demikian dia kembali membungkukkan badannya tiga kali, kemudian menoleh ke belakang. Tampak delapan orang yang masih berlutut di samping tandu, segera bangkit. Mereka juga membungkuk tiga kali, dan kembali mengangkat tandu itu.

Sementara itu tiga puluh orang yang berbaju seragam putih sedikit menggeser kakinya ke samping, memberi jalan. Lalu dengan langkah pelan-pelan, delapan orang bertubuh tegap dan kekar itu mulai berjalan menggotong tandu. Dan pada saat delapan orang tersebut melewati celah batu yang menyerupai pintu gerbang itu, terdengarlah isak pelan dan tertahan. Tampak seorang perempuan yang berbaju hitam dan berkerudung, terisak dalam pelukan seorang laki-laki berbaju hitam juga.

"Cepat, masukkan!" perintah laki-laki gundul itu.

Delapan orang bertubuh tegap yang menggotong tandu, bergegas melewati celah batu itu, dan meletakkannya pada sebuah batu ceper yang cukup lebar. Kemudian mereka segera berbalik lagi dan melangkah ke luar. Dan pada saat yang hampir bersamaan, di angkasa tampak sebuah bayangan hitam besar melayang-layang. Seketika semua orang yang berada di Puncak Bukit Batu itu langsung berlutut.

Bayangan hitam yang melayang-layang di angkasa itu bergerak turun dengan kecepatan tinggi, lalu menyambar tandu itu hingga hancur berantakan. Seketika terdengar satu jeritan melengking, bersamaan dengan melesatnya kembali bayangan itu ke angkasa, lalu lenyap di balik gumpalan awan. Tidak lama setelah kejadian itu, laki-laki berkepala gundul segera melangkah dan menuruni Puncak Bukit Batu itu. Sementara para pengikutnya segera mengikutinya dari belakang. Dan para nayaga pun kembali mengalunkan gending mengiringi langkah-langkah mereka meninggalkan tempat itu.

***

Keadaan di Desa Gampil tampak tenang dan damai. Sehari-harinya para penduduk sibuk bekerja mengolah ladang, berniaga, atau pekerjaan lain yang dapat menunjang kelangsungan hidup. Sementara anak-anak dengan cerianya bermain, seakan-akan mereka tidak peduli dengan orang-orang tua mereka yang memeras keringat demi kelangsungan hidup mereka.

Kedamaian memang sangat terasa di desa itu. Namun kedamaian dan keceriaan itu kelihatan-nya tidak dinikmati oleh sepasang suami istri setengah baya, yang tinggal di sebuah rumah kecil berdinding papan. Mereka adalah Ki Sudra dan Nyi Sudra. Kini mereka tengah duduk dengan wajah murung di balai-balai bambu, di beranda rumahnya.

Sejenak mereka mengangkat kepalanya, ketika tampak seorang gadis yang berkulit kuning langsat keluar dari dalam rumah itu. Dia mengenakan baju warna biru yang ketat, sehingga memetakan bentuk tubuhnya yang ramping. Sedangkan tangannya menenteng sebuah bungkusan kain yang tidak begitu besar. Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan kepala tertunduk dan mata merembang berkaca-kaca.

"Mau ke mana?" tanya Ki Sudra pelan.

"Pergi," sahut gadis itu singkat.

Nyi Sudra segera bangkit dan menghampiri gadis itu, kemudian membimbingnya ke dalam kembali. Sedangkan Ki Sudra juga ikut bangkit dan mengikuti mereka dan duduk di lantai beralaskan selembar tikar dari daun pandan.

"Kau akan pergi ke mana?" tanya Ki Sudra lagi. Suaranya terdengar pelan tanpa gairah.

"Ke mana saja, Pak," sahut gadis itu getir.

Lastri, ke mana pun kau akan pergi, Pendeta Pasanta pasti akan tahu. Kau tidak mungkin bisa terlepas dari pengamatannya, kata Nyi Sudra lirih.

Lastri, aku sudah tua, juga Mak-mu. Kami sudah tidak kuat lagi bekerja di ladang. Hanya kaulah satu-satunya harapan kami. Apa kau tega meninggalkan orang tuamu yang sudah jompo ini? Agak bergetar suara Ki Sudra.

"Tapi, Pak...," Gadis yang bernama Lastri itu mau membantah, namun suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Hanya matanya saja yang terus memandang kedua orang tuanya dengan sejuta kata-kata.

Aku mengerti, Lastri. Tapi coba kau lihat, semua gadis sebayamu tidak ada yang mau menentang Pendeta Pasanta, mereka semua pasrah, dan tetap bergembira.

"Mereka bodoh, Pak!" sentak Lastri.

"Lastri...!" Nyi Sudra tersentak kaget. Buru-buru dia menggeser duduknya mendekati gadis itu.

Mereka memang kelihatan gembira, tapi di hati mereka sebenarnya sedih dan gelisah. Juga orang-orang tua di desa ini, semuanya tidak ada yang gembira. Juga Bapak dan Mak, memangnya aku tidak tahu, kalau sebenarnya Bapak dan Mak juga sedih! Agak keras suara Lastri, meskipun terdengar bergetar.

Ki Sudra dan Nyi Sudra tidak bisa lagi berkata apa-apa. Dalam hati mereka memang membenarkan kata-kata anak gadisnya itu. Bagaimanapun kuatnya mereka berusaha memendam perasaan, namun tidak mungkin bisa berlangsung lama. Selama ini mereka selalu menunjukkan wajah gembira di depan Lastri, namun dalam hati mereka sebenarnya tidak gembira. Sudah beberapa kali Lastri memergoki kedua orang tuanya duduk termenung, dengan pandangan kosong dan mata berkaca-kaca.

Dan Lastri sendiri bisa merasakan, apa yang tengah dirasakan oleh kedua orang tuanya. Lalu dia memutuskan untuk segera meninggalkan desa itu.

"Bagaimanapun juga, aku harus pergi!" kata Lastri seraya bangkit dari duduknya.

"Lastri...!" Nyi Sudra bergegas berdiri dan menahan langkah gadis itu. Dia memegangi tangan Lastri dengan mata berkaca-kaca.

"Biarkan aku pergi, Mak," pita Lastri memohon. Lastri, pikirkan dulu niatmu itu. Sebenarnya aku tidak keberatan jika kau mau pergi juga, tapi Pendeta Pasanta sudah memilihmu untuk...

"Tidak!" sentak Lastri cepat memotong ucapan Ki Sudra.

"Lastri...," melemah suara Ki Sudra.

"Lastri memang sayang sama Mak dan Bapak, tapi Lastri harus pergi...," kata Lastri bersikeras dengan niatnya.

Ki Sudra hanya menunduk. Memang sulit untuk menghalangi niat anak gadisnya itu. Sementara Nyi Sudra tampak sudah terisak-isak. Lastri terus memandangi kedua orang tuanya itu dengan terharu. Orang tua yang telah mengasuh dan merawatnya sejak dia masih bayi.

"Maafkan kelancangan Lastri, Mak," ucap Lastri pelan.

Lastri, biarpun bukan aku yang telah melahirkanmu, tapi aku sangat sayang padamu, tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangku antara kau dengan semua anak-anakku..., kata Nyi Sudra di tengah-tengah isaknya.

Ingin rasanya Lastri memeluk perempuan tua itu, dan mengurungkan niatnya. Namun dia tetap berusaha menguatkan hati untuk tetap pergi meninggalkan orang tua yang telah begitu besar budinya, merawatnya sejak dia masih berumur satu bulan. Lastri tahu semua itu karena Ki Sudra dan Nyi Sudra selalu menceritakan asal-usul anak-anak angkatnya yang berjumlah tiga orang. Meskipun mereka sendiri punya dua orang anak kandung. Kini semuanya sudah tidak ada lagi di rumah ini. Tinggal Lastri sendiri yang masih ada. Dan kini giliran dia juga harus pergi meninggalkan orang tua itu. Berat memang, tapi tekadnya sudah bulat. Pelan-pelan Lastri melangkah mundur mendekati pintu.

"Lastri, Anakku...," rintih Nyi Sudra lirih.

"Maafkan aku, Mak..., Bapak...," ucap Lastri pelan, hampir tidak terdengar suaranya.

Setelah berkata begitu, dengan cepat Lastri berbalik dan melangkah ke luar Nyi Sudra ingin mengejar, namun keburu dicegah suaminya. Kemudian kedua orang tua itu saling berpelukan sambil memandangi tubuh Lastri yang semakin jauh melangkah.

"Lastri..." rintih Nyi Sudra. Semakin deras air matanya mengalir.

Sudahlah, Mak. Mungkin itu sudah menjadi pilihannya yang terbaik. Kita doakan saja agar Hyang Widi melindunginya, kata Ki Sudra berusaha menghibur, padahal dia tak bisa menahan air matanya.

"Semoga Hyang Widi akan mempertemukan kita kembali...," bisik Nyi Sudra disela isaknya.

Beberapa saat lamanya, suami istri itu masih berdiri saja di ambang pintu sambil berpelukan. Pandangan mereka tetap ke arah kepergian Lastri.

***

Hari terus berjalan dengan pasti. Senja pun berganti dengan malam. Tampak bulan yang bersinar di atas sana tersaput oleh awan tipis yang menggantung. Sementara itu seluruh penduduk Desa Gampil sudah beristirahat di dalam rumahnya masing-masing. Kini tidak lagi terdengar canda ria anak-anak yang bermain, tidak ada lagi gurauan gadis-gadis atau celetukan usil para pemuda. Malam ini suasana Desa Gampil benar-benar sunyi senyap. Hanya mereka yang tengah meronda saja yang masih berada di luar rumah.

Dan kesunyian itu semakin terasa di dalam rumah Ki Sudra. Rumah yang tidak begitu besar itu, kini hanya dihuni oleh sepasang suami istri setengah baya yang tengah dirundung duka. Tidak ada seorang pun yang mau peduli dengan kedukaan mereka. Dan Ki Sudra memang tidak pernah menunjukkan kedukaannya pada orang lain.

Di malam yang sunyi dan dingin itu. Tampak Nyi Sudra masih saja duduk merenung di balai-balai bambu sambil memandang bulan dari balik jendela. Tatapan matanya tampak kosong, dan wajahnya tak menyiratkan suatu perasaan apa pun. Sepertinya seluruh jiwanya sudah hilang dari raga. Tidak jauh darinya, Ki Sudra terlihat tengah duduk di kursi goyang. Asap tembakaunya yang keluar dari pipa hitamnya, mengepul dipermainkan oleh angin malam yang dingin.

Sudah larut malam, Mak. Sebaiknya kau segera tidur saja. Serahkan saja semuanya pada kekuasaan Hyang Widi, kata Ki Sudra pelan.

"Hhh...," Nyi Sudra hanya mendesah saja.

Setelah kupikir-pikir, sebaiknya kita, juga segera meninggalkan desa ini, Mak. Rasanya tidak ada gunanya lagi bertahan di desa yang keadaannya panas bagai neraka, kata Ki Sudra lagi.

"Kalau kau juga mau pergi, pergilah sana!" dingin dan datar suara Nyi Sudra. Sedikit pun dia tidak menoleh.

Memang tidak ada gunanya kita melakukan sesuatu apa pun. Ke mana kita pergi, Pendeta Pasanta pasti akan segera mengetahui. Yah..., memang sama saja. Tetap tinggal di sini, atau pergi dari desa ini tidak ada bedanya, nada suara Ki Sudra terdengar mengeluh putus asa.

Kalau kau sudah tahu, kenapa masih juga berpikiran begitu? Kau selalu bisa bilang, pasrahkan saja segalanya pada Hyang Widi, tapi hatimu tidak mau pasrah, Nyi Sudra membalikkan tubuhnya dan menatap pada suaminya.

Kali ini Ki Sudralah yang mendesah panjang. Kata-kata istrinya itu memang benar, dan dia pun mengakuinya. Dalam keadaan seperti ini, memang jarang orang yang hanya pasrah. Pasti ada sedikit terbetik di hatinya untuk memberontak. Dan itulah yang kini dirasakan oleh Ki Sudra.

Pada saat mereka berdua tengah terdiam itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Sejenak pasangan tua itu saling berpandangan, lalu hampir bersamaan mereka menoleh ke arah pintu yang tertutup. Ketukan itu terdengar kembali, kali ini ketukannya lebih keras dan yang pertama.

"Siapa...?" tanya Ki Sudra seraya bangkit dari duduknya. Namun tak ada sahutan dari luar. Ki Sudra melangkah mendekati pintu rumahnya. Sejenak dia ragu-ragu untuk membuka pintu. Matanya melirik istrinya.

"Ah...!" Ki Sudra tersentak ketika dia membuka pintu.

***

Tampak laki-laki gemuk dan berperut buncit sudah berdiri di depannya. Jubahnya yang berwarna kuning gading, terus berkibar-kibar tertiup angin. Sedang di belakangnya tampak berdiri empat orang berpakaian serba putih, dengan tangan yang terlipat di depan dada. Sejenak Ki Sudra melangkah mundur dengan wajah yang pucat pasi.

"Tuan Pendeta..., ada apa gerangan hingga malam-malam begini datang ke rumahku?" tanya Ki Sudra, agak bergetar suaranya.

"Boleh aku masuk?"

"Oh, silakan. Silakan, Tuan Pendeta."

Laki-laki gundul yang ternyata adalah Pendeta Pasanta itu melangkah masuk. Sementara empat orang laki-laki muda yang mengawalnya juga segera mengikutinya. Mereka kemudian berdiri berjajar dan membelakangi pintu. Sedang Ki Sudra segera mendekati istrinya, dan duduk di tepi balai-balai bambu itu.

Sejenak Pendeta Pasanta menyeret sebuah kursi kayu, dan duduk di depan pasangan tua itu.

"Aku datang hanya ingin menanyakan anakmu. Apakah dia ada di rumah?" pelan dan lembut kata-kata Pendeta Pasanta.

Ki Sudra tidak segera menjawab. Dia malah menoleh ke arah istrinya. Pertanyaan Pendeta Pasanta itu membuat seluruh tubuhnya jadi bergetar. Dan jantungnya pun ikut berdetak lebih cepat dari biasanya.

Aku sudah mengenalmu cukup lama, Ki Sudra. Karena sebagai bekas kepala desa, kau sangat disegani. Dan aku pun menaruh hormat padamu. Maka kuharap agar kau tidak menodai rasa hormatku ini, Ki Sudra, tetap lembut kata-kata Pendeta Pasanta, namun mengandung ancaman yang tidak bisa dipandang remeh.

"Maaf, Tuan Pendeta. Aku tidak mengerti maksudmu," kata Ki Sudra dengan suara semakin bergetar.

"Lastri sudah tidak ada di rumah, kan?" kali ini nada suara pendeta itu makin dingin. Tatapan matanya juga tajam menusuk.

Kini Ki Sudra tidak bisa lagi berkata-kata. Rasa kecemasan yang sejak tadi melanda dirinya, kini benar-benar meledak. Baru siang tadi Lastri pergi meninggalkan rumah ini, dan sekarang Pendeta Pasanta sudah mengetahuinya. Ki Sudra sudah bisa membayangkan, malapetaka apa yang bakal menimpa dirinya. Sedangkan Nyi Sudra sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tubuhnya terasa lemas, dan wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin membasahi seluruh wajah dan lehernya.

Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, Ki Sudra. Aku hanya minta agar kau segera mencari Lastri, dan bawa dia padaku, tegas kata-kata Pendeta Pasanta, namun suaranya masih juga terdengar lembut.

Tuan Pendeta, aku tidak tahu ke mana anakku pergi. Tadinya aku sudah mencoba melarangnya, tapi dia tetap saja pergi. Maafkan aku, Tuan Pendeta, lirih suara Ki Sudra.

"Sayang sekali, aku tidak bisa memutuskan. Aku hanya menyampaikan pesan saja."

Ki Sudra hanya bisa tertunduk lemas. Sedang Pendeta Pasanta segera menjentikkan jarinya. Lalu tampak dua orang dari pengawalnya segera mendekat, dan menyeret tangan Nyi Sudra yang masih duduk dengan wajah pucat.

"Pak...," ratap Nyi Sudra.

"Tuan Pendeta, hendak kau apakan istriku?"

"Hanya untuk jaminan akan tugasmu, Ki Sudra," sahut Pendeta Pasanta kalem seraya bangkit dari duduknya. "Bawa dia ke luar!"

"Tuan...." Ki Sudra ingin mencegah dua orang yang sudah memegangi tangan istrinya, tapi dua orang lagi segera melompat dan menekan tubuh laki-laki tua itu, sehingga dia kembali terduduk di balai-balai bambu.

Sementara Nyi Sudra tidak mampu lagi untuk berbuat apa-apa. Dia kemudian diseret ke luar tanpa dapat melakukan perlawanan. Hanya suaranya saja yang lirih terdengar meminta tolong pada suaminya. Namun Ki Sudra hanya bisa duduk dengan pundak ditekan oleh dua orang.

Waktumu hanya satu pekan, Ki Sudra. Kalau sampai batas waktu itu kau tidak bisa menyerahkan anakmu, maka dengan berat hati aku harus memisahkanmu dengan istrimu untuk selamanya, dingin kata-kata Pendeta Pasanta.

Tuan Pendeta, tolong..., ampuni aku. Aku benar-benar tidak tahu ke mana harus mencari Lastri. Tolong, Tuan Pendeta..., rintih Ki Sudra memelas.

Sebenarnya aku ingin menolongmu, Ki Sudra... Tapi aku tidak bisa melakukannya. Rasanya hanya Lastrilah yang bisa menolongmu keluar dari kesulitan ini, pelan suara Pendeta Pasanta.

Ki Sudra hanya bisa tertunduk lemas. Sementara Pendeta Pasanta pun segera ke luar diiringi semua pengawalnya. Beberapa saat lamanya, Ki Sudra masih terduduk lemas tanpa daya. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus diperbuatnya. Memang tidak ada cara lain, dia harus mencari Lastri. Satu pekan..., bukan waktu yang panjang!

***

Pagi baru saja datang menjelang. Sementara di ufuk Timur, matahari belum menampakkan diri dengan penuh. Hanya cahayanya saja yang membias merah jingga di celah-celah dedaunan. Kabut pun masih menyelimuti sebagian permukaan bumi. Udara juga masih terasa dingin menusuk kulit.

Namun suasana pagi yang indah itu tidak menggugah hati seorang gadis muda berbaju hijau dari kesedihannya. Gadis itu kelihatan sangat lelah, langkahnya terseok-seok merambah hutan di Lereng Gunung Cangking. Udara pagi yang dingin tidak menghalangi keringatnya yang mengucur deras, membasahi wajah dan tubuhnya. Kakinya terus terayun gontai menuju sebuah sungai yang mengalir jernih menuruni lereng gunung itu.

Gadis itu langsung menjatuhkan dirinya begitu sampai di tepi sungai yang berair jernih. Begitu jernihnya, sehingga dasar sungai itu tampak jelas seperti dalam kaca. Dengan pelahan tangan yang kecil halus itu terulur berusaha menarik tubuhnya untuk lebih ke tepi. Seperti seorang musafir yang sudah tiga hari tidak bertemu air, gadis itu segera membasuh muka dan tubuhnya. Lalu tanpa menghiraukan dinginnya air itu, dia pun meneguknya sepuas-puasnya.

"Ohhh...," gadis itu mendesah lirih, dan menggelimpangkan tubuhnya kembali menjauh dari tepi sungai. Kelopak matanya yang dihiasi bulu mata lentik, terpejam rapat.

Buru-buru gadis itu membuka matanya ketika mendengar suara ranting patah. Dia langsung membeliak kaget dan segera bangkit berdiri.

"Maaf, kalau aku telah mengejutkanmu," terdengar sebuah suara lembut.

Gadis itu memperhatikan seorang pemuda gagah, tampan dan tegap yang sudah berdiri di depannya. Senyum pemuda itu begitu memikat, sedang sinar matanya juga lembut, namun menyiratkan ketajaman dan kekerasan. Lalu tanpa menghiraukan tatapan gadis itu, pemuda itu segera melangkah ke sungai, dan membasuh wajahnya. Sebentar kepalanya menoleh, dan kembali tersenyum.

"Silakan, kalau ingin melanjutkan istirahatnya. Aku hanya ingin membasuh muka sebentar," kata pemuda itu, tetap lembut suaranya.

Gadis itu masih berdiri terpaku dengan wajah yang kelihatan gelisah. Sejenak matanya berputar mengamati ke sekitarnya. Tak terlihat seorang manusia pun di hutan ini kecuali mereka berdua. Tak lama kemudian, pemuda itu menghenyakkan tubuhnya dan bersandar pada sebatang pohon tua yang hampir mati. Dia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari daun waru dari balik ikat pinggangnya, dan meletakkan bungkusan itu di depannya. Perlahan-lahan dia membuka bungkusan itu, maka tampaklah tiga ekor kelinci yang sudah matang, tergolek di bungkusan itu.

Pemuda itu segera mengambil seekor dan mendekatkannya ke mulut. Tapi dia tidak jadi menggigitnya. Sejenak matanya memandang gadis yang masih berdiri tidak jauh darinya.

"Mau?" pemuda itu menawarkan.

Gadis itu kelihatan ragu-ragu.

Bekas makanan semalam. Memang sudah tidak hangat lagi, tapi cukup untuk mengganjal perut sampai tengah hari nanti, kata pemuda itu seraya mengambil satu lagi, dan menjulurkannya pada gadis itu.

Gadis itu masih kelihatan ragu-ragu, namun lehernya tampak bergerak-gerak. Pertanda bahwa dia sebenarnya menginginkannya. Sinar matanya masih memancarkan rasa curiga dan takut.

"Ambillah. Aku tidak akan habis makan sendirian," kata pemuda itu lagi.

Lalu dengan perasaan was-was, gadis itu pun melangkah mendekat, dan duduk di depan pemuda itu. Tangannya agak gemetar saat menerima daging itu. Namun setelah daging itu berada di tangannya, langsung disantap dengan rakus. Perutnya memang lapar, karena sejak kemarin siang belum terisi. Pemuda itu hanya tersenyum dan mulai menikmati makanannya.

"Siapa namamu?" tanya pemuda itu setelah cukup lama mereka terdiam sambil menikmati daging kelinci.

"Lastri," sahut gadis itu pelan.

"Nama yang cantik, secantik orangnya."

"Terima kasih," sahut Lastri tersipu.

"Oh, ya. Kenapa kau berada di hutan ini sendirian?" tanya pemuda itu lagi. Suaranya tetap lembut.

"Aku..., oh, eh...," gadis yang ternyata bernama Lastri itu menjawab dengan tergagap.

"Ah, sudahlah. Kau tidak perlu menjawab. Aku hanya iseng saja kok bertanya."

Lastri hanya diam. Dia kembali menikmati daging kelinci yang sudah dingin itu. Sedangkan pemuda itu juga ikut menikmati lagi makan paginya yang sangat sederhana itu. Untuk beberapa saat lamanya mereka kemudian terdiam.

"Kau punya minuman?" tanya pemuda itu. Lastri menggeleng lemah.

"Ah, ya! Tentu saja tidak. Bodohnya aku, bertanya begitu!" rutuk pemuda itu sambil memukul kepalanya sendiri.

Lastri jadi tersenyum melihat kekocakan pemuda itu. Rasa takut dan curiga yang tadinya sudah menghinggapi dirinya, berangsur menghilang. Sikapnya yang ramah dan sesekali membuat canda, membuat kemurungan dan kegelisahan di wajah gadis itu mulai sirna. Kini wajahnya mulai menyemburat kemerahan, dan senyumnya beberapa kali terukir indah di bibirnya yang selalu nampak merah basah itu. Mereka terus menikmati sisa-sisa daging kelinci panggang dingin itu. Dan keduanya terpaksa minum air sungai, karena memang tidak ada lagi yang bisa mereka minum. Sebentar saja keakraban sudah terlihat di antara mereka. Pemuda itu memang pandai membuat suasana akrab dan menyenangkan.

***

"Rasanya sudah terlalu lama kita berada di sini. Aku harus segera melanjutkan perjalanan. Oh, ya.... Ke mana tujuanmu?" tanya pemuda itu sambil beranjak bangun dari duduknya.

Lastri tidak segera menjawab. Dia tidak tahu, ke mana tujuannya. Dia pergi meninggalkan rumah dan orang tuanya karena suatu sebab, dan ini masih tersimpan rapi di dalam hatinya. Dan dari tadi pemuda itu memang tidak menanyakan soal itu sedikit pun.

"Tampaknya kau bingung, ada masalah?" tanya pemuda itu.

Lastri masih diam. Wajah yang tadi mulai ceria, kini kembali termenung. Matanya tetap menatap kosong jauh ke depan. Dan pemuda itu memperhatikan dengan mata agak menyipit dan kening berkerut.

Maaf, kalau aku terlalu jauh ingin tahu urusan pribadimu. Memang seharusnya aku tidak bertanya begitu, kata pemuda itu seperti menyesal.

"Oh, tidak.... Tidak apa-apa," sahut Lastri buru-buru dan sedikit tergagap.

"Oh, ya. Kita akan berpisah di sini. Senang aku berteman denganmu, Gadis Manis." Ujar pemuda itu sambil melangkahkan kakinya.

"Eh, tunggu...," cegah Lastri sambil beranjak.

Pemuda gagah, tampan dan berbaju kulit harimau itu tidak jadi melangkah. Dia kembali menatap wajah gadis di depannya itu dalam-dalam. Hatinya langsung bisa menebak, kalau gadis itu tengah menyimpan persoalan. Dari tadi sebenarnya dia sudah heran, di dalam hutan yang lebat ini, dan tak seorang manusia pun sudi menginjakkan kakinya di sini, ada seorang gadis muda yang cantik.

"Boleh aku tahu, ke mana tujuanmu?" tanya Lastri agak ragu-ragu.

"Untuk apa kau tanyakan itu?" pemuda itu malah balik bertanya.

"Aku..., eh, tidak. Maaf, memang tidak sepantasnya aku bertanya begitu," kata Lastri semakin tergagap. Aku hanya seorang pengembara yang tidak menentu tujuannya. Ke mana kakiku melangkah, ke sanalah aku menuju, kata pemuda itu menjelaskan.

"Boleh aku ikut?" tanya Lastri memberanikan diri.

"Ikut...?!" pemuda itu tersentak heran.

Aku tahu, kau pasti keberatan. Tapi aku merasa bahwa kau bukan orang jahat. Dan aku hanyalah seorang wanita lemah yang tentunya akan membuatmu kerepotan. Ah, sudahlah. Kita berpisah saja di sini, kata Lastri lesu.

"Sebentar...," cegah pemuda itu saat gadis di depannya mau pergi.

Kini ganti Lastri yang mengurungkan niatnya. Sebentar mereka berdiri saling berpandangan. Namun baru sejenak, kepala gadis itu sudah tertunduk dengan wajah bersemu merah dadu. Sinar mata pemuda itu telah membuatnya gugup dan tak menentu perasaannya. Lastri sendiri tidak tahu, kenapa dia jadi begitu saja percaya pada laki-laki yang baru dikenalnya.

Aku melihat ada persoalan pada wajahmu. Memang terasa aneh bertemu seorang gadis cantik di dalam hutan yang sepi begini. Kau mau mengatakan persoalanmu padaku? Kata pemuda itu lagi. Kali ini dia tidak lagi bisa menahan rasa ingin tahunya.

"Untuk apa? Rasanya percuma saja kau tahu," pelan dan lirih suara Lastri.

"Barangkali aku bisa membantu untuk menyelesaikan persoalanmu," sahut pemuda itu.

"Tidak ada gunanya," kata Lastri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kau tadi bilang akan ikut denganku. Sebenarnya aku keberatan. Soalnya aku belum tahu sebabnya, kenapa kau mau ikut denganku? Pemuda itu memancing.

"Aku tidak tahu, tapi...."

"Kenapa?"

Aku merasa kalau kau tidak akan berbuat yang tidak-tidak padaku. Aku merasa Dewata memang mengirimmu kemari. Entahlah, perasaan itu tiba-tiba saja datang padaku, kata Lastri pelan. Kata-kata itu seolah meluncur begitu saja tanpa disadari.

Ha ha ha...! Kau ini lucu, Gadis Manis. Aku datang ke sini tidak sengaja. Dan bertemu denganmu di tempat ini tentu saja juga hanya kebetulan. Ah, sudahlah! Ke mana sebenarnya tujuanmu, dan aku akan dengan senang hati mengantarmu sampai tempat tujuan. Tanpa imbalan..., pemuda itu sempat juga bergurau.

"Terima kasih, tapi aku tidak punya tujuan," sahut Lastri pelan. Namun seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Aku tidak percaya kalau kau adalah seorang pengembara."

"Memang bukan, dan ini baru pertama kalinya aku meninggalkan rumah, kampung halaman dan...," Lastri tidak jadi meneruskan kata-katanya.

"Kekasih?" pemuda itu langsung menebak.

Lastri segera menggeleng dan tersenyum pahit. Seorang gadis muda, cantik, telah meninggalkan rumah seorang diri tanpa tujuan yang pasti. Tentu ada sebabnya, kan? Pemuda itu seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Ya...," desah Lastri tak sadar.

"Boleh aku tahu?"

Lastri tidak segera menjawab. Dia kemudian malah berbalik dan mengayunkan kakinya pelan-pelan. Kepalanya tetap tertunduk memandangi ujung kakinya yang berjalan pelan di atas daun-daun kering. Sementara pemuda itu masih tetap berdiri sambil memandanginya. Kemudian dia pun segera melangkah menyusul gadis itu. Rasa penasarannya membuat dia semakin ingin tahu.

***

Sementara itu matahari terus merambat semakin tinggi. Sinarnya yang terik telah menghalau kabut, dan seakan ingin membakar seluruh makhluk yang ada di atas permukaan bumi. Namun teriknya sinar matahari itu tidak mampu untuk menghentikan langkah dua orang yang tengah berjalan pelahan-lahan, merambah hutan di Lereng Gunung Cangking.

Mereka terus berjalan ke arah Barat dari lereng gunung itu. Semakin jauh mereka berjalan, pohon-pohon semakin terlihat jarang. Namun langkah mereka tidak juga berhenti. Mereka terus saja melangkah ke kaki lereng gunung. Kedua orang itu kemudian berhenti setelah sampai pada sebuah danau kecil yang ada air terjunnya.

Sebenarnya tempat itu bukan merupakan danau, hanya cekungan tanah yang terkikis dan membesar akibat irisan air yang mengalir cukup deras dari dataran yang tinggi. Ada beberapa sungai yang membawa air itu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kini mereka beristirahat di sebuah batu pipih yang menjorok ke danau itu. Pada bagian ini air kelihatan tenang, karena banyak batu-batu yang menghambat lajunya arus.

Gadis berbaju hijau itu lalu menceburkan sebagian kakinya ke dalam air, dan membasuh wajahnya yang berdebu dan disimbahi keringat. Sedangkan pemuda di sampingnya hanya duduk mencangkung sambil memandangi air terjun di seberangnya.

Sudah setengah hari kita bersama-sama, dan kau sudah tahu tentang diriku. Tapi aku belum tahu tentang dirimu, kata gadis itu beberapa saat kemudian.

"Apa itu perlu?" tanya pemuda itu tanpa menoleh.

"Kalau kau tidak keberatan."

"Namaku Bayu Hanggara, tapi kau cukup memanggilku dengan sebutan Bayu," pemuda itu mulai memperkenalkan diri.

"Umurmu pasti lebih tua dariku. Boleh aku memanggilmu dengan sebutan Kakang?"

"Sama sekali tidak keberatan."

"Dan kau juga jangan memanggilku lagi dengan sebutan Gadis Manis. Panggil saja aku Lastri," pita gadis itu setengah tersipu.

"Boleh juga," sahut Bayu seraya menoleh ke arah gadis itu. Lastri tersenyum manis.

"Kau tadi bilang, bahwa kau adalah seorang pengembara. Apakah kau seorang pendekar?" tanya Lastri lagi.

"Apakah seorang pengembara sudah berarti pendekar?" Bayu balik bertanya. Biasanya memang begitu. Dan biasanya juga, seorang pendekar selalu punya nama julukan. Apa nama julukanmu?

"Kau ini seperti sudah tahu saja tentang dunia kependekaran."

"Sedikit-sedikit aku sudah tahu tentang rimba persilatan."

"Oh, ya? Dari mana kau tahu?"

Ayahku sering cerita, juga pamanku yang memang seorang pendekar. Tapi itu dulu, ketika Paman masih hidup. Dan Ayah juga masih tampak gagah, Lastri seperti mengenang. Pamanku dulu berjuluk Pendekar Cakar Maut. Dia memang kejam pada musuh-musuhnya, tapi hatinya baik dan lembut. Selalu menolong siapa saja yang membutuhkan.

"Kau pernah belajar ilmu olah kanuragan?" tanya Bayu tertarik juga.

"Tidak," sahut Lastri.

"Kenapa?"

"Ayah tidak pernah mengijinkan."

"Tentu ada alasannya, kan?"

Entahlah, yang jelas aku tidak diperbolehkan untuk belajar ilmu olah kanuragan. Padahal itu kan penting, apalagi kalau dalam keadaan seperti ini. Yaaah..., seandainya aku dulu sempat belajar, pasti tidak akan melarikan diri seperti ini, agak pelan suara Lastri.

"Aku yakin, ayahmu pasti punya alasan atas tindakannya itu," Bayu membesarkan hati gadis itu.

"Mungkin," desah Lastri.

"Oh, ya. Siapa sebenarnya nama julukanmu?" tanya Lastri kembali teringat dengan pertanyaannya yang belum terjawab.

"Pendekar Pulau Neraka," sahut Bayu berterus terang.

"Ihhh...!" mendadak Lastri bergidik.

"Kenapa?"

Seram! Kenapa memilih nama julukan itu? Kan masih banyak nama julukan yang baik. Julukan itu bisa menyiratkan akan watakmu yang kejam, sadis. Seperti Paman dulu, tindakannya juga selalu kejam, tidak pernah mengampuni setiap lawannya. Jadi banyak orang memusuhinya, tapi juga banyak yang menyenanginya.

"Mungkin keadaan pamanmu dan aku ada persamaan," kata Bayu bisa merasakan kalau kata-kata Lastri itu seperti sedang menelanjangi dirinya.

"Siapa yang telah memberimu nama julukan seperti itu?" tanya Lastri mau tahu.

"Aku sendiri," sahut Bayu terus terang.

"Kausuka?"

"Ya."

"Bangga?"

"Tentu saja, setiap pendekar selalu bangga dengan nama julukannya."

"Tidak takut?"

"Kau ini ada-ada saja, Lastri. Apa yang harus kutakutkan?" Bayu merasa geli sendiri mendengar pertanyaan-pertanyaan gadis itu.

Pendekar Pulau Neraka..., sebuah nama julukan yang bisa membangkitkah bulu kuduk. Orang pasti akan menyangka kalau kau adalah seorang yang kejam, sadis dan jahat!

Bayu hanya tersenyum. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan dugaan Lastri. Dan hal itu justru malah membuat hatinya merasa bangga. Dalam hatinya Bayu memuji kecerdasan gadis itu. Meskipun Lastri tidak pernah belajar ilmu olah kanuragan, tapi dia sendiri sudah tahu betul seluk-beluk dunia kependekaran.

Tapi aku sendiri tidak percaya kalau kau adalah seorang yang berhati kejam. Aku tidak melihat adanya sifat kekejaman pada wajahmu, Kakang, sambung Lastri. Sepertinya tahu, apa yang tengah dipikirkan Bayu.

"Mudah-mudahan kau salah menduga," kata Bayu tersenyum geli.

"Maksudmu, dugaan yang baik atau yang buruk?"

"Yang baik."

Lastri hanya tertawa. Dan tawanya kali ini adalah tawa yang pertama kali sejak beberapa hari belakangan ini. Dia merasa kalau Bayu hanya berolok-olok saja. Dan Pendekar Pulau Neraka itu pun tersenyum saja. Entah apa arti senyumnya itu. Mungkin juga dia merasa senang begitu melihat adanya keceriaan lagi pada wajah gadis itu.

Tidak sulit bagi Bayu untuk membuat seorang gadis bersikap terbuka dan berterus terang padanya. Pendekar Pulau Neraka itu mempunyai cara sendiri untuk mengorek keluar semua isi hati seseorang, apalagi seorang gadis seperti Lastri. Dalam perjalanan, Pendekar Pulau Neraka itu terus-menerus menanyakan semua kesulitan yang tengah dialami Lastri. Dan cara yang dilakukan oleh Bayu itu telah berhasil membuat Lastri semakin merasa dekat dan menaruh kepercayaan padanya.

"Sudah berapa lama hal itu berlangsung?" tanya Bayu.

"Sejak ayahku tidak menjabat sebagai kepala desa lagi, kira-kira lima tahun lalu," sahut Lastri.

"Lalu, siapa yang telah menggantikan kedudukan ayahmu?"

"Adik Pendeta Pasanta, namanya Ki Durangga."

"Ah, sebuah persoalan biasa. Membodohi penduduk desa demi kepentingan pribadi," nada suara Bayu seolah mengeluh. Kelihatannya memang persoalan biasa, tapi hal itu bisa menjadi berlarut-larut kalau tidak segera ditangani, kata Lastri.

"Apa di desamu tidak ada sebuah padepokan?" tanya Bayu lagi.

Desa Gampil adalah sebuah desa yang tentram. Selama ini tidak pernah terjadi kerusuhan. Bahkan pencoleng kecil pun tidak ada di sana, jadi mungkin para penduduknya merasa tidak perlu untuk mendirikan sebuah padepokan. Lagi pula seluruh penduduknya memang tidak menyukai kekerasan, Lastri menjelaskan keadaan desanya.

Kamu ini aneh, Lastri. Belum lama bilang, bahwa desamu sedang mengalami kehancuran pelan-pelan. Dan sekarang sudah berubah, kalau desamu aman tentram dan damai. Mana yang benar?

"Dulu Desa Gampil memang keadaannya aman, tentram dan damai. Tapi sekarang tidak lagi."

"O..., jadi kau kabur karena takut melihat kehancuran desamu, begitu?"

Bukan hanya itu, tapi ada sesuatu yang lebih penting. Tapi rasanya kau tidak akan percaya kalau kujelaskan. Sebaiknya buktikan saja sendiri.

"Bagaimana mungkin? Sedangkan aku sendiri tidak tahu, di mana letak desamu itu. Apalagi kau sendiri sedang menjauhi desa itu...."

"Aku mau mengantarkan kau pergi ke sana, asalkan kau janji mau menyelamatkan dan membebaskan keadaan desa itu dari belenggu."

"Siapa mereka?"

"Kau akan tahu sendiri nanti."

Bayu hanya bisa mengangkat bahunya saja. Untuk saat ini dia memang masih diliputi oleh berbagai macam tanda tanya, tapi sebagian besar sudah bisa dimengerti. Dia merasakan, kalau kali ini dia harus segera kembali bertualang untuk menumpas keangkaramurkaan.

"Ayo, sebaiknya kita segera menuju Desa Gampil," ajak Bayu kemudian.

"Tapi kau harus janji...," tagih Lastri.

"Iya..., aku janji. Keselamatanmu aku yang tanggung," potong Bayu cepat.

Lastri segera tersenyum lebar. Entah apa sebenarnya arti senyumannya itu. Kemudian mereka mulai melangkah menuju Desa Gampil.

Disqus Comments