Sabtu, 18 Juli 2026

Dewa Arak 76 Penjara Langit

Dewa Arak 76 Penjara Langit

Cersil Dewa Arak 76 Penjara Langit

Baca Online Dewa Arak 76 Penjara Langit


PENJARA LANGIT

Oleh Aji Saka. Cetakan pertama. Penerbit Cintamedia, Jakarta. Penyunting: Tuti S. Hak cipta pada Penerbit. Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

"Serial Dewa Arak Dalam episode Penjara Langit. 128 hal; 12 x 18 cm."

Seorang kakek berpakaian coklat yang warnanya hampir pudar membuka matanya yang sejak tadi terpejam. Sorot kehijauan dan tajam mencorong dari sepasang mata yang hampir tertutup oleh alis putih. "Mengapa masih bersembunyi? Tidakkah lebih baik kalian menampakkan diri," ujar kakek berpakaian coklat, lantang. Kendati bibir kakek itu tidak terlihat bergerak sedikit pun. Hening sejenak setelah gema ucapan kakek berpakaian coklat tidak terdengar lagi. Keheningan itu dipecahkan oleh gemerisik pelan. Disusul keluarnya dua sosok tubuh dari kerimbunan semak yang berada di dekat kakek berpakaian coklat.

Kedua sosok itu memiliki tubuh sedang. Wajah mereka tidak terlihat karena tertutup topeng dari kayu. Yang tampak hanya sepasang mata mereka yang tajam berkilat. Dua sosok bertopeng kayu ini melangkah dengan hati-hati mendekati kakek berpakaian coklat. Sementara kakek itu tetap tenang dan tidak bergeming sedikit pun dari duduknya. Kakek berpakaian coklat tengah duduk bersila. Ia baru saja menyelesaikan semadinya. Kakek itu tidak duduk di atas tanah, melainkan di atas tumpukan tengkorak manusia yang diatur sedemikian rupa. Tumpukan itu semakin ke atas semakin berkurang jumlahnya, sehingga membentuk kerucut. Pada bagian teratas dari tumpukan tengkorak menjadi landasan pantat kakek berpakaian coklat.

Kakek itu memperhatikan sebentar kedua sosok bertopeng kayu. Kemudian, dengan bibir yang tidak bergerak dia membuka suara:
"Ada dua hal yang membuatku tidak menyukai kalian. Pertama, sikap kalian. Aku tahu kalian telah cukup lama berada di sini dan mengintai diriku. Yang kedua adalah topeng yang menutup wajah kalian. Berdasarkan hal ini bisa diketahui kalian tidak bermaksud baik terhadapku. Ini sudah cukup membuatku mempunyai alasan untuk membunuh kalian. Tapi kalian memang beruntung, datang di saat aku tengah gembira. Jadi, kuberikan kesempatan pada kalian untuk pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran!"

Dua sosok yang mengenakan topeng kayu telah menghentikan langkahnya tiga tombak dari kakek berpakaian coklat. Mereka saling berpandangan sejenak. "Sayang sekali." Sosok bertopeng kayu yang bertubuh lebih kurus menyambuti ucapan kakek berpakaian coklat. Kami berdua sengaja datang ke situ untuk menjumpaimu karena suatu maksud. Sebelum maksud itu tercapai, kami terpaksa tidak akan meninggalkan tempat ini. Wajah kakek berpakaian coklat membesi. Penolakan atas ancamannya membuatnya tersinggung. Tapi, sesaat kemudian wajah itu kembali seperti biasa. Tenang. "Kalau begitu, aku yang akan pergi!" Kakek berpakaian coklat mencoba bersabar. Tidak ada yang pergi dari sini! Tidak kami. Tidak juga kau! Kecuali, kalau tujuan kami telah tercapai! Tandas sosok bertopeng kayu yang bertubuh lebih kurus. Sorot ancaman maut terbayang pada sepasang mata kakek berpakaian coklat.

Rupanya kalian termasuk orang yang sukar diperlakukan dengan lembut. Kalian lebih suka dikasari! Baik kalau itu yang kalian inginkan. Meski saat ini aku tengah bergembira dan telah bersumpah untuk menjauhi kekerasan, tidak berarti aku merelakan saja orang menghina diriku!" Jangan salah sangka. Kami tidak ingin mengajakmu bertarung. Kami akan pergi dari sini atau membiarkanmu pergi asalkan kau mau memberikan Golok Baja Hitam pada kami! Sosok bertopeng kayu yang lain buru-buru menukas. "Golok Baja Hitam?!" Alis kakek berpakaian coklat berkerut. Benda yang dimaksud orang bertopeng kayu itu memang ada padanya. Tapi, sepengetahuannya tidak ada hal istimewa pada benda itu. Agak heran kalau ada orang yang mencarinya! "Benar!" Yang menjawab orang bertopeng kayu yang bertubuh lebih kurus. "Cepat berikan Golok Baja Hitam, dan kami akan pergi dari sini!" "He he he...!" Tawa terkekeh yang bernada merendahkan diperdengarkan kakek berpakaian coklat. Kalian kira, kalian siapa sehingga berani meminta golok itu padaku? Apakah kalian tidak tahu siapa aku? "Kami tahu!" Orang bertopeng yang lebih kurus menganggukkan kepala. Tapi, kami tidak takut kepadamu! Memang harus kami akui orang-orang persilatan merasa gentar terhadapmu, jangan kau kira kami akan demikian. Bagi kami, julukan Iblis Tangan Maut tidak berarti apa-apa!

Untuk pembaca yang ingin menikmati kisah persilatan klasik tanah air secara lengkap dan mendalam, Anda dapat langsung melakukan aktivitas baca online novel silat Indonesia terbaru yang menyajikan petualangan seru para jawara rimba persilatan.

"Keparat! Mulutmu terlalu berbisa. Kalau tidak dihancurkan akan semakin kurang ajar nantinya!" Begitu ucapan kakek berpakaian coklat yang ternyata berjuluk Iblis Tangan Maut selesai, beberapa tengkorak berturut-turut melesat meninggalkan tumpukan dan meluncur ke arah orang bertopeng yang bertubuh lebih kurus. "Permainan anak-anak kau tunjukkan di hadapanku...?" Orang bertopeng itu membarengi ucapannya dengan mendorong tangan kanannya ke depan. Dia tidak terlihat terkejut melihat tengkorak-tengkorak itu meluncur ke arahnya dengan kecepatan menakjubkan. Padahal, tengkorak-tengkorak itu berasal dari lapisan ketiga dari bawah, sementara jumlah lapisan keseluruhannya delapan! Meski demikian, tumpukan tengkorak itu tidak berantakan. Bahkan, tubuh kakek berpakaian coklat tidak bergeser! Orang bertopeng kayu itu memang tidak asal bicara. Dari tangannya keluar hembusan angin keras yang berciutan nyaring. Tengkorak-tengkorak hancur berantakan sebelum mengenai sasaran ketika terhantam angin pukulannya. Tapi, tidak semua tengkorak dihancurkan. Tengkorak yang terakhir dibiarkannya. Hanya daya luncurannya ditahan dengan dorongan angin pukulannya.

Iblis Tangan Maut membelalak lebar melihat serangannya demikian mudah dipatahkan. Sepasang matanya yang tajam melotot seakan ingin terlompat keluar karena tidak percaya. Rasa penasaran membuat kakek berpakaian coklat mengubah bentuk penyerangannya ketika melihat tengkorak yang terakhir tidak dihancurkan. Sambil memekik nyaring, Iblis Tangan Maut menjulurkan tangan kanannya ke depan. Lawan kakek itu mengeluh tertahan. Tengkorak yang semula terhenti luncurannya, mendadak melesat kembali dengan kecepatan sangat tinggi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia pun mengulurkan tangan dan mengerahkan tenaga dalam untuk menahan luncuran tengkorak. Perlahan tengkorak itu tertahan dan berhenti. Kakek berpakaian coklat tidak tinggal diam. Kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan semua sehingga tengkorak kembali meluncur mendekati lawan. Orang bertopeng pun menambah tenaganya. Sesaat kemudian, kedua tokoh itu saling mendorong untuk mengalahkan. Teman orang bertopeng tidak berani berbuat apa-apa. Dia hanya menyaksikan jalannya pertarungan dengan harap-harap cemas. Sepasang matanya tak pernah lepas dari tengkorak yang mengapung setengah tombak dari atas tanah. Tengkorak itu tidak pernah diam di tempat. Terkadang meluncur lambat ke arah Iblis Tangan Maut. Dan, di lain saat melayang ke arah orang bertopeng. Beberapa saat lamanya hal itu terjadi, sebelum akhirnya tengkorak mulai meluncur ke arah Iblis Tangan Maut. Sedikit demi sedikit jarak antara tengkorak dengan Iblis Tangan Maut bertambah dekat.

Di balik topeng kayunya, orang bertopeng yang menjadi penonton tunggal tersenyum lega. Dia tahu rekannya berada di pihak yang menguntungkan. Dengan jelas dilihatnya tangan Iblis Tangan Maut yang terjulur menggigil hebat. Dari atas kepalanya mengepul uap putih yang kian menebal. Sementara wajah tokoh itu telah dibanjiri peluh yang terus menetes bagai aliran anak sungai. "Huakh...!" Iblis Tangan Maut memuntahkan darah segar. Tubuhnya sampai terbungkuk ke depan. Gerakannya membuat tumpukan tengkorak yang sejak tadi tetap rapi karena kekuatan tenaga dalam Iblis Tangan Maut, buyar berantakan! Tapi, justru hal ini yang menyelamatkan nyawa Iblis Tangan Maut. Runtuhnya susunan tengkorak menyebabkan tubuh Iblis Tangan Maut terbawa jatuh. Akibatnya, tengkorak yang meluncur ke arahnya dengan cepat lewat beberapa jari di atas kepala Iblis Tangan Maut. "Bagaimana, Iblis Tangan Maut? Apakah kau masih tidak bersedia menyerahkan Golok Baja Hitam itu?" Orang bertopeng kayu yang menjadi lawan Iblis Tangan Maut bertanya seraya meletakkan tangannya di ubun-ubun Iblis Tangan Maut. Sedikit saja jari-jari yang dialiri tenaga dalam itu bergerak menekan, nyawa kakek berpakaian coklat akan melayang ke alam baka! Iblis Tangan Maut pun bukan orang bodoh. Dia tahu lawannya memiliki kepandaian di atasnya. Terus melakukan perlawanan adalah perbuatan bodoh! Apalagi, jika dilakukan pada saat terancam maut seperti sekarang. Iblis Tangan Maut masih ingin hidup! Dia tidak ingin tewas karena bertindak bodoh mempertahankan benda yang tidak terlalu berarti. Di dalam hati Iblis Tangan Maut masih merasa heran. Benarkah Golok Baja Hitam sama sekali tidak berarti? Kalau benar demikian, mengapa orang-orang bertopeng itu begitu ingin mendapatkannya? Tidak mungkin orang berani mempertaruhkan nyawa demi suatu benda yang tidak berarti apa-apa! Apalagi orang-orang yang mencarinya tokoh-tokoh berilmu tinggi seperti orang bertopeng kayu ini. Iblis Tangan Maut yakin Golok Baja Hitam memiliki sesuatu yang menarik. Timbul rasa sayang di hati kakek berpakaian coklat untuk memberikannya pada orang bertopeng.

"Aku bukan termasuk orang yang sabar, Iblis Tangan Maut!" desis orang bertopeng. Maka, jangan coba-coba bermain gila! Sekali lagi ku peringatkan, cepat berikan Golok Baja Hitam atau kau akan mati tersiksa! Iblis Tangan Maut merasakan nada kesungguhan dalam ancaman itu. Dia tidak berani bertindak sembarangan. Kakek itu tidak mau mempertaruhkan dirinya dengan Golok Baja Hitam yang belum diketahui kegunaannya. Senjata yang kau maksud itu tidak kubawa, Sobat. Tapi, kalau kau mau mengambilnya sendiri, silakan mengambilnya di goa tempat tinggalku, jawab Iblis Tangan Maut seraya menunjuk ke satu arah di belakangnya. Tampak gundukan batu yang hampir menyerupai bukit. Pada salah satu sisinya terdapat sebuah lubang. Dengan isyarat tangan, orang bertopeng kayu yang mengalahkan Iblis Tangan Maut memberi perintah pada rekannya untuk mengambil senjata itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, orang bertopeng itu melesat ke arah gundukan batu. Sementara rekannya menunggu sambil mengawasi Iblis Tangan Maut. Kakek berpakaian coklat itu telah duduk bersila dan siap melakukan semadi untuk mengobati luka dalam di tubuhnya. "Ingat, Iblis Tangan Maut," desis orang bertopeng. "Apabila kau mempermainkan kami, maka nyawamu tidak akan bisa kau selamatkan lagi!" Tidak ada jawaban sepatah pun dari mulut Iblis Tangan Maut. Dia malah menenggelamkan diri dalam keheningan semadinya. Kalau lukanya dibiarkan terlalu lama akan semakin parah dan dapat membawa kematian.

Tak lama kemudian, orang bertopeng yang bertugas mengambil Golok Baja Hitam keluar dari mulut goa. Dengan cepat ia melesat ke arah rekannya. "Mari kita pergi," ajak kawannya begitu ia tiba di dekatnya. Tanpa mempedulikan nasib Iblis Tangan Maut, dua orang bertopeng itu melesat ke arah tadi mereka datang. Dalam beberapa kali lesatan saja tubuh keduanya sudah tidak terlihat lagi. Iblis Tangan Maut tidak memperhatikan karena masih sibuk dengan semadinya. Entah berapa lama bersemadi, Iblis Tangan Maut tidak mengetahuinya. Yang jelas ketika dia membuka sepasang matanya, di depannya telah berdiri dua sosok tubuh. Sepasang muda-mudi yang memiliki wajah elok. Mereka mengenakan pakaian yang warnanya berlawanan. Yang wanita mengenakan pakaian merah, sedangkan yang lelaki berpakaian putih!


Disqus Comments