Pendekar Pulau Neraka 04 Cinta Berlumur Darah
Cersil Pendekar Pulau Neraka 04 Cinta Berlumur Darah
Baca Online Pendekar Pulau Neraka 04 Cinta Berlumur Darah
Cinta Berlumur Darah
CINTA BERLUMUR DARAH
Oleh Teguh Suprianto | Cetakan Pertama | Penerbit Cintamedia, Jakarta
Gambar Sampul: Tony G. | Hak Cipta Pada Penerbit
Serial Pendekar Pulau Neraka Dalam Episode 004
Spesifikasi: 128 hal ; 12 x 18 cm
"Hup! Yeaaa...!"
"Uts, ha...!"
"Cukup!"
Seorang laki-laki tua berjubah putih melompat ke tengah-tengah dua orang muda yang saling berhadapan. Dua orang muda itu serentak mengambil sikap hormat dengan telapak tangan merapat di depan dada, kemudian duduk bersila di atas rerumputan. Sedangkan laki-laki tua itu tetap berdiri dengan kepala terangguk-angguk. Bibirnya yang tipis hampir tertutup kumis putih itu terus menyunggingkan senyum.
"Hari ini kalian berlatih begitu luar biasa. Terutama kau, Intan. Jurus-jurusmu maju begitu pesat. Semakin mantap dan sempurna," ujar laki-laki berjubah putih itu bernada bangga.
"Terima kasih, semua ini berkat bimbingan Eyang," sahut gadis cantik yang memakai baju merah terang.
"Dan kau, Indranata! Kulihat pengerahan tenaga dalammu tidak penuh. Itu bisa membahayakan dirimu sendiri seandainya bertarung dalam arti yang sesungguhnya. Ingat! Pengerahan tenaga dalam sangat penting dan harus tepat pada waktunya," jelas laki-laki berjubah putih itu seraya memandang pemuda berkulit sawo matang yang duduk bersila di samping Intan Delima.
"Maaf, Eyang. Aku tidak sampai hati untuk melukai Intan," sahut pemuda yang dipanggil Indranata.
"Itu bukan alasan yang tepat, Indranata. Rasa kasihan harus kau hilangkan. Dalam dunia persilatan, hanya ada satu kalimat yang harus kau ingat: Dibunuh, atau membunuh! Camkan itu, Indranata!"
"Baik, Eyang."
"Hm..." Laki-laki tua berjubah putih itu mengalihkan pandangannya pada Intan Delima, kemudian kembali memandang Indranata yang tengah menundukkan kepalanya.
Indranata mengangkat kepalanya. Tatapan matanya langsung tertuju pada tatapan mata Eyang Watuagung. Seperti mengerti arti tatapan itu, Indranata bangkit berdiri, lalu menjura hormat.
"Pergilah istirahat, Indranata. Aku ada perlu dengan Intan sebentar. Ada yang ingin kukatakan padanya," kata Eyang Watuagung pelan.
"Aku mohon diri, Eyang," ucap Indranata seraya menjura hormat.
"Hm," Eyang Watuagung hanya menggumam tidak jelas.
Indranata bergegas melangkah meninggalkan halaman luas berumput di depan pondok yang berada di Puncak Gunung Rangkas. Intan bangkit berdiri setelah Indranata lenyap di belakang pondok. Eyang Watuagung membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan menjauhi pondok kecil itu. Intan Delima mengikuti dari belakang. Keningnya berkerut sedikit. Hatinya bertanya-tanya, apa yang akan dikatakan Eyang Watuagung padanya?
"Sudah berapa lama kau di sini?" tanya Eyang Watuagung setelah mereka berada di bibir tebing sangat curam. Dari sini, mereka bisa memandang ke bagian Selatan Gunung Rangkas. Tampak sebuah perkampungan yang tidak begitu besar berdiri tidak jauh dari kaki gunung ini. Di situ hanya ada beberapa rumah yang letaknya cukup berjauhan.
"Entahlah! Aku tidak pernah mengingatnya," sahut Intan setengah mendesah.
"Hm...," Eyang Watuagung kembali bergumam tidak jelas. Intan Delima semakin bertanya-tanya di dalam hatinya, dan berusaha mencari jawaban dari raut wajah laki-laki tua itu. Tapi jawaban yang diinginkannya sulit didapat, karena wajah Eyang Watuagung begitu datar dan sukar diterka. Hanya tatapan matanya saja yang menyiratkan sesuatu, namun sangat sulit untuk diartikan.
"Apa yang ingin Eyang katakan?" tanya Intan Delima tidak sabaran.
"Hhh.... Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tiba-tiba saja aku teringat dengan mendiang ayahmu, yang juga murid kesayanganku," kata Eyang Watuagung setelah menarik napas panjang.
Intan Delima kembali diam membisu. Dia memang tidak pernah lupa akan kematian ayahnya yang begitu tragis sebagai seorang laki-laki jantan dan ksatria. Apalagi untuk bisa melupakan lawan bertarung ayahnya, yaitu seorang pemuda tampan yang telah menorehkan tinta asmara di dasar hatinya yang paling dalam. Tidak mungkin Intan melupakan begitu saja. Sampai saat ini pun dia jelas terbayang, bahkan sampai kapan pun.
Jika Anda tertarik menyelami kisah laga kolosal lainnya yang tak kalah mendebarkan, Anda dapat membaca ulasan lengkap Pendekar Kelana Sakti 09 Dendam Jago yang menyajikan intrik persilatan serupa.
"Semula, kukira dia sudah mati di dasar jurang. Tapi tidak kusangka, ternyata dia masih hidup dan mampu membunuh muridku," ujar Eyang Watuagung setengah bergumam.
"Eyang! Aku sudah berusaha untuk melupakannya...," kata Intan berdusta. Nada suaranya agak bergetar saat mengatakan itu.
"Benar kau akan melupakannya, Intan?" tanya Eyang Watuagung penuh selidik.
Intan Delima tidak segera menjawab, tapi hanya menunduk saja karena tidak mampu lagi membalas tatapan mata laki-laki tua berjubah putih di depannya. Dalam hati, dikutuki dirinya sendiri yang berani mendustai eyang gurunya ini.
"Aku tidak percaya kau akan melupakan semua itu, Intan. Aku tahu perasaanmu. Tapi aku tidak ingin menyalahkan siapa pun dalam hal ini. Kau berhak mencintainya meskipun orang yang kau cintai itu telah membunuh ayahmu sendiri. Itu hakmu, Intan. Tapi aku hanya ingin mengingatkan, bahwa orang yang kau cintai adalah seorang pembunuh kejam!" agak sedikit ditahan suara Eyang Watuagung.
"Eyang...," suara Intan tertahan di tenggorokan.
"Aku tak bermaksud mengajarkan atau membakar dendam pada dirimu, Intan. Hanya yang ingin kukatakan, bahwa semua yang telah terjadi hendaknya kau jadikan pelajaran berharga bagi dirimu sendiri. Kau seorang wanita, dan harus lebih bisa menjaga diri daripada laki-laki."
Intan hanya menundukkan kepalanya saja. Hatinya jadi tidak menentu, dan kepalanya terasa pening. Kata-kata Eyang Watuagung seolah-olah sengaja menyingkap tirai kenangannya pada seorang pendekar gagah dan tampan, dengan tingkat kepandaian sangat tinggi. Orang yang sangat dicintai, tapi yang juga telah menghancurkan hati dan harapannya. Dia telah membunuh ayah kandungnya. Haruskah mesti dicintai...?
Episode Lengkap di Facebook:
Untuk terus mengikuti kabar dan update komunitas pecinta novel silat, kunjungi Grup Facebook Cerita Silat Online.
- Eps 1 Cinta Berlumur Darah: Baca Episode 1 di Facebook
- Eps 2 Cinta Berlumur Darah: Baca Episode 2 di Facebook
- Eps 3 Cinta Berlumur Darah: Baca Episode 3 di Facebook
- Eps 4 Cinta Berlumur Darah: Baca Episode 4 di Facebook