Pedang Kiri Pedang Kanan Gan K L
Cersil Pedang Kiri Pedang Kanan Gan K L
Baca Online Pedang Kiri Pedang Kanan Gan K L
Bab Pendahuluan: Gelombang di Dunia Persilatan
Cuaca cerah, udara terang, tiada badai, tidak ada ombak di tengah sungai atau danau, namun demikian gelombang ombak tetap mendampar, yang di belakang mendorong ke depan, air tetap mengalir tak terputus-putus.
Demikian pula suasana Kangouw (sungai-telaga), mengejar nama, berebut rejeki, yang kuat mencaplok yang lemah kelaliman, kesadisan kejahatan tetap merajalela, liku kehidupan dunia persilatan penuh diliputi muslihat, kapan insan persilatan pernah mengenyam kehidupan aman dan damai?
Sepanjang musim semi tahun ini suasana Kangouw atau dunia persilatan memang agak tenteram, namun keadaan ini tidak bertahan lama, karena kabar yang mengejutkan tiba-tiba membikin keadaan yang aman tenteram menjadi gempar dan bergolak.
"Kabar pertama yang mengejutkan adalah lenyapnya Tong-Thianjong, tertua keluarga Tong di Sujwan yang terkenal dengan ilmu senjata rahasia dan racunnya. Kabar kedua yang menggemparkan adalah hilangnya Un It-hong, tertua keluarga Un di Ling-lam..."
Kedua tokoh besar tersebut menghilang secara beruntun tak keruan parannya. Konon peristiwa ini terjadi pada permulaan tahun lalu, soalnya keluarga yang kehilangan ketuanya ini tutup mulut dan merahasiakan hal itu sehingga urusan baru bocor setelah berselang tiga bulan kemudian, sudah tentu berita ini menjadi topik pembicaraan setiap insan persilatan.
Keluarga Tong di Sujwan berada di utara, sementara keluarga Un di Ling-lam ada di selatan. Sebetulnya kejadian hilangnya ketua dari kedua keluarga ini betapapun tiada sangkut pautnya satu sama yang lain. Soalnya peristiwa ini berlangsung sebelum dan sesudah tahun baru, sehingga orang mau tidak mau menganggap kejadian itu suatu kebetulan, apalagi kabar yang tersiar luas di dunia persilatan bersimpang siur sehingga umum merasa urusan ini agak misterius.
Kabarnya setelah kedua tokoh ini hilang secara aneh, orang-orang dari kedua keluarga ini menemukan sebutir mutiara sebesar kacang di bawah bantal mereka. Menemukan mutiara di bawah bantal sebetulnya bukan suatu hal yang aneh, cuma mutiara yang mereka temukan ini terukir sebuah huruf "LING" (perintah atau firman) sebesar kepala lalat berwarna merah menyolok.
Dan karena adanya huruf "LING" yang terukir di atas mutiara inilah menjadikan urusan menarik perhatian orang banyak. "Cin-cu-ling" (firman mutiara), hampir setiap insan persilatan tiada yang pernah mendengar nama ini di Kangouw. Lambang seseorang ataukah golongan? Soal ini simpang siur dan tiada seorangpun yang bisa menjelaskan secara gamblang dan pasti. Yang terang cin-cu-ling menyebabkan dua orang tertua dari keluarga besar yang tersohor di dunia persilatan lenyap. Kini tiga bulan sudah lalu, soal ini masih ramai dibicarakan orang, namun kejadian masih terselubung, bagai batu kecemplung laut, sejauh itu masih menjadi teka-teki. Yang terang orang-orang dari kedua keluarga ini masih terus mencari dan menyelidiki. Cin-cu-ling memang menimbulkan gelombang besar di dunia persilatan untuk beberapa lamanya tapi lambat laun hal inipun dilupakan orang.
Pegadaian Thay-goan-tang dan Mutiara Rahasia
Thay goan-tang merupakan pegadaian terbesar di kota Kayhong, letaknya di jalan besar di timur kota. Huruf "Tang" (gadai) bagai poster raksasa menghias tembok tinggi yang melintang di depan rumah setinggi dua tombak. Begitu masuk, pintu angin lebar dari papan tebal mengadang di jalan—pintu angin inipun dihiasi huruf gadai yang melebihi besar manusia sehingga keadaan di dalam tidak kelihatan dari luar. Memangnya siapa yang tidak malu menggadaikan barang miliknya kalau tidak kepepet karena "tongpes" alias kantong kempes?
Hari sudah lewat lohor, keadaan rumah gadai Thay-goan sudah sepi, pada saat itulah seorang pemuda memasuki pintu pegadaian itu. Pemuda ini berjubah hijau, usianya likuran tahun, mukanya cakap, alis tegak, mata besar bersinar tajam, sikapnya ramah dan halus mirip seorang pelajar, tapi sebuah buntalan panjang tiga kaki melintang di punggungnya, tidak mirip payung, mungkin senjata yang selalu dibawanya untuk membela diri.
Pemuda jubah hijau langsung menuju ke loket terdekat, sebentar dia berdehem, lalu bersuara lembut, "Mana petugasnya?"
Seorang laki-laki tua berkaca mata berlari-lari dari sebelah dalam, sekilas diawasinya pemuda jubah hijau ini, lalu berseri tawa sambil menyapa, "Siangkong (tuan) hendak menggadaikan barang apa?"
Pemuda jubah hijau manggut-manggut, tangan merogoh kantong dan mengeluarkan sebutir mutiara terus diangsurkan. Mutiara ini sebesar telur burung puyuh, lapat-lapat bersemu kuning, sinarnya mencorong benderang, orang awampun tahu bahwa benda ini adalah barang mestika yang tak ternilai harganya.
Petugas tua ini menerima serta menimang-nimang di telapak tangan, lalu tanyanya, "Mau digadaikan berapa, Siangkong?"
"Lima ribu tahil perak," sahut pemuda jubah hijau. Sebetulnya nilai mutiara ini sedikitnya laksaan tahil, tapi petugas ini tak berani sembarangan bertindak, dengan seksama dia amat-amati mutiara serta memeriksanya dengan lebih teliti. Akhirnya ditemukan sebuah ukiran huruf "LING" warna merah di atas mutiara yang menguning terang itu. Seketika jantungnya berdetak keras seperti hendak meloncat keluar dari rongga dadanya.
Sekilas tampak berubah air muka petugas tua ini, Tapi kejap lain rona mukanya berobah pula seperti kegirangan—sudah tentu semua perubahan ini tak lepas dari pengamatan si pemuda jubah hijau. Tapi pemuda itu anggap tidak tahu saja.
Sengaja petugas tua ini memeriksa dan menimang-nimang sekian lamanya, habis itu baru berkata dengan tertawa lebar, "Mutiara Siangkong ini tak ternilai harganya, hanya digadai lima ribu tahil saja...."
"Ya, baiklah kugadaikan," ujar pemuda jubah hijau.
"Tapi lima ribu tahil juga bukan jumlah yang kecil, maka........."
"Lho, kenapa, kau tidak mau terima?"
"Tidak..tidak..kami buka pegadaian, mana tidak terima gadai? Soalnya lima ribu tahil, kami tiada uang kontan sebanyak itu, dan lagi mutiara ini harus diunjukkan dulu kepada majikan kami."
"Boleh saja," ujar si pemuda. "Silakan undang majikanmu."
"Sebagai langganan, mari silakan Siangkong duduk di dalam dan minum secangkir teh, segera kusuruh orang mengundang majikan," sembari bicara dia membuka pintu di ujung sana, lalu menyambut dengan munduk-munduk, "Silakan duduk, Siangkong."
Si pemuda tidak sungkan dengan tegap ia masuk ke dalam. Petugas tua menyilakan duduk, seorang kacung menyuguhkan secangkir teh. Petugas tua mengembalikan mutiara dengan kedua tangannya, katanya, "Siangkong, simpan dulu mutiara ini, setelah berhadapan dengan majikan boleh kau perlihatkan kepada beliau." Lalu ia bisik-bisik kepada si kacung sekian lamanya, kacung itu manggut-manggut terus berlari keluar.
"Majikan tinggal di pintu selatan, sebentar beliau akan datang. Entah siapakah she Siangkong?"
"Aku she Ling," sahut si pemuda.
"Siangkong kelahiran mana?"
"Ing-ciu," agaknya dia sungkan bicara, maka jawabannya pendek-pendek saja.
"Tempat bagus," ujar si petugas tua. Si pemuda hanya tersenyum saja.
Pembicaraan terputus sampai sekian saja, si petugas lalu mengeluarkan pipa cangklong dan mengisap tembakaunya. Kira-kira setanakan nasi kemudian, tampak dari luar datang seorang laki-laki setengah baya berpakaian ketat warna biru, laki-laki ini beralis tebal, mukanya kasar kereng, badannya tegap kuat. Kacung cilik tadi tampak berlari-lari di belakangnya.
Lekas si petugas tua menurunkan pipa sambil berdiri, serunya tertawa, "Nah, sudah datang." Si Pemuda ikut berdiri. Sementara laki-laki setengah baya sudah beranjak masuk, matanya langsung menatap si pemuda jubah hijau, sekedar menyapa pada si petugas, katanya, "Apakah saudara ini yang hendak menggadaikan?"
Si petugas manggut-manggut, sahutnya, "Ya, ya inilah Ling-siangkong dari Ing-ciu." Kepada si pemuda segera ia memperkenalkan, "Inilah murid terbesar majikan kami The Si-kiat The-toaya, belakangan majikan jarang mencampuri urusan perusahaan, semuanya The-toaya inilah yang membereskannya."
"Kiranya The-ya," si pemuda memberi salam. The Si-kiat membalas hormat, katanya, "Tidak berani, cayhe diperintahkan guru kemari untuk mengundang saudara ke sana untuk bicara."
"Cayhe hanya menggadaikan barang saya," sahut si pemuda. Umumnya gadaian hanya mengenal barang tanpa kenal orang, kalau harganya cocok boleh dibayar, kalau tidak boleh ditolak. The Si-kiat tertawa, ujarnya, "Guruku berkata, mutiara yang tak ternilai harganya hanya digadai lima ribu tahil, menurut aturan, jumlah ini merupakan nilai yang besar, maka kedua belah pihak perlu bicara langsung, oleh karena itu harap saudara sudi terima undangan ini."
Si pemuda tertawa tawar, katanya, "Kalau demikian, terpaksa aku terima undangan ini."
"Marilah, kutunjukkan jalannya," ujar The Si-kiat terus melangkah keluar lebih dulu. Si pemuda mengikut di belakang meninggalkan rumah gadai ini.
Ujian Kecepatan dan Pertemuan di Perkumpulan Kim-ing-ceng
Mereka jalan beriring, The Si-kiat membawanya berputar menyusuri dua jalan raya panjang dan ramai. Kira-kira setengah li kemudian, mereka membelok ke sebuah lorong lebar yang beralas batu besar dan bersih mengkilap, pohon-pohon tua dan tinggi berderet di kedua pinggir jalan. Entah sengaja atau tidak The Si-kiat seperti hendak menjajal si pemuda, begitu memasuki lorong ini langkahnya tiba-tiba dipercepat, kelihatannya langkahnya lambat tidak tergesa-gesa, namun tubuhnya bergerak bagai terbang, orang biasa umpama berlari sekencang-kencangnya juga takkan bisa menyusulnya.
Pemuda jubah hijau mengikut di belakang, langkahnya juga lamban saja seperti tidak ingin berlomba lari, berlangsung seperti tidak terjadi apa-apa, namun jaraknya dengan The Si-kiat tetap sama, hanya beberapa kaki, sedikitpun tak pernah ketinggalan. Jalanan batu mengkilap ini panjangnya ada dua li, sepanjang jalan ini The Si-kiat melangkah dengan amat pesatnya, hanya sekejap saja sudah tiba di depan sebuah gedung besar dan berhenti.
Dia kira si pemuda tentu ketinggalan jauh di belakang, tak tahunya waktu dia berpaling, ternyata si pemuda dengan sikap wajar juga berhenti di belakangnya. Keruan ia kaget, batinnya: "Di antara murid Siau-lim-pay dari kaum preman, aku diberi julukan Sin-hing Thay-po (malaikat jalan pesat), kecuali orang mengerahkan tenaga dan menggunakan Ginkang, rasanya tidak sembarang orang bisa menyusul diriku, tapi bocah ini amat lihay juga Ginkangnya, sedikitpun tidak mau ketinggalan di belakang." Segera dia menghela napas panjang serta berkata dengan tertawa, "Sudah sampai."
Si pemuda angkat kepala, dilihatnya gedung besar memakan tanah yang amat luas, rumahnya berlapis-lapis memanjang ke belakang, bentuknya megah serta mewah. Kedua pintu besar yang bercat hitam sudah terbentang lebar, di depan pintu berdiri dua laki-laki muda berpakaian jubah hijau, sikapnya gagah dan kereng.
Kiranya adalah Kim-ing-ceng yang tersohor di kalangan persilatan. Locengcu atau pemilik perkampungan tua ini bernama Kim Kay-thay, dia pula yang menjabat ciangbunjin dari murid preman Siaulim-pay. Kaum persilatan sama memanggilnya Kim-ting, Kim loyacu. "Kim-ting" (hianglo emas tempat dupa) adalah julukan Kim loyacu, konon dulu dia dijuluki It-kun-cui-kim-ting (sekali pukul menghancurkan Hianglo), tapi karena kelima huruf ini kurang enak dibaca, maka orang lebih suka memanggilnya Kim-ting saja.
Di bawah iringan The Si-kiat, si pemuda terus memasuki pintu besar, melewati pekarangan luas dan panjang, memasuki pintu kedua, di sini terjaga oleh dua pemuda baju hijau. Begitu The Si-kiat datang, segera mereka membungkuk hormat dan menyapa, "Suhu sudah menunggu di ruang barat, silakan Toasuheng bawa tamu ke kamar barat."
The Si-kiat mengiakan saja terus membelok ke arah kiri, setelah menyusuri serambi panjang yang berbelok-belok, mereka tiba di kamar di sebelah barat. Itulah sebuah kamar tersendiri yang berjendela kaca, sekeliling kamar dipagari tanaman bunga aneka warna, gunung-gunungan dan kolam ikan, pajangan di sini sangat permai, terang ditangani seorang ahli. Undak-undakan di depan pintu kamar berdiri pula dua laki-laki jubah hijau, kiranya mereka adalah murid Kim-loyacu.
Mengikuti langkah The Si-kiat, si pemuda langsung memasuki kamar bunga itu, tampak di atas sebuah kursi besar membelakangi dandang sebelah timur sana duduk seorang laki-laki tua berkepala botak, berjenggot putih bermuka merah, sorot matanya bersinar tajam. Begitu melihat muridnya membawa si pemuda masuk, segera dia unjuk tawa serta berdiri menyambut.
Setelah dekat The Si-kiat berhenti serta berkata pada tamunya, "Inilah guru kami."
Si Pemuda maju melangkah, kedua tangan terangkap memberi hormat, katanya lantang, "Sudah lama kudengar nama besar Kim-loyacu, atas undangan ini, Wanpwe amat bersyukur dan beruntung."
Lekas The Si-kiat berkata lirih kepada gurunya, "Suhu, inilah Ling-siangkong."
Kim Kay-thay bermata panjang, dengan seksama dia awasi pemuda jubah hijau ini, sudah tentu yang menarik perhatiannya adalah buntalan panjang di belakang punggung si pemuda, bagi seorang ahli tentu segera tahu bahwa buntalan ini berisi pedang panjang. Sambil mengawasi orang, tangan kanan Kim-loyacu terangkat sambil berkata, "Tamu agung, tamu agung! Silakan duduk. Silakan duduk!"
Si pemuda juga tidak sungkan-sungkan, dia duduk di kursi depan orang. Seorang pemuda lain berbaju hijau lantas menyuguhkan minuman. Kim Kay-thay berdehem kecil, lalu berkata dengan tertawa, "Ling-siangkong, siapakah nama lengkapmu...?"
"Cayhe bernama Kun-gi."
"Tinggal di mana?"
"Di Ing-Ciu," sahut si pemuda alias Ling Kun-gi. Kim Kay-thay manggut-manggut, katanya, "Lohu dengar Ling-siangkong punya sebutir mutiara hendak digadaikan lima ribu tahil perak? Bolehkah kuperiksa?"
Ling Kun-gi merogoh kantong dan mengeluarkan mutiara yang terikat benang emas dan diangsurkan. Kim Kay-thay menerimanya serta mengamatinya dengan teliti, katanya kemudian, "Lohu ingin mohon sedikit keterangan dari Ling-siangkong, entah sudikah menerangkan?"
Ling Kun-gi tertawa tawar, ujarnya, "Kim-loyacu ingin tanya soal apa?"
Tajam tatapan mata Kim Kay-thay, katanya, "Apakah Ling-siangkong tahu asal-usul mutiara ini?"
"Inilah barang peninggalan leluhur kami," jawab Ling Kun-gi.
"Siapakah nama gelaran ayah Ling-siangkong?" tanya Kim Kaythay.
"Ayah almarhum sudah meninggal sejak beberapa tahun, Kim-loyacu tanya soal ayah, apakah beliau ada sangkut pautnya dengan mutiara ini?"
"Lohu hanya tanya sambil lalu saja, Ling-kongcu membekal pedang ke mana-mana, tentunya kaupun dari kalangan persilatan?"
"Cayhe hanya belajar beberapa jurus pukulan dan ilmu pedang, baru saja mulai berkecimpung di Kangouw."
Sekilas terpancar sinar terang dari kedua biji mata Kim Kay-thay yang sipit, katanya sambil manggut-manggut, "Ling-siangkong gagah dan cakap, tentunya dari keluarga persilatan ternama juga."
"Ayah almarhum dan ibu sama-sama tak mahir ilmu silat, kepandaian rendah yang cayhe miliki kuperoleh dari didikan guru."
"O, entah siapa nama gelaran guru Ling-siangkong?"
"Guruku tidak punya gelaran, namanya juga tidak ingin diketahui orang lain."
Kim Kay-thay mengelus jenggot, katanya, "Guru Ling-siangkong mungkin seorang tokoh persilatan lihay dan aneh tabiatnya."
"Dari mutiara warisan keluarga kami ini, Kim-loyacu tanya asal-usul dan riwayat hidupku, apakah engkau menaruh perhatian atau curiga terhadap mutiara milikku ini?"
Sejenak Kim Kay-thay melengak, katanya kemudian sambil tertawa, "Ling-siangkong jangan salah paham."
"Apa yang ingin Kim-loyacu ketahui sudah kujawab terus terang, kini cayhe juga ingin tanya satu hal, entah Kim-loyacu sudi memberi penjelasan tidak?"
Kim Kay-thay tetap tersenyum simpul, katanya, "Boleh Ling-siangkong katakan."
"Kukira Kim-loyacu tentu pernah melihat mutiara yang mirip dengan mutiara milikku ini?" kata Ling Kun-gi. Sedikit berubah air muka Kim Kay-thay, katanya tertawa, "Ling-siangkong adalah kaum persilatan, tentunya juga sudah mendengar peristiwa cin-cu-ling di kalangan Kangouw?"
"Ya, cayhe datang ke Kayhong memang ingin cari tahu tentang cin-cu-ling yang menggemparkan dunia persilatan itu."
Terunjuk rasa heran pada wajah Kim Kay-thay, tanyanya, "Apakah Ling-siangkong sudah tahu?"
Menegak alis Ling Kun-gi, katanya sambil tertawa keras, "Itu terserah kepada Kim-loyacu, apakah sudi mengunjukkannya kepada cayhe?"
Tak urung berubah juga roman muka Kim Kay-thay, katanya, "Ucapan Ling-siangkong tidak beralasan, dari mana lohu bisa mempunyai cin-cu-ling itu?"
"Waktu cayhe berangkat, sudah kudengar bahwa Lok-san Taysu, pimpinan ruang Yok-ong-tian di Siau-lim-si mendadak hilang, di tempatnya tertinggalkan sebutir cin-cu-ling. Hongtiang ketua Siau-lim-si sudah serahkan cin-cu-ling itu kepada Kim-loyacu, memangnya kabar ini hanya berita angin belaka?"
Dingin sikap Kim Kay-thay, katanya, "Semula kukira guru Ling-siangkong adalah tokoh aneh yang mengasingkan diri dan jarang berkecimpung di dunia persilatan..." jelas nadanya penuh sindiran. Ling Kun-gi tertawa lebar, katanya, "Guruku memang suka mencampuri urusan tetek-bengek, sejak tiga puluh tahun yang lalu sampai sekarang, tabiat ini tak pernah berubah."
Sekilas terpancar perasaan aneh pada wajah Kim Kay-thay, tanyanya prihatin, "Siapakah sebetulnya gurumu?"
"Tadi sudah cayhe jelaskan, guruku tidak punya gelar, kalau Kim-loyacu ingin tahu, boleh selidiki dari permainan beberapa jurus pukulanku."
Kim Kay-thay naik pitam, katanya kereng, "Jadi maksud kedatanganmu bukan ingin menggadai mutiaramu itu?"
"Sama-sama," ujar Ling Kun-gi tertawa. "Kim-loyacu mengundangku kemari, tentunya juga bukan ingin bicara soal nilai gadai mutiaraku, bukan?"
"Sombong benar kau anak muda!" dengus Kim Kay-thay. Sudah banyak tahun tiada orang berani bertingkah di hadapan Kim-loyacu, tak heran dia naik pitam. Ling Kun-gi tertawa lebar, katanya, "Setua umur guruku, selamanya tak ada yang terpandang olehnya, cayhe adalah ahli waris guruku satu-satunya, memangnya siapa pula yang bisa terpandang dalam mataku?"
Berubah gusar wajah Kim Kay-thay, serunya tertawa, "Bagus sekali, Lohu ingin tahu murid siapa kau sebetulnya!" Lalu ia letakkan mutiara itu di atas meja, katanya pula, "Kalau Ling-siangkong tidak menggadaikan mutiara ini, silakan ambil kembali."
"Memang betul ucapan Kim-loyacu," kata Ling Kun-gi, segera tangan diulur mengambil mutiara itu terus dimasukkan ke kantong bajunya. Berkilat biji mata Kim Kay-thay, serunya berat, "Si-kiat!"
"Tecu siap!" sahut The Si-kiat membungkuk. Kim Kay-thay berpesan, "Tujuan Ling-siangkong adalah gurumu, boleh kau minta belajar beberapa jurus padanya, dari permainannya nanti, mungkin aku bisa mengenal perguruannya."
"Tecu mengerti," sahut The Si-kiat, lalu dia menjura kepada Ling Kun-gi, katanya, "Ling-siangkong ingin memberi petunjuk, mari silakan bergebrak di luar, di sana lebih luas."
"Menjajal kepandaian bukanlah main tombak di atas kuda, cukup dua-tiga langkah saja cukup, kalau bergebrak di sini Kim-loyacu tentu bisa menyaksikan lebih jelas."
The Si-kiat tertawa dingin, katanya, "Kalau Ling-siangkong berpendapat demikian, bolehlah gebrak di sini saja." Kembali dia menjura serta menambahkan, "Silakan Ling-siangkong memberi pelajaran."
Sambil mengawasi orang Ling Kun-gi mengulum senyum lebar, katanya, "Selamanya cayhe tidak pernah menyerang lebih dulu, harap The-ya tidak usah sungkan." Terang dia sangat meremehkan The Si-kiat.
The Si-kiat adalah murid tertua Kim-ting Kim-loyacu, di antara murid-murid preman Siau-lim-pay, dia merupakan jago yang berkepandaian tinggi, kini ia dipandang hina sedemikian rupa oleh Ling Kun-gi yang masih muda belia dan pupuk bawang lagi, sudah tentu hatinya geram setengah mati, namun dia hanya mendengus, katanya, "Baiklah bila aku berlaku kasar!"
Diam-diam dia menghirup napas panjang dan mengerahkan tenaga, tangan kanan melindungi dada, serangan segera siap dilancarkan. "Si-kiat," tiba-tiba Kim Kay-thay membentak, "tunggu sebentar."
Lekas The Si-kiat membatalkan dan menarik kuda-kudanya, sahutnya membungkuk, "Ada pesan apa, Suhu?"
"Betapapun Ling-siangkong adalah tamu kita, jangan sekali-kali berlaku kasar padanya," kata sang guru. Berlaku kasar artinya tidak boleh mencabut nyawanya tapi boleh kau beri ajaran setimpal biar kapok.
"Tecu mengerti," sahut The Si-kiat. Ia membalik badan dan telapak tangan kiri terbuka, kepalan tangan kanan melingkar di depan dada, serunya, "Ling-siangkong, hati-hatilah!"
Begitu telapak tangan kiri bergerak, tahu-tahu kepalan tangan kanan mendahului menggenjot pundak Ling Kun-gi, yang dilancarkan adalah ilmu Coanhoa-kun (pukulan menyelinap bunga). Ling Kun-gi pun tidak menyingkir, ia tunggu kepalan The Si-kiat hampir mengenai pundaknya, mendadak sedikit miringkan badan, kaki kiri melangkah setengah tindak. Di mana tangan kiri terangkat, dia tepuk pundak kanan The Si-kiat, serangan balasan ini datang lebih dulu malah.
Justru yang dimainkan ini aneh dan lucu tampaknya, walau tepukannya enteng seperti tidak menggunakan tenaga, tapi pukulan The Si-kiat mengenai tempat kosong, gerakannya sukar dihentikan lagi, dia terhuyung ke depan lima langkah.
Berubah air muka Kim Kay-thay karena gerakan Ling Kun-gi mirip sekali dengan Tui-liong-jip-hay (dorong naga masuk laut), salah satu jurus Cap-ji-kim-liong-jiu dari perguruannya, cuma Ling Kun-gi melancarkan jurus ini dengan tangan kiri, jadi berlawanan dengan kebiasaan. Cap-ji-kim-liong-jiu (dua belas jurus tangkap naga) adalah salah satu dari 72 ilmu silat Siau-lim-pay. Termasuk 12 tingkatan teratas dari deretan ilmu lihay Siau-lim-pay, ilmu ini diciptakan oleh cikal bakal Siau-lim-pay yaitu Bodhi Dharma setelah dia menyelami Ih Kin-keng, kecuali murid-murid Hou-hoat atau pembela biara, ilmu ini tidak pernah diajarkan kepada murid-murid preman.
Sebagai murid tertua dan berkepandaian paling tinggi di antara murid-murid Kim Kay-thay, ternyata dalam gebrak permulaan saja dirinya sudah kecundang, sudah tentu The Si-kiat malu bukan main, mulut menggerung, tiba-tiba badannya berputar cepat, berbareng kedua tangan menyerang secara membadai. Karena sudah kecundang, maka jurus permainan selanjutnya tidak kepalang tanggung lagi, ia melancarkan Hak-hou-cio-hoat (ilmu pukulan penakluk harimau) dari Siau-lim-pay.
Ilmu ini cukup terkenal dalam bu-lim dengan kekuatan dan kekasarannya, begitu dikembangkan perbawanya ternyata bukan olah-olah hebatnya, setiap gerakan jurus tangannya membawa deru angin kencang seperti badai mengamuk, kekuatannya cukup menghancurkan pilar batu. Tak tahunya Ling Kun-gi melayaninya seperti tidak terjadi apa-apa, sikapnya adem ayem, kedua kaki tetap berdiri di tempat tak bergeser sedikitpun, hanya badannya saja yang bergontai kian kemari, namun setiap serangan lawan dapat dihindarinya dengan mudah.
Dirangsang amarah, tentu saja serangan The Si-kiat semakin bersemangat dan tumplek seluruh kepandaian silatnya, jurus ketiga adalah Jiu-kip-pau-tan (tangan merogoh ulu harimau), jari-jarinya berbalik merogoh ke bawah dari bawah pergelangan tangan yang lain, bagai kilat tahu-tahu serangannya mengincar ulu hati Ling Kun-gi. Begitu cepat dan ganas serangan ini. Jarak keduanya dekat lagi, pula badan Ling Kun-gi masih miring ke samping karena menghindari jurus kedua tadi, gerakannya jadi sukar berubah dan tak mungkin berkelit lagi.
Diam-diam The Si-kiat mendengus hina, tenaga dia kerahkan ke tangan kanan, gerakanpun dipercepat. Tatkala jari tangannya menyentuh baju Ling Kun-gi itulah, mendadak terasa pergelangan tangan kanan mengencang sakit, tahu-tahu tangan orang sudah mencengkeram pergelangan tangannya. Keruan hatinya mencelos kaget, baru saja dia hendak meronta, namun sudah terlambat. Kejadian berlangsung begitu cepat dalam sekejap saja, Ling Kun-gi tetap mengulum senyum. Sedikit dia gerakkan tangan kiri, badan The Si-kiat yang tinggi tegar itu tiba mencelat dan terbanting jatuh.
Sebagai murid preman angkatan kedua dari Siau-lim-pay, kepandaian The Si-kiat sebetulnya tidak lemah, di tengah udara dia sempat mengarahkan Jian-kin-tui, kedua kakinya hinggap di atas tanah dan berhasil mempertahankan diri sehingga tidak jatuh. Namun mukanya yang sudah merah kelam menjadi semakin gelap seiring malu, katanya dengan tertawa-tawa, "Ling-siangkong memang hebat!" Segera dia hendak menubruk maju lagi.
Betapa tajam pandangan Kim Kay-thay, dari jurus kedua yang dimainkan Ling Kun-gi ini dia sudah yakin bahwa ilmu itu adalah Cap-ji-kim-liong-jiu, tipu yang dinamakan Ih-kim-ko-yong (hendak ditangkap sengaja menurut saja), cuma bedanya dia tetap melancarkan jurus secara terbalik, dengan tangan kiri, keruan hatinya terkesiap. Diam-diam ia membatin: "Mungkinkah dia murid beliau?" Tanpa menunggu The Si-kiat bergerak lebih lanjut, cepat ia membentak, "Si-kiat berhenti!"
Mendengar seruan gurunya, lekas The Si-kiat meluruskan kedua tangan, sahutnya mengangkat kepala, "Suhu, ini......" dia ingin bilang "Tecu belum kalah." Namun Kim Kay-thay segera menyela, "Tak usah dilanjutkan, kau bukan tandingan Ling-lote."
The Si-kiat tak berani banyak bicara, namun batinnya tidak terima dan penasaran sekali. Kim Kay-thay tidak hiraukan sikap muridnya, ia berdiri dengan muka berseri ia berkata kepada Ling Kun-gi, "Ling-lote, silakan duduk." Dari Ling-siangkong mendadak dia menyebutnya Ling-lote (saudara Ling), nadanyapun jauh lebih ramah dan hormat. Diam-diam The Si-kiat menggerutu dalam hati, namun dia juga dapat mengira gurunya berpengalaman luas, dari dua gebrakan tadi, tentu beliau sudah tahu asal-usul Ling-siangkong ini.
Ling Kun-gi tersenyum penuh arti, tanpa bicara ia kembali ke tempat duduk semula. Mengawasi Ling Kun-gi, berkatalah Kim Kay-thay dengan tulus, "Ingin kutanya suatu hal, entah sudikah Ling-lote memberitahu?" Dari nada ucapannya jelas berubah jauh sekali pandangannya terhadap anak muda ini, walau dirinya lebih tua, sedikitpun ia tak berani angkuh lagi.
"Kim-loyacu ingin tanya apa?" jawab Ling Kun-gi.
"Gurumulah yang ingin kutanyakan, apakah beliau seorang beribadat?"
Ling Kun-gi hanya tertawa, katanya, "Tadi sudah kukatakan, guruku tidak punya gelar dan tidak mau disebut namanya, terpaksa tak bisa kujawab pertanyaan Kim-loyacu."
"Tidak apa, kalau Ling-lote tidak mau memberitahu, akupun tidak memaksa," sebentar Kim Kay-thay merandek lalu bertanya pula dengan tatapan tajam, "Jadi Ling-lote kemari lantaran cin-cu-ling itu?"
"Betul," Ling Kun-gi mengangguk.
"Bolehkah Ling-lote bicara sedikit lebih jelas?"
"Baiklah akan kujelaskan. Akhir tahun yang lalu, secara mendadak ibuku menghilang..."
"O," Kim Kay-thay bersuara kaget, "Apakah ibumu juga orang persilatan?"
"Tidak, ibu sedikitpun tidak mahir ilmu silat."
"Ibumu tidak bisa silat?" seru Kim Kay-thay penuh keheranan. "Aneh sekali, jadi Ling-lote kira hilangnya ibumu ada sangkut pautnya dengan cin-cu-ling?"
"Aku sendiripun tidak tahu, tapi begitulah kata guruku. Lok-san Taysu, pimpinan Yok-ong-tian di Siau-lim-si mendadak lenyap, di tempatnya konon ditinggalkan sebutir cin-cu-ling, maka cayhe disuruh ke sini menemui Kim-loyacu untuk mencocokkan apakah cin-cu-ling itu mirip dengan mutiara warisan keluargaku atau tidak?"
"Peristiwa hilangnya Lok-san suheng amat dirahasiakan, hanya beberapa orang saja dari pihak Siau-lim-si yang mengetahui, boleh dikatakan tiada seorang kangouwpun yang tahu, bahwa Ling-lote kemari atas perintah gurumu, baiklah tak perlu kumain sembunyi lagi, Waktu Lok-san Suheng hilang, di tempat tinggalnya memang ditemukan sebutir cin-cu-ling, karena para paderi Siau-lim-si jarang yang keluyuran di Kangouw, maka tugas mencari jejak Lok-san Suheng ini oleh ciangbun Hong-tiang diserahkan kepadaku, maka mutiara itupun kini berada ditanganku." Sampai di sini dia berdiri dan menambahkan, "Harap Ling-lote tunggu sebentar, biar kuambilkan mutiara itu."
"Kim-loyacu boleh silakan," sahut Ling Kun-gi sambil berdiri. Bergegas Kim Kay-thay masuk ke dalam, tak lama kemudian keluar pula sambil menenteng sebuah bungkusan kain warna kuning, ia duduk kembali di kursinya terus membuka bungkusan kain kuning itu, isinya adalah sebuah kotak persegi kecil dari kayu. Dengan hati-hati dia buka kotak kecil itu, lalu mengeluarkan sebutir mutiara sebesar telur burung dara, katanya, "Ling-lote, inilah cin-cu-ling itu."
Ling Kun-gi menerimanya serta mengamat-amati dengan seksama, mutiara inipun bolong tengahnya dan disisipi benang emas, sebelah atasnya ada ukiran huruf "Ling" warna merah menyolok, bentuknya mirip sekali dengan mutiara warisan keluarganya, cuma besar kecilnya saja yang berbeda, sampaipun ikatan benang emas itu satu sama lain juga sama.
Ling Kun-gi angkat kepala dan bertanya, "Apakah Kim-loyacu sudah mendapatkan hasil penyelidikan yang diharapkan?"
Kim Kay-thay menggeleng kepala, katanya tertawa getir, "Walau Ling-lote tidak mau katakan asal-usul perguruan, bahwa gurumu suruh kau ke Kayhong untuk menemuiku, itu pasti ada hubungan intim di antara kita. Maka biarlah kuterus terang, anak murid preman Siau-lim-si tersebar luas di mana-mana, dan banyak di antaranya yang membuka Piaukiok, cabang kitapun tersebar ke segala pelosok. Dalam jangka tiga bulan ini sudah kuberi instruksi kepada mereka untuk menyelidikinya secara ketat, di samping mengadakan sergapan bilamana yang dianggap mencurigakan, namun bukan saja jejak Lok-san Suheng tetap tidak ditemukan, soal cin-cu-ling inipun nihil hasilnya. Cuma aku jadi teringat akan suatu hal..." Sambil mengelus jenggotnya, tiba-tiba dia berhenti.
"Kim-loyacu ingat akan hal apa?" tanya Ling Kun-gi.
Kim Kay-thay tidak segera menjawab, dia merenung sebentar, lalu balas bertanya, "Apakah ibumu pandai menggunakan racun?"
Ling Kun-gi tertegun, sahutnya tertawa, "Tadi sudah kukatakan, ibu bukan kaum persilatan, sudah tentu beliau tidak bisa menggunakan racun."
"Kalau demikian apakah ibumu pandai tata rias atau.. pengobatan?"
Tanpa pikir Ling Kun-gi menjawab, "Ibu tidak tahu soal obat-obatan."
"Aneh kalau begitu," gumam Kim Kay-thay, "sebetulnya tiada alasan mereka menculik ibumu."
Ling Kun-gi tampak bingung, tanyanya, "Cayhe tidak tahu, apa maksud ucapan Kim-loyacu."
"Itu dasarnya pada analisa dari tiga peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Kangouw. Tapi ibumu bukan kaum persilatan, tidak tahu obat-obatan, juga tidak mengerti soal racun, namun juga lenyap tak keruan parannya. Kini gurumu suruh kau kemari menemuiku pula, kalau gurumu anggap soal ini ada sangkut pautnya dengan cin-cu-ling, tentu urusan tidak akan meleset sama sekali, analisaku tadi menjadi harus diragukan..."
"Bagaimana analisa Kim-loyacu, bolehkah diterangkan?" tanya Ling Kun-gi.
"Setelah Lok-san Suheng lenyap, tersiar pula berita di kalangan Kangouw bahwa ketua keluarga Tong di Sujwan dan keluarga Un di Linglam juga lenyap secara aneh, keluarga mereka juga menemukan cin-cu-ling di kamarnya, ini membuktikan bahwa ketiga orang ini pasti dikerjai orang dari suatu golongan."
"Kenapa mereka tidak meninggalkan cin-cu-ling dikala ibuku lenyap?" tanya Ling Kun-gi.
"Tiga orang yang lenyap itu, keluarga Tong di Sujwan adalah ahli di bidang ilmu senjata rahasia dan racun, keluarga Un di Ling-lam tersohor karena obat-obat bius, sedang Lok-san Suheng menguasai ilmu obat-obatan. Karena itu aku menduga, bahwa ketiga orang ahli di bidang masing-masing ini sengaja diculik dan tidak terlepas dari dua kemungkinan. Pertama, di antara komplotan orang-orang itu pasti terdapat salah seorang tokoh penting yang terluka oleh sesuatu racun jahat, mungkin sudah diobati berbagai macam obat dan tetap tak sadarkan diri, oleh karena itu terpaksa mereka menculik kedua ahli racun dan obat bius dari keluarga Tong dan Un itu, demikian pula Lok-san Suheng yang ahli dalam bidang pengobatan. Dugaan ini menjurus pada darma bakti demi keselamatan jiwa orang, jadi mereka diculik untuk menolong jiwa manusia."
"Lalu bagaimana dugaan yang menjurus ke kejahatan?"
"Itulah dugaan kedua, komplotan ini mempunyai maksud-maksud tertentu dengan ambisi besar, bahwa ketiga orang ini diculik untuk alat pemeras kepada keluarga Tong dan Un agar menyerahkan catatan rahasia dari ilmu masing-masing yang sudah turun temurun sejak leluhur mereka."
"Lalu apa pula tujuan mereka menculik Lok-san Taysu?" tanya Ling Kun-gi.
Kim Kay-thay menghela napas, katanya, "Kak-tam-wan buatan Siau-lim-si dapat mengobati segala macam racun, resep pembuatannya sudah turun temurun sejak ratusan tahun lamanya, hanya pimpinan di Yok-ong-thian saja yang tahu akan resep ini. Bahwa Lok-san suheng juga mereka culik, tujuannya sudah tentu untuk membuat Kak-tam-wan. Ini sih urusan kecil, sebab kecuali tiga orang ini bukan mustahil mereka juga menculik tokoh-tokoh lain yang ahli dalam bidang ini? Hal inilah jauh lebih mengerikan. Ini membuktikan bahwa komplotan ini sedang merancang suatu muslihat yang besar. Mereka khusus menculik orang-orang ahli di bidang racun, obat bius dan obat-obatan, tujuannya tentu hendak membuat suatu obat yang mengerikan untuk mencelakai jiwa kaum persilatan. Gerak-gerik komplotan ini serba misterius dan sangat rahasia, kalau mereka tidak meninggalkan cin-cu-ling, bukankah kita lebih sukar lagi untuk menyelidiki hal ini?"
Mendadak sorot matanya menjadi berkilau, tanyanya, "Apakah Ling-lote tahu asal-usul dari mutiara warisan keluargamu itu?"
"Entah, sejak kecil mutiara ini sudah selalu berada di badanku," Ling Kun-gi menjelaskan.
"Gurumu juga tidak pernah menjelaskan?"
"Tidak," jawab Ling Kun-gi, tiba-tiba dia berdiri serta menjura, "Terima kasih atas petunjuk dan keterangan Kim-loyacu, sekarang cayhe mohon diri saja."
"Harap Ling-lote duduk lagi sebentar, masih ada suatu hal perlu kusampaikan... Menurut apa yang kuketahui, kecuali keluarga Tong dan Un, di kalangan Kangouw masih ada satu keluarga yang pandai dan ahli juga menggunakan racun... Liong-bin-san-ceng (perkampungan gunung naga tidur), tapi mereka jarang bergerak di kalangan Kangouw, maka jarang orang tahu akan kehadiran mereka. Menurut apa yang kuketahui, komplotan cin-cu-ling agaknya belum bertindak terhadap Liong-bin-san-ceng, tidak ada ruginya Ling-lote memperhatikan juga soal ini."
"Terima kasih atas petunjuk ini." Habis menjura Kun-gi panggul buntalannya serta melangkah keluar.
Identitas Misterius Sang Guru Kidal
Tersipu-sipu Kim Kay-thay mengantar sampai undakan, lalu dia suruh The Si-kiat antar tamunya sampai di luar pintu. Sudah puluhan tahun The Si-kiat mendapat bimbingan gurunya, dia tahu bahwa pemuda she Ling ini punya asal usul yang bukan sembarangan. Setelah Ling Kun-gi pergi, lekas dia kembali ke kamar dan bertanya pada gurunya, "Suhu, apakah engkau sudah tahu asal-usulnya?"
Prihatin air muka Kim Kay-thay, katanya sungguh-sungguh, "Dua jurus yang dia tunjukkan tadi adalah tipu-tipu dari Cap-ji-kim-liong-jiu, cuma dia bergerak secara kidal, kalau dugaan gurumu tidak meleset, kemungkinan dia adalah..."
The Si-kiat terperanjat, serunya, "Maksud Suhu, dia murid Susiokco?" Kim Kay-thay tidak bicara lagi, dia hanya manggut-manggut.
Konon 50 tahun yang lalu pernah muncul seorang maling pendekar. Maling pendekar maksudnya dia mencuri untuk pihak yang lemah, bukan saja dia memberantas kelaliman dan kejahatan, iapun membantu kaum miskin dan lemah melawan yang kuat dan batil. Karena dia bekerja secara terbuka dan terang-terangan, ilmu silatnya teramat tinggi lagi, biasanya jejaknya sukar ditemukan, hanya sering mendengar namanya tapi tidak pernah melihat orangnya, sudah tentu jarang ada orang yang tahu asal-usulnya. Maka orang banyak lantas memberi julukan It-tin-hong (Angin Lalu) kepadanya.
It-tin-hong punya tabiat aneh, yaitu dia pandang kejahatan sebagai musuh kebuyutan, pejabat korup dan kikir, buaya darat dan tuan tanah yang memeras rakyat jelata semua disikatnya habis-habisan. Kaum persilatan dari golongan hitam yang sudah berlepotan darah kedua tangannya karena kejahatan yang kelewat batas juga diganyang olehnya. Mending kalau hanya dipunahkan ilmu silatnya, bagi yang berdosa di luar batas, kalau tidak terluka parah tentu jiwa melayang.
Entah bagaimana kemudian jejaknya menghilang dari kalangan Kangouw, It-tin-hong lenyap tak karuan paran, ternyata ia telah cukur rambut dan menjadi pendeta di kuil Siau-lim-si di Hoalam, setelah jadi Hwesio gelarannya adalah Tay-thong. Sekejap mata 20 tahun telah berlalu, umumnya ajaran agama mengutamakan welas asih dan bijaksana, setelah dia insyaf tindak kekerasannya dan patuh kepada ajaran agama, tak terduga pada suatu hari seorang musuh yang pernah dipunahkan ilmu silatnya dapat mengenali dia bahwa Tay-thong Hwesio adalah It-tin-hong.
Tata tertib Siau-lim-si amat keras, begitu para Hwesio dalam kuil agung itu tahu bahwa Tay-thong Hwesio adalah It-tin-hong yang dosanya bertumpuk-tumpuk, mereka anggap kehadirannya di biara besar itu menodai dan merusak kesucian agama mereka. Maka timbul keributan dan pertentangan, ada yang mengusulkan supaya punahkan saja ilmu silatnya serta mengusirnya pergi dari kuil.
Sudah tentu Tay-thong Hwesio marah, katanya, "Kalau sang Budha tidak meluluskan aku meletakkan golok pembunuh, akupun tidak pingin menjadi seorang Budhis lagi, tapi ilmu silat yang kumiliki tidak melulu kupelajari dari Siau-lim-si saja, kalian tidak berhak memunahkan ilmu silatku. Soal apa yang pernah kupelajari di Siau-lim-si ini, setelah meninggalkan Siau-lim-si pasti tidak akan kugunakan lagi."
Begitulah akhirnya Tay-thong Hwesio meninggalkan Siau-lim-si. Sejak itu, muncul pula di kalangan Kangouw seorang pendekar aneh yang menyebut dirinya Tay-thong Hwesio, sifatnya tidak pernah berubah, kejahatan dipandangnya sebagai musuh. Ilmu silat yang dimainkan sudah tentu ada yang berasal dari Siau-lim-pay, cuma setiap jurus yang dia gunakan dengan tangan kiri, jadi jurus permainannya terbalik dan berlawanan dengan silat Siau-lim-pay. Maka orangpun memberinya nama Hoan-jiu-ji-lay (Buddha Kidal).
📌 Rekomendasi Cerita Silat Lainnya:
Bagi Anda pecinta kisah persilatan dan misteri rimba persilatan yang penuh intrik, baca juga pertarungan sengit dalam novel Pendekar Pulau Neraka Episode Cinta Berlumur Darah yang menyajikan konflik tidak kalah mendebarkan!
Penyergapan Surat Rahasia dan Lengan Besi Beracun
Hari belum gelap, namun rumah-rumah penduduk Kayhong sudah sama pasang lampu. Lalu lintas masih ramai di jalan raya. Tampak di antara sekian yang mengayun langkah itu ada seorang pemuda baju hijau memanggul buntalan panjang melintas jalan menuju ke ujung jalan sana, di mana terdapat sebuah gang kecil yang sempit. Di mulut gang sempit ini berdiri seorang, tak terlihat wajahnya.
Pemuda jubah hijau yang adalah Ling Kun-gi dihampiri oleh orang misterius tersebut yang menyerahkan sepucuk surat dengan pesan rahasia: "Serahkan kepada si mata satu di luar Ho-sing-bio di Hek-kang." Kesalahpahaman surat ini membawa Ling Kun-gi masuk lebih dalam ke dalam konspirasi Cin Cu Ling. Setelah melewati serangkaian kejar-kejaran, pertarungan sengit dengan laki-laki baju biru, hingga konfrontasi mematikan melawan si baju hijau berlengan besi racun di warung makan Liong-ki, Ling Kun-gi berhasil melumpuhkan musuh-musuhnya menggunakan keunggulan ilmu silat kidal dan daya tahan tubuhnya yang ajaib terhadap racun.
Pertemuan Tak Terduga dengan Nona Anggun Keluarga Un
Setelah keluar dari kota Liong-ki, Ling Kun-gi menyelinap ke dalam hutan untuk menghindari kecurigaan musuh. Tanpa disangka, di dalam hutan rimba tersebut ia berpapasan dengan dua orang gadis jelita, Siau Yan dan majikannya, Un Hoan-kun (Bun Hoan-kun), putri dari keluargaUn di Ling-lam yang tengah menyamar.
Pertemuan yang diawali ketegangan dan salah paham itu berakhir manis. Nona Un Hoan-kun yang terpesona akan ketangguhan dan kebaikan hati Ling Kun-gi memberikan sebuah kantong sulam sutera buatan tangannya sendiri yang berisi obat penawar racun dan obat bius maha langka, Jing-sin-tan. Pemberian tanda mata tersebut menjadi awal mula jalinan asmara dan petualangan baru bagi Ling Kun-gi dalam mengarungi kejamnya dunia persilatan...
Daftar Baca Episode Lengkap (Komunitas Facebook)
Pilih episode di bawah ini untuk membaca kelanjutan episode lengkap Pedang Kiri Pedang Kanan di grup/halaman komunitas resmi:
Buka Daftar Episode 1 - 20
- Eps 1 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 2 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 3 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 4 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 5 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 6 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 7 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 8 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 9 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 10 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 11 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 12 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 13 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 14 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 15 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 16 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 17 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 18 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 19 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 20 Pedang Kiri Pedang Kanan
Buka Daftar Episode 21 - 40
- Eps 21 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 22 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 23 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 24 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 25 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 26 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 27 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 28 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 29 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 30 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 31 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 32 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 33 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 34 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 35 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 36 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 37 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 38 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 39 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 40 Pedang Kiri Pedang Kanan
Buka Daftar Episode 41 - 57 (Tamat)
- Eps 41 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 42 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 43 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 44 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 45 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 46 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 47 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 48 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 49 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 50 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 51 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 52 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 53 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 54 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 55 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 56 Pedang Kiri Pedang Kanan
- Eps 57 Pedang Kiri Pedang Kanan
Gabung dan diskusi bersama para penggemar cerita silat lainnya di Grup Facebook Komunitas Cersil Online.